Berangan Kriteria Pendamping Hidup*

Boncengan sepeda di bawah bunga sakura

Berangan Kriteria Pendamping Hidup*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Sudah sewajarnya, kita menghendaki segala hal yang baik, urusan yang baik-baik dan tanpa ada masalah..

Apalagi sekarang ini kita tengah berbicara mengenai pendamping hidup, seorang isteri ataupun suami yang akan menemani hari-hari sampai tua nanti. Insya Allah..

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam pun menyabdakan, “Wanita itu dinikahi atas 4 hal. Karena hartanya, karena kecantikannya, karena keturunannya, dan karena dien(agama)-nya. Maka ambillah wanita yang baik diennya. Pasti engkau akan beruntung”..

Lalu, seringkali kita menambahkan keinginan bahwa wanita calon mempelai idaman itu adalah yang bagus agamanya, berasal dari keturunan yang baik, cantik jelita, juga kaya harta. Kalau bisa didapatkan keempat-empatnya, kenapa tidak? Begitulah kurang lebih angan kriteria yang diharapkan..

Namun jangan lupa, kriteria super tinggi seperti itu tidak mudah menggapainya. Bisa jadi, hanya ada sedikit wanita yang mampu memenuhi empat kriteria tersebut. Kalau terlalu lama untuk mencari sosok yang sempurna atau mendekati sempurna, jangan-jangan malah bisa menjadikan kita bermaksiat terlalu lama..

Eits, jangan terlalu enteng menilai maksiat ya. Jangan kira hanya karena tidak pacaran, engkau sudah aman dari godaan..

Menghindari perilaku pacaran seperti remaja dan pemuda-pemudi kebanyakan itu hanyalah satu bagian dasar dari menghindarkan diri terhadap maksiat, itu hanyalah bagian standar yang harus dilalui oleh mereka yang mendamba keluarga SAMARA alias Sakinah, Mawaddah dan Warahmah..

Masih ada penglihatan, pendengaran, ucapan dan bagian-bagian lain yang sungguh sulit dihindarkan dari maksiat ketika diri masih sendiri..

Sebaiknya kita ingat kembali, kenapa ada pernikahan di dalam kehidupan kita? Allah berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah, dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (Q.S Ar Ruum: 21)..

Maka, saling mencintai dan merasa tenteram dengan berkumpulnya dua insan, yakni laki-laki dan perempuan, adalah sebuah fitrah yang patut kita syukuri, dan tentu saja, jalan satu-satunya yang diridhoi-Nya adalah dengan melangsungkah pernikahan. Kemudian, dialah yang akan mendampingi kita dalam suka maupun duka, dalam perjalanan panjang meraih keridho’an Allah, hingga tampak jelas syurga menunggu di akhir perjalanan dunia. Aamiinn..

Jadi, selayaknyalah.. Kriteria pendamping hidup yang pertama itu adalah dengan melihat agamanya. Tentu, ia adalah seorang patut pada perintah Allah dan takut akan larangan-Nya. Hal tersebut terwujud dengan bentuk peribadahan sehari-hari yang tidak pernah terlalaikan. Memperbanyak amalah sunnah dan tidak pernah berhenti untuk belajar. Karena semakin belajar, akan semakin terasa bahwa banyak hal yang tidak diketahuinya..

Kriteria tentang seseorang yang mau dan tengah berusaha memperbaiki diri secara terus menerus itu lebih penting untuk kita pertimbangkan..

Misalnya, kita menemui seseorang lelaki yang sholeh, baik hati, jarang berbohong, namun masih enggan untuk menunaikan sholat secara berjama’ah, tapi sholatnya selalu tepat waktu karena ia sadar bahwa sholat yang terbaik adalah dilakukan pada waktunya..

Cerita satunya adalah tentang seorang perempuan yang sama sekali tidak mau pacaran, sholat lima waktu terjaga, tilawahnya juga konsisten, tapi ternyata ia belum bisa menutup aurat dengan sempurna. Jilbabnya masih sebatas leher, celana jeans panjang lebih gemar ia kenakan daripada rok yang lebar tanpa bisa membentuk lekuk tubuhnya..

Nah, baik laki-laki dan wanita dalam cerita di atas bisa menjadi alternatif pilihan, itupun kalau kita tahu bahwa mereka tengah berproses menjadi lebih baik, menyadari proses yang tengah mereka jalani, dan mau berubah ketika menemui hujjah kuat yang patut diikuti..

Percayalah, jika demikian adanya. Maka, bersiaplah untuk mendapatkan mutiara gemerlap yang mampu menyenangkan hati, tak hanya hati diri, tapi juga Rabbul izzati. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa mereka yang merupakan orang potensial di zaman jahiliyyah, akan menjadi orang yang potensial juga di dalam Islam. Maka, bisa jadi orang potensial yang masih bergelimangan di zona “tidak aman” itu akan menjadi sebuah kekuatan besar dalam dakwah Islam ketika ia telah menyadari akan kebutuhan diri dalam jama’ah dakwah..

Di akhir tulisan. Himbauan tetaplah ada pada mereka yang telah matang pemahaman agamanya sebelum menikah, kemudian baru terjun ke gelanggang pernikahan yang barakah. Karena, bekal pemahaman agama adalah pondasi kuat untuk mempekokoh jalannya rumah tangga yang bisa jadi akan menemui hambatan-hambatan di masa depan..

Belajar, teruslah belajar, berkenan menerima perubahan pemahaman jika memang itu bersumber dari Qur’an dan Sunnah. Tidak ada satu alasan pun untuk menolaknya, kecuali jika kita memang benar-benar telah terpedaya oleh bujuk rayu setan durhaka, na’udzubillah..

Mari, tetapkan kriteria pendamping hidup kita, dengan dasar agama, karena memang itulah yang utama.. ^_^

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kembang Janggut-Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Selasa, 10 September 2013 pukul 16.52wita

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Sabtu, 21 September 2013 pukul 08.00wita.

Comments
10 Responses to “Berangan Kriteria Pendamping Hidup*”
  1. kayka says:

    ralat sedikit mas: ngomong2 soal kriteria istri ideal

    salam
    /kayka

  2. kayka says:

    ngomong2 soal kriteria ideal suami, apakah ada kriteria ideal mencari suaminya juga gak ya mas? krn spt halnya pria wanita juga gak kurang milih2nya soal pasangan hidup. cuma pertanyaannya apakah sesuai dgn akidah agama kita.

    salam
    /kayka

    • Suami ideal? Tentu saja ada..

      Calon suami ideal adalah yang berperangai lembut kepada siapa saja, melaksanakan ibadah tanpa diperintah orang lain, bertanggung jawab (bisa dilihat dari aktivitas organisasi/pekerjaan), punya visi perubahan untuk masa depan. Dan memahami arti menjadi seorang pemimpin (diri sendiri, keluarga, masyarakat dan juga negara)

      Sedikit itu saja mungkin yang bisa saya bagi🙂

  3. kalau bagi aku, pertama dia muslimah. lalu cantik, lalu kalem.

  4. Menurut saya tidak ada orang yang baik, yang ada adalah orang yang sedang berproses menjadi baik. Sebab, setiap manusia mempunyai potensi buruk dalam dirinya, jika ia tidak terus berporoses menjadi baik maka berkemungkinan potensi buruk itulah yang mungkin akan berkuasa… Dari sinilah kita dapat memetik makna bahwa pria yang baik akan mendapatkan wanita yang baik, proses dalam menjalani pernikahan itulah yang menentukan apakah dua insan tersebut berporoses menuju yang yang baik atau malah mengarah kepada hal yang buruk…
    salam

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: