Story 033 Hijrah ke Kalimantan Timur

Bersama dengan anak-anak dari Suku Dayak Kenyah di Ritan Baru Kecamatan Tabang, Kaltim
Bersama dengan anak-anak dari Suku Dayak Kenyah di Ritan Baru Kecamatan Tabang, Kaltim

Bersama dengan anak-anak dari Suku Dayak Kenyah di Ritan Baru Kecamatan Tabang, Kaltim

Hijrah ke Kalimantan Timur

Jejak langkah baru ini mulai diukir ketika hari itu Kamis sore, 18 April 2013 tiba-tiba ada telfon masuk dengan nomor tak dikenali berinisial 021. Tentu nomor Jakarta jaringan dari PKPU pikirku saat itu, oleh karenanya telfon pun saya angkat dan suaranya agak tidak jelas, bahkan nama orang yang berbicara pun agak kurang jelas terdengar. Setelah melanjutkan obrolan beberapa saat, maka baru jelaslah, sang penelfon adalah dari HRD Perusahaan yang mengkonfirmasi lamaran CV yang pernah saya kirimkan di awal Maret 2013 silam.

Sesuatu yang benar-benar tak terpikirkan. Saya pikir ajuan CV saya waktu itu memang sudah tidak ditanggapi dan kehidupanku akan begini saja sampai suatu saat jalan lain saya ambil. Jalan lain itu sebenarnya sudah ada. Ya, telah ada pada saat saya berkunjung di Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK) Expo 2013 bertempat di kampus STT Tekstil Bandung tanggal 23-24 Maret 2013 lalu. Di stand STKS Bandung, saya bertemu dan berbincang dengan Ibunda Dr.Kanya Eka Santi, MSW. (Ketua STKS Bandung). Beliau mengemukakan mengenai adanya kesempatan mendapatkan full scholarship khusus bagi mahasiswa izin belajar di Pascasarjana STKS Bandung yang baru akan di-launching pada tahun 2013 ini.

Alhamdulillah sejak masa mahasiswa memang sudah dekat dengan Ibu Kanya dan waktu bertemu di PTK Expo tersebut, beliau memberikan support kepada saya untuk juga mendaftarkan diri pada program Sp-1 STKS Bandung di tahun 2013 (Juni 2013) dan sangat yakin akan bisa bersaing dengan calon-calon mahasiswa lain guna memperebutkan lima sampai enam jatah beasiswa bagi mahasiswa izin belajar (umum/bukan pegawai negeri sipil).

Dua hari setelah saya bertemu Bu Kanya, saya komunikasikan dengan orang tua dan kakak, maka terambillah keputusan untuk mengambil kesempatan beasiswa tersebut. Bahkan, saya telah memperoleh rekomendasi dari Bu Milly Mildawati selaku dosen pembimbing Karya Ilmiah Akhir (KIA) saya dulu di bidang Penanggulangan Bencana. Namun, ya begitulah, semuanya berubah alur, dan itu telah dipikirkan mengenai dampak positif dan negatifnya. Kisah ini, beralih pada cerita diterimanya saya sebagai karyawan di PT. Silva Rimba Lestari (Agra Bareksa Group) sebagai Community Investment Staff di Distrik Kembang Janggut Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.

Berikut ini sedikit cuplikan sharing pada saat menjalani serangkaian tes di Agra Bareksa Group.

#1 DIRECT INTERVIEW

Perbincangan Kamis sore (18/04) itu menghasilkan kesepakatan bahwa keesokan harinya (Jum’at, 19/04) saya harus mengikuti tes wawancara pada pukul 15.00wib bertempat di kantor Agra Bareksa Group Jl.Aipda KS Tubun Raya No.66 Jakarta Barat.

Interview berjalan lancar dan saya rasa bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Namun, memang tidak saya sangkal bahwa ada pertanyaan menukik dari Pak Sugiantoro yang tidak bisa saya jawab secara jelas&tegas. Yakni mengenai langkah-langkah praktis dalam melakukan aktivitas pemberdayaan terhadap masyarakat lokal. Saya pikir Pak Toro masih merasa bahwa jawaban-jawaban saya terkesan teoritis dan belum bisa teruji secara praktis. Tapi syukurlah, tim Agra Bareksa juga menyadari karena saya memang masih terhitung fresh graduate, sudah lulus sejak Oktober 2012 tapi belum sempat berpraktik di bidang pemberdayaan masyarakat.

#2 PSIKOTES

Jadwal selanjutnya adalah psikotes dan medical check up. Psikotes saya jalani pada hari Rabu pagi (24/04) bertempat di First Asia Consultant Wisma 76, Jl. Letjen S. Parman no. 76, lt. 18. Psikotes yang dijadwalkan dari kantor pukul 08.00wib, saya datang tepat waktu, pukul 08.00wib sampai di gedung FAC. Sesampainya di lantai 18, saya dipersilahkan untuk registrasi terlebih dahulu dan telah terdaftar dari PT. Silva Rimba Lestari. Sambil menunggu waktu tes tiba, saya dan beberapa puluh peserta psikotes ini dipersilahkan untuk mengisi kuesioner terlebih dahulu. Setelah lewat sekitar 10 menit. Kami dipanggil kembali untuk ke ruang ujian utama. Kemudian satu per satu difoto dan dipersilahkan duduk di bangku komputer masing-masing. Awalnya saya heran, tapi ya, psikotes dilaksanakan dengan sistem komputerisasi, jadi lebih cepat dan tepat terpantau oleh pihak penyelenggara tes.

Setelah mengisi biodata pribadi terkait nama lengkap, asal, riwayat pendidikan, pekerjaan, organisasi dan lain-lain. Mulailah masuk pada materi psikotes yang terdiri dari empat sesi: 1)IQ#1, berbicara mengenai pengetahuan umum, hitungan logika, dan lain-lain; 2)IQ#2, berbicara mengenai gambar-gambar, simbol dan lain-lain; 3)Personality test, menguji tentang sifat kepekaan sosial melalui pilihan sikap atas beberapa pilihan yang disajikan; 4)MMI, berbicara mengenai sifat paling bisa dan paling tidak bisa. Have done! Sederhana kan ^_^.

Oh iya, tapi ada satu yang terlewat. Tes 1 dan 2 di atas berbatas waktu dan tidak diberitahukan waktunya, jadi benar-benar menguji ketangkasan dan ketelitian dalam memberikan jawaban. Saya akui, ada beberapa jenis ujian (tes IQ#1 dan IQ#2 ini juga masih terdiri dari beberapa sub mata ujian) yang saya tidak sampai menyelesaikannya karena kehabisan waktu. Misalkan targetnya adalah 35 soal, saya baru sampai soal 33 dan soal habis, kemudian juga misalkan target soal ada 40, saya baru 35 sudah habis dan seterusnya. Tapi saya tidak khawatir kok, saya pikir saya sudah melakukan yang terbaik, dan sudah dengan kecepatan yang di atas rata-rata dalam mengerjakannya ^_^ <== PeDe Tinggi mode ON.

Tidak terasa telah mengerjakan begitu banyak soal, start mulai pukul 08.30wib dan selesai ketika jam menunjukkan pukul 11.30wib, tiga jam telah berlalu. Pasca selesai mengerjakan soal-soal, saya pun dipanggil untuk interview. Tidak banyak yang dipertanyakan dalam interview, hanya mengkonfirmasi terkait data pribadi, dan juga pertanyaan seputar pekerjaan sebelumnya/sekarang dan posisi pekerjaan yang tengah dilamar. Dan Alhamdulillah, saya dapat menjawabnya dengan sangat baik sehingga tidak ada kekhawatiran. Setelah usaha maksimal, tinggal diserahkan kepada Allah saja hasil terbaiknya (menurut Allah) ^_^.

#3 MEDICAL CHECK UP

Rangkaian tes terakhir sebenarnya adalah Psikotes, namun karena ada persyaratan yang tidak terpenuhi, pihak Parahita Diagnostic Center yang berlokasi di Jl. Warung Buncit Raya no.150, Jakarta Selatan ini meminta saya mengulang keesokan harinya. Saya sudah ke Parahita pada hari Selasa (23/04), karena saya hari Rabu nya harus Psikotes, maka barulah hari ini (Kamis, 25/04) saya kembali lagi ke Parahita. Dan uniknya, ternyata memang banyak yang harus mengulang karena ketidaksiapan syarat. Syaratnya tidak berat sich, hanya harus puasa antara 10-12 jam saja. Tidak boleh kurang dari 10 jam, dan tidak boleh lebih dari 12 jam. Kasus saya kemarin, sudah lewat dari 12 jam he he. Penjelasan dari petugasnya, yang dihitung adalah terakhir kali makan malamnya, bukan persiapan makan. Jadi, ketika hendak medical check up pukul 08.00wib, maka harus terakhir kali makan antara jam 21.00-22.00wib. Setelah itu tidak boleh makan, hanya boleh minum air putih saja.

Pada sesi tes ini terdiri dari empat tes: 1)ambil sampel darah ke dalam empat tabung yang berbeda; 2)X-ray (sinar X); 3)tes fisik standar; dan terakhir 4)ambil sampel urine. Semuanya ini saya proses dari jam 8 pagi sampai 08.45wib. Singkat, cepat, namun lengkap. Saya akui bahwa pelayanan dan fasilitas di Parahita ini sangat profesional. Dan keren-nya, karyawan perempuannya sekitar 80% mengenakan kerudung. Alhamdulillah, artinya Parahita cukup kondusif, bahwa para muslimah juga bisa berkiprah secara profesional, khususnya di bidang tenaga medis dan kesehatan.

Dari Bancar ke Samarinda

Perjalanan diawali dari sini, dari tempat dimana aku dilahirkan dan dibesarkan hingga usia lulus Sekolah Dasar (SD). Ya, desa ini adalah Dusun Ngembak Desa Bogorejo Kecamatan Bancar, Kabupaten Tuban-Jawa Timur. Tak banyak yang tahu tentang lokasi tempat kelahiranku ini, tapi jangan salah, masih ada di peta kok ^_^.

Siang (05/05) itu setelah makan siang dan sholat Dhuhur, aku pun mulai beranjak dan pamitan dengan Ma’e&Pa’e. Aku menuju kota Pasuruan via Surabaya. Di Pasuruan aku dijemput oleh Kak Cup (my third brother), karena memang dia dan keluarganya tinggal di sana. Kunjungan ke Pasuruan ini adalah ajang silaturahim kepada saudara kandung sekaligus mendekatkan posisi diri kepada Surabaya sebagai tempat tinggal landas meninggalkan pulau Jawa menuju Kalimantan.

Senin (06/05) pagi aku sudah diantar Kak Cup dan isterinya untuk menyetop bus tujuan Terminal Bungurasih Surabaya. Di Bungurasih aku sudah ditunggu oleh Kak Wahib (my first brother) untuk mengantarkanku ke Bandara Internasional Juanda Surabaya. Tiket yang kupegang adalah Lion Air dengan nomor penerbangan JT 362 berangkat pukul 10.22wib dan sampai pukul 12.50wita.

Ini adalah kali pertama aku berada di Bandar Juanda, setelah sebelumnya baru sempat menginjakkan kaki di Bandara Soekarno Hatta Jakarta dan Sultan Hasanuddin Makassar di pertengahan tahun 2012 silam. Senin (06/05) siang itu aku akan terbang dari Surabaya menuju Bandara Sepinggan Balikpapan, Kalimantan Timur.

Perjalanan itu tak terasa, satu jam 20 menit pun telah terlewati dan Lion Air yang mengantarkanku menyeberangi samudra Pasifik itu telah landing di Bandar Sepinggan, Kota Balikpapan-Kalimantan Timur. Setibanya di sini aku pun menunaikan sholat Dhuhur terlebih dahulu dan kemudian menunggu. Ya, saya masih menunggu karena ternyata travel yang dikirim dari Samarinda pun masih di jalan sekitar satu jam lamanya. Selain itu, kami juga harus menunggu dua orang lagi karyawan baru yang akan tiba di Sepinggan pada pukul 15.00wita.

Waktu yang dinanti pun tiba, Mas Hendro (dari Medan) dan Pak Bahatrim (dari Jambi) sudah sampai di Sepinggan, dan karena sudah masuk waktu sholat Ashar, Pak Samad pun izin untuk menunaikan ibadah sholat Ashar terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan sekitar tiga jam menuju kota Samarinda. Setelah ngobrol banyak, aku ketahui bahwa Mas Hendro nantinya ditempatkan di bagian Planning/Survey, dan Pak Bahatrim di bagian Nursery (pembibitan), dan aku sendiri ada di bagian Community Investment ^_^

Kota Samarinda adalah tempat Regional Office (RO) dari Agra Bareksa Group. Kami masih harus mengurus persyaratan administrasi di RO ini, sebelum pada akhirnya kami bertiga akan diberangkatkan bersama-sama di District Kembang Janggut, Kabupaten Kutai Kartanegera-Kalimantan Timur. Menurut informasi dari seorang temannya Pak Bahatrim yang sudah sampai di lokasi pada hari kemarin, perjalanan yang akan kami tempuh hari ini (Selasa, 07/05) dari Samarinda ini adalah tiga jam perjalanan darat, dilanjutkan dengan dua jam perjalanan air (sungai), dan melanjutkan satu jam perjalanan darat lagi. Wahh, kedengarannya cukup menyenangkan bukan? Bagi orang lapangan, tentu ini adalah suatu hal yang menarik he he ^_^

Dari Samarinda ke Kembang Janggut

Sarapan kami laksanakan lebih awal dari biasanya karena memang sudah ada janji dengan Mbak Dyah dari HRD Regional Office (RO) Agra Bareksa untuk presentasi terkait company profile dan klaim kesehatan serta penjelasan jenjang karier. Tepat pukul 07.45wita kami pun telah sampai di kantor Regional Office.

Yang menarik adalah adanya Mas Rahastu yang akhir-akhir kami ketahui telah sampai di mess sejak maghrib hari Selasa (07/05) sore kemarin. Memang beliau lah yang kami tunggu dan menyebabkan kami bertiga (Saya, Pak Mahatrim dan Mas Hendro) menginap satu malam lagi di Samarinda. Bahkan ketika kami bertiga sempat bertegur sapa ketika hendak berangkat ke kantor RO, tak tahu juga bahwa ternyata beliau lah yang kami tunggu. Dan semuanya terungkap ketika kami bertemu di kantor RO. Persahabatan pun mulai mengalir dan berjalan sangat cair, bersifat kekeluargaan. Seperti core values Agra Bareksa (EA-ONE).

Ternyata eh ternyata, ketiga orang yang masuknya berbarengan dengan saya ini adalah para supervisor. Pak Bahatrim untuk supervisor Nursery. Mas Hendro untuk supervisor Planning/Survey dan Mas Rahastu untuk supervisor Quality Assurance (QA). Weh weh weh, lha kok kenalan saya para supervisor departemen lain ya, terus orang-orang CommVest (Community Investment)-nya mana ya??!.

Oh iya, kita lanjutkan kepada fokus perjalanan ya, karena ini yang menarik untuk diceritakan, khususnya buat saya yang baru pertama kali menginjakkan di tanah Borneo (Kalimantan) dan berjalan-jalan dengan cukup jauh ya (Balikpapan – Samarinda – Kutai Kartanegara – Kembang Janggut).

Perjalanan panjang ini diawali sejak pukul 11 siang waktu Samarinda. Kami menggunakan dua mobil yakni Avanza dan Xenia untuk mencapai Kota Bangun yang jarak tempuhnya tiga jam perjalanan, tempat dimana kami akan berganti menggunakan perahu motor menyeberangi Sungai Mahakam dan masuk rawa hutan dengan jarak tempuh 1,5 jam perjalanan. Dari lokasi penurunan perahu motor, kami masih harus melanjutkan perjalan selama satu jam dengan menggunakan mobil LV, mobil keren khusus di area pedalaman seperti ini (biasa digunakan oleh perusahaan tambang).

Pengalaman paling berkesan bagi saya adalah ketika menaiki perahu motor dari Kota Bangun menuju Kembang Janggut. Bagaimana tidak? Inilah pertama kalinya saya menyaksikan secara langsung sungai yang begitu amat sangat lebarnya. Sungai Mahakam dengan berbagai cabangnya, hingga akhirnya sampai masuk hutan rawa dan di sekitarnya banyak ditemui monyet bergelantungan. Tak ketinggalan pula pemandangan rumah-rumah warga yang mepet dengan suangai dan bahkan kebanjiran karena air sungai rawa meluap. Hm,, maka perjalanan 1.5 jam itupun bagi saya amat sangat kurang, pengen nambah lama lagi he he he.

Akhirnya, lokasi yang dituju pun sampai juga pada pukul 17.30wita. Base Camp Kantor dan Karyawan PT. Silva Rimba Lestari (SRL) di District Kembang Janggut, Kabupaten Kutai Kartanegara-Kalimantan Timur. Sehingga di sinilah saya berada saat ini, base camp di tengah hutan yang ditempatkan dalam satu kamar bersama Mas Hendro (Supervisor Planning/Survey), dan besok mulai menjalani aktivitas pekerjaan di hari perdana. Mohon doanya ya.. ^_^.

Menyambangi Suku Dayak Kenyah

Siang itu (Kamis, 09/05) setelah usai makan siang, saya pun diajak oleh Pak Markuat, Pak Wesli dan Mas Ego untuk menyambangi salah satu rumah warga di Long Beleh terkait persoalan penyelesaian sengketa lahan. Dan agenda tersebut, perusahaan menyerahkan sejumlah uang senilai puluhan juta rupiah sebagai bentuk kesepakatan yang lumayan  alot dalam beberapa waktu yang cukup panjang. Alhamdulillah ini semua berjalan lancar. Dan perjalanan pun di lanjutkan..

Perjalanan ini menuju rumah Pak Ajang, merupakan tokoh adat dari anak tokoh adat besar suku Dayak Kenyah di Desa Ritan Kecamatan Tabang Kabupaten Kutai Kartanegara. Luar biasa…!! Itu kesan yang saya tangkap ketika sampai di rumah Pak Ajang ini. Rumah yang mewah, tempat yang bersih, orang yang santun, dan jamuan yang hangat. Saya awalnya tak mengira bahwa masyarakat adat Dayak begitu modern-nya. Dan memang benar, bahkan Pak Ajang ini adalah salah satu bekas karyawan ternama perusahaan HTI sebelum SRL masuk ke wilayah ini. Bahkan, Pak Ajang saat ini adalah salah satu calon legislatif dari salah satu partai bersimbol kepala banteng untuk wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara.

Dalam kunjungan ini, kami juga memberikan sejumlah bantuan atas proposal yang diajukan oleh panitia pelaksana pesta panen di desa ini. Acara pesta panen ini digelar dengan meriah dan mengundang Bupati Kutai Kartanegara. Sayangnya pada kedatangan kami kemarin, Bupati belum datang dan baru diagendakan tiba pada hari ini (Jum’at, 10/05).

Tanpa mengurangi ke-afdhol-an acara karena Bupati tak dapat kami temui (acara berlangsung dari 6-10 Mei 2013), tempat telah ramai. Banyak terlihat para penari dari kalangan anak-anak, remaja, bahkan ibu-ibu yang memakai pakaian suku adat Dayak Kenyah. Cantik, Indah, Menawan, itulah kesan dari saya. Selain itu, memang benar bahwa orang Dayak itu tipe penampilannya bersih, putih, dan tentu saja menarik hati siapa saja yang memandang ^_^

Meramaikan Masjid Al Muhajirin Camp Rig saat Ramadhan 1434 H

Lima hari pertama kemarin saya menjalani Puasa Ramadhan 1434 Hijriah bersama kawan-kawan di Camp Rig PT. Silva Rimba Lestari. Camp ini masih menyisakan satu buah masjid yang sepertinya dulu pada zamannya cukup megah dan ramai. Namun beda dengan sekarang. Bukan karena orang-orannya tak lagi taat, namun karena penghuninya dulu telah pulang kampung, Limbang Ganeca (nama perusahaan kayu) sebagai pemilik resmi Camp ini telah tutup buku. Camp yang dahulunya berpenduduk hingga 800 jiwa itu pun tinggal sedikit, tak sampai 100 orang saja, dan itupun hampir 60% nya umat Kristiani.

Namun syukur alhamdulillah, meski tak seramai dulu, Masjid Al Muhajirin ini masih punya penghuni tetap untuk sholat lima waktu. Sebut saja Mas Cunda, Pak Jahar, Pak Sas, Pak Sule, Mas Eko. Ada juga Pak Suryo, Eko, Pak Mantri Syaiful, Mas Yudi, Pak Melvin, dan beberapa lainnya yang memang terkadang angina-anginan. Itulah realitanya, tidak boleh ada yang mengeluh, dan memang inilah tugas da’i yang sesungguhnya. Dahulu di masjid kampus dengan segala suasana yang mendukung, tapi di sini, kalau kita malas, apalagi orang lain sebagai mad’u kita?

Lagi-lagi, kami menjadi penggerak. Memang telah ada peranannya masing-masing, dan semua masih di bawah komando Mas Cunda (nama lengkapnya Cunda B. Dian Abdu). Beliau memang orang Tarbiyah tulen, kemampuan ruhiyah, leadership, maupun siyasah-nya tak perlu diragukan. Entah, Allah hendak merencakan hal apa lagi kepada saya sehingga dipertemukan salah satu Permata Tarbiyah di tengah hutan seperti ini.

Saya hanya berpikir, bukan Mas Cunda yang dikirimkan kepada saya, namun saya lah yang dikirimkan ke tengah hutan ini untuk membantu project dakwah untuk perusahaan dan berada di samping beliau. Intinya, tetap take and give. Melakukan yang terbaik untuk dakwah fi sabilillah. Insya Allah..

Menyambung cerita agenda Ramadhan 1434 Hijriah kali ini. Kami mengadakan buka takjil bareng di masjid. Ini juga untuk menarik massa agar melaksanakan sholat Maghrib di Masjid. Ternyata ini juga ampuh dan efektif untuk menarik mereka melanjutkan sholat Isya’ hingga sholat Tarawih. Di sela-selanya, kami sisipkan kultum yang akan diisi secara bergantian.

Malam pertama dan kedua, kultum diisi oleh Pak Sule, malam ketiga oleh Mas Cunda, dan malam keempat diisi oleh saya sendiri, kemudian malam kelima kemarin diisi oleh Mas Risky. Dan itu akan terus berlanjut hingga hari lebaran nanti. Selepas sholat tarawih juga kami adakan tadarus Al Qur’an satu juz setiap malamnya, hingga menghabiskan waktu satu jam, sebelum kembali ngelembur pekerjaan di kantor.

Ramadhan kali ini, insya Allah berkah dan saling menguatkan.

Di depan Lamin Desa Umaq Tukung Kecamatan Tabang, Kaltim

Di depan Lamin Desa Umaq Tukung Kecamatan Tabang, Kaltim

Tembus ke Tabang

Sungguh, perusahaan ini teramat sangat baik perlakuannya terhadap warga masyarakat di sekitar wilayah konsesinya. Ini terkait dengan pencairan dana kontribusi pada kegiatan sosial masyarakat dan keagamaan. Proposal itu datangnya dari Desa Bila Talang Kecamatan Tabang. Sedangkan posisi perusahaan kami sendiri berada di wilayah Kecamatan Kembang Janggut. Dan donasi itu kami antarkan langsung ke tempat tujuan. Sudah ngasih, nganter sampai tujuan pula, gimana gak baik banget coba? He he he ^_^

Pada hari Kamis (15/08) kemarin saya dan Pak Wesly menunaikan tugas untuk menyalurkan donasi yang telah dicairkan oleh perusahaan. Maka, kami pun berangkat ke beberapa lokasi yang memang hampir satu jalan.

Hm, wilayah kerja kami sungguh luas, dan jarak antara Kembang Janggut itu kalau di jalanan lurus, seperti jarak antara Surabaya ke Malang, bahkan lebih jauh dari itu. Bayangkan saja, kami perjalanan berangkat dari Camp Rig pukul 07.30 wita, kemudian sampai lagi di Camp Rig pukul 18.00wita. Seharian penuh. Dan jalannya penuh kelokan, juga jalan tanah.

Tabang. Tiga bulan lalu saya masih hanya mendengar saja nama Kecamatan itu. Namun, akhirnya pada hari Kamis kemarin, saya pun tembus ke Kecamatan Tabang. Namun sayangya belum sempat untuk mendokumentasikannya.

Dokumentasi yang ada, baru di Desa Umaq Tukung, hanya beberapa menit dari Kecamatan Tabang. Dan di seberang sungai melewati jembatan gantung, di situlah letak Desa Bila Talang, tujuan dari pencairan donasi untuk kegiatan Seminar Guru-guru Sekolah Minggu GKII Bila Talang Kecamatan Tabang.

Pemakmur Masjid Al Muhajirin Camp Rig

Waktu berjalan dengan begitu cepatnya. Rasanya baru hari kemarin saya berada di sini, bersama-sama untuk terus istiqomah di jalan-Nya, meski kemalasan dan kegalauan senantiasa menyelimuti hati setiap waktu. Inilah kami, beberapa orang baik diantara orang-orang baik lainnya, orang-orang muslim diantara orang muslim lainnya, orang-orang berstatus karyawan diantara karyawan lainnya..

Tapi ada yang beda, karena kami senantiasa saling menyemangati dan saling mengingatkan, bahwa masjid adalah pusat peradaban, oleh karenanya, ia harus tetap hidup, diisi untuk sholat  berjama’ah, sehingga tetap tegak kumandang adzan mendayu-dayu memanggil para kaum muslimin untuk berbahagia di dalamnya, menuju kemenangan hakiki..

Karyawan kami sekarang mencapai lebih dari 120 orang, sedangkan waktu awal kedatangan saya di bulan Mei 2013 lalu masih sekitar 90 orang saja. Pembangunan mes karyawan di lokasi terus dibangun dan beberapa diantaranya telah selesai dan siap dihuni. Awalnya dulu ada Pak Jahar, orang Desa Tuana Tuha (suku Kutai) yang suaranya begitu merdu, saya sendiri selalu merindukan suara adzan beliau. Hanya sekitar dua bulan kami bersama-sama meramaikan masjid Al Muhajirin ini, karena beliau harus pindah ke lokasi dekat areal kerja, yang jaraknya 50 kilometer dari mes utama dan kantor distrik PT. Silva Rimba Lestari..

Oh iya, bagi pembaca yang belum pernah membaca tulisan saya tentang Masjid Al Muhajirin, mungkin bisa searching di menu search blog ini dengan memasukkan kata kunci “Al Muhajirin”. Masjid ini bukan seperti masjid kebanyakan, kondisinya cukup mengerikan sebagai sebuah masjid besar. Kotor, tidak terawat, dan nyamuknya banyak. Kami yang biasa menggunakannya untuk tempat ibadah sehari-hari, hanya bisa membersihkan di bagian-bagian tertentu saja, dan kondisi masjid Al Muhajirin tetap menyeramkan (bagi mereka yang jarang pergi ke masjid ini, pasti merasa seram)..

Karyawan yang masih tinggal di Camp Rig (mes utama dan kantor) ini masih sekitar 70 orang, muslimnya sekitar 80%. Namun, pemakmur masjid Al Muhajirin sangat sedikit, bisa dihitung dengan jari. Kalau sholat Shubuh, bahkan kami sering hanya berdua, bahkan sendiri saja. Tapi sholat Maghrib dan Isya’, alhamdulillah masih dapat lima sampai tujuh orang. Ya, memang begitulah kenyatannya, masjid Al Muhajirin hanya dimakmurkan oleh kurang dari 10 orang, dari 70 orang umat muslim yang ada..

Meski demikian, kami tak pernah patah semangat. Bahkan, kami saling menanyakan dan mencari ketika ada salah satu dari kami yang biasa sholat berjama’ah, ada yang menjadi jarang terlihat. Hal tersebut adalah salah satu bentuk kepedulian kami karena saling mengasihi, menyayangi dan mencintai karena Allah semata..

Aktivitas dakwah di sini, memang sangat berbeda dengan suasana dakwah kampus, atau di kota besar. Ya, sebelumnya saya terbiasa hidup di lingkungan dakwah kampus, dan juga kota besar, Bandung dan Jakarta menjadi tempat menjalani kehidupan keseharian selama enam (6) tahun terakhir. Dan di sini, kondisi “nyaman” dan banyak tempat menimba ilmu tersebut sama sekali tak ada. Karena yang ada adalah uji kualitas, apakah masih bisa menjaga sholat berjamaah, dan amalan-amalan sunnah yang bisa terlaksana, atau malah jatuh futur, hingga semakin jauh dari zona cahaya..

Tapi, terlepas dari itu semua, sebenarnya ada celah kesempatan emas untuk mengembangkan kekokohan iman di dalam diri. Waktu luang yang bisa dibilang cukup banyak, sebenarnya bisa dipergunakan untuk melanjutkan menambah hafalan, bisa juga untuk memperbanyak tilawah Al Qur’an, menjadwalkan sholat malam dan sholat Dhuha, serta bermacam-macam aktivitas peningkatan iman lainnya. Namun, jika itu masih belum bisa terlaksana, tak perlu merana, karena saya dan Mas Cunda Bari Dian Abdu siap membagi (membaca) hadist Riyadhus Shalihin yang dirangkum oleh Dr. Aidh Al Qarni menjadi sebuah bacaan yang enak dinikmati, dengan tema-tema yang bisa disesuaikan dengan pilihan anggota majelis..

Inilah kami, dua sampai lima orang yang mengisi jama’ah sholat Maghrib di Masjid Al Muhajirin, membuka majelis pembacaan hadist setiap usai sholat Maghrib. Tak perlu menghabiskan waktu terlalu lama, maksimal 15 menit saja. Kemudian kami lanjutkan makan malam di kantin, lalu sholat Isya’ berjama’ah kembali. Rutinitas ini kami laksanakan setiap hari tanpa jeda, meski hanya ada dua orang, majelis pembacaan hadist akan tetap berjalan. Karena prinsip kami adalah, sedikit-sedikit asal istiqomah, insya Allah lebih berkah daripada terlalu banyak tapi “angin-anginan” (ke masjid kalau lagi semangat saja, dan menghilang ketika ujian kemalasan melanda)..

Ya, di sinilah aktivitas dakwahku yang mungkin tidak seideal dengan kehidupan waktu kuliah dan berada di kota besar. Tapi yakinlah, jika Engkau mengalaminya sendiri, “begini” saja ini sudah berat dan semoga kami diberikan keistiqomahan dalam menjalankannya. Aammiinn..

Menapakkan Kaki di Melak-Kutai Barat

Tempat terjauh pertama yang saya kunjungi dalam rangka menunaikan amanah pekerjaan adalah pergi ke Kecamatan Tabang. Sebenarnya tepatnya bukan di Kecamatan Tabang sih, melainkan ke Desa Bila Talang yang terletak di seberang sungai berhadap-hadapan langsung dengan Kecamatan Tabang. Perlu diketahui bahwa Kecamatan Tabang adalah kecamatan paling ujung Barat atas wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara, dan setelah itu berbatasan langsung dengan daerah Kutai Barat.

Nah, pada kesempatan kali ini, saya hendak berbagi sedikit tentang kunjungan saya ke Melak, Kota Kabupaten Kutai Barat..

Wilayah konsesi perusahaan tempat saya bekerja memang sangatlah luas, bahkan wilayah kami adalah terluas dari perusahaan-perusahaan dalam Group Agra Bareksa, yakni lebih kurang 88.000 ha. Bandingkan saja dengan perusahaan tambang yang rata-rata 5-10 ribu Ha atau kebun sawit yang luasnya antara 20-40 ribu Ha saja. Hal demikianlah yang menjadikan wilayah konsesi kami di sebelah Barat Daya berbatasan langsung dengan Kabupaten Kutai Barat.

Berbicara mengenai Kutai Barat, adalah juga perusahaan dalam Agra Bareksa Group yang wilayahnya terdapat di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Kutai Barat. Uniknya lagi, ada sekelompok orang yang memiliki klaim lahan di areal konsesi perusahaan kami yang letaknya di Kabupaten Kutai Kartanegara, sedangkan mereka tinggal di Enggelam Kecamatan Muara Wis Kabupaten Kutai Barat. Kisah perjalanan ke Melak, pusat pemerintahan Kabupaten Kutai Barat adalah karena mendatangi klaimer yang tinggal di Desa Enggelam tersebut.

Sebuah perjalanan yang cukup melelahkan memang, namun begitu mengasyikkan karena merupakan petualangan baru yang memperlihatkan keindahan bumi Borneo, khususnya wilayah Kutai Kartanegara dan juga Kutai Barat. Lewati lembah dan hutan, tanaman akasia dan kebun sawit, sungai kecil hingga besar, pemukiman terpencil yang dihuni oleh Suku Dayak Tunjung, hembusan angin sepoi yang menyisir rambut dan wajah bersahabatku, benar-benar indah, kawan ^^

Jangan tanya mengenai perjalanannya, karena membutuhkan lebih kurang 300 km pulang dan pergi untuk melampaui perjalanan ini. Dan tak bisa dibayangkan perjalanan lancar dengan aspal mulus, karena yang terjadi bahkan sebaliknya, jalan dari tanah pasir, bahkan becek karena adanya genangan air yang menyebabkan mobil Strada 4WD yang kami tumpangi itu harus membuat diubah pada mode double brake (ban mobil bagian depan dan belakang sama-sama berputar dengan tenaga penuh) untuk menghindari selip. Tapi, ya memang di situlah indahnya he he.

Ya, itulah sebagian sejarah hidupku yang tercatat dalam blog curhatan ini, Kamis, 05 Desember 2013 saya telah sampai ke Desa Enggelam Kecamatan Muara Wis Kabupaten Kutai Barat, dan berlanjut ke Melak, Kota Kabupaten Kutai Barat gara-gara mengejar urusan dengan klaimer tersebut

Ya, dan di sinilah saya berkarya sekarang. Tak terasa, sejak 06 Mei sampai dengan 10 Desember 2013, tujuh bulan telah terlewati, dan ternyata saya masih betah berada di sini ^^

*Kembang Janggut, 07 Shafar 1435 H/10 Desember 2013.

**Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur

 Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Senin, 13 Januari 2014 pukul 08.00 wita.

NB: Artikel ini adalah edisi series dari The Story of Muhammad Joe Sekigawa. Diterbitkan secara berkala pada setiap hari Senin dan Kamis, sejak tanggal 29 Juli 2013. Jika tak ada halang merintang, akan disusun menjadi sebuah buku bagi koleksi pribadi ^_^

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: