Welcome Party with Petinggi Osaka Jikyokan*

Tertulis nama Joko dalam Huruf Katakana

Tertulis nama Joko dalam Huruf Katakana

Tertulis nama Joko dalam Huruf Katakana

Welcome Party with Petinggi Osaka Jikyokan*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, 32nd Trainee of Asian Social Welfare Worker’s Training Program by Japan National Council of Social Welfare (JNCSW/全国社会福祉協議会)

Menulis bagi saya adalah sebuah hobi yang bisa membuat pikiran tenang karena telah berhasil mengeluarkan uneg-uneg atau apapun yang berkaitan dengan cerita kehidupan. Namun, saya bukanlah tipe penulis “berat” sebagaimana para penulis lain yang setiap tulisannya ditunggu oleh banyak orang. Sejak pertama kali membuka blog di akhir tahun 2007 silam, sampai sekarang tidak pernah absen mengupdate blog. Itulah mengapa, sampai dengan hari ini angka statistik jumlah postingan saya mencapai 1222 tulisan.

Namun begitulah, ada kalanya bisa begitu produktif menulis mengemukakan pikiran-pikiran, ada kalanya pula menjadi sangat tidak produktif dan hanya berkutat pada aktivitas rutin saja dan berat untuk menuliskan sesuatu. Setengah bulan terakhir ini, saya juga merasa menjadi sangat tidak produktif untuk menuliskan banyak hal. Padahal, banyak yang telah saya lalui dengan atmosfer suasana baru di Osaka, dan seluruh pengalaman itu, harusnya bisa menjadi tulisan menarik untuk dibagikan kepada para pencari ilmu di dunia maya.

Tulisan kali ini juga kisah yang seharusnya saya tulis kurang lebih setengah bulan yang lalu. Pada hari Jum’at malam, 16 Oktober 2015 pihak Non Profit Organization/NPO Jikyokan mengadakan acara makan malam sebagai agenda penyambutan kedatangan saya untuk bergabung menimba ilmu di lembaga ini. Ya, acara semacam ini memang sudah lazim orang Jepang lakukan sebagai budaya “wajib” ketika ada anggota baru yang bergabung.

Mereka yang mayoritas minum sake (arak/alkohol) dan juga daging babi, begitu sangat menghargai saya sebagai seorang muslim yang tidak mengkonsumsi hal tersebut. Memang benar, nantinya setelah agak sedikit mabuk, pembicaraan akan lebih banyak ke hal-hal yang sifatnya humor. Namun, hebatnya mereka, dalam kesetengahmabukan tersebut, mereka masih dalam kondisi sadar, yakni tidak teriak-teriak, berbicara kasar, atau bahkan ngamuk-ngamuk dan atau merusak fasilitas umum misalnya. Maka, menurut saya orang Jepang memiliki etika tinggi dan jauh dari kesan “buruk” sebagaimana mabuknya orang Indonesia kebanyakan, padahal mereka muslim. Sudah berdosa karena menenggak air haram, menimbulkan kekacauan dan ketidaknyaman pula.

Kesan yang saya dapatkan dalam acara penyambutan ini begitu luar biasa. Welcome Party untuk saya tersebut diadakan di Hotel Dotonbori, sebuah tempat sangat terkenal di Kota Osaka, Jepang ini. Terang saja, yang hadir dalam penyambutan saya tersebut adalah para pejabat tinggi Jikyokan. Mulai dari pimpinan tertinggi, juga para kepala bagian yang memegang peranan vital di organisasi yang telah berjalan lebih dari 100 tahun tersebut.

Intinya, orang Jepang begitu amat bisa memuliakan tamu. Status tinggi di lembaga/perusahaan, tidak menjadikan mereka tinggi hati dan merasa “gengsi” untuk membuat acara penyambutan kepada saya, orang kampung yang belum terstandardisasi penguasaan bahasa Jepangnya ini he he.

Uniknya, semua kecairan dalam suasana acara makan-makan tersebut, tidak lantas menjadikan bawahan lupa akan statusnya di dunia kerja, lantas bercanda seenaknya di tempat kerja. Orang Jepang sangat mengerti etika dan bisa membawanya di tempat yang seharusnya. Maka, boleh bercanda atau bahkan saling berbantah, namun dalam dunia kerja, semua punya posisi dan kewenangan masing-masing yang harus saling mempercayai satu sama lain. Di sini saya melihat bahwa orang Jepang memiliki pemahaman terhadap pembangunan sistem, dalam konteks pembangunan sistem, tidak menjadi soal siapa yang melakukan pekerjaan, asal sesuai dengan sistem dan standar yang telah dibuat, maka proses akan tetap berjalan sesuai dengan tujuan.

Saya menjadi banyak belajar, menghargai orang baru adalah titik terpenting yang bisa membangun semangat kebersamaan dalam satu keluarga besar. Hal berbeda tentu saya rasakan ketika pindah ke beberapa tempat kerja sebelumnya. Ke depannya, saya akan menjadi lebih ramah, lebih perhatian dan lebih menumbuhkan suasana nyaman untuk kolega baru yang bekerja dalam satu lembaga/perusahaan.

Terima kasih para orang hebat di Negeri Bumi Sakura, terlepas dari akidah yang berbeda, respek tinggi saya haturkan atas segala hal positif baru yang dapat menambah wawasan pergaulan saya di dunia internasional. Untuk kemudian, agar dapat membumikan diri dengan membawa semangat kemajuan dan kemodernan sesuai dengan konteks tempat dan masyarakat yang ada. Insya Allah..

Tengachaya, Nishinari ku Osaka shi – Osaka Prefecture, JAPAN
Sabtu malam, 19 Muharram 1437 H/31 Oktober 2015 pukul 20.59 waktu Jepang

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Ahad, 01 November 2015 pukul 09.00 waktu Jepang

IMG_20151016_182620 == IMG_20151016_182857

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: