Story 027 Dari NII hingga HTI

Dari NII hingga HTI

Masa Sekolah Dasar aku masih berada di lingkungan yang kondusif, yakni setiap hari mengaji al Qur’an di mushola yang ada di kampung. Sempat diajar mengaji oleh Bapak. Kebetulan, Bapak adalah seorang guru ngaji sejak beliau masih belia (17 tahun), terus menerus ngajar ngaji sampai saat aku menginjak usia sekitar kelas IV SD.

Masa SMP, karena kehijrahanku ke Kota Bojonegoro. Kegiatan mengaji di mushola menjadi terhenti. Berganti dengan rutinitas aktivitas part time di Rumah Makan Masakan Cina yang beroperasi dari jam 17.00wib sampai dengan 22.00wib. Mba Eni yang kuikuti sebagai pengganti ibuku, juga menerapkan pendidikan yang bisa dikatakan “bebas”, asal tidak membuat masalah, itu sudah cukup menurut beliau.

Namun subhanallah. Meski demikian, kecenderungan diri telah terbiasa melaksanakan sholat lima waktu sejak usai disunat. Jadi, meski tidak lagi dalam kontrol Ma’e dan Pa’e seperti masih di kampung, maupun Mba Eni, sholat lima waktu tetap terjalankan tanpa menunggu dimarahi atau dipaksa oleh orang lain.

Bagiku yang begitu awam terhadap kesempurnaan ajaran Islam ini, menganggap penunaian kewajiban sholat dan puasa, sudahlah cukup untuk menjadi seorang mukmin yang bisa dikatakan “hanif/baik” dalam pandangan masyarakat.

Hal ini terbawa hingga masa SMA, dan juga saat 10 bulan berada di Jakarta Utara. Di Jakarta ini, aku menjadi lebih sering sholat berjamaah di masjid, karena lokasi kostan memang tak terlalu jauh. Bahkan, saat istirahat kerja, yang sebagian besar teman-teman mempergunakannya untuk bersantai dari kelelahan yang teramat sangat, aku memilih untuk mengantri air wudhu kemudian menunaikan sholat secara berjama’ah di tempat yang sempit dan kurang layak untuk disebut sebagai mushola itu.

Kecenderungan baik tersebut masih juga terbawa sampai di masa perkuliahan. Itulah mengapa saat pertama kali menyandang status mahasiswa STKS Bandung, LDK KMM adalah tempat incaran untuk berorganisasi, sembari memperdalam ilmu Islam.

Nah, dari sinilah cerita itu bermula..

Aku mengenal salah satu kader LDK yang juga ternyata pengurus UKM Bahasa Jepang. Dari situlah, kemudian aku diperkenalkan dengan kader dakwah selain dari mahasiswa STKS Bandung. Pertemuan dirancang di ITB, kemudian diakui, memang aku mendapatkan banyak ilmu baru, yang bersumber dari ayat-ayat al Qur’an, yang ternyata sama sekali belum pernah kuketahui sebelumnya. Ya, pada masa kehidupan sebelum di kampus, aku masih sangat jarang sekali membaca terjemahan dari Al Qur’an.

Pertemuan dari waktu ke waktu, hari ke hari, kemudian menjadikanku semakin tertarik dan menyadari bahwa ternyata Islam itu mengatur seluruh aspek kehidupan. Mata pelajaran SMP dan SMA yang mengajarkan tentang Al Qur’an sebagai Pedoman hidup manusia, di sinilah baru kutemukan maknanya, pemahamannya begitu jelas terasa.

Ketika aku telah merasa yakin, kemudian mereka menawarkanku untuk bertemu di suatu tempat, kemudian melakukan syahadat ulang. Penjelasannya, syahadat ulang tersebut bukanlah untuk menandakan bahwa seseorang dari kafir menjadi Islam, namun hanya untuk meneguhkan pemahaman diri.

Awalnya aku masih ragu, dan lagipula, kuanggap masih banyak ikhwan yang lain yang lebih baik dari diriku, kenapa aku yang harus mendapatkan kesempatan “istimewa” tersebut. Aku ini masih begitu banyak dosa, dan tidak pantas rasanya, tiba-tiba mendapatkan tiket bergabung jama’ah dakwah yang kuanggap memperjuangkan agama ini secara ikhlas dan tersistematis.

Aku belum bisa meng-iya-kan tawaran tersebut. Selain memang merasa belum pantas, juga karena kesibukan yang semakin bertambah, sehingga menjadikanku sering absen dari kajian. Semakin jarang aku datang, semakin minim komunikasi yang terbangun, dan tawaran tersebut berlalu begitu saja.

Tak terasa satu tahun sejak Agustus 2008 aku menyandang status mahasiswa di STKS Bandung, telah berlalu sudah. Ajakan untuk aktif di kajian lagi aku terima. Dan luar biasanya, mereka masih begitu sabar dan ikhlasnya untuk mengajakku mengikrarkan syahadat sekali lagi. Karena ketulusannya tersebut, aku pun meng-iya-kan.

Dan terjadilah peristiwa syahadat ulang yang dipersaksikan oleh orang sholeh (mungkin salah satu qiyadahnya). Tak dinyana, di tempat syahadat ulang tersebut, aku bertemu dengan adik kelasku yang juga pegiat aktif di UKM Bahasa STKS Bandung. Di pertemuan tersebut, kami sudah kasak-kusuk terkait keganjilan yang kami rasakan. Namun, lagi-lagi pikiran positif yang selalu kutanamkan dalam diri. Lagipula, sampai pada saat syahadat ulang tersebut dilantunkan, tidak ada tambahan kata sedikit pun atasnya. Artinya, syahadat yang kulakukan tersebut, lafalnya tetap utuh seperti apa yang diajarkan oleh Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam, tanpa ada pengurangan ataupun penambahan di dalamnya.

Pasca syahadat ulang tersebut. Aku diikutkan kelompok halaqah yang dekat dengan kampus. Dan memang benar, tempatnya berada tak jauh dari Simpang Dago, Bandung. Dalam kelompok halaqah ini, yang dari STKS Bandung ada tiga orang, satu mahasiswa dari Makassar, satu mahasiswa Tugas Belajar dari Pati, dan aku sendiri.

Kajian berjalan dari waktu ke waktu. Namun, rasanya ada yang kurang, ada yang tidak pas di hati. Rasa itu kupendam dahulu, dan terus mengikuti kajian yang dijadwalkan. Dalam masa-masa ini, aku juga mulai dekat dengan LDK KMM. Dan interaksiku dengan mereka menjadi semakin erat. Bahkan, aku mulai intensif mengikuti kajian teman-teman KMM, dan secara disadari atau tidak, aku menjadi bersinggungan dengan pemahaman Hizbut Tahrir.

Waktu itu ada tiga orang yang kusegani dan menjadikan magnet bagiku untuk belajar lebih dalam terkait perjuangan ikhwah di Hizbut Tahrir. Mereka adalah Pak “S” yang tinggal di DKM, Mas “A” yang menjabat Ketua LDK KMM selama dua periode, dan juga Kang “R” yang kesehariannya begitu lembut dan sempat juga menjabat Ketua LDK KMM sebelum Mas “A” menjabat. Aku menjadi begitu terpesona dengan slogan “Tegakkan Khilafah” dan semakin tidak nyaman dengan halaqah yang kulakukan sebelumnnya.

Setelah sampai pada waktunya. Aku pun mengambil keputusan, bahwa aku akan keluar dari halaqah yang mensyaratkan syahadat ulang tersebut, dan bergabung dengan jama’ah Hizbut Tahrir.

Jika dihitung-hitung, keaktifanku hanya berlangsung selama enam bulan di jama’ah dakwah yang baru kuketahui pada akhir tahun 2011, itu ternyata adalah NII (Negara Islam Indonesia), tapi bukan yang NII KW IX. Karena NII yang kuikuti tersebut, tidak ada tarik menarik iuran, apalagi yang jumlahnya hingga jutaan rupiah. Hal tersebut sama sekali tidak ada.

Kepindahanku dari jama’ah tersebut ke Hizbut Tahrir adalah karena ketidaknyamanan yang kurasakan, dan juga karena aku mulai terpukau dengan perjuangan syabab Hizbut Tahrir, karenanya aku pun memantapkan diri untuk menjadi bagian dari pejuang dakwah, melalui Hizbut Tahrir.

Dari waktu ke waktu, aku mengaji bersama syabab Hizbut Tahrir. Di HT aku juga mendapatkan kelompok halaqah. Pelajar pemula di HT dinamai sebagai darris, dan penanggung jawab halaqah dinamakan musyrif. Halaqah HT kulaksanakan di masjid Al Ihsan STKS Bandung. Karena, memang kebetulan DKM dan KMM diisi oleh ikhwah dari Hizbut Tahrir, jadi cukup leluasa mempergunakan fasilitas kampus untuk kepentingan dakwah Hizbut Tahrir.

Hal yang membuatku tidak nyaman adalah para darris yang bertipe emosional dan tanpa pandang bulu. Sikap-sikap seperti itu sungguh membuatku tidak nyaman. Aku memang telah sampai pada pemahaman bahwa umat Islam butuh khilafah, tapi tidak dengan seperti ini caranya. Memang benar, membantah secara dalil yang kuat, aku masih belum mampu kala itu, namun karena hati yang terus saja memberontak. Pada akhirnya, aku pun hanya mengecap kurang lebih selama enam bulan, ngaji di Hizbut Tahrir.

Enam bulan berikutnya, aku benar-benar kosong. Aktivitas kembali seperti sedia kala ketika aku belum berkuliah. Aktivitas ibadah sholat dan puasa tetap terjalankan, namun ada yang gersang, membekas di hati. Dalam hati kecilku, aku tengah mencari jama’ah dakwah yang lain yang cocok dengan hatiku. Dimana nanti, di jama’ah tersebut, aku benar-benar meluangkan seluruh potensi yang dimiliki untuk menghidupkan da’wah fii sabilillah.

Cerita lengkapnya.. Akan kalian simak di edisi tulisan berikutnya.. ^_^

*Kembang Janggut, 21 Zulhijjah 1434 H/26 Oktober 2013

**Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Kamis, 10 Muharram 1435 H/14 November 2013 pukul 08.00 wita.

NB: Artikel ini adalah edisi series dari The Story of Muhammad Joe Sekigawa. Diterbitkan secara berkala pada setiap hari Senin dan Kamis, sejak tanggal 29 Juli 2013. Jika tak ada halang merintang, akan disusun menjadi sebuah buku bagi koleksi pribadi ^_^

Comments
4 Responses to “Story 027 Dari NII hingga HTI”
  1. oh, ngaji di HT juga. cuma enam bulan. boleh tau nggak kenpa berhenti ngaji? kan sayang udah ngaji dan ketemu kelompok dakwah tapi berhenti. usaha cari ilmu dan amalnya jadi berhenti dong?
    kalo gak salah masalahnya adalah perilaku para darisnya ya? mereka emosional dan tanpa pandang bulu. terus sikap musrifnya gimana?
    eh, tunggu dulu. apa kamu sekarang jadi ngaji di PKS?

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: