Muslim kok Liberal*

Muslim kok Liberal*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Begitu hebatnya musuh-musuh Islam, sehingga mereka bisa memasuki ranah paling sensitif dari sendi-sendi penegak agama ini..

Pesantren dan juga perguruan tinggi Islam (IAIN/UIN) mampu disusupi hingga pemikiran liberal menjadi arus utama. Tentu bukan pekerjaan sulap menyulap, namun konsistensi kaum perongrong kemurnian akidah kaum muslimin yang berlangsung sejak tahun 70-an sampai sekarang menuai keberhasilannya, dengan tolok ukur dari banyaknya masyarakat muslim yang setuju dengan ide-ide sekulerisme, pluralisme agama dan liberalisme..

 Kita bisa telusuri pada tulisan-tulisan tokoh liberal di Indonesia, seperti pada 3 Januari 1970, Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia (HMI), Nurcholish Madjid, secara resmi mengungkapkan betapa perlunya melakukan dilakukan sekulerisasi Islam. Dalam makalahnya berjudul “Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat”, Nurcholish menyatakan: “. . . pembaruan harus dimulai dengan dua tindakan yang saling erat hubungannya, yaitu melepaskan diri dari nilai-nilai tradisional dan mencari nilai-nilai yang berorientasi ke masa depan. Nostalgia, atau orientasi dan kerinduan pada masa lampau yang berlebihan, harus diganti dengan pandangan ke masa depan. Untuk itu diperlukan suatu proses liberalisasi. Proses itu dikenakan terhadap ‘ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan Islam’ yang ada sekarang ini…” Untuk itu, menurut Nurcholish, ada tiga proses yang harus dilakukan dan saling kait-mengait: 1)sekulerisasi; 2)kebebasan intelektual; dan 3)gagasan mengenai kemajuan dan ‘sikap terbuka’ (dikutip dari Makalah Dr. Adian Husaini, 2008) ..

Entah mengapa, aneh tapi nyata adanya. Kampus yang diharapkan mampu untuk membendung pemikiran-pemikiran sesat itu, malah menjadi pejuangnya. Dan tidak main-main, para pendukung itu adalah tokoh dengan gelar doktor dan juga profesor. Contohnya yang dapat saya sebut seperti Prof. Dr. Harun Nasution, Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, Prof. Dr. Nurcholish Madjid, Dr. Luthfi Assyaukanie, Dr. Abd Moqsith, Prof. Musdah Mulia dan masih banyak lagi yang lainnya..

Turunan-turunan dari pemikiran liberal ini semakin mengkhawatirkan. Bisa-bisanya mereka ini menghalalkan pernikahan sesama jenis, dan bahkan mengkampanyekannya. Dalam Jurnal Justisia tahun 2004, Sumanto al Qurtuby yang merupakan mahasiswa Jurusan Syariah di IAIN Semarang ini, menulis cover story dengan judul “Indahnya Kawin Sesama Jenis”. Dalam pengantar Jurnal, Sumanto al Qurtuby yang merupakan Pimred-nya menulis, “Hanya orang primitif saja yang melihat perkawinan sejenis sebagai sesuatu yang abnormal dan berbahaya”. Lebih jauh lagi, pada tahun 2009 ia kembali menulis sebuah buku berjudul “Jihad Melawan Ekstrimis Agama, Membangkitkan Islam Progresif”. Salah satu judul artikelnya adalah “Agama, Seks dan Moral”, mengungkapkan pemikiran tentang penghalalan seks bebas, asalkan dilakukan secara sukarela, tanpa paksaan. Seperti pendapat ngawur yang ditulisnya di buku tersebut, “Lalu bagaimana hukum hubungan seks yang dilakukan atas dasar suka sama suka? ‘demokratis’, tidak ada pihak yang ‘disubordinasi’ dan ‘diintimidasi’? atau bagaimana hukum orang yang melakukan hubungan seks dengan pelacur (maaf kalau kata ini kurang sopan), dengan escort lady, call girl dan sejenisnya? Atau hukum seorang perempuan, tante-tante, janda-janda atau wanita kesepian yang menyewa seorang gigolo untuk melampiaskan nafsu seks? Jika seorang dosen atau penulis boleh ‘menjual’ otaknya untuk mendapatkan honor, atau seorang da’i atau pengkhotbah yang ‘menjual’ mulut untuk mencari nafkah, atau penyanyi dangdut yang ‘menjual’ pantat atau pinggul untuk mendapatkan uang, atau seorang penjahit atau pengrajin yang ‘menjual’ tangan untuk menghidupi keluarga, apakah tidak boleh seorang laki-laki atau perempuan yang ‘menjual’ alat kelaminnya untuk menghidupi anak-isteri/suami mereka?”..

Luar biasa…Keblingernya!! Bagaimana seorang alumnus IAIN Jurusan Syari’ah kemudian mengkampanyekan hal seperti ini?

Di lain kisah, orang liberal ini juga begitu gencar mempromosikan bahwa kebebasan adalah hak yang patut dilindungi dan diperjuangkan. Berbekal pemahaman “liberal” ala Barat, maka tolok ukurnya menjadi kebebasan yang kebablasan. Penikahan sesama jenis, pernikahan beda agama, Ahmadiyah, hingga tafsir Al Qur’an dengan metode hermeunetika (cara menafsirkan kitab bible). Kaum liberal juga tak lagi menghormati keilmuan dan akhlak dari para ulama, sehingga menempatkan mereka sama saja dengan para ilmuan yang bejat, bahkan seseorang yang tidak punya ilmu pengetahuan apa-apa pun mereka angkat derajatnya menyamai para ulama untuk memutuskan perkara agama..

Kebebasan dalam Islam, adalah kebebasan yang tidak menabrak pada norma agama. Bukan kebebasan tanpa aturan dan seenaknya manusia sendiri dalam menafsirkan. Jika masih mau disebut sebagai manusia yang beragama, maka harus mematuhi rambu-rambu agama tersebut. Kecuali jika kita memang menginginkan menjadi seseorang yang tidak beragama, dan tidak terikat pada aturan agama, maka pilihan ada di tangan kita sendiri. Oleh karena itu, pilihlah menjadi MUSLIM atau LIBERAL?

Dalam tataran praktis, kebebasan sejati memantulkan ilmu dan adab, manakala kebebasan palsu mencerminkan kebodohan dan kebiadaban. Kebebasan seyogyanya dipandu imu dan adab supaya tidak merusak tatanan kehidupan. Supaya membawa kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

(Dr. Syamsuddin Arif, Dosen Universitas Islam Internasional Malaysia)

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kembang Janggut-Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Selasa, 01 Oktober 2013 pukul 17.31 wita

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Ahad, 13 Oktober 2013 pukul 08.00wita.

Comments
3 Responses to “Muslim kok Liberal*”
  1. Aulia says:

    jalan dakwah kebenaran harus terus diperjuangkan, jika saat ini kita telah memasuki masa neo-jahiliyah yang modern..

    salam🙂

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: