32 Tahun Menghirup Udara Bumi

Bismillahirrohmaanirrohiim…

Waktu senantiasa terus berjalan ke depan, tanpa pernah bisa mundur ke belakang. Teringat dialog percakapan antara Imam Ghazali dengan muridnya yang singkat namun begitu dalam maknanya…

Pertama, “Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?
Murid-muridnya menjawab : “orang tua, guru, kawan, dan sahabatnya”. Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu BENAR. Tetapi sesungguhnya yang paling dekat dengan kita adalah KEMATIAN. Sebab itu adalah janji Allah SWT, bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.

Kedua, “Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?“.
Murid -muridnya menjawab : “negara Cina, bulan, matahari dan bintang-bintang”. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahawa semua jawaban yang mereka berikan itu adalah BENAR. Tapi yang paling benar adalah MASA LALU. Walau bagaimanapun caranya kita takkan mampu kembali ke masa lalu.

Sedetik lalu pun, kita tidak akan pernah bisa mengulanginya kembali, dan sedetik ke depanpun, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Maka, sebaik-baiknya kita adalah yang berusaha tetap optimis menatap masa depan, dan melakukan yang terbaik tanpa mencampurinya dengan hal-hal yang dapat menimbulkan kemudharatan dalam hidup kita maupun orang lain dan juga lingkungan.

Hari ini, Rabu 27 Januari 2021 saya genap mengulang tanggal lahir pada tahun yang berbeda. Dilahirkan pada 27 Januari 1989, hari ini usia saya mencapai 32 tahun. Usia tak lagi dewasa awal, namun sudah mulai dewasa tengah, karena berada diantara dewasa awal dan dewasa akhir. Usia seperti ini, harusnya dapat menjadi usia paling produktif dalam kehidupan manusia. Produktif, tidak harus selalu diartikan dengan mampu menciptakan banyak uang dan menumpuk harta. Bagi penganut teori materialisme barangkali memang akan menolaknya dengan kalimat “uang memang bukan segalanya, namun segalanya butuh uang”, ya saya tidak menyalahkan pendapat tersebut, dan memang benar adanya, namun kita saat ini tengah membahas hal yang berbeda, yakni terkait produktivitas bukan seberapa kaya kita dengan usia saat ini.

Ya, pandangan umum saat ini memang mengatakan bahwa usia di atas 30 tahun itu seharusnya sudah punya rumah, punya mobil, apalagi anak sudah lebih dari 1, maka semua kemapaman harus sudah didapatkan dan kalau tidak mendapatkannya maka dianggap sebagai orang gagal. Hmm.. ya ga gitu-gitu juga sih. Jalan rizki seseorang kan berbeda-beda, peraihannya memang berbeda-beda atas usaha yang telah ia lakukan, namun terkadang ada seseorang yang telah berusaha dengan sekuat tenaga, namun semua hal ideal tersebut tak kunjung didapatkan. Apa kita harus stres dengan itu semua? Ya kagak lah.

Apapun kondisi kita saat ini, ketika kita merasa belum sampai pada kondisi ideal, maka tidak boleh berputus asa, terus berusaha keras, sambil mengevaluasi langkah-langkah kurang tepat apa yang telah kita lakukan di masa lalu, dan harus segera memperbaiki untuk mencapai apa yang kita impikan dan rencanakan selama ini. Tak perlu terlalu menghiraukan apa kata orang, namun terus berpacu untuk memberikan yang terbaik dari apa yang kita bisa. Jika kita seorang pekerja, maka berikan yang terbaik untuk tempat kita bekerja, dengan tetap menjalin hubungan baik dengan rekan-rekan pekerja. Jika kita seorang pengusaha, meski pengusaha kecil-kecilan dengan berjualan misalnya, maka kita harus punya target yang lebih besar lagi untuk ke depannya, dan tidak berpatah semangat ketika usaha-usaha yang kita rintis belum terlihat bagus hasilnya.

Intinya, tidak boleh ada kata penyesalan dan berputus asa, namun jadikan semua kegagalan, rasa menyesal, rasa sedih dan lain-lain tersebut sebagai pelajaran yang berharga untuk meraih impian kita. 

Tapi aku sudah ketuaan, usia segini masih belum punya apa-apa, maka sampai tua pun akan seperti ini-ini saja. NO! Jangan kalah sama hasutan syaitan pesimis. Selama jiwa masih merekat di raga, otak masih mampu diajak berpikir, maka masa depan cerah itu masih ada.

Mari kita bangun semangat optimisme demi masa depan yang lebih baik. Salam OPTIMIS bagi rekan-rekan usia 30 tahunan yang merasa hidupnya masih gini-gini saja. Kalau merasa lemah seperti ini, sepertinya kita memang sudah termakan dengan pandangan materialisme belaka. Padahal, kata Nabi SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya (HR. Ahmad)”.

Jadi, fokuslah pada kebaikan apa yang dapat kita kontribusikan kepada masyarakat dan umat, daripada sekedar berfokus pada harta semata.

Balikpapan – Kubangun, Kujaga dan Kubela

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

*Artikel ini Ditulis Oleh: Joko SetiawanA Social Worker – Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

**Selesai ditulis pada hari Selasa sore waktu Indonesia Bagian Tengah, 08.50 WITA pada 27 Januari 2021 di DPPU Sepinggan Group Balikpapan, Kelurahan Sepinggan Raya Kecamatan Balikpapan Selatan, Kota Balikpapan – Kalimantan Timur

.

.

.

.

 

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

<span>%d</span> bloggers like this: