Seminar 2016 “Moslem Millionaire” Ippho Santosa di Tokyo Jepang*

Foto Bersama Ippho Santosa
Foto Bersama Ippho Santosa

Foto Bersama Ippho Santosa

Seminar 2016 “Moslem Millionaire” Ippho Santosa di Tokyo Jepang*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, 32nd Trainee of Asian Social Welfare Worker’s Training Program by Japan National Council of Social Welfare (JNCSW/全国社会福祉協議会)

Di awal tahun 2016 ini Keluarga Masyarakat Islam Indonesia (KMII) bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo menggelar acara spektakuler dan dahsyat dengan mengundang motivator dan penulis kelas wahid yaitu Bang Ippho Santosa. Perlu diketahui bahwa jika seorang penulis disebut best seller ketika berhasil terjual sekitar 50.000 eksemplar. Sedangkan buku dari Bang Ippho Santosa mampu menembus angka lebih dari 1.000.000 eksemplar, luar biasa!

Acara tersebut dilaksanakan pada hari Ahad, 31 Januari 2016 bertempat di Balai Indonesia, Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT) Meguro-Tokyo, Jepang. Acara yang bertajuk “Moslem Millionaire” tersebut dimulai pada pukul 13.00 Japan Standard Time (JST). Namun semenjak pagi hari juga dilaksanakan rangkaian acara-acara lainnya. Sebenarnya sejak tanggal 30 Januari malam juga dilaksanakan mabit (bermalam) sembari bisa melaksanakan sholat malam dan sholat shubuh secara berjama’ah. Hal tersebut juga dimaksudkan agar para calon peserta yang datang dari tempat yang cukup jauh tidak perlu terburu-buru berangkat pagi, tapi menginap sekaligus beribadah.

Acara pagi hari dimulai sekitar pukul 10.20 JST. Mas Eko selaku MC membuka acara kegiatan, kemudian dilanjutkan pembacaan tilawah Al Qur’an oleh Mas Afif. Lalu sambutan dari Pak Meidi Ward (Atase Kehutanan KBRI Tokyo) selaku Ketua Umum KMII yang memberikan gambaran umum mengenai kepengurusan KMII dan program kerja yang tercapai maupun yang direncanakan pada masa yang akan datang. Dijelaskan oleh Pak Meidi bahwa KMII bukanlah milik golongan per golongan, tapi milik seluruh umat Islam Indonesia yang ada di Jepang. Oleh karenanya, dalam setiap agenda dan kegiatan, KMII selalu merangkul berbagai macam elemen organisasi Islam di Jepang. KMII juga berusaha dengan sekuat tenaga untuk menjadi paying bagi berbagai organisasi Islam tersebut. Oleh karenanya kepengurusan KMII juga tersusun dari berbagai macam stakeholder, mulai dari KBRI, BUMN seperti Pertamina, BNI dan lain-lain, Pengusaha dan juga dari kalangan akademisi (profesor) atau mahasiswa.

Apa yang disampaikan oleh Pak Meidi Ward memang bukan isapan jempol belaka. Hal ini terbukti dengan setiap kesempatan adanya acara besar, kesuksesan acara selalu diwarnai dengan dukungan dari berbagai pihak. Di Spanduk untuk kegiatan Seminar “Moslem Millionaire” Ippho Santosa awal tahun 2016 ini dapat kita lihat sinergi begitu banyak elemen organisasi Islam seperti NU, Muhammadiyah, PMIJ, KAMMI Jepang, FAHIMA, organisasi Islam kampus seperti kampus Tokodai, Todai, Waseda dan lain sebagainya turut serta mendukung kegiatan.

Pukul 11.00 JST masuk pada agenda pertama yaitu Diskusi Panel yang menghadirkan narasumber beberapa pengusaha muslim di Jepang. Acara tersebut dimoderatori oleh Mas Yusuf dan menghadirkan tiga pembicara yaitu 1)Pak Amir, 2)Bu Fatimah, dan 3)Bu Riska.

Pak Amir adalah orang Indonesia yang menjadi asisten kepercayaan orang Jepang untuk mendistribusikan berbagai macam produk makanan halal. Mulai dari minuman, bumbu-bumbu praktis, roti, sampai dengan daging halal. Yang luar biasa adalah bahwa bos dari Pak Amir adalah orang Jepang asli (non muslim), tapi begitu gigih merintis dan menelurkan usaha di bidang makanan halal ini. Usaha yang telah dimulai sejak tahun 2008-an tersebut kini terus menjadi besar dan melebarkan sayapnya. Bahkan, Bos Pak Amir yang orang Jepang tersebut sering kali diundang untuk menjadi pembicara utama oleh perusahaan-perusahaan besar Jepang yang akan masuk pada bisnis makanan halal ini.

Bu Fatimah menceritakan singkat namun terefleksi atas masa-masa sulit beliau ketika masih muda dahulu. Datang dari Sumatera menuju Jakarta untuk tujuan kuliah, namun membawa uang pas-pasan. Sejak SD memang Bu Fatimah telah terbiasa mandiri dengan berusaha memenuhi kebutuhan pribadinya sendiri. Masa-masa sulit di Jakarta itupun dijalani dengan sepenuh hati, padahal keluarga besarnya juga termasuk orang yang berkecukupan dan mampu membantu. Tapi Bu Fatimah memilih untuk “fighting” sendiri dan membuktikan bahwa bisa keluar dari masa-masa sulit tersebut. Waktu terus berjalan, hingga akhirnya dipertemukan dengan suami dan hijrah di Jepang. Dari situlah memulai usaha toko-toko kecil, dan saat ini telah tersebar begitu banyak toko makanan halal. Toko yang saya sendiri (penulis) sering datangi adalah Toko “Fatimah” yang berlokasi di Okachimachi, Tokyo-Jepang. Dengan pencapaian Bu Fatimah saat ini, yang mengesankan adalah semakin tawadhu’ dan semakin cintanya pada Islam. Komitmen beliau tampak dari apa-apa yang disampaikan saat ini senantiasa dikembalikan kepada beberapa kutipan ayat Al Qur’an. Memang, tiada daya dan kekuatan selain daripada Allah. Laa haula walaa kuwwata ilaa billahil aliyyil adhiim.

Bu Riska adalah seorang penulis. Karena aktivitas beliau yang sering berinteraksi dengan anak-anak. Maka, beliau ahli di bidang penulisan buku anak-anak.Dan spesialnya Bu Riska adalah usaha mencetak buku Islami anak-anak yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Jepang. Tentu saja pasarnya adalah para masyarakat muslim Indonesia yang ada di seluruh Jepang, dan berharap bisa dibaca juga oleh keluarga masyarakat Jepang. Usaha yang tidak mudah, awalnya dari uang pribadi, tapi pertolongan Allah datang bertubi-tubi. Mulai dari penerjemah, editor profesional hinggal ilustrasi, ternyata didatangkan oleh Allah orang-orang yang bisa menolong. Hingga sekarang sudah lebih dari 700 eksemplar buku anak-anak Islami dalam bahasa Jepang tersebut yang telah terjual.

Pukul 11.30 JST Mas Firman Bagja menyampaikan sosialisasi perkembangan rencana pembangunan Masjid Indonesia-Tokyo. Masjid tersebut berada di area Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT) dan telah dilaksanakan ground breaking secara resmi oleh Duta Besar RI untuk Jepang pada 1 Syawal 1436 hijriyah (17 Juli 2015).

Dijelaskan oleh Mas Firman Bagja bahwa masjid tersebut nantinya terdiri dari tiga lantai. Satu lantai basement untuk akhwat, sedangkan lantai 1 dan lantai 2 untuk ikhwan. Jika dimaksimalkan, masjid akan mampu menampung maksimal jama’ah sebanyak 200-an orang. Pembangunan fisik dijadwalkan akan dimulai pada bulan Juni 2016 dan diperkirakan selesai pada bulan April 2017. Jadi pada musim semi tahun 2017 nanti bakal berdiri masjid pertama yang dibangun dari dana rakyat Indonesia. Untuk mengetahui perkembangan terbaru pembangunan Masjid Indonesia Tokyo, juga untuk berdonasi atau berwakaf, bisa mengunjungi website resminya di http://masjid-indonesia.jp/ .

Sekitar pukul 12.00 JST dipergunakan sebagai waktu istirahat, sholat Dhuhur berjama’ah dan juga makan siang. Di halaman SRIT dibuka bazaar berbagai macam masakan khas Indonesia, juga beberapa barang keperluan sehari-hari. Saya pun memilih menu bebek pedas yang rasanya sungguh nikmat sekali dengan harga hanya 700 yen saja.

Acara utama dimulai pada pukul 13.00 JST. Namun sebelum itu Pak Ben Perkasa selaku Wakil Duta Besar RI untuk Jepang memberikan sambutan sekitar 5 menit. Setelah itu, dimuilailah acara Seminar Dahsyat dan Spektakuler bertajuk “Moslem Millionaire” bersama Bang Ippho Santosa.

Bang Ippho mengawali sesi seminar dengan membagikan tiga hal penting yang bisa menjadi magnet kesuksesan seseorang. Ketiga hal penting tersebut adalah knowledge, intention dan juga attitude. Dijelaskan bahwa sesuatu yang besar itu pasti membutuhkan ilmu (knowledge). Kemudian memiliki tujuan yang besar (intention). Juga mampu memberikan makna positif atas kejadian (attitude). Hal menarik dari penjelasan bagian ini adalah bagaimana cara menghadapi segala sesuatu dengan positif serta tidak mudah putus asa atau gampang menyerah.

Tentang Millionaire Linguistic. Kutipan yang khas di sini adalah “Dia Berhak Kaya, Aku Berhak Kaya. Hindari Kata Mahal”. Kalau ada orang lain kaya, maka aku juga berhak kaya. Bukan malah sekedar iri hati ketika ada orang di sekitarnya sukses. Kemudian yang penting juga adalah menghindari kata mahal. Misalkan mobil seharga 100 juta mahal? Tergantung. Kalau orang pendapatannya per bulan sudah mencapai milyaran, maka 100 juta bukanlah mahal bagi dirinya. Nah, intinya adalah dengan memperluas takaran kemampuan kita, bukan malah memberikan batasan dengan mengatakan ini dan itu serba mahal.

Untuk menjadi Millionaire, hanya dua hal yang bisa dilakukan: 1)Berbisnis, 2)Investasi. Hal tersebut sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam tentang 10 pintu rizki anak adam, 9 adalah dari berniaga (berbisnis). Maka tunggu apalagi, mulailah untuk berbisnis dari sekarang juga. Untuk menjadi seorang pebisnis, bukan sekedar bagaimana cara menjalankannya (why), tapi carilah siapa yang mampu menjalankannya (who). Orang yang berpikiran why hanya akan memintarkan dirinya sendiri, segalanya harus dijalankan oleh dirinya. Sedangkan seorang owner akan berpikiran untuk menempatkan orang-orang yang tepat dan terus mengembangkan usaha menjadi lebih besar dan besar lagi di kemudian hari.

Tapi jangan lupa, adalah wasilah kekayaan dengan membelanjakan uang untuk SEDEKAH, ilmu dan juga barang produktif. Konsep dari sedekah adalah untuk menyuburkan harta, dalam pengertian lain akan memperlancar perolehan rizki dari yang kita usahakan. Tapi jangan pula berkecil hati, karena ketika tidak terbalas di dunia, tentu akan berbuah manis nanti di akhirat sana. Ilmu dan barang produktif tentu adalah hal yang dengan jelas bisa kita manfaatkan dalam kehidupan. Janganlah pelit untuk menghabiskan dana dalam rangka mencari ilmu, karena itu untuk diri sendiri yang bisa berdampak positif untuk banyak orang.

Niat seseorang untuk menjadi Millionaire itu haruslah berawal dari niat yang benar dan juga besar. Kutipan berharga yang dapat kita ambil hikmah di sini adalah “Potensi yang besar, akan dianugerahkan kepada mereka yang bermisi besar”. Bang Ippho memutarkan suara Bung Tomo ketika membakar semangat arek-arek (pemuda) Suroboyo untuk menghadapi serangan sekutu Inggris. Siapalah Bung Tomo, hanya seorang yang masih berusia beliau. Tapi, visi dan misi besarnya mampu membangkitkan semangat juang perlawanan hingga menewaskan jenderal perang di pihak musuh. Niat yang baik, amal yang baik, maka hasilnya pun akan menjadi baik.

Beranjak pada teknis berbisnis yang bisa dilakukan oleh kita semua adalah dengan berbisnis pada sektor properti dan juga emas. Tips untuk bisnis properti ini adalah temukan properti yang under value. Ada orang menjual properti di bawah harga rata-rata karena butuh uang dalam waktu singkat. Lalu terkait dengan emas adalah upayakan untuk bisa menyisihkan 5 persen untuk investasi ke emas. Harga emas memang fluktuatif naik-turun, namun dalam jangka panjang, harga emas selalu beranjak naik, berbeda dengan dollar atau bahkan rupiah.

Sesi demi sesi yang dibawakan oleh Bang Ippho mampu memangkitkan semangat para peserta yang berjumlah sekitar 300-an orang tersebut. Semuanya diarahkan untuk memiliki semangat tinggi dalam berbisnis atau berinvestasi, diwaktu yang sama tidak pelit untuk bersedekah.

Dalam rangka untuk ikut mendukung pembangunan Masjid Indonesia Tokyo, Bang Ippho meminta para peserta untuk mengumpulkan uang sedekah terbaiknya di depan. Terlihat para peserta begitu antusias, uang sedekah yang mereka kumpulkan mulai dari seribuan yen, 5 ribuan, 10 ribuan, hingga beberapa lembar 10 ribuan karena memang lembaran tertinggi dalam mata uang Jepang adalah 10 ribu yen saja.

Lepas dari itu, Bang Ippho juga melelang Al Qur’an berukuran besar yang dananya sepenuhnya untuk mendukung pembangunan masjid. Al Qur’an dilelang mulai dari 500 yen, naik menjadi 1000 yen, 5000 yen, 50 ribu yen, 100 ribu yen, 300 ribu yen, hingga sampai tembus pada 500 ribu yen. Uang sebesar itu setara dengan kisaran 54 juta rupiah. Allahu Akbar! Beliau adalah seorang ibu-ibu yang juga pengusaha yang sempat naik menjadi pembicara diskusi panel, yaitu Bu Fatimah. Sedangkan satu orang lagi bapak-bapak yang sempat menawar di kisaran 200 ribu yen, akhirnya mendapatkan Al Qur’an yang lebih kecil namun dengan nilai niatan yang sama. Beliau berdua diundang ke atas panggung oleh Bang Ippho untuk menyatakan sepatah dua patah kata. Intinya doa dan hajat mereka juga diaminkan oleh semua peserta yang hadir. Saya yang duduk di bangku daerah depan, sampai tak kuasa menahan air mata yang akhirnya tumpah ruah karena haru atas kegigihan mereka dalam berinfak. Insya Allah, di masa depan saya pun akan mampu terus menginfakkan harta halal terbaik dengan nominal yang terus meningkat dari tahun ke tahun, aamiin.

Bang Ippho juga mampu mengkondisikan hampir seluruh peserta untuk bersama-sama berjanji dan berkomitmen, untuk secara rutin setiap bulan memberikan sedekahnya dalam rangka pembangunan masjid Indonesia Tokyo. Bukan karena apa-apa, hal tersebut agar menjadi tanggung jawab kita bersama, sama-sama menabung untuk akhirat, karena amal jariyah untuk masjid, selama masih dipergunakan sebagai tempat ibadah, maka pahalanya akan terus mengalir meski kita sudah meninggal dunia. Insya Allah.

Terima kasih Bang Ippho Santosa atas Seminar Dahsyat Luar Biasa. Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kokuryo Cho, Chofu Shi – Tokyo, JAPAN
Senin malam, 23 Rabiul Akhir 1437 H/01 Februari 2016 pukul 20.58 waktu Jepang

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Senin, 01 Februari 2016 pukul 21.15 waktu Jepang

01 == 02

03 == 04

05 == 06

07 == 08

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: