The Last Story 034 Menatap Masa Depan

Menatap Masa Depan

Di sinilah titik perjalananku sampai pada saat ini. Telah tertuliskan cerita kehidupanku sedari kecil di Bancar dan  Bojonegoro, kuliah di Bandung, bekerja di Lembaga Kemanusiaan Nasional di Ibukota Negara Indonesia, hingga saat ini tengah meniti karier di Perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) milik Agra Bareksa Group di Kecamatan Kembang Janggut Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur.

Di usia yang tinggal beberapa hari lagi menginjak angka 25 tahun ini, tak ada target terdekat yang lain kecuali menggenapkan separuh agama. Beberapa waktu sebelumnya, memang masih ada kegamangan diri, mengenai apakah menikah dahulu atau mengejar beasiswa S2 dulu sampai tercapai. Namun, kemudian aku menjadi tersadar, usia semakin bertambah, dan amalan masih begini-begini saja. Padahal, di sisi yang lain, aku meyakini bahwa pernikahan akan semakin membuka lebar kran segala potensi diri, termasuk juga di dalamnya nilai ibadah yang akan berlipat ganda.

Berdasarkan pada alasan tersebut di atas, maka aku memutuskan untuk bertekad bulat, bahwa di tahun 2014, saya harus menikah. …Faidzaa ‘azzamta fatawakkal ‘alallahi… (…kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah…; Q.S Ali Imran: 159). Insya Allah. Tentu bukan suatu hal yang terjadi secara tiba-tiba, ada beberapa proses yang harus dilalui secara bertahap, agar keinginan kuat tersebut dapat terwujud nyata di alam kehidupan fana ini.

Dengan berkeluarga, bukan berarti kemudian mematikan semangat juang untuk mendapatkan beasiswa S2 di Negeri Sakura. Malah sebaliknya. Aku berpikir bahwa pernikahan adalah sebuah titik balik untuk melejitkan usaha-usaha yang mungkin saja kemarin-kemarin masih belum maksimal, termasuk mengantongi standar persyaratan skor TOEFL/IELTS yang sampai pada saat ini masihlah amat sangat kurang alias minim.

Impian S2 di Jepang yang telah kugenggam erat sedari awal masuk kuliah di STKS Bandung pada tahun 2008 silam, akan kuwujudkan dengan pendampingan dari sang isteri terkasih (pada saatnya nanti he he). Adapun beberapa tahapan yang harus saya persiapkan seperti skor TOEFL/IELTS, pengalaman kerja minimal satu tahun pada bidang yang sama, dan juga mengumpulkan beberapa rekomendasi dari tokoh-tokoh terkemuka di bidang pekerjaan sosial/pengembangan sosial masyarakat/kebijakan publik.

Di usia yang hampir 25 tahun ini pula, aku senantiasa mendekatkan diri dengan orang-orang sholeh, mengikuti beberapa agendanya, semakin mendekatkan diri kepada Rabb dengan memperbanyak intensitas ibadah, serta memperdalam ilmu agama yang kian hari kian bertambah tantangan penyelewengannya dari pihak-pihak yang tidak senang Islam akan kembali jaya di muka bumi. Istiqomah di jalan dakwah, itulah doa tersering yang selalu terlantunkan dari bibir mungil ini.

Berhubung posisiku saat ini berstatus karyawan PT. Silva Rimba Lestari sebagai staf Community Investment. Maka, maksimalisasi potensi akan kukerahkan untuk kemaslahatan perusahaan. Di satu sisi aku memang mewakili perusahaan, namun di sisi lain, berbagai program yang terjadwalkan untuk masyarakat umum, akan kuoptimalkan tepat sasaran, tetap guna dan juga tepat waktu. Aku memang sengaja tidak secara frontal untuk menerapkan ilmu yang kudapatkan dari kampus, melainkan pelan-pelan sesuai situasi dan kondisi. Tentu, aku juga tidak ingin terlihat lebih pintar daripada sang pimpinan, karena itulah adab yang kujaga agar terjadi keharmonisan dalam suasana kerja.

Sebelum sampai di usia 30 tahun (kurang lebih lima tahun mendatang), aku juga merencanakan akan banting stir untuk menjadi seorang wirausaha. Wirausaha tak harus menjual suatu barang riil, namun bisa juga berbentuk jasa konsultan dengan modal sumber daya manusia, keterlatihan, kreasi dan inovasi, serta keuletan.

Mengenai pekerjaan, aku juga tidak memimpikan dengan pola kerja seperti ini. Namun, ketika anak pertama telah lahir nantinya, aku harus mendapatkan pekerjaan di tempat lain yang setiap harinya bisa menemani sang isteri mengurus anak. Pekerjaanku harus memungkinkan diriku untuk bisa setiap hari pulang ke rumah, meskipun konsekuensinya gaji yang kudapatkan akan lebih kecil dari gaji yang sekarang.

Dan yang terakhir, impianku nanti juga ingin memiliki satu yayasan sosial yang kukelola bersama sang isteri. Sebuah yayasan sosial yang tidak kupergunakan sebagai tempat mencari nafkah, karena sumber nafkahku telah tercukupi dari wirausaha yang telah kujalankan nantinya. Sebuah pengabdian murni untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Amal untuk bekal akhirat yang pahalanya akan senantiasa terus mengalir deras. Insya Allah..

*Kembang Janggut, 07 Januari 2014 pukul 11.36 wita.

**Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Kamis, 16 Januari 2014 pukul 08.00 wita.

NB: Artikel ini adalah edisi series dari The Story of Muhammad Joe Sekigawa. Diterbitkan secara berkala pada setiap hari Senin dan Kamis, sejak tanggal 29 Juli 2013 dan hingga berakhir pada hari Kamis, 16 Januari 2014. Jika tak ada halang merintang, akan disusun menjadi sebuah buku bagi koleksi pribadi ^_^

Comments
2 Responses to “The Last Story 034 Menatap Masa Depan”

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: