Alhamdulillah Sampai di Usia 30 Tahun*

Alhamdulillah Sampai di Usia 30 Tahun*

Ummu Ayumi, Ayumi Chan, Abu Ayumi

Sungguh dari dekade ke dekade berikutnya, menampakkan perbedaan yang amat sangat mencolok dalam kehidupan kita. 10 tahun pertama, kita masih berada dalam keadaan masa kanak-kanak yang penuh dengan dunia bermain disertai dengan dunia belajar yang terkadang kita tidak sadar esensi dari pelajaran tersebut. 10 tahun kedua, kita memasuki romantika kisah remaja, menjadi baligh, terkadang kisah hati yang menyertai, sakit dan benci dengan gaya “cinta monyet” dan lain sebagainya. Hingga akhirnya, memasuki gerbang pendidikan tinggi di masa awal kedewasaan. 10 tahun ketiga, seharusnya waktu inilah waktu terbaik untuk membentuk pondasi yang membuat kita dicap oleh lingkungan sosial sebagai “orang sukses”.

Hidup yang sesungguhnya bisa dirasakan, terkadang dirasa paling berat, bahkan ada juga merasa yang menjadi masa terindah dan tersemangat dalam hidup, tentu setiap orang memiliki pengalaman hidup yang berbeda dengan yang lainnya. Bagaimana Anda mengukur dan menilai masa-masa tersebut, jangan terlalu membandingkan dengan kisahnya orang lain jika itu hanya membuat hati Anda sakit dan sempit. Namun, sebaliknya, Anda tidak boleh gengsi menilai dan membandingkan diri Anda sendiri dengan orang lain, jika hal tersebut mampu meningkatkan semangat Anda untuk tumbuh lebih baik lagi, dan mau belajar dari kesalahan yang telah terlewati di masa lalu.

Saya sendiri, tipe orang yang menyukai tantangan semenjak kecil. Hal tersebut saya buktikan ketika semangat untuk menjalani dunia baru, bukan karena diarahkan oleh orang lain, namun karena saya yang memang menginginkannya sendiri. Hal tersebut adalah ketika saya mulai berpikir adanya tantangan dan masa depan yang lebih baik yang normalnya saya melanjutkan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di salah satu desa di Kabupaten Jawa Timur, menjadi optimis untuk menembus sekolah unggulan di Kota Bojonegoro, yakni SMPN 1 Bojonegoro. Ya, itu adalah keinginan pribadi saya sendiri, yang pada waktu itu bahkan ibu saya merasa berat untuk melepas anak terakhirnya merantau di lokasi beda kabupaten.

Dunia pergaulan di masa SMP, alhamdulillah dapat saya lewati dengan sangat baik. Saya senang bergaul dengan anak-anak yang cerdas, yang tekun, dan sekaligus gemar mendekatkan diri dengan musholla. Maka, meskipun tidak ada yang mengarahkan, maka dari “sononya” saya sudah menyukai untuk ikut kajian dan belajar sholat Dhuha yang sebelumnya sama sekali tidak pernah saya lakukan. Ya, saya sendiri menyadari bahwa saya bukanlah orang yang IQ-nya tinggi, sehingga senang berteman dan belajar dari mereka yang diberikan anugerah otak yang cerdas, namun tetap berakhlak baik dan tidak sombong, serta tidak eksklusif.

Meskipun tidak semulus yang dikisahkan sedari awal, saya juga pernah sampai pada masa-masa pergaulan yang bisa dibilang “nakal”, meski belum pada taraf yang meresahkan. Nakal yang wajar karena perubahan  lingkungan, dari sekolah terfavorit di Kota Bojonegoro, memasuki sekolah baru dengan embel-embel Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Apalagi, masa itu juga masih banyak yang berpandangan miring dengan SMK yang cenderung dengan anak-anak nakal dan gemar tawuran. Namun, alhamdulillah sekolah saya di SMKN 4 Bojonegoro adalah spesial, sehingga banyak juga siswa perempuannya.

Masa SMP dan SMK adalah masa saya untuk belajar berorganisasi, meski masih pemalu dan tak pandai berorasi. Tapi, disadari atau tidak, masa itu membantu dalam pembentukan pondasi mental saya dalam bekerjasama dengan orang lain dalam konteks tata kelola/manajemen organisasi.

Di saat lulus SMK dan telah diterima bekerja dengan gaji sampai 3 juta per bulan pada tahun 2008, bagi kebanyakan orang barangkali sudah dianggap langkah yang tepat untuk memulai karir, namun saya berpikiran lain. Saya ingin kuliah, meskipun tidak tahu bagaimana caranya dan dana dari siapa. Berbekal meminta doa restu dari orang tua dan menyampaikan keinginan kepada kakak, saya pun mulai mencari informasi sendiri, hingga akhirnya Allah memberikan jalan terbaik. Impianpun menjadi kenyataan. Seorang bocah desa ini, mendapatkan beasiswa full untuk berkuliah di kota Kembang, Bandung-Jawa Barat.

Masih dalam tahapan hidup penuh perjuangan. Beasiswa hanya mengcover biaya kuliah saja, tapi biaya hidup harus ditanggung sendiri. Maka, masa-masa mahasiswa adalah masa perjuangan untuk bertahan hidup sekaligus belajar. Namun, mental saya waktu itu menyatakan yang penting tetap jalan saja, bagaimanapun beratnya. Hingga akhirnya, saya masih bisa menjalani masa mahasiswa dengan normal, bahkan energinya melampaui para mahasiswa lain yang hidup tenang dalam jaminan orang tua. Saya berusaha menjalani hidup dengan semaksimal mungkin, memaksimalkan masa mahasiswa untuk melakukan banyak hal. Maka, saya berusaha untuk tidak pernah berhenti berpikir positif untuk masa depan yang lebih baik.

Karena jiwa pejuang inilah, saya tidak pernah memikirkan gengsi “gaji” setelah lulus. Meski tahun 2008, saya yang hanya lulusan SMK ini sudah sampai menerima gaji 3 juta/bulan, pekerjaan pertama saya di tahun 2012 hanyalah 1,5 juta saja per bulan. Saya berpikir, yang penting bekerja halal dan terus beraktivitas daripada menganggur karena gengsi dengan pekerjaan yang dianggap tidak layak. Padahal, ketika kita serius dalam bekerja, maka hasilnya tidak akan menghianati di kemudian hari. Namun, skill saja terkadang tidak cukup, tapi harus diimbangi dengan relasi dan jejaring yang luas sehingga dikenal lebih banyak orang bahwa kita memang memili kapasitas untuk melakukan pekerjaan yang ditugaskan kepada diri kita.

Dalam perjalanannya, saya menjadi orang yang sering pindah kerja, meskipun saya senantiasa menjaga prinsip bahwa ketika meninggalkan pekerjaan dari suatu tempat, harus meninggalkan kesan yang baik, bukan meninggalkan masalah dan kesan yang buruk. Alhamdulillah sampai detik ini, hal tersebut dapat saya jaga.

Dari sisi pengalaman pekerjaan, barangkali memang saya lebih banyak bertemu dengan berbagai kalangan dengan background, cara pandang, kebiasaan dan lokasi yang berbeda-beda. Tapi kelemahan yang saya rasakan, akhirnya saya tidak bisa menjadi ekspert di salah satu bidang pun, hany sebatas tahu sisi luarnya semata. Inilah yang berbahaya bagi pengembangan karir saya di masa depan.

Maksud hati ingin berwirausaha, namun naluri dan jiwa untuk menjadi seorang wirausaha juga belum/sama sekali tidak nampak sampai sekarang. Barangkali, perlu keberanian yang luar biasa juga untuk terjun bebas dan fokus berjualan, marketing barang, hingga akhirnya bisa mencari peluang sendiri untuk menciptakan hal baru dan menjadi bos atas usaha/bidang yang ditekuni tersebut.

Tentu ini tidak mudah, apalagi sudah punya tanggungan anak dan isteri yang tidak bisa lagi lebih berlama-lama untuk menjadi “koboi” boyongan pindahan kesana kemari seperti sebelumnya. Orang tua maupun mertua yang pada awalnya merasa masih wajar orang berjuang karena baru menikah, namun kalau sudah 4,5 tahun melewati pernikahan tapi tidak ada perubahan yang siginifikan dan bahkan masih terkesan sering merepotkan, orang tua mana yang tidak khawatir.

Saya pribadi, tentunya menginginkan segalanya berjalan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Matang secara kemampuan, matang secara kepemimpinan, matang secara finansial, dan sudah saatnya juga matang untuk terus berkecimpung dalam dunia dakwah dan masa depan Indonesia yang lebih baik. Mau semiskin apapun saya dalam penguasaan finansial saat ini, tapi perjuangan dakwah tidak mengenal kaya dan miskin, semua memiliki kewajiban sekaligus kontribusi sesuai kemampuannya. Namun, kaidah “Muslim kuat lebih dicintai daripada muslim lemah”, tetap menjadi pedoman agar kehidupan kita bisa menjadi lebih baik lagi dan bisa lebih banyak lagi memberikan kontribusi terhadap perkembangan dakwah ini.

Ya, besok usia saya genap menginjak usia 30 tahun. Saya masih banyak kekurangan, masih perlu banyak belajar, dan masih belum bisa menjadi panutan untuk ukuran kesuksesan materi ataupun jabatan pekerjaan, alih-alih menjadi panutan dalam meraih beasiswa keluar negeri yang full 100%, itu masih menjadi satu hal yang saya cita-citakan dan belum ada kenyataan sampai sekarang. Namun, apakah saya berhenti bermimpi dan berusaha? Tentu saja jawabannya TIDAK. Saya akan terus berjalan dengan berpikir positif bahwa di masa depan, segalanya menjadi lebih baik, meskipun terkadang harapan tak sesuai kenyataan yang diinginkan. Namun, proses untuk memperjuangkan impian itulah yang akan membekas di dalam diri dan menjadikan diri bertambah lebih kuat untuk menjadi manusia yang lebih banyak memberikan manfaat untuk manusia lainnya.

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan Ukhuwwah

Joko Setiawan dari 27 Januari 1989 menuju 27 Januari 2019

= 30 TAHUN!

*Artikel ini Ditulis Oleh: Joko Setiawan,

Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

**Selesai ditulis pada hari Sabtu maghrib waktu Indonesia Bagian Tengah, 18.30 WITA pada 26 Januari 2019 di Kontrakan Kelurahan Sepinggan Kecamatan Balikpapan Selatan, Kota Balikpapan – Kalimantan Timur.

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: