Pelayanan Sosial untuk Orang Terlantar (homeless) di Jepang*

logo

Pelayanan Sosial untuk Orang Terlantar (homeless) di Jepang*

Studi Kasus Social Welfare Corporation (Shakai Fukushi Houjin/NPO) Osaka Jikyokan dalam Memberikan Program Pelayanan Sosial untuk Orang Terlantar (Homeless) di Osaka, Jepang

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, 32nd Trainee of Asian Social Welfare Worker’s Training Program by Japan National Council of Social Welfare (JNCSW/全国社会福祉協議会)

Selama satu bulan di sepanjang bulan Oktober 2015 kemarin saya berkesempatan untuk menimba ilmu secara langsung di dua lembaga yang memberikan pelayanan sosial terhadap orang-orang terlantar (homeless) di Kota Osaka. Nama lembaga tersebut adalah Kyugo Shisetsu (Relief Institution) Hakuunryo dan Kyugo Shisetsu (Relief Institution) Koushiryo. Saat ini sedang menimba ilmu di Kyugo Shisetsu (Relief Institution) Sawayaka Sou di Takashima Shi (kota) Shiga Prefecture (propinsi), dan pertengahan sampai akhir November nanti ke Kyugo Shisetsu (Relief Institution) Tochiu no Sato Shiga Prefecture (propinsi). Semua lembaga tersebut berada di bawah Social Welfare Corporation (Shakai Fukushi Houjin/NPO) Osaka Jikyokan.

NPO Jikyokan ini bersifat swasta, namun memiliki mandatori pelayanan dari negara (kota Osaka). Artinya, semua orang yang bekerja di lembaga ini statusnya adalah karyawan swasta (bukan pegawai negeri), namun segala bentuk biaya operasional sepenuhnya berasal dari uang negara yang mekanismenya telah diatur sedemikian rupa.

Tulisan kali ini akan mengupas sedikit banyak tentang hal yang berkaitan dengan Pelayanan Sosial terhadap orang terlantar (homeless) di Jepang, khususnya yang dilayani oleh Social Welfare Corporation (Shakai Fukushi Houjin/NPO) Osaka Jikyokan dengan beberapa lembaga yang telah saya sebutkan di awal paragraf di atas. Isi tulisan kurang lebih akan membahas hal-hal berikut ini:

  1. Siapa itu homeless people?
  2. Apa penyebab/alasan menjadi homeless people?
  3. Apa peran pemerintah?
  4. Siapakah pemberi pelayanan terhadap homeless people?
  5. Jenis homeless peolpe yang mendapatkan pelayanan di lembaga/institusi?
  6. Berapa jumlah statistik homeless people?
  7. Apa bentuk pelayanan yang diberikan kepada homeless people?
  8. Berapa daya tampung lembaga pelayanan homeless people?
  9. Berapa lama ada di dalam institusi/lembaga pelayanan?
  10. Adakah klub aktivitas untuk homeless people?
  11. Bagaimana model pelayanan agar homeless people bisa mandiri?
  12. Adakah after care setelah keluar dari institusi/lembaga?
  13. Sampai kapan homeless people tidak lagi menerima bantuan dari negara?

Siapa itu homeless people?

Mereka yang rata-rata tidak memiliki pekerjaan/tidak bekerja, terlantar, asal-usul keluarga sebagian  besar tidak diketahui, keluarga yang tidak perduli, dan atau dalam kondisi sakit tapi tidak mampu mengakses sumber daya yang tersedia. Berusia 20-80 tahun, namun karena mayoritas adalah lanjut usia, sehingga rata-rata homeless berusia 60-65 tahun.

Apa penyebab/alasan menjadi homeless people?

Tidak adanya pekerjaan, kemampuan/keahlian terbatas, berusia lanjut, memiliki penyakit, terlantar/tidak diurus oleh keluarga, dan tidak bisa mengurus diri sendiri. Mereka ini rata-rata dulunya para pekerja bangunan, dan setelah pekerjaan-pekerjaan semacam itu mulai tidak ada, mereka juga menjadi pengangguran. Karena tekanan/stres, menjadi pemabuk dan perokok berat, akhirnya hidup semakin tidak jelas, dan menggelandang di taman-taman, stasiun, pinggir sungai dan lain-lain.

Apa peran pemerintah?

Jika homeless tersebut berkenan untuk diregistrasi, dalam artian didata secara lengkap serta dibina dengan baik, pemerintah akan membiayai secara penuh mulai dari segala macam kebutuhan pelayanan di dalam lembaga/institusi, saat tinggal sendiri di apartemen yang biaya sewa apartemen dan aktivitas sehari-hari difasilitasi oleh uang negara (sistem ini disebut dengan seikatsu hougo) sambil mencari pekerjaan yang layak, hingga benar-benar bisa mandiri sampai dengan dengan dicabut subsidi keuangannya dari negara karena telah mampu mencukupi kebutuhan hidupnya dari penghasilan yang diterima selama bekerja.

Siapakah pemberi pelayanan terhadap homeless people?

Pemerintah sebagai penyedia dana dan pembuat aturan. Pelayanan langsung kepada homeless people diserahkan sepenuhnya kepada Social Welfare Corporation (Shakai Fukushi Houjin/NPO). Karena dikelola oleh pihak swasta, pelayanan bersifat profesional, bersih dan higienis, layanan memenuhi standar gizi dan kesehatan, menjunjung tinggi HAM termasuk di dalamnya menjaga kerahasiaan informasi privasi klien, memposisikan klien sebagai “tamu” yang harus dilayani secara maksimal, sembari tetap menerapkan aturan tanpa sikap superioritas (kesepahaman untuk saling menghormati dan menghargai antar individu).

Homeless people akan diberikan pelayanan secara penuh ketika memang berkenan untuk diurus (didata pribadinya dan melaporkan diri secara rutin kepada pemerintah setempat). Sedangkan orang-orang yang masih tertutup, ada pihak ketiga yang memegang mandatori pemerintah untuk memberikan pelayanan seperti makan sehari-hari, cek kesehatan secara rutin, atau bahkan mengantar /mengurus ke Rumah Sakit dengan tanpa biaya sepeserpun alias GRATIS.

Bahkan, sampai dibuatkan shelter sebagai gerbang awal agar homeless tersebut mau masuk ke institusi/lembaga pelayanan, atau mandiri dengan tinggal di apartemen dan mengurus keperluan dirinya sendiri (biaya sewa apartemen dan uang bulanan diberikan oleh pemerintah setempat).

Jenis homeless peolpe yang mendapatkan pelayanan di lembaga/institusi?

Secara umum, jenis homeless yang diberikan pelayanan di dalam institusi/lembaga ada tiga macam, diantaranya: 1)homeless karena tidak punya pekerjaan, tapi badan sehat; 2)karena sudah tua, memiliki penyakit tertentu, dan atau difabel; dan 3)memiliki gangguan jiwa (skizofrenia) dan membutuhkan konsumsi obat secara rutin. Untuk poin yang ketiga tersebut, rata-rata adalah klien yang telah dirujuk dari rumah sakit jiwa di kota tersebut. 

Berapa jumlah statistik homeless people?

Di Kota Osaka sampai dengan tahun 2015 ini, statistik jumlah homeless sekitar 785 orang, mengalami penurunan setelah tahun kemarin sejumlah 900-an orang. Yang dimaksud homeless di sini adalah mereka yang benar-benar masih berada di luar (taman, stasiun dan lain-lain) juga yang berstatus klien di dalam institusi/lembaga pelayanan sosial untuk homeless.

Sistem jaringan pengaman sosial yang biasa disebut dengan seikatsu hougo, adalah sebuah aturan untuk mensupport orang-orang Jepang yang tidak mampu (miskin) dengan cara memberikan bantuan sewa apartemen dan juga uang bulanan yang cukup untuk hidup per bulan, sepanjang tahun, hingga mandiri. Data untuk penerima seikatsu hougo se Jepang, sampai dengan tahun ini sekitar 2,16 juta orang.

Penerima seikatsu hougo terbesar se Jepang  berada pada wilayah Nishinari ku, yakni sekitar 6.300-an orang. Jumlah tersebut adalah sekitar 23% dari penerima seikatsu hougo se Kota Osaka yang jumlahnya sekitar 30.000-an orang.

Apa bentuk pelayanan yang diberikan kepada homeless people?

Beberapa bentuk pelayanan untuk orang terlantar (homeless) ini antara lain sebagai berikut:

  • Sebelum homeless berkenan masuk ke institusi/lembaga, pelayanan yang diberikan adalah dengan outreach (penjangkauan) ke tempat-tempat dimana homeless berada seperti taman, pinggir sungai, stasiun dan lain-lain, kemudian memberikan pelayanan cek kesehatan, bahkan mengantar/mengurus ke Rumah Sakit. Dalam proses ini, juga terus dilakukan komunikasi dan pendekatan yang intensif, sehingga homeless mau dirayu untuk masuk ke dalam institusi yang itu merupakan demi kebaikan sang homeless tersebut (bukan dengan pemaksaan, menghargai pilihannya sendiri).
  • Di sini homeless bisa mengakses fasilitas makan, beristirahat, mandi, mendapatkan snack dan lain-lain. Kemauan menggunakan shelter adalah langkah awal agar homeless mau dibujuk untuk masuk ke institusi/lembaga pelayanan sosial. Karena sangat menghargai HAM, tidak ada homeless yang dipaksa untuk masuk lembaga, atau bahkan harus diciduk Satpol PP atau ditakut-takuti oleh aparat. Semua berdasarkan proses yang sangat “smooth” meski membutuhkan waktu yang agak lama.
  • Tinggal Menetap di Lembaga/Institusi. Di sini klien bisa mendapatkan fasilitas tempat tinggal, makan tiga kali sehari, pelayanan kesehatan, rekreasi, latihan kerja dan lain-lain.
  • Menyewa Apartemen. Langkah berikutnya setelah selesai dari pelayanan di dalam institusi/lembaga adalah dengan menyewa apartemen dan melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri (sendirian). Apartemen ini uangnya diterima dari negara (seikatsu hougo), begitu pula dengan kebutuhan hidup (makan, jajan) penuh selama satu bulan bagi yang tidak mampu bekerja. Yang mampu bekerja, ada mekanisme prosentase berdasarkan gaji pekerjaan yang ia lakukan.
  • After Care. Meskipun telah menyewa apartemen sendiri, dan mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara sendiri, namun kerapkali ada masalah soal isian form administrasi dengan pemerintah, atau bahkan merasa bosan karena tidak ada teman. Maka, dibuatlah tempat untuk tempat after care. Di sini klien bisa datang untuk sekedar beraktivitas bersama teman-teman lain, hingga berdiskusi dengan karyawan institusi terkait kebingungan-kebingungan tertentu atau hal-hal yang sifatnya membutuhkan bantuan. Bagi yang lokasi apartemennya jauh dari lokasi insitusi, dilaksanakan houmon soudan (kunjungan) selama sebulan sekali.

Berapa daya tampung lembaga pelayanan homeless people?

Beberapa lembaga/institusi di Osaka dan Shiga Prefecture yang bernaung di bawah Social Welfare Corporation (Shakai Fukushi Houjin/NPO) Jikyokan diantaranya sebagai berikut:

  • Kyugo Shisetsu (Relief Institution) Hakuunryo, terdapat 240-an klien.
  • Kyugo Shisetsu (Relief Institution) Koushiryo, terdapat 110-an klien.
  • Kyugo Shisetsu (Relief Institution) Sawayaka Sou, tedapat 50-an klien.
  • Kyugo Shisetsu (Relief Institution) Tochiu no Sato, terdapat 160-an klien.
  • Kyugo Shisetsu (Relief Institution) Tsunogawa Villa, terdapat 200-an klien.

Ditambah dengan beberapa institusi di bawah naungan Jikyokan, namun saya tidak ada jadwal untuk belajar di sana, totalnya bisa mencapai 800-an klien (homeless), untuk daerah Osaka dan Shiga Prefecture.

Dalam satu institusi, yakni Hakuunryo, memegang rekor satu lembaga yang memiliki klien terbanyak se-Jepang, yakni sejumlah 240-an klien.

Berapa lama ada di dalam institusi/lembaga pelayanan?

Tidak ada aturan baku untuk lamanya tinggal di dalam lembaga/institusi ini. Paling cepat 4 bulan, bisa 6 bulan, 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun, 5 tahun, 10 tahun, bahkan sampai lebih dari 20 tahun. Sebabnya tentu karena orang tersebut memiliki kecacatan atau sakit menahun, sehingga tidak mampu hidup mandiri sendiri. Dan meski ada klien dengan lama tinggal di dalam institusi selama itu, negara tetap memberikan pelayanan tanpa memandang buruk klien tersebut (pemahaman negara terhadap rakyatnya adalah melayani dengan semaksimal mungkin, dimana uang untuk memberikan pelayanan tersebut berasal dari pajak rakyat yang secara tersirat mengamanahkan juga untuk mengurus orang-orang kurang beruntung seperti homeless tersebut).

Adakah klub aktivitas untuk homeless people?

Agar dapat memberikan pelayanan maksimal dan variatif, maka di dalam institusi dibuat klub-klub sesuai dengan kegemaran klien (homeless people). Beberapa diantaranya klub berkebun, klub karaoke, klub menggambar dan mewarnai, klub menarik tarian tradisional Jepang, klub volunteer dan lain sebagainya.

Bagaimana model pelayanan agar homeless people bisa mandiri?

Ketika mendapatkan pelayanan di dalam lembaga/institusi, terdapat beberapa latihan kerja yang disebut dengan sagyo kunren. Di sini lembaga bekerja sama dengan beberapa perusahaan kecil dan memberikan pekerjaan yang ringan/mudah untuk klien. Pekerjaan itu seperti memilah barang yang nantinya akan dijual, memilah yang baik (layak jual) dan yang buruk (tidak layak jual), yang standarnya sudah dijelaskan oleh pihak perusahaan.

Selain itu, sagyo kunren juga bisa berupa membantu menyiapkan makan, membantu mandi air panas (ofuro), membantu mengganti sprei tempat tidur (untuk lebih dari 100 orang) dan lain-lain. Setelah pekerjaan di dalam institusi dirasa mumpuni, dan naik tingkat, maka bersama-sama karyawan institusi mencari informasi pekerjaan di luar lembaga. Dari aktivitas tersebut, diharapkan dapat menabung uang, penghasilan semakin bertambah, dan akhirnya bisa menyewa apartemen sendiri.

Sampai kapan homeless people tidak lagi menerima bantuan dari negara?

Idealnya, setelah klien bisa melakukan aktivitas sendiri, menyewa apartemen sendiri (dengan biaya dari pemerintah), juga bisa bekerja sendiri. Hasil kerja tersebut bisa ditabung, dan ketika pekerjaan semakin layak, dan bisa mendapatkan gaji sekitar 120.000 yen/ bulan (sekitar 14 juta), baru bantuan/subsidi dari pemerintah diputus (tidak lagi mendapatkan seikatsu hougo) dan berstatus warga negara normal dengan tanggung jawab seperti orang kebanyakan.

Demikianlah, catatan singkat saya mengenai Pelayanan Sosial terhadap Orang Terlantar (homeless) di Jepang. Tentu ini bukanlah catatan lengkap sebagaimana laporan praktikum atau temuan penelitian dengan metode ilmiah. Melainkan, hanya sebuah catatan ringan dari seorang Pembelajar yang berkesempatan untuk belajar dan berpraktik langsung di dalam institusi.

12219363_914554078641254_1912069872825671664_nKarena keterbatasan penguasaan bahasa Jepang, sehingga banyak penjelasan rumit yang tidak bisa saya mengerti, sedangkan hampir tidak ada karyawan institusi yang mahir berbahasa Inggris (hanya bisa sekedar sapaan, tapi yang sifatnya berupa penjelasan tidak bisa menggunakan bahasa Inggris). Oleh sebab itulah, informasi yang saya tangkap juga sangat terbatas. Namun, semoga tulisan singkat ini bisa bermanfaat bagi para mahasiswa atau peneliti yang tertarik terhadap isu homeless, dan bisa memperdalam dengan cara dan metode yang lebih komprehensif dan ilmiah.

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah.

Izumi chou, Takashima Shi – Shiga Prefecture, JAPAN
Jum’at malam, 25 Muharram 1437 H/06 November 2015 pukul 21.58 waktu Jepang

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Sabtu, 07 November 2015 pukul 09.00 waktu Jepang

hakuunryo_big_photo01 == sawayaka_big_photo02

tochiunosato_big_photo04 == NB: Sumber gambar dari Website resmi Osaka Jikyokan.

Comments
4 Responses to “Pelayanan Sosial untuk Orang Terlantar (homeless) di Jepang*”
  1. sugooii.. berarti hampir gak ada ya pengemis disana sensei?

  2. mama nisa says:

    Wow, keren bisa belajar gini ya, Dari dulu saya penasaran sama para homeless ini. Saya pernah liat tayangan tentang daerah di Osaka yg banyak para homeless nya. Airin-chiku kalo ga salah namanya, ga tau kota apa.
    Nice share.🙂

    • Iya alhamdulilah mendapatkan kesempatan yang sangat berharga mba🙂

      Airin Chiku itu ya sedaerah dengan tempat saya belajar. Airin Chiku dulu namanya Kamagaseki, yang daerahnya meliputi Tengachaya, Hanazono Utara dan sekitarnya. Nah, semua daerah itu berada di wilayah Nishinari Ward. Di daerah ini, Shakai Fukushi Houjin Osaka Jikyokan memberikan pelayanan kepada lebih dari 500 homeless (mandatori dari pemerintah setempat).

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: