Eratkan Persahabatan dengan Mendaki Takao san*

00

00

Eratkan Persahabatan dengan Mendaki Takao san*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, 32nd Trainee of Asian Social Welfare Worker’s Training Program by Japan National Council of Social Welfare (JNCSW/全国社会福祉協議会)

Program training yang diikuti oleh 5 orang dari 5 negara yang berbeda di wilayah Asia ini memang bukan sekedar training saja, tapi juga tentang membangun hubungan dan rasa saling pengertian antara kelima negara yang bebeda bahasa dan budaya, juga terhadap pihak Jepang sendiri yang memang sebagai tuan rumah yang paling berjasa. Julie san, trainee asal Filipina mengusulkan acara “bounding time” diantara para trainee dengan kegiatan naik Takao san atau Gunung Takao, sebelum semuanya akan kembali ke masing-masing negara asal pada tanggal 20 Februari 2016 nanti.

Ada yang menarik mengenai penyebutan “Takao san” tersebut. Budaya orang Jepang adalah memiliki banyak “kamisama”, ini kepercayaan Agama Shinto yang masih dipercaya sampai sekarang. Kamisama yang dimaksud orang Jepang itu sangat banyak sekali jumlahnya, bisa ribuan atau bahkan lebih dari itu. Maka banyaklah dibangun Kuil Jinja sebagai penghormatan terhadap kamisama yang terkait. Jinja berukuran mulai dari yang kecil sampai besar, biasa paling banyak terdapat di area pegunungan, tapi bisa juga kita jumpai Jinja di dalam kota besar seperti Tokyo, Osaka, Kyoto dan lain-lain.

Berkaitan dengan itu, kelaziman orang Jepang ketika menyebut nama orang lain adalah dengan menambahkan akhiran -san di belakang namanya. Contohnya Joko san, Julie san, Fang san, Park san, Beverley san dan lain-lain. Akhiran -san tersebut khusus diperuntukkan ketika menyebut nama orang. Tapi gunung-gunung besar mendapatkan panggilan yang setara dengan panggilan penghormatan terhadap orang. Maka, pertama kali saya mendaki Gunung Fuji juga kaget. Karena hampir tidak ada satupun orang Jepang yang menyebut Gunung Fuji dengan Fuji Yama (artinya gunung) tapi Fuji san. Penulisan huruf kanji dari Gunung Fuji memang 富士山, ada huruf kanji gunung di sana (山=gunung) tapi cara bacanya adalah Fuji san, bukan Fuji yama. Begitu pula dengan Takao san, karena penghargaan tinggi terhadap gunung tersebut, maka bukan dibaca Takao Yama melainkan Takao san.

Takaosan terletak di Kota Hachioji, Tokyo. Bisa ditempuh ke arah Barat kurang lebih satu jam dari pusat kota Tokyo (Shinjuku). Keberadaan Takaosan ini berlokasi di area Meiji Memorial Forest Takao Quasi-National Park. Memiliki puncak ketinggian 599 meter (1.965 kaki) di atas permukaan air laut.

Takao san adalah tempat paling populer di area Tokyo untuk melakukan pendakian dari segala usia, mulai dari anak-anak, dewasa sampai dengan para lanjut usia. Memiliki 8 jenis jalur pendakian dengan medan yang agak sedikit berbeda-beda. Yang jelas, paling mudahnya adalah jalur utama yang telah dibangun layaknya jalan yang kita lewati sehari-hari. Sedangkan jalur yang lebih sulit adalah jalanan tanah biasa, dan berkelok serta curam.

Kemarin, hari Sabtu 06 Februari 2016 kelima trainee (saya, Beverley san, Julie san, Park  san dan Fang san) ditemani oleh Ogawa san (Wakil Kadiv Hubungan Internasional JNCSW) beserta isteri, dan juga Norie san yang merupakan supervisornya Julie san saat OJT Pendek pada bulan Agustus 2015 lalu. Jadilah kami ber-8 bersama-sama mendaki Takao san. Saya pribadi, karena sudah pernah mendaki Fuji san sampai puncak, menghendaki jalur yang agar sulit, tapi karena anggota tim banyak yang perempuan dan rata-rata tidak begitu suka naik gunung, dipilihlah setengah jalan jalur susah, setengah jalan jalur lumayan mendebarkan he he.

Beranjak dari Stasiun Takaosan-guchi kami memulai pendakian. Di depan stasiun terlihat begitu banyak orang berkumpul dengan rentang usia yang beragam. Tidak tanggung-tanggung, perlengkapan yang mereka bawa sekaligus baju adalah memang benar-benar perlengkapan naik gunung. Sedangkan kami, hanya pakaian biasa saja dilengkapi dengan jaket tebal.

Mendaki Takao san pada saat musim dingin memang populer di kalangan orang Jepang. Takaosan terkenal dengan makanannya yaitu Soba. Soba adalah salah satu jenis mi Jepang yang dibuat dari tepung gandum kuda. Dalam bahasa Jepang, tumbuhan serealia gandum kuda juga disebut “soba”. Selain itu, istilah “soba” juga bisa berarti mi telur asal Cina yang dimasak menjadi yakisoba atau ramen. Sesuai standar JAS, soba adalah mi dengan kandungan tepung soba (gandum kuda) di atas 30%. Selain itu, di pasaran bisa ditemukan nihachi-soba yang memiliki kandungan 80% tepung terigu dan 20% tepung gandum kuda (dikutip dari Wikipedia).

Diantara kelima trainee, saya adalah orang satu-satunya yang sampai hari ini belum berkesempatan untuk melihat salju turun secara langsung. Sampai sekarang saya masih berharap bisa dipertemukan dengan hujan salju dan menikmatinya untuk beberapa saat serta mengabadikan dalam sebuah foto kenangan. Sambil menunggu turun salju sebelum tanggal 20 Februari nanti, pendakian ke Takao san juga bisa sedikit mengobati karena masih ada sisa-sisa salju di sepanjang perjalanan menuju puncaknya.

Pemandangan adanya salju yang paling indah menurut saya adalah ketika mendekati satu-satunya jembatan gantung. Jalurnya memang lumayan “mengerikan”, tapi dengan hati-hati kita akan tetap aman melewatinya. Di sepanjang perjalanan itu, saya puaskan untuk mengambil banyak foto dan sedikit bermain dengan sisa-sisa salju tersebut he he.

Akhirnya, sampai juga di Puncak Takao san. Mengabadikan momen di puncak tertingginya yang memang hanya 599 meter di atas permukaan air laut tersebut, tentu berbeda dengan puncak Fuji san yang mencapai 3.776 meter dpl. Tapi tidak perlu bersedih, karena hampir di seluruh wilayah Jepang, pariwisata adalah sektor yang mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakatnya. Oleh karenanya pemerintah menggarapnya dengan serius dengan semboyan “KAIZEN” nya untuk bisa terus meningkatkan pelayanan dan kenyamanan para pendaki.

Perilaku para pendaki juga demikian, sama-sama saling menyadari dan ikut menjaga lingkungan. Tak akan kita jumpai sampah satu cuil pun yang dibuang secara sengaja oleh para pendaki. Semuanya membawa sampah dari atas dan membawanya kembali turun ke bawah. Bahkan, sampai di puncak pun, ketika mereka makan-makan dengan bekal yang dibawa, juga tidak akan mengotori tempat sama sekali. Semuanya menjaga kebersihan, menyadari bahwa kepentingan bersama harus dijaga secara bersama-sama.

Kembali lagi mengenai Soba, di puncak Takao san kami berhenti untuk menyantap Soba seharga 720 yen yang memang dalam suasana dingin 5 derajat itu sungguh nikmat bisa menyantap Soba dalam sajian hangat. Rasa dari Soba tersebut juga ternyata sangat “friendly” di lidah orang Indonesia seperti saya ini. Alhamdulillah menu soba dengan sayur, insya Allah aman dari kandungan campuran makanan yang tidak halal.

Cable Car di Takaosan

Cable Car di Takaosan. Sumber Gambar

Turun dari puncak Takao san, ada dua pilihan untuk menikmati Takao san dengan cara yang berbeda. Dua fasilitas tersebut adalah Cable Car (ケーブルーカー) dan Lift (リフト). Tim kami yang berjumlah 8 orang membagi diri dengan setengahnya menaiki Cable Car dan setengahnya lagi menaiki Lift. Saya pun memilih naik Lift agar bisa menikmati suasana yang lebih mendebarkan.

Sejak menuruni Takao san, saya janjian dengan Nakajima sensei, supervisor saya ketika OJT Pendek di Minami Jidou Home (Kota Sagamihara, Perfektur Kanagawa) ternyata juga memiliki agenda untuk mendaki Takao san. Beliau ditemani dengan 3 anak-anak yang merupakan klien di lembaga tersebut, akan berlari dari bawah sampai puncak Takao san. Mantappss. Dan sebelum berpisah, kami sempatkan untuk mengambil foto bersama-sama.

Alhamdulillah. Akhirnya menambah lagi pengalaman perjalanan kisah selama berada di Jepang ini. Sebentar lagi, akan kembali ke Indonesia dan menghadapi “The Real World”. Selama 11 bulan di Jepang ini, benar-benar hanya hal menyenangkan saja yang dilewati setiap hari. Mulai dari pelajaran-pelajaran berharga mengenai pelayanan sosial dan sistemnya, berteman dengan begitu banyak orang Jepang yang super baik, lalu rekreasi ke banyak tempat yang menyenangkan. Semua hal yang menyenangkan tersebut, insya Allah akan mampu menjadi bekal amunisi untuk ikut serta mengurai berbagai macam persoalan sosial di Indonesia.

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah.

Kokuryo Cho, Chofu Shi – Tokyo, JAPAN
Ahad, 28 Rabiul Akhir 1437 H/07 Februari 2016 pukul 08.10 waktu Jepang

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Ahad, 07 Februari 2016 pukul 09.00 waktu Jepang

01 == 02

03 == 04

05 == 06

07 == 08

09 == 10

11 == 12

13

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: