From Bandung to PSKW Pasar Rebo, Tangerang, hingga Cijantung Jakarta Timur

Bismillahirrohmaanirrohiim,,

Arrival @PSKW Mulya Jaya Pasar Rebo, Jum’at 10 Juni 2011

Hari Jum’at sore yang lalu, saya dan Akbar menaiki Bus Damri dari pojok kampus UNPAD Dipati Ukur menuju Leuwi Panjang. Ya, kami berdua sedang berniat untuk berangkat menuju ke Pasar Rebo, tepatnya di Komplek Perumahan Panti Sosial Karya Wanita (PSKW) Mulya Jaya milik Kementerian Sosial RI di daerah Pasar Rebo (samping RS Pasar Rebo Jakarta Timur).

Di komplek ini terdapat Bunda saya, Ibu yang sangat baik sekali kepada saya dan kebetulan kami hanya baru berkenalan via dunia maya saja. Dan inilah saat yang tepat agar saya bisa bertemu dengan beliau dan keluarga, hari dimana anak terakhir Bunda Nina khitanan dan beliau membuat acara yang lumayan besar, bahkan hingga mengundang sebanyak 300 orang. Di samping itu, memang saya dan Akbar pada hari Sabtu bes0knya juga akan penjajakan awal ke Lapas Anak Pria Tangerang dalam rangka penelitian. Jadi sekalian saja, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.

Saya dan Akbar pun sampai di Lampu merah Pasar Rebo tepat pada pukul 21.00wib, kami masih bingung untuk mencari letak dimana PSKW Mulya Jaya berada, jadi sms saya kirim kepada Kak Alam dan beliau menunjukkan arah bahwa PSKW itu letaknya di dekat RSUD Pasar Rebo, jadilah saya dan Akbar jalan kaki ke sana dan mengontak Bunda Nina. Tak lama kemudian datanglah Bapak (suami Bunda Nina) menjemput kami dengan menaiki motor. Alhamdulillah, sampailah kami di rumah Bunda Nina, dan suasana kekeluargaan pun dengan cepat terbangun.

Saya dan Akbar diperkenalkan dengan banyak keluarga Bunda Nina yang sudah datang, dan yang terpenting adalah saya pada akhirnya bisa tahu Sofi, Fira, dan Fadhil, ketiga anak dari Bunda Nina yang juga adik-adik saya. Semoga suasana kekeluargaan ini senantiasa akan selalu terbangun, insyaAllah barokah dan selalu dalam naungan keridho’anNya.

Tangerang in Explore, Sabtu 11 Juni 2011

Sabtu pagi, saya dan Akbar pun berangkat menuju Lapas Anak Tangerang, awalnya memang agak bingung karena kami memang sama sekali belum pernah ke sana, namun Alhamdulillah bisa sampai, juga. Waktu masih menunjukkan pukul 09.00wib namun mentari sudah agak terik terasa, lain keadaannya dengan di Bandung. Kami pun disambut oleh seorang Ibu-ibu yang menjaga meja registrasi bagi tamu pengunjung. Kami akan menemui Ibu Sondang Pakpahan, namun ternyata beliau sedang rapat. Setelah berbincang ternyata kami belum bisa memasuki area Lapas karena belum mengantongi surat izin dari Kanwil Kemenkumham Banten. Maka, kami pun hanya dapat berbincang dengan Ibu penjaga meja registrasi tersebut.

Setelah beberapa saat berbincang dengan seru, ada hal menggemparkan tubuh kami berdua (saya dan Akbar). Ternyata di Lapas Anak Pria Tangerang ini sudah tidak ada klasifikasi Anak Sipil. Jelas saja kami kaget, karena judul penelitian yang tengah kami lakukan adalah mengenai Kelekatan Anak Sipil Terhadap orang Tuanya. Jadi bingung, ah sebaiknya memang dikonsultasikan terlebih dahulu dengan Ibu Uli selaku dosen pembimbing penelitian kami. Semoga akan ada titik terang atas kendala debut penelitian perdana kami ini.

Siang itu waktu masih menunjukkan pukul 11.00wib, Akbar memutuskan untuk langsung kembali ke Bandung karena masih ada urusan yang harus diselesaikan. Sedangkan saya kembali lagi ke PSKW Pasar Rebo karena memang acara inti dari kedatangan saya ini baru akan dimulai, yaitu khitanan dari Fadhil, anak ketiganya Bunda Nina. Entah bagaimana ceritanya, waktu sampai di lokasi acara yang ramai itu, saya jadi malu untuk ikut serta di sana, apalagi waktu itu saya belum membeli apa-apa untuk Fadhil sebagai ucapan selamat atas khitannya.

Alhamdulillah, bantuan itu datang atas izin Allah. Nisa membantu saya dalam membeli sarung dan juga langsung membungkusnya dengan kertas kado. Saya dan Nisa ketemu di Pasar Obor, karena kebetulan rumah Nisa pun tak jauh dari pasar tersebut. Alhasil saya pun sudah mengantongi hadiah tersebut dan berani kembali lagi ke acara. Eh, ternyata saat tiba di sana, acara sudah sepi, Bunda sempat kecewa ketika tadi saya tak ada di sana, namun setelah saya jelaskan, Bunda pun tak mempermasalahkannya lagi. Thanks to Nisa, Thanks to Bunda ^^

Saya pun berada di kompleks PSKW ini hingga Minggu pagi keesokan harinya setelah malam sebelumnya saya juga sempat sharing banyak hal kepada Bunda Nina. Yang jelas, kehadiran saya di sana diharapkan dapat memberikan sumbangan positif bagi anak-anak dan keluarga Bunda Nina. Alhamdulillah jika saya memang dibutuhkan, semua ini merupakan nikmatMu ya Rabbku 🙂 Dan saya meninggalkan kompleks PSKW pada pukul 09.00wib

Cijantung, Find a Honest Family. Minggu, 12 Juni 2011

Setelah usai dari tempat Bunda Nina, masih ada satu agenda lagi yang harus saya laksanakan. Saya sudah berjanji kepada Nisa bahwa hari ini saya akan mengunjungi rumahnya. Kebetulan anggota keluarga sedang lengkap (terutama Ayah Nisa memang sangat sibuk sekali dan jarang berada di rumah). Sesuai dengan janji, saya akan dijemput Nisa di depan Rumah Makan Masakan Padang Siang-Malam dan sekitar pukul 09.30wib Nisa pun muncul dan membawa saya menuju ke rumahnya.

Hm, lokasi perumahan penduduknya memang lumayan padat sekali, dan kami harus melewati beberapa gang agar sampai di rumahnya. Bahkan di jalan saya sempat berkata kepada Nisa, “mas pasti tidak akan hafal jalan jika harus disuruh balik sendirian he he he” dan Nisa pun ikut tertawa kecil sambil terus menuntun saya menuju rumahnya.

Alhamdulillah, kami pun sampai di rumahnya. Di sana telah ada Ibu dan juga Bapak, Faqih (adiknya Nisa) sepertinya sedang main bersama teman-temannya. Mbak Alin (kakaknya Nisa) juga tak kelihatan karena sudah siap akan berangkat kerja. Sambutan awal Ibu dan Bapak benar-benar sangat hangat, saya pun dapat merasa nyaman meski ini adalah kali pertama saya bertemu dengan keluarga ini, datang pertama kalinya ke rumah ini, rumah keluarga Nisa ^^ Tak lama kemudian, muncullah Mbak Alin yang saya rasa adalah duplikatnya Nisa (sama persis) dan juga Faqih yang lucu sekali perilakunya. Lengkap sudah saya menemui seluruh anggota keluarga Nisa. Alhamdulillah ^_^

Kami pun duduk bersama-sama untuk berbincang. Ada Bapak, Ibu, Nisa, dan, juga saya. Dari perbincangan yang mengalir dan dalam suasana tidak menegangkan sama sekali, Bapak pun bercerita amat sangat banyak dan saya tak pernah jemu mendengarnya, dan bahkan masih ingin mendengar cerita yang lain lagi dan lainnya lagi. Ya, bercerita tentang kehidupan, tentang pengalaman hidup, bagi saya adalah suatu hal yang menyenangkan. Bapak yang juga seorang Chef Hotel Sahid Cikarang ini bercerita sejak masa SMP, pengalaman pergi keluar negeri atas prestasi menari, hingga beberapa penghargaan sebagai Chef terbaik. Subhanallah. Melihat semangat Bapak, saya seperti melihat semangat dari dalam diri saya sendiri dan bahkan lebih menggebu-gebu dari biasanya. Ya Allah, ini merupakan takdirMu, telah mempertemukan saya dengan beliau dan banyak sekali hal positif yang dapat saya ambil dari pengalaman perjalanan hidup beliau. InsyaAllah membuat saya lebih semangat lagi ^^

Tak terasa 2 jam telah berlalu dan waktu menunjukkan pukul 11.30wib, Bapak pun mengajak saya untuk menyantap makan siang. Sambil makan siang, kami juga masih bercerita tentang banyak hal hingga adzan Dhuhur berkumandang. Saya pamit untuk melaksanakan sholat Dhuhur berjamaah di masjid. Bapak bilang kalo masjidnya lumayan jauh dan harus melewati beberapa gang. Beliau, Ibu dan Nisa khawatir jika saja saya nantinya akan kesasar, namun saya meyakinkan bahwa tidak akan kesasar kok. Tapi, ternyata dugaan itu benar, saya berhasil menemukan masjid dengan cepat, namun ketika hendak kembali ke rumah Nisa, saya pun kehilangan jejak dan hanya berputar-putar. Alhamdulillah Ibu menyusul saya dan saya pun bisa kembali pulang ke rumah. Masak kesasar kok di Gang hohoho 😀

Hmm,, benar-benar hangat sekali penerimaan keluarga Nisa, saya sudah seperti menjadi bagian dari keluarga ini hingga akhirnya saya betah dan merasa malas untuk kembali ke Bandung. Namun itu tidaklah mungkin, hanya perasaan saja yang masih ingin tetap tinggal di sini. Perbincangan pun dilanjutkan bahkan hingga pukul 17.00wib, sungguh waktu berjalan cepat dan rasanya, masih kurang. Jujur, saya senang, saya merasa nyaman, dan saya merasakan suasana kehangatan keluarga yang sangat jarang saya rasakan. Alhamdulillah, lagi-lagi ini merupakan nikmatMu yang tak pernah dapat hamba dustakan ya Rabb.

Di akhir pertemuan pada kesempatan hari ini, Ibu dan Nisa pun mengantarkan saya hingga di depan jalan raya dan menunggu saya sampai naik angkot menuju lampu merah Pasar Rebo. Selamat jalan Nisa dan Ibu, semoga masih ada umur dan saya pun akan dapat merasakan kehangatan ini kembali, amiin.

Salam semangat selalu by Joko Setiawan aka Amkmjs2011, seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Selesai ditulis pada Minggu malam, 12 Juni 2011 at 23.22wib @Kamar Kostan Dago Pojok

Dipublikasikan pada Senin pagi, 13 Juni 2011 at 09.45wib @Neru Net, Dago-Bandung, Jawa Barat

G A L L E R I E S

 === 

 === 

===

===

===

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: