Sawayaka Sou dan Danau Biwa*

00

00

Sawayaka Sou dan Danau Biwa*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, 32nd Trainee of Asian Social Welfare Worker’s Training Program by Japan National Council of Social Welfare (JNCSW/全国社会福祉協議会)

Waktu terasa begitu cepat berlalu, mungkin karena kesibukan yang begitu terjadwal dari waktu ke waktu. Sampai akhirnya training selama dua pekan saya di Lembaga Pelayanan Sosial Sawayaka Sou telah berakhir, padahal belum sempat menuliskan sesuatu apapun tentangnya. Namun, tidak perlu khawatir, karena apa yang saya dapatkan di Sawayaka Sou, kontennya kurang lebih sama dengan yang sudah pernah saya tuliskan sebelumnya terkait pelayanan sosial untuk tunawisma di Jepang.

Nah, karenanya saya ingin membagi cerita lain terkait aktivitas di Sawayaka Sou juga sedikit tentang Danau Biwa (Biwako/Lake Biwa). Sekedar cerita ringan saja untuk menuh-menuhin blog Bocahbancar he he.

Sawayaka Sou berlokasi di Kota Takashima, Perfektur (Provinsi) Shiga. Daerahnya berbatasan langsung dengan Danau Biwa yang kelilingnya mencapai 200 kilometer jauhnya. Training yang saya jalani di sini hampir sama dengan yang sudah-sudah saya lakukan sebelumnya. Yang membedakan adalah suasana baru dengan karyawan maupun kasus per kasus dari klien yang tidak bisa disamaratakan. Namun, mengenai mekanisme dan segala macam dokumen yang ada tentu saja serupa karena memang masih dalam satu naungan Shakai Fukushi Houjin Osaka Jikyokan.

Hal yang menarik dan menjadi pengalaman baru saya adalah di Sawayaka Sou memiliki banyak kegiatan produktif andalan. Sebut saja mulai dari Tougei (seni kerajinan tembikar/lempung), lalu ada Kamisuki (daur ulang kertas), kemudian Engei (berkebun) bahkan hingga bersawah. Betul, Sawayaka Sou memiliki satu petak sawah yang dirawat sendiri oleh karyawan bersama klien, yang ketika panen bisa memenuhi kebutuhan operasional hingga 3 bulan lamanya.

Namun, karena waktu yang teramat pendek, saya tidak bisa berpraktik langsung terkait seni tembikar dan daur ulang kertas, hanya mendapatkan penjelasan secara lisan beserta alur singkat yang dicetak di kertas A4, dan sedikit proses yang bisa saya praktikkan sendiri. Yang cukup menyenangkan adalah saya untuk pertama kalinya mengoperasikan mesin pemotong rumput dan bersama karyawan membersihkan sawah untuk persiapan tanam tahun depan. Selain itu, juga ikut mengolah tanah kebun dan kemudian menanaminya dengan bawang putih untuk bisa dipanen pada musim semi tahun mendatang.

Hal yang saya kagumi dari Sawayaka Sou adalah adanya fasilitas lengkap untuk mendukung klien agar mampu beraktivitas secara positif dan memberi manfaat kepada banyak orang. Mulai dari bengkel kerajinan tembikar yang bisa dibilang sangat lengkap dan modern. Juga fasilitas daur ulang kertas yang saya pikir tak kalah lengkap dengan alat-alat canggih. Kalau saja alat-alat tersebut bisa disumbangkan ke Yayasan Kumala, tentu produktivitas kami untuk mengolah sampah menjadi barang bernilai jual tinggi bisa sampai di ekspor keluar pulau secara teratur he he.

Namun, inilah hebatnya pelayanan sosial di Jepang. Pemerintah tak lagi memikirkan balik modal dengan mengeluarkan biaya besar guna mengadakan fasilitas yang lengkap dan modern. Sebagian besar klien di sini adalah lanjut usia, dan tentu saja produktivitasnya sangat rendah. Lagi-lagi menurut saya itu hanyalah karena i’tikad pemerintah untuk memberikan kualitas hidup yang baik bagi warganya yang notabene menjadi kelas bawah sebagai akibat atas berbagai kondisi yang ada.

Hal paling spesial adalah adanya satu klien yang berusia masih muda (di bawah usia 40 tahun) namun memiliki penyakit bawaan, sebut saja namanya Hokama Tomo. Beliau sangat pandai melukis, dan menghadiahkan kepada saya lukisan yang sangat cantik dengan pemeran utama adalah AYUMI. Ya, tema utama dari apa yang dibuat oleh Hokama san adalah nama anak gadis pertama saya, Ayumi Qonita Azzahra. Alhamdulillah, saya merasa sangat bergembira sekali, begitu pula dengan sang isteri di Bandung ketika saya kirimi fotonya via Whatsapp, menunjukkan kegembiraan yang serupa.

Selanjutnya tentang Danau Biwa. Danau ini merupakan danau terluas di seantero Jepang. Kalau ada Gunung Fuji sebagai kebanggaan tertinggi, maka Danau Biwa adalah kebanggan sebagai simbol terluas. Dari Takashima inilah, ratusan tahun yang lalu para nelayan dari daerah pantai utara menjual hasil tangkapan ikannya yang awalnya dari jalan kaki, kemudian menaiki kapal dari Takashima menuju Kyoto hingga Osaka.

Di tengah Danau Biwa juga terdapat pulau kecil, di situ terdapat kuil Agama Shinto dan memang khusus sebagai tempat ibadah mereka. Kebiasaan dari adanya kuil Shinto adalah di sekitarnya pepohonan akan terjaga dengan rindang, namun tetap bersih terjaga. Saya pikir, kepercayaan Agama Shinto ini adalah kepercayaan tentang menjaga keseimbangan alam, karenanya suasana hutan senantiasa tetap terasa di setiap ada kuil Shinto berada. Keren kan.

Saya sendiri, dengan menaiki sepeda mini senang berjalan-jalan menyusuri Danau Biwa. Setiap pagi selalu berkumpul ratusan, bahkan hingga ribuan burung berenang di danau, menikmati suasana santai pagi hari sebelum terbang jauh untuk mencari makan. Jadi, di perkumpulan itu, mereka hanya saling bercengkerama dan bersantai saja, bukan dalam rangka mencari makan atau hal lainnya.

12 - Joko SetiawanSuasana alamnya, tak bisa dipungkiri bahwa di tempat ini juga menawarkan kedamaian akan indahnya alam. Namun, tentu sebagai seorang muslim, hal yang kurang adalah tidak adanya masjid yang bisa saya kunjungi untuk mengesakan ciptaan-Nya yang begitu luar biasa ini.

Izumi chou, Takashima Shi – Shiga Prefecture, JAPAN
Senin malam, 05 Safar 1437 H/16 November 2015 pukul 23.12 waktu Jepang

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Rabu, 18 November 2015 pukul 09.00 waktu Jepang

01 == 02

03 == 04

05 == 06

07 == 08

09 == 10

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: