Sopan Santun Orang Jepang*

????

????

Sopan Santun Orang Jepang*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, 32nd Trainee of ASEAN Social Welfare Worker’s Training Program by Japan National Council of Social Welfare (JNCSW/Zenshakyou)

Sebelumnya saya hanya tahu perilaku dan sikap orang Jepang melalui film-film saja. Itupun yang populer paling-paling film tentang Samurai dan gengster yang terlalu melebihkan lakon peranannya. Tapi, semenjak tanggal 26 Maret kemarin saya benar-benar dapat berinteraksi dengan orang Jepang secara langsung. Tidak hanya dengan satu atau dua orang saja, tapi dengan begitu banyak orang Jepang, meski hanya terbatas di daerah Tokyo saja.

Kesan pertama yang saya dapatkan adalah mengenai nyamannya fasilitas publik di negeri Bunga Sakura ini. Bersih, tertata rapi, teratur, dan tepat waktu adalah kata yang bisa disematkan untuk menggambarkan keseharian orang Jepang. Fasilitas takkan optimal tanpa didukung dengan sumber daya manusia yang tepat. Di sini orang Jepang begitu sangat sopan dengan semua orang. Jangankan dengan orang asing, dengan sesama orang Jepang sendiri saja begitu sangat sopan dan saling menghargai.

Kesopanan tersebut lebih banyak saya dapatkan ketika mengakses ruang-ruang dan fasilitas publik seperti bandara, kereta api, bus, dan juga kantor-kantor pemerintahan. Tingkat intonasi gaya bahasa bisa disamakan dengan orang Sunda yang masih murni belum terkontaminasi modernitas, tapi intelektual penghargaan terhadap pelanggan begitu luar biasa. Maka lengkaplah sudah pertemuan antara kemajuan teknologi diimbangi dengan sikap penghargaan tinggi terhadap pengguna fasilitas.

Inilah titik fokus yang bisa kita bandingkan dengan negara-negara berkembang seperti Indonesia, Malaysia dan juga Filipina. Penghargaan tinggi seharusnya tidak hanya diberikan kepada pengguna-pengguna yang punya pengaruh tertentu atau berpenampilan orang kaya. Tapi penghargaan tinggi tersebut diberikan kepada siapa saja pengguna jasa pelayanan publik. Mental ingin dilayani dan mendapatkan penghasilan tambahan dari pelanggan harus dibuang jauh-jauh oleh para pelaku penyedia fasilitas pelayanan publik di Indonesia. Lakukan yang terbaik untuk masyarakat, karena sejatinya petugas pelayanan publik adalah digaji dari masyarakat pengguna pelayanan publik tersebut.

Saya juga menilai, apa yang dilakukan oleh orang Jepang ini menunjukkan penghargaan terhadap kebudayaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai universal. Orang Jepang adalah orang yang tidak pelit untuk menyampaikan pujian dan sanjungan kepada orang lain. Dan itu berasal dari lubuk hati terdalam, bukan sekedar mulut manis dan membual semata. Selain gemar memberikan pujian dan dorongan semangat, orang Jepang juga paling sering meminta maaf dan memberikan ucapan terima kasih berkali-kali. Ketika membungkukkan badan adalah suatu bentuk cara penghormatan orang Jepang, maka mereka telah melakukannya sangat sering untuk menunjukkan permintaan maaf yang mendalam atau ucapan terima kasih yang membekas. Padahal, kalau menurut orang Indonesia, kesalahannya yang dilakukan sepele dan penghargaan yang diberikan juga tidak “wah-wah” banget.

Nah, maka betapa jelas kunci keberhasilan orang Jepang ini adalah pada bentuk penghargaan terhadap setiap nilai budaya baik yang bersifat universal seperti cinta kebersihan, keteraturan, kerapian, saling memberi ucapan, permintaan maaf yang mendalam, bahkan hingga intonasi bicara yang sangat dilembutkan ketika menjadi pelaku pelayanan fasilitas publik.

Jika fasilitas publik saja seluar biasa ini, maka fasilitas yang sifatnya berbayar tidak usah diragukan lagi pelayanannya. Ke depannya, Indonesia harus berbenah dimulai dari sikap dan sopan santun yang tidak boleh ternodai dengan gaya modernitas yang individual dan mementingkan ego sendiri. Harapan Indonesia memiliki fasilitas pelayanan publik yang baik bisa dimulai dari kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan lain-lain.

Saya dahulu ketika pertama kali hijrah ke Jakarta tahun 2007 sempat merasa sangat bangga karena sejak tahun 2006 pemerintah DKI Jakarta telah memiliki Bus TransJakarta yang akan menjadi idola warga ibukota maupun pengunjung dari luar kota dan luar negara. Namun, ternyata lagi-lagi masyarakat kita masih lemah di bidang perawatan dan masih tingginya keinginan untuk mengkorupsi dana-dana yang seharusnya diperuntukkan bagi kenyamanan fasilitas publik.

Orang Jepang benar-benar mengurusi persoalan dari hulu sampai hilir. Mulai dari kecanggihan terknologi, kontinyuitas perawatan didukung oleh petugas-petugas pelayanan publik yang hampir 100 persen tidak akan pernah memaki dan memarahi Anda. Yang ada adalah mereka saling meminta maaf satu sama lain dengan permintaan maaf yang begitu mendalam. Jadi, kapan Indonesia bisa menyusul kemajuan berbalut kesopanan negeri Jepang? Sebagai generasi penerus bangsa, Anda jugalah yang berperan menentukan jawabannya. Ganbarimashou ne..!! ^_^

Salam cinta dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kokuryo, Chofu Shi – Tokyo, JAPAN
Sabtu,  15 Jumadil Akhir 1436 H/04 Maret 2015 pukul 16.28 waktu Jepang

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Rabu, 08 April 2015 pukul 07.00 waktu Jepang

Comments
2 Responses to “Sopan Santun Orang Jepang*”
  1. Sandurezu サンデゥレズ says:

    orang jepang memang jujur ya da, mereka menghargai dari hati terdalam, tak setengah-setengah memberikan pujian..

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: