ストーリー#002 As Community Investment Officer of PT. Silva Rimba Lestari

Memasuki babak baru kehidupan dengan pengalaman yang lebih menantang, saya akhirnya menerima tantangan untuk bekerja di suatu daerah terpencil dan berada di pedalaman hutan satu wilayah area Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur. Sebagaimana diketahui bersama, bahwa area-area di pedalaman Kalimantan masih banyak dihuni oleh orang Suku Dayak. Sebelumnya, saya tidak pernah bertemu langsung dengan orang Dayak, dan hanya mendengar kabar sayup-sayup bahwa dulu pernah ada kerusuhan etnis antara orang Madura dengan orang Dayak. Sedikit ngeri saja, tapi tidak takut, karena saya memang termasuk orang yang tidak suka menjeneralisir keadaan.

Maka, hijrahlah saya dari pekerjaan di Ibukota Jakarta menuju ke Kalimantan Timur sejak awal bulan Mei 2013. Di situlah awal mula saya akan mulai sering naik pesawat, setelah naik pesawat kali perdana ketika menjadi delegasi Kampus STKS Bandung dalam mengikuti Kongres FORKOMKASI (Forum Komunikasi Mahasiswa Kesejahteraan Sosial Indonesia) di Makassar, Sulawesi Selatan pada tahun 2012 silam.

Pengalaman di sini benar-benar berharga karena saya menemui banyak orang baru dengan karakter baru. Perjalanan panjang yang tidak biasa sebagaimana jalan-jalan di Jawa menjadikan suasana pengalaman kerja yang tak terlupakan. Bayangkan saja, dari Bandara Internasional Balikpapan harus melakukan perjalanan darat sekitar 4-5 jam untuk sampai ke Kantor Regional Office di Kota Samarinda. Dari situ harus meneruskan perjalanan darat lagi sekitar 3 jam untuk sampai di suata daerah bernama Kotabangun. Sudah sampai? Belum, perjalanan darat sudah berakhir, karena belum ada jalan penghubung darat, maka dari Kotabangun ini harus meneruskan dengan perjalanan menggunakan perahu kecil bermuatan maksimal 5 orang saja. Perjalanan air ini membutuhkan waktu sekitar 2 jam yang perjalanannya menyeberangi Sungai Mahakam yang lebar itu, sungai-sungai kecil, Danau Semayang yang luasnya sejauh mata memandang layaknya melewati samudera, baru akhirnya sampai di tepian. Dari situ masih belum sampai juga, karena masih harus melakukan perjalanan dengan mobil 4WD perusahaan untuk sampai di tengah hutan yang juga membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Barulah, benar-benar sampai di lokasi Kantor PT Silva Rimba Lestari di distrik Kembang Janggut Kecamatan Kembang Janggut Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur.

Sistem waktu kerjanya juga unik, yakni 30 hari full kerja di hutan, kemudian mendapatkan jatah libur selama 10 hari dan gajian selalu tepat waktu pada tanggal 25 per bulannya. Jadi hal yang sangat ditunggu-tunggu oleh para karyawan adalah ketika libur mulai tanggal 14 pada bulan tersebut, kemudian masuk kerja, tahu-tahu sudah gajian lagi hehe.

PT Silva Rimba Lestari merupakan salah satu anak perusahaan Agra Bareksa Group yang bergerak di bidang Hutan Tanaman Industri (HTI). Jenis perusahaan HTI itu berbeda dengan Perusahaan Kelapa Sawit dan juga Perusahaan Tambang, meskipun secara lokasi bisa jadi berdekatan atau tetanggaan hehe. Jenis perusahaan HTI di sini menanam Pohon Akasia untuk nantinya dipanen untuk mensuplai kebutuhan indutri dan bahkan dengan target penjualan keluar negeri setelah adanya pengolahan tertentu. Area konsesi legal yang didapatkan perusahaan ini adalah seluas 144.000 Hektar, yang di dalamnya terdapat juga Hutan Lindung yang harus dijaga dan tidak boleh diganggu habitatnya.

Berbicara mengenai PT Silva Rimba Lestari, saya sangat mengapresiasi perusahaan ini karena tekadnya untuk benar-benar menjadi perusahaan legal yang dapat memberikan dampak baik kepada masyarakat sekitar. Segala aturan dari pemerintah senantiasa dipenuhi, mulai dari faktor Kesehatan dan Keselamatan Kerja dari karyawannya, kepedulian terhadap lingkungan dan aturan yang melingkupinya, sampai juga hubungan dengan masyarakat sekitar yang terwujud dengan program Corporate Social Responsibility (CSR) yang tidak sekedar manis di pencitraan, namun benar-benar melaksanakan program dengan sangat baik dan profesional. Untuk itulah, tim yang menggawangi pekerjaan CSR ini departemennya disebut sebagai Community Investment. Dari sini dapat kita tarik kesimpulan dasar, bahwa perusahaan telah memiliki visi jauh ke depan, bahwa apa yang kita berikan untuk masyarakat, jalinan hubungan baik dengan masyarakat sekitar, adalah sebuah investasi termahal untuk mendorong kemajuan dan kesuksesan perusahaan di masa depan. Perlu diketahui juga, bawah perusahaan ini memang baru mulai beroperasi sejak tahun 2010/2011, jadi ketika saya mendapati perusahaan melakukan hubungan yang sangat baik kepada karyawannya, lingkungan sekitarnya dan masyarakat penduduk aslinya, adalah suatu hal yang sangat baik dan sangat patut diapresiasi.

Hutan tentunya tidak jauh dari kehidupan masyarakat setempat. Hutan telah menjadi sumber penghidupan dan penyelaras kehidupan alam lingkungan tempat tinggal warga masyarakat asli. Adapun masyarakat asli di sekitar lingkungan perusahaan adalah terdiri dari 4 suku besar. Yakni Suku Kutai (mayoritas atau bisa dikatakan 100% muslim), Suku Dayak Tunjung (mayoritas nasrani), Suku Dayak Kenyah (mayoritas nasrani) dan Suku Dayak Modang. Yang menarik memang adalah Suku Dayak Modang, karena jauh di pedalaman tersebut, ternyata mayoritas Suku Dayak ini memeluk agama Islam. Kenapa saya anggap menarik, karena dalam pikiran saya, seluruh Suku Dayak itu tentunya beragaman non muslim, tapi ternyata tidak juga ya hehe.

Suku Dayak yang menempati area sekitar tempat kerja saya dulu tersebut secara fisiknya lebih dekat dengan Ras Mongoloid, yakni kulit cerah, mata sipit dan rambut lurus. Kalau ketemu di jalan, tentu tidak akan mengira mereka adalah orang Dayak dan menganggapnya sebagai orang keturunan Cina. Jika mungkin ditelusuri lebih jauh, barangkali memang nenek moyang mereka masih ada afiliasi/berdarah Cina. Untuk lebih jelasnya, mungkin para pembaca bisa menelusuri informasi detil via Mbah Google ya.

Nah, sebagai Community Investment Officer, tentu melihat masyarakat yang demikian adalah suatu hal yang menantang. Tapi, sebagai seorang Social Worker, semasa kuliah di STKS Bandung memang telah terbiasa untuk bersiap menghadapi orang-orang dengan karakter yang sangat jauh berbeda dengan diri kita. Dan telah jelas sebagai panduan, bahwa seorang Pekerja Sosial itu punya kode etik dan Prinsip Dasar dalam memberikan pelayanan kepada penerima manfaat.

Tidak seperti pemahaman awam oleh banyak perusahaan, bahwa CSR itu hanya diberikan sebagai pemanis dan peredam kemarahan masyarakat sekitar ketika mereka merasa terdzalimi saja. Namun lebih dari itu, seorang Community Investment Officer harus melihat dan membina hubungan secara terus menerus (continuously) tanpa kepentingan meredam amarah masyarakat atau yang lainnya. Bahkan, kami berusaha agar masyarakat tetap kondusif dan ini yang terpenting, masyarakat menjadi berdaya (empower) sehingga dapat menjadi investasi sumber daya manusia unggul yang dapat membangun desanya, wilayahnya sendiri yang tentu juga akan dapat berdampak positif terhadap kelangsungan hidup perusahaan di masa depan.

Kegiatan Community Investment meliputi sektor pendidikan, sosial, ekonomi, budaya, keagamaan dan pengembangan sumber daya manusia kreatif. Program-program yang dijalankan berkembang seiring dengan berjalannya waktu, mengikuti perkembangan zaman, respon masyarakat dan juga kemampuan perusahaan dalam melakukan penganggaran untuk investasi masyarakat yang akan berdampak positif tidak hanya di masa depan, tapi juga di masa sekarang dimana perusahaan sudah beroperasi dan berinteraksi dengan masyarakat sekitar.

Bersama dengan tim yang solid, akhirnya saya menuntaskan pekerjaan sebagai Community Investment Officer sejak Mei 2013 sampai dengan Desember 2014. Dari awal kontrak kerja 6 bulan, kemudian resmi diangkat sebagai Karyawan Tetap sejak bulan November 2013. Kenapa saya kemudian pergi pada akhir bulan Desember 2014? Bukan karena tidak betah atau bermasalah dalam pekerjaan, namun hal ini dikarenakan saya mendapatkan beasiswa fully funded untuk belajar Sistem dan Model Pelayanan Kesejahteraan Sosial di Jepang (Tokyo, Kanagawa, Osaka, Shiga) dengan nama program yakni 32nd Asian Social Welfare Workers’ Training Program yang dilaksanakan mulai bulan Maret 2015 sampai dengan Februari 2016.

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Muhammad Joe Sekigawa

*Jalan Haji Dul, Kelurahan Bojong Pondok Terong Kecamatan Cipayung, 22 Juni 2018 pukul 06.30 wib

**Kota Depok Provinsi Jawa Barat-INDONESIA

 

Advertisements
Comments
One Response to “ストーリー#002 As Community Investment Officer of PT. Silva Rimba Lestari”
  1. deadyrizky says:

    ini pertamax saya berkunjung ke blog ini
    kalo sepupu saya punya pengalaman berkesan dengan suku dayak
    soalnya jadi istrinya
    hahaha

    ijin follow ya

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: