Story 011 Perpustakaan Sebagai Pusat Baca

Ruang baca perpustakaan STKS Bandung tahun 2012

Perpustakaan Sebagai Pusat Baca

Sudah beberapa kali kuungkapkan di sesi tulisan sebelum-sebelumnya bahwa ketika aku memasuki kampus STKS Bandung ini, sama sekali belum tergambarkan secara jelas mengenai mata kuliah dan kemampuan yang bagaimana yang akan aku dapatkan selama belajar empat tahun ke depan. Maka, mau tidak mau aku harus mencari tahu secara lebih dalam. Dan tempat terbaik untuk mengetahui tentang STKS Bandung adalah dengan memperbanyak membaca ratusan tumpukan buku yang tersusun rapi di perpustakaan.

Di saat teman-teman yang lain masih merasa belum perlu untuk mengunjungi perpustakaan karena belum ada tugas dari dosen, sebaliknya denganku. Di saat masa awal-awal sekali menjalani perkuliahan, tempat kedua yang kusinggahi setelah masjid Al Ihsan adalah perpustakaannya yang terletak di lantai III gedung sebelah Selatan itu.

Bukanlah buku-buku “berat” berbahasa Inggris yang kubaca, namun buku-buku tipis yang merupakan hasil penelitian dari para dosen dan juga pegawai Kementerian Sosial, khususnya bagian Litbang (penelitian dan pengembangan). Bagiku, buku-buku yang kebanyakan ber-cover warna kuning itu lebih aplikatif dan up to date dari segi praktik di lapangan.

Ruang baca perpustakaan STKS Bandung tahun 2012

Ruang baca perpustakaan STKS Bandung tahun 2012

Membaca hasil penelitian ini, aku tak merasa sedang mencermati suguhan ilmiah tingkat tinggi, melainkan pemandangan mengagumkan atas sebuah ilmu yang disebut dengan Pekerjaan Sosial (social work) dalam konteks kekinian. Kupasan masalah mulai dari anak jalanan, wanita tuna susila, gelandangan dan pengemis, anak nakal di Lapas, komunitas adat terpencil, korban bencana alam, konflik sosial, cacat mental dan fisik, sampai dengan praktik Pekerja Sosial di Rumah Sakit.

Dari sini, sebenarnya aku sudah mulai mengalami percepatan pembelajaran karena telah membaca banyak sekali definisi tentang pekerjaan sosial, kesejahteraan sosial, masalah sosial, dan juga beberapa teknik dan teknologi dalam ilmu pekerjaan sosial. Namun, tentu saja tidak dengan sebegitu mudahnya tiba-tiba aku sudah menjadi ahli dan bintang di kelas, tidak demikian adanya. Otak mungilku ini masih mencerna, dan mencoba mengkorelasi semua materi yang diberikan oleh dosen, untuk kumaknai menjadi sebuah ilmu pengetahuan yang menambah wawasan.

Jujur, aku sama sekali tidak mengalami kesulitan yang memberatkan selama beradaptasi dengan perkuliahan di STKS Bandung, apalagi seolah-olah semuanya memang telah tersedia di perpustakaan sebagai tempat favorit nongkrongku itu. Namun, tentu saja masih ada kekurangan dan kelemahan. Perlu diketahui, bahwa sejak masa SD, nilai terendahku adalah di bidang IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Aku agak kesulitan untuk menghafal, kalau pun bisa, itu hanya bertahan secara temporary saja. Kemampuanku lebih cenderung pada ilmu eksakta. Semasa SMK dulu, sempat ingin kuliah di Jurusan Teknik Informatika ITS, tapi takdir Allah memang berkehendak lain.

Membaca di tempat dengan koleksi ribuan buku itu gimana gitu rasanya ya. Bahkan, dari sini juga kudapati tokoh-tokoh idola yang namanya banyak tercetak di buku-buku koleksi STKS Bandung. Sebut saja mulai Pak Edi Suharto, Pak Adi Fahrudin, Bu Kanya Eka Santi, dan masih banyak yang lainnya. Kuketahui di belakang bahwa beliau-beliau itu memang para orang hebat yang diam-diam menjadi tokoh akademisi yang kukagumi kiprah dan torehan karyanya.

Dan yang menarik, tentu saja, dari perpustakaan ini kudapatkan beberapa orang teman yang juga gemar membaca, haus akan ilmu pengetahuan, berpikir akademis, dan begitu cintanya pada ilmu Pekerjaan Sosial. Para mahasiswa cerdas yang sempat berinteraksi denganku antara lain Mbak Widha Dessy, Kak Alamsyah, Chitalia, Puput, Lukas, Pak Raharjo, dan masih banyak nama lain yang tak bisa kusebutkan satu per satu.

Yang jelas, dari satu tempat bernama perpustakaan inilah kupuaskan dahaga akan ilmu pengetahuan yang mendalam tentang ilmu Pekerjaan Sosial. Kecakapan dalam penguasaan ilmu pengetahuan tentang Pekerjaan Sosial, menjadi landasan kuat dalam proses berikutnya, yakni keaktifan pada organisasi kemahasiswaan. Mari, buka jendela ilmu dengan banyak membaca.. ^_^

*Kembang Janggut, 30 Juli 2013

**Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Senin, 02 September 2013 pukul 08.00 wita.

NB: Artikel ini adalah edisi series dari The Story of Muhammad Joe Sekigawa. Diterbitkan secara berkala pada setiap hari Senin dan Kamis, sejak tanggal 29 Juli 2013. Jika tak ada halang merintang, akan disusun menjadi sebuah buku bagi koleksi pribadi ^_^

Comments
2 Responses to “Story 011 Perpustakaan Sebagai Pusat Baca”
  1. Cool, moga sukses proyek buku personal-nya..🙂

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: