Belajar CINTA KERJA dari Masyarakat Jepang*

Sumber Ilustrasi Gambar dari sini

Belajar CINTA KERJA dari Masyarakat Jepang*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, 32nd Trainee of Asian Social Welfare Worker’s Training Program by Japan National Council of Social Welfare (JNCSW/全国社会福祉協議会)

Masyarakat Indonesia acapkali mengenal Jepang sebagai penjajah, karena itu memang bagian dari sejarah yang menjadi tonggak penting lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Seiring dengan berjalannya waktu, kebanyakan kita mengenal Jepang atas karya hiburan animasinya yang menyebar ke berbagai penjuru dunia seperti sebut saja Doraemon, Naruto, One Piece dan lain-lain. Belum lagi produk teknologi buatan Jepang yang sangat mudah kita temui dalam kehidupan sehari-hari seperti televisi, komputer, sepeda motor, mobil dan masih banyak lagi yang lainnya.

Dengan demikian, kita mengenal Jepang sebagai Negara dengan teknologi tinggi, trendsetter, Negara yang masyarakatnya kreatif, berpendidikan tinggi juga mayoritas berotak cerdik pandai.

POST KINGDOM

Sebagaimana sejarah peradaban-peradaban berbagai belahan dunia di masa silam, negeri Jepang juga terdiri atas kerajaan-kerajaan (shogun) yang saling berperang satu sama lain demi memperluas jangkauan wilayah kekuasaan. Masa tersebut adalah masa kelam dan jauh tertinggal dari negeri-negeri Barat seperti Eropa dan Amerika.

Angin segar perbaikan peradaban mulai terbuka sejak diberlakukannya Restorasi Meiji. Pihak Jepang mulai terbuka dengan dunia luar, termasuk teknologi dan budaya asing. Langkah kebijakan ini cepat diadaptasi hingga kemajuan teknologi meningkat pesat.

Perang dunia pun bergejolak dan menjadikan Jepang ikut serta di dalamnya. Tidak sekedar menjadi “penggembira” semata, namun di zaman itu Jepang telah mampu menjadi pemain inti, hingga berani menyerbu titik vital pertahanan Amerika Serikat sebagai Negara adidaya di zamannya. Meski akhirnya, sejarah mencatat Jepang harus menelan pil pahit akibat kalah perang dengan Amerika Serikat.

POST WAR

Perang dunia telah berakhir, Negara-negara di seluruh dunia menyadari bahwa perang tidak menghasilkan apa-apa selain permusuhan dan kesedihan bagi warga masyarakatnya. Maka dibuatlah kesepakatan bersama untuk bisa terus menjalani kehidupan ini secara bersama-sama, berdaulat dan merdeka, berdampingan dalam keadaan aman, damai dan juga sejahtera.

Jepang penuh sigap dan penuh percaya diri kembali membangun asa untuk bisa tumbuh menjadi Negara yang mampu memberikan rasa aman, nyaman, tenteram dan sejahtera bagi warga negaranya.

Mulai dekade 1950-an rehabilitasi atas korban perang, termasuk anak yatim piatu juga janda dan orang terlantar menjadi fokus utama. Pembangunan merata di berbagai bidang dengan berbasis teknologi juga terus digalakkan. Dan kurang dari dua dekade saja setelah Perang Dunia II usai, dengan memanfaatkan momentum Tokyo Olympics di tahun 1964 setelah Tokyo Olympics 1940 tertunda akibat Perang Dunia II, kondisi pekonomian Jepang mengalami kemajuan pesat yang turut serta meningkatkan status Negara di mata dunia.

STATUS NEGARA MAJU

Pertumbuhan ekonomi riil dari tahun 1960-an sampai dengan tahun 1980-an sering disebut sebagai “Keajaiban ekonomi Jepang”. Dekade 1980-an merupakan masa keemasan ekspor otomotif dan barang-barang elektronik ke Amerika Serikat dan juga Negara-negara Eropa.

Kemajuan tersebut ditunjang oleh kebijakan Pemerintah Jepang yang mana sejak periode tahun 1900-an untuk mengirimkan warga negaranya pergi belajar ke Amerika Serikat dan juga Eropa. Selain itu juga sekitar 3000 orang dari Eropa dan Amerika didatangkan sebagai tenaga pengajar di Jepang. Maka, sebenarnya Sistem Pendidikan dan Ekonomi Jepang adalah hasil adaptasi dari Amerika dan Eropa sejak awal Periode Meiji (1868-1912) sampai sekarang.

NILAI LUHUR DAN FOKUS SDM

Orang Jepang sejak dahulu kala dikenal sebagai masyarakat yang memegang teguh prinsip dan berjiwa loyalitas tinggi. Memberikan penghormatan tinggi terhadap orang lain, bekerja keras, disiplin waktu dan nilai manfaat, budaya malu atas malas diri, adalah beberapa contoh nilai luhur yang terus ditanamkan dari generasi ke generasi.

Berpikir sebagai entitas Negara, maka kepentingan pribadi atau kelompok menjadi hal yang dinomorkesekiankan. Pembangunan fokus pada keberpihakan masyarakat umum. Pembangunan di berbagai bidang, di semua wilayah dan berusaha keras menjangkau seluruh warga Negara tanpa terkecuali.

Kesadaran kolektif juga menjadikan masyarakat Jepang menjadi tipe pekerja keras, bekerja cerdas, dan senantiasa menerapkan prinsip KAIZEN atau perbaikan berkelanjutan (continuous improvement).

CINTA KERJA

Orang Jepang rata-rata berumur panjang. Angka harapan hidup untuk perempuan Jepang mencapai 86 tahun, sedangkan untuk laki-laki mencapai 80 tahun. Dengan demikian, masih banyak bisa kita jumpai para saksi hidup zaman perang, masa Jepang dalam keterpurukan akibat kalah perang, hingga menjadi Negara maju seperti sekarang ini.

Orang Jepang dapat kita kenal sebagai orang yang CINTA KERJA, bukan orang-orang yang TERPAKSA KERJA. Tentu saja antara keduanya adalah hal yang jauh berbeda.

Kesadaran awal yang melekat pada orang Jepang yaitu bahwa bekerja adalah hal yang harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup. Sekalipun ia merupakan orang kaya raya, akan tetap bersemangat untuk bekerja sebagai upaya aktualisasi diri, selain memang dengan bekerja bisa membuat orang menjadi tidak cepat pikun, serta memiliki kondisi kesehatan yang lebih baik (tidak mudah sakit).

Dari kesadaran tersebut, masing-masing orang Jepang, dengan apapun peranannya dalam dunia kerja, akan menjalani pekerjaan dengan penuh CINTA. Loyalitas yang tinggi juga mereka tunjukkan dengan terus bekerja pada tempat yang sama, tanpa merasa cepat bosan, dan bahkan terus merasa harus belajar dan memberikan hasil kerja terbaiknya.

CINTA dan KAIZEN adalah dua hal penting yang tidak sekedar menjadi jargon semata, tapi juga ajeg dengan perbuatan. Maka tidak heran, kita akan banyak menemukan orang Jepang yang sangat expert di bidangnya. Dan diantara mereka senantiasa menghargai apapun profesi pekerjaan. Tidak mudah sok tahu dengan sesuatu yang bukan bidangnya. Dan senang membagi kerja-kerja dalam kelompok sesuai dengan tupoksi dan bidang keahlian yang dimiliki. Bukan kerja individualis atau mau terlihat menonjol sendiri.

14Tengachaya, Osaka Shi – Osaka Prefecture, JAPAN
Jum’at malam, 06 Rabiul Akhir 1437 H/15 Januari 2016 pukul 19.25 waktu Jepang

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Sabtu, 16 Januari 2016 pukul 09.00 waktu Jepang

Comments
2 Responses to “Belajar CINTA KERJA dari Masyarakat Jepang*”
  1. Ecky says:

    Banyak hal yang bisa kita pelajari dari nilai-nilai di Jepang

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: