Bertamu ke Sidoan, Tinombo, Parimo dan Palu-Sulawesi Tengah*

Bertamu ke Sidoan, Tinombo, Parimo dan Palu-Sulawesi Tengah*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Inilah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Bumi Sulawesi Tengah. Tanggung jawab pekerjaan membawa saya harus berkegiatan di daerah-daerah yang cukup terpencil. Bukan keterpencilan yang membuat saya “ogah”, malah ribuan syukur terlontar dari diri karena berkesempatan untuk menjelajahi bumi Allah dan menjemput inspirasi atas keindahan alam dan keratamahtamahan warga sekitar.

Bersama dengan Sahabat saya, Vempi Satriya ia adalah seorang asisten tenaga ahli untuk proyek perancangan desain teknis pembangunan Fasilitas Air Baku Sidoan, kami berangkat tepat pukul 23.00 WIB dari Pool Primajasa Batu Nunggal (Bandung) menuju Bandara Soekarno Hatta karena penerbangan kami menuju Palu dijadwalkan keesokan harinya pada pukul 05.00 WIB. Dan ada yang spesial dalam perjalanan tersebut, dan akupun terlelap tidur. Tepatnya, kami semua terlelap tidur.

Bangun dari tidur, ternyata bus sudah sampai di Terminal keberangkatan dan kami pun turun semua. Waktu menujukkan masih pukul 03.00 WIB dan kami memutuskan untuk istirahat sejenak dengan duduk-duduk di kursi tunggu. Beberapa waktu mengobrol, tiba-tiba Vempi memikirkan sesuatu. Yup, akhirnya dia ingat bahwa ada bahan materi presentasi yang sudah ia cetak untuk dibagikan kepada para peserta Konsultasi Publik terkait sosialisasi Proyek. Tidak sama sepertiku, Vempi ini meski usianya beberapa tahun lebih muda dariku, tapi pembawaan karakternya sangat dewasa, begitulah kesanku pertama kali ketika kenalan dengannya di depan mushola kantor.  Dari pembawaan yang tenang, ia tetap mampu berpikir cepat atas solusi yang harus diambil. Masih saja, tanpa ada kesan harus terburu-buru layaknya orang yang bingung dan khawatir karena barangnya tertinggal di bus. Dari situ, saya bisa menilai, bahwa ia memang punya karakter pemimpin yang tenang, tapi tetap cekatan. Eh, kok jadi ngomongin Vempi ya he he. Soalnya, per tengah bulan Juni 2017 ini, Vempi sudah resign dari kantor, karena bulan September nanti akan berangkat melanjutkan studi S2 dengan pembiayaan penuh dari beasiswa Monbusho (pemerintahan Jepang). Judulnya sih belajar S2, tapi senseinya bilang bahwa ia harus mempersiapkan 5 tahun untuk studi di sana, alias lanjut S3. Ya, semoga beberapa tahun lagi aku bisa nyusul ke sana ya, insya Allah reuni di Masjid SRIT. Aamiinn ^^

Lanjut ya… Saya kurang begitu memperhatikan dan baru tersadar ternyata bahwa nama Bandara Palu memiliki nama yang sangat islami, yakni Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie. Ternyata nama tersebut selain daripada yang diberikan oleh Presiden Soekarno “Mutiara”, nama belakangnya adalah untuk menghormati Pahlawan Nasional asal Sulawesi Tengah, Al-Habib Sayyied Idrus bin Salim Al-Jufrie. Maka, bisa kita pastikan bahwa bumi Palu adalah buminya para syuhada’ sejak masa silam.

Tak banyak yang aku ketahui tentang daerah Palu karena kami segera meluncur ke daerah tujuan, yaitu Kecamatan Sidoan Kabupaten Parigi Moutong. Masih memerlukan 5-6 jam perjalanan darat untuk menempuh tujuan tersebut. Kecamatan Sidoan adalah kecamatan pemekaran dari Kecamatan Tinombo, dan belum ada penginapan di sana. Kami pun menginap di Kecamatan Tinombo.Di Tinombo, terdapat situs menarik, yaitu Cagar Budaya Istana Raja Tombolotutu (Kerajaan Moutong). Situs tersebut adalah rumah kediaman dan peninggalan Raja Kuti Tombolotutu yaitu raja yang berkuasa sejak tahun 1929 sampai wafat tahun 1965, menguasai kerajaan Tomini dan Moutong. Istana Raja Moutong di Tinombo ini dibangun sejak tahun 1930 oleh Bangsa Belanda dengan arsitektur kolonial yang khusus diserahkan kepada Raja Moutong pada waktu itu sebagai tempat kediaman raja. Raja Moutong pada waktu itu bernama Hi. Kuti Tombolotutu yang pengangkatannya berdasarkan calon dari Pemerintah Belanda yang mendapatkan dukungan dari seluruh masyarakat di Kerajaan Moutong yang berada di wilayah Pantai Timur Kabupaten Donggala pada waktu itu yang sekarang telah berubah menjadi Kabupaten Parigi Moutong.

Pagi-pagi setelah sholat Shubuh di masjid, saya juga menyempatkan mengunjungi pelabuhan kecil di Kecamatan Tinombo, masya Allah sungguh indah pemandangan sunrise di tempat tersebut.

Akhirnya, kegiatan inti pun berlangsung. Bertemu dengan masyarakat, menangkap aspirasi, observasi lingkungan sekitar dan pengumpulan karakteristik kependudukan adalah kegiatan pekerjaan yang harus diselesaikan.

Sekembalinya dari Kecamatan Sidoan, aku menuju Kantor Pusat Pemerintahan Kabupaten Parigi Moutong. Di perjalanan, menyempatkan berhenti untuk melihat keindahan dermaga spot diving dengan hamparan pasir putihnya yang sangat indah sekali. Terumbu karang menjulur luas hingga sekitar 100 meter ke tengah pantai. Hadirnya dermaga membuat saya bisa melihat keindahan hamparan terumbu karang yang air lautnya masih sangat jernih dan bersih. Namun sayang, lagi-lagi karena kekurangoptimalan dalam hal pengelolaan, tempat ini terkesan tidak terlalu terurus dengan semestinya.

Dekat dengan Kota Parigi Moutong, terdapat satu spot terkenal lagi, sebagai tempat Tomini Sail. Kabarnya, bulan Juni ini akan diadakan lomba terjun payung dari bukit di atas, hingga turun sampai ke bibir pantai. Tempat tersebut adalah yang paling banyak dicari oleh para pemancing dari berbagai daerah nusantara maupun turis luar negeri. Sayangnya, saya tidak bisa mengambil foto yang bagus ya.

Dari Parigi Moutong akhirnya melanjutkan dan istirahat di Palu, sebelum terbang kembali ke Bandung pada keesokan harinya. Di Palu, saya hanya bisa mampir di satu spot tempat wisata, yaitu Anjungan Nusantara. Sebuah anjungan di bibir pantai dengan latar pemandangan lautan dan pegunungan yang sangat indah.

Malam harinya, saya menginap di Airy Room (Wilven Guest House) Palu. Dan menyempatkan mengontak salah satu teman karib saat zaman kuliah (dulu tergabung di SREG alias Social Research Group), ia saat ini telah menjadi “emak-emak” yang demikian juga dengan saya yang juga sudah “bapak-bapak”. Sungguh, sejak lulus kuliah tahun 2012, inilah setelah lima tahun kami bisa bersilaturahim kembali. Terima Kasih Eche (Siti Arizma) dan suaminya Mas Chandra yang sudah berkenan untuk menyambangi saya di hotel. Semoga ke depan bisa ada kesempatan untuk bersilaturahim kembali. Insya Allah ^_^

Alhamdulillah. Akhirnya bisa menuliskan cerita ini, meski perjalanan saya ke Palu sudah lebih dari satu bulan yang lalu.

NOTE: Agenda perjalanan di Palu&Parigi Moutong dari 15-18 Mei 2017.

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

@Ciwastra-Bandung, Jawa Barat INDONESIA
Kamis pagi, 27 Ramadhan 1438 H/22 Juni 2017 pukul 08.35 WIB (Waktu Indonesia Barat)

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Kamis pagi, 22 Juni 2017 pukul 09.00 Waktu Indonesia Bagian Barat

 == 

 == 

 == 

 == 

 == 

 == 

 == 

 == 

Advertisements

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: