Mengapa Jumlah Anak-anak di Jepang Sedikit*

Sumber Ilustrasi Gambar dari sini

Mengapa Jumlah Anak-anak di Jepang Sedikit*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, 32nd Trainee of Asian Social Welfare Worker’s Training Program by Japan National Council of Social Welfare (JNCSW/Zenshakyou)

Belum banyak isu kesejahteraan sosial di Jepang ini yang bisa saya gali lebih dalam. Bukan karena apa-apa, tapi pihak Zenshakyou memang menghendaki kami kelima kenshusei ini mempelajari segala sesuatunya dengan bahasa Jepang agar dapat “klik” yang harapannya dapat memberikan pemahaman menyeluruh atas perbedaan besar diantara Jepang dan negara-negara tetangga (termasuk juga negara peserta pelatihan). Oleh karena itu, sampai dengan pertengahan bulan Juli nanti masih fokus untuk memperdalam bahasa Jepang.

Namun, tetap saja saya merasa sangat excited dan ingin tahu dan tahu lebih banyak lagi terkait permasalahan kesejahteraan sosial di Jepang dan juga cara pemerintah dan masyarakat Jepang menanganinya. Berbeda budaya, tentu berbeda pula cara memandang masalah dan intervensinya. Namun, ketika yang dibahas adalah mengenai masalah sosial, kurang lebih akan ada benang merah sehingga dapat ditarik kesimpulan secara umumnya.

Seperti diketahui secara umum, jumlah penduduk Jepang saat ini berbanding terbalik dengan negara-negara berkembang. Jika di Indonesia jumlah anak, remaja dan lansia secara umum dapat digambarkan seperti piramida, yang terjadi di Jepang adalah sebaliknya. Yakni lansia menjadi penduduk terbesar sedangkan anak-anak jumlahnya paling sedikit dalam populasi keseluruhan masyarakat Jepang.

Mungkin kita berpikir bahwa angka harapan hidup yang panjang menyiratkan arti sebuah anugerah kebahagiaan, tapi ternyata tidak demikian karena pada kenyataannya angka angkatan kerja kecil sedangkan yang membutuhkan perawatan dan tidak produktif (lansia) jumlahnya melimpah. Jika dibiarkan terus menerus, akan mengakibatkan ketidakstabilan ekonomi dan artinya ini adalah masalah besar Jepang di kemudian hari.

Berdasarkan obrolan ringan dengan beberapa orang Jepang lintas generasi, maka melalui tulisan singkat ini saya akan membuat intisari yang semoga bisa menambah wawasan dan menjadi pembanding atas begitu banyaknya masalah sosial yang ada di Indonesia.

Sekitar 30 tahun yang lalu, masing-masing keluarga di Jepang masih terdiri dari anggota keluarga yang terhitung lumayan banyak. Setiap anggota keluarga minimal memiliki 3-5 orang anak dan rata menikah pada usia 20-25 tahun. Namun, hal ini seiring dengan berjalannya waktu yang juga mengiringi status Jepang sebagai negara maju. Di satu sisi status negara maju itu sangat prestisius, namun di sisi lain ternyata menjadikan penduduknya tidak bisa berleha-leha karena tuntutan hidup yang tinggi dan terus meninggi di setiap tahunnya.

Setiap hari para kaum dewasa awal di Jepang harus berjibaku sekuat tenaga agar dapat hidup “normal” dengan standar hidup negara maju. Oleh karena itu mau tidak mau setiap orang harus sekuat tenaga bekerja keras untuk dapat memenuhi hajat hidupnya masing-masing. Mental masyarakat negara maju memang pada awalnya sudah senang sekali bekerja keras. Yang mereka kejar adalah kepuasan hidup ketika dapat terus melakukan pekerjaan dan memberikan manfaat untuk diri sendiri dan juga orang lain. Namun, tuntutan hidup juga mengharuskan mereka berbuat demikian. Jadi keduanya berjalan seiring secara bersamaan.

Kemudian lambat laun, tren menikah pada masyarakat Jepang semakin hari semakin mundur ke belakang. Usia 25 tahun dirasa tidak punya apa-apa dan tidak akan mampu untuk membina rumah tangga. Kalaupun “memaksakan” diri untuk menikah, hasilnya rumah tangga menjadi tidak harmonis karena berbagai masalah keuangan dalam menjalani hidup keseharian.

Kalau beberapa puluh tahun ke belakang tidak masalah dalam satu keluarga yang bekerja hanya suami saja, namun zaman sekarang dianggap sudah tidak relevan. Tuntutan hidup yang tinggi menyebabkan kebanyakan keluarga suami dan isteri sama-sama berkarier di luar. Dengan kesibukan seperti itu menjadikan anak-anak yang masih kecil pun harus sudah dititipkan ke daycare (tempat penitipan anak). Bukan karena mereka tidak senang mengurus anak, tapi kondisi dan tidak adanya cukup waktu menyebabkan hal itu terjadi.

Bayangan hidup susah dalam berkeluarga itulah yang menjadikan baik laki-laki maupun perempuan di Jepang memilih menunda waktu pernikahan. Nikahnya pemuda Jepang di sini rata-rata paling cepat di usia 30 tahun. Ada juga yang sudah menikah di kisaran usia 25 tahun, tapi itu jumlahnya sangat sedikit sekali. Alasan belum cukup terkumpulnya uang dan ketakutan menjalani kehidupan keluarga disertai berbagai macam masalahnya menjadi penyebab utama pemuda-pemudi Jepang terhitung “telat” menikah. Dan kalaupun mereka menikah, minimal menunda 2-3 tahun kemudian baru merencanakan untuk memiliki anak pertama.

Kalau ditanya apakah seorang wanita Jepang ingin segera menikah dan punya anak. Maka, jawabannya akan beragam. Namun berdasarkan pengalaman langsung saat wawancara dengan orang Jepang secara langsung, mereka sebenarnya dalam hati kecilnya menginginkan menikah dan memiliki anak. Namun, kembali lagi kepada tuntutan hidup yang tinggi tersebut, keinginan tersebut harus dibuang jauh dan menatap realitas apa adanya.

Dimana-mana secara naluriah manusia memiliki kesamaan, yakni rasa cinta dan ingin hidup berpasangan. Karena pacaran dianggap jalan terbaik bagi mereka sebelum benar-benar mantap menuju jenjang pernikahan. Cara yang mereka lakukan adalah dengan tinggal berdua dalam satu apartemen meskipun belum terjalin dalam ikatan pernikahan. Menurut mereka, ini adalah cara terbaik untuk latihan berumah tangga. Jika semua berjalan baik dalam beberapa tahun ke depannya, bisa jadi segera dimantapkan untuk menentukan waktu pernikahan. Tapi, jika keduanya sama-sama berpikir masih belum cukup secara finansial disertai ketakutan-ketakutan akan kehidupan yang “layak” di masa depan, bisa jadi akan lebih lama tinggal berdua serumah tanpa tahu kapan akan menikah.

Sedemikian beratkan hidup di negara maju, sehingga orang-orangnya hanya terus fokus kerja dan kerja sembari melupakan kehangatan hidup berkeluarga yang artinya menyiapkan bibit-bibit unggul sebagai generasi penerus bangsa? Bersyukurlah seorang muslim yang dalam keyakinannya tidak takut jatuh miskin karena anak yang diasuhnya.

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar” (Q.S Al Israa’: 31)

JpegSalam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah.

Kokuryo, Chofu Shi – Tokyo, JAPAN
Kamis malam, 11 Sya’ban 1436 H/28 Mei 2015 pukul 21.55 waktu Jepang

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Senin, 01 Juni 2015 pukul 09.00 waktu Jepang

Comments
4 Responses to “Mengapa Jumlah Anak-anak di Jepang Sedikit*”
  1. fitri no hikari says:

    Apa kita buat pradaban islam di jepang ya. Hee, krn angka klahiran anak dr kluarga muslim lbh tinggi.

    Izin share ya

    • Ya, fenomena tersebut tidak hanya terjadi di Jepang saja. Di negara2 tetangga seperti Korea dan Taiwan juga terjadi hal yang sama. Begitu pula di Amerika, Eropa dan lain-lain. Maka, benarlah, bahwa di masa depan Peradaban adalah milik Islam. Bukan menyebar dengan cara kekerasan, tapi karena memang dibutuhkan oleh manusia itu sendiri. Insya Allah..

  2. sharot says:

    Ooo…gitu ya? Masuk akal jugA. DitambH jumlah dewasa muda yg bunuh diri, mk prbndingannya dg lansia mnjadi timpang

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: