Suasana Damai di Pedesaan Takashima, Jepang*

00

00

Suasana Damai di Pedesaan Takashima, Jepang*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, 32nd Trainee of Asian Social Welfare Worker’s Training Program by Japan National Council of Social Welfare (JNCSW/全国社会福祉協議会)

Berbeda dengan tempat saya training sebelumnya, Tochiu no Sato terletak di atas pegunungan yang minimal perjalanan 20 menit dengan menggunakan mobil pribadi. Transportasi yang umum digunakan oleh warga masyarakat adalah mobil pribadi dan atau bus yang hanya datang setiap satu jam sekali. Karena jalan yang menikung dan sempit, alasan itu pula yang menjadikan warga di sekitar sini amat sangat jarang memiliki sepeda motor.

Berbicara mengenai sepeda motor, sebenarnya bukan karena alasan sulitnya transportasi semata. Hampir di seluruh kota Jepang yang pernah saya kunjungi, memang adanya sepeda motor ini sangat minim sekali. Jikalaupun ada, biasanya adalah motor gede atau motor mewah, dan atau sebaliknya, motor agak butut yang modelnya saya yakin tidak ada orang Indonesia yang suka.

Hal kontras ternyata saya temui karena begitu banyaknya jumlah pengguna sepeda onthel, dan pejalan kaki. Fasilitas jalur khusus (trotoar) begitu lebar, aman dan nyaman. Pengguna mobil pun selalu menghargai pejalan kaki dan pengguna sepeda onthel,  jarang terlihat mobil ngebut, terburu-buru atau bahkan mengklakson pejalanan kaki, itu bisa dikatakan sebagai aib yang memalukan (tidak menghargai orang lain).

Karenanya, kesimpulan singkat saya adalah bahwa negara maju tidak terlalu membutuhkan moda transportasi pribadi yang melimpah. Namun cukup siapkan transportasi publik yang aman, nyaman dan mampu menampung kebutuhan warganya. Memahalkan harga beli ataupun pajak kepemilikan kendaraan pribadi. Di sisi lain sediakan sarana untuk pejalan kaki dan pengguna sepeda onthel secara memadai. Dengan demikian, akan tercipta lingkungan perkotaan yang minim polusi udara, saling menghargai (tidak sering teriak atau klakson), dan juga sehat karena seringnya aktivitas jalan kaki atau mengayuh sepeda.

Kembali lagi ke bahasan awal tentang pedesaan di Takashima. Ada 3 desa terdekat dengan tempat saya training saat ini, yaitu Desa Tsunogawa, Desa Hozaka dan Desa Mukugawa. Selain kedatangan saya per tanggal 16 November lalu adalah untuk mengenal lingkungan dalam institusi Tochiu no Sato, dalam mokuteki (tujuan) belajar yang saya cantumkan juga menghendaki adanya kegiatan untuk mengenal lebih dekat dengan masyarakat sekitar. Oleh karenanya, wakil Pimpinan Tochiu no Sato mengajak saya berjalan-jalan mengunjungi ketiga desa tersebut.

Desa terdekat adalah Tsunogawa. Desa tersebut hanya terletak beberapa ratus meter saja dari Tochiu no Sato. Suasana indah alam pegunungan membuat desa ini tampak asri dari luar. Tanah yang subur juga menyebabkan desa ini melimpah dengan produksi padi dan juga sayur mayur. Rumah-rumah terletak di sebelah kiri dan kanan jalan utama, dan jalan cabang pun semuanya telah teraspal dengan baik.

Sebagaimana insting para leluhur dahulu, sebuah desa akan terletak tak jauh dari sungai. Begitupun dengan Desa Tsunogawa, terdapat sungai kecil dan dangkal, bersih dan tampak telah direnovasi dengan sentuhan alat modern. Dengan demikian, desa ini tak akan pernah kekeringan, ditambah adanya pohon-pohon Sakura juga banyaknya pepohonan tinggi menjulang mengelilingi desa, membuat desa tampak begitu nyaman untuk ditinggali.

Berlanjut pada desa selanjutnya yaitu Desa Hozaka. Letak desa tersebut berada di balik bukit dengan posisi Tochiu no Sato, sehingga harus mengambil jalan memutar dan hanya hanya ditempuh perjalanan dengan mobil selama kurang dari lima menit.

Desa Hozaka juga dilewati oleh sungai kecil dan dangkal yang tak kalah indahnya dengan sungai di Tsunogawa, sebagaimana khas sungai daerah lereng pegunungan. Hal paling spesial di desa ini adalah tugu penanda jalur tempuh orang-orang Jepang di masa lampau. Jalur tersebut adalah jalur orang-orang di pesisir pantai Utara menjual dagangan Ikan “Nama” melewati pegunungan hingga sampai ke pusat Kota Kyoto juga Osaka. Perjalanan tersebut bisa memakan waktu hingga satu bulan lamanya. Dan di Desa Hozaka inilah, salah satu daerah persinggahan yang ditandai dengan adanya Tugu yang telah berdiri lebih dari 200 tahun silam. Karena situsnya yang bersejarah, pemerintah juga membuatkan tugu penjelasan agar pengunjung bisa mengetahui informasinya.

Tujuan desa terakhir adalah Desa Mukugawa. Ini lokasinya lebih jauh lagi, sekitar 10 menit perjalanan menggunakan mobil dari Tochiu no Sato. Karena lokasinya yang lebih masuk ke area pegunungan, maka akses kemana-mana juga semakin sulit (jauh). Tapi luar biasanya, jangan dibayangkan akses jalan rusak atau becek berdebu, seluruh area desa ini telah terbangun jalan beraspal yang nyaman, tidak berlubang dan juga sungai dangkal yang tampak bersih dan indah.

Di sini juga terdapat situs rumah zaman dulu yang berdiri begitu megah. Konon pada zaman 1900-an rumah tersebut memang tergolong mewah dan begitu khas bangunan asli orang Jepang pada zaman dulu. Pemerintah kota juga tidak tinggal diam, meski tidak dipamerkan secara komersil, namun pemerintah menyetujui pemugaran dan perawatan rumah tersebut meski harus mengeluarkan kocek ratusan juga yen.

Wah, kekaguman demi kekaguman saya rasakan melihat bagaimana sikap orang Jepang, mulai dari pemerintahnya, orang-orangnya yang ramah dan amat sopan, serta aktualisasi pelayanan publik yang melebihi kesenangan pribadi. Malas bekerja adalah aib, telat waktu dari janji yang telah ditetapkan adalah aib, korupsi adalah aib, dan di atas itu semua, terdapat aktualisasi diri dengan terus meningkatkan pelayanan sosial-teknologi-budaya terhadap warga masyarakatnya.

Sebagai orang sosial, saya tidak juga melihatnya dari satu sisi semata. Di atas semua kekaguman saya tersebut, hal yang menjadi kekhawatiran saya terhadap masa depan Jepang adalah jumlah penduduk produktif yang semakin menurun. Tahun-tahun belakang ini dan juga tahun-tahun ke depan adalah masa berat yang dihadapi oleh orang Jepang. Dimana orang-orang menjadi lanjut usia yang membutuhkan perawatan khusus, sedangkan jumlah anak-anak, remaja maupun dewasa pekerja produktif jumlah terus menurun. Jika hal tersebut terjadi secara terus menerus, bisa dipastikan bahwa pelayanan sosial yang mapan akan “terguncang”, dan bisa jadi masalah sosial akan meluas akibat sumber daya yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pelayanan.

Desa Tsunogawa, Desa Hozaka dan juga Desa Mukugawa yang dulunya masing-masing bisa ditempati oleh 2000-an penduduk. Sekarang tiap desa dihuni kurang dari 50 orang saja. Dan itupun hanya ditempati oleh para orang-orang dengan usia rata-rata di atas 70 tahun. Begitu banyak rumah-rumah di desa tersebut yang tidak dihuni oleh siapapun. Para orang-orang muda memilih untuk tinggal di kota karena lebih nyaman untuk akses pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

12 - Joko SetiawanDan, jika kondisi tersebut terjadi terus-menerus, bisa dipastikan, sekitar 20 atau 30 tahun mendatang, desa yang indah dan menurut saya begitu nyaman untuk ditempati (jauh dari hiruk pikuk), akan menjadi desa mati, tak terhuni. Semoga ada jalan keluar. . .

Izumi chou, Takashima Shi – Shiga Prefecture, JAPAN
Senin, 11 Safar 1437 H/23 November 2015 pukul 12.14 waktu Jepang

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Senin, 23 November 2015 pukul 12.30 waktu Jepang

01 == 02

03 == 04

05 == 06

07 == 08

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: