Berlapis Kebaikan Muhamad Yusuf*

Malang, September 2013
Malang, September 2013

Malang, September 2013

Berlapis Kebaikan Muhamad Yusuf*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, 32nd Trainee of Asian Social Welfare Worker’s Training Program by Japan National Council of Social Welfare (JNCSW/Zenshakyou)

Alkisah seorang anak yang sedari masa kecil memang tampak kurus, tapi berbadan tinggi. Seorang anak yang dibesarkan dalam lingkungan cukup kondusif karena ayahnya seorang guru ngaji di kampung sana. Sampai masa akhir sekolah menengah atas, ia hidup dalam sebuah kesederhanaan, karena memang orang tuanya bekerja serabutan. Kadang bekerja di ladang, kadang cari ikan di laut, kadang bersawah, dan lain-lain sebagainya. Begitulah ekonomi keluarga di kampung nan jauh di sana.

Dirinya dikenal dengan anak yang memiliki penyakit asma, oleh karenanya semasa SD hingga SMP seringkali sakit asmanya kambuh, bahkan lebih sering ketika akan menghadapi ujian caturwulan/semester. Dengan kondisi yang demikian, dia tampak menjadi anak yang cara berpikirnya cepat dewasa. Oleh karenanya juga, dia berusaha keras untuk menjadi pintar dengan lebih keras dalam belajar. Padahal saat itu dia tinggal bersama kakak dan adik laki-lakinya yang keduanya tidak terlalu menyukai jadwal belajar yang terlalu padat.

Tidak hanya belajar saja yang disukainya, dia juga rajin mengerjakan tugas dan pekerjaan rumah, lalu juga penyuka organisasi. Bahkan, pencapaian tertingginya adalah ketika masa SMA bisa menjadi ketua OSIS dan meraih juara tertinggi seangkatannya. Meski demikian, dia tetap aktif berteman dengan begitu banyak orang dari berbagai kalangan, bahkan bisa memainkan drum dalam sebuah grup band acara tahunan kemerdekaan.

Lanjut kuliah di Malang, kota sejuk untuk mendinginkan kepala panas orang pinggir pantai. Lambat laun, semakin hari dirinya terus berkembang. Sempat menjadi pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) hingga amanah tertingginya adalah diamanahkan sebagai Ketua Koperasi Mahasiswa (KOPMA) di perguruan tinggi tempat ia menimba ilmu. Dari situ jugalah, ditemukan belahan jiwanya hingga saat ini dikaruniai 2 orang anak lucu-lucu yang insya Allah menjadi generasi sholih dan sholihah.

Awal-awal masa pernikahan bukanlah masa indah, tapi sebaliknya, menjadi masa sulit dan bisa dikatakan sebagai keluarga baru dengan segudang masalah. Dengan kegigihan dan doa tak lelah kepada Yang Maha Kuasa, kehidupan berangsur-angsur menemukan ritmenya. Pekerjaan sebagai pengajar di salah satu lembaga les ternama. Hingga akhirnya diamanahi sebagai Pimpinan Cabang di Kota Pasuruan, dimana tempat ia beserta keluarga tinggal.

Tidak menunggu menjadi orang yang berkecukupan, baru kemudian mengulurkan tangan dan memberi bantuan. Sadar akan jasa yang tak terbalaskan dari kedua orang tua, dirinya begitu sering pulang dan berkunjung ke rumah tempat ia dibesarkan dulu. Tak hanya itu, secara perlahan tapi pasti, ia membantu tiap bulan ekonomi di kampung yang makin hari semakin susah mencari penghasilan yang layak.

Dirinya percaya bahwa memberikan sesuatu untuk orang lain, terlebih anggota dalam lingkaran keluarga, adalah sebuah sedekah yang bisa menjadi tambahan amalan tidak terputus di akhirat kelak. Adiknya yang paling kecil, setelah lulus sekolah SMK kemudian mendapatkan pekerjaan sebagai karyawan kontrak di salah satu pabrik perusahaan Jepang yang berada di Jakarta. Belum genap setahun, sudah mau resign untuk melanjutkan kuliah di Bandung. Awalnya dia tidak setuju, bukan karena tidak mau membantu, tapi kala tahun 2008 itu memang perekonomian keluarganya masih belum stabil dan sangat khawatir tidak bisa membantu adik paling bungsunya tersebut.

Meski demikian, toh pada akhirnya ketika adiknya kesusahan dalam perantauan di Kota Kembang, dirinya selalu support yang tak berbilang jumlahnya. Padahal dia sudah rutin support orang tua di kampung. Kalau dipikir-pikir, semakin dibantu, kok semakin terasa banyak masalah yang muncul, tidak pernah habis, maka bantuan yang diberikannya pun kontinyu, gantian antara satu anggota keluarga dan anggota keluarga lainnya.

Tapi, itulah luar biasanya. Dia sama sekali tidak pernah menghitung-hitung angka yang dikucurkan dari tahun ia memberikan bantuan pertama kalinya, sampai sekarang. Kalaupun ada beberapa kontrak perjanjian, syaratnya lebih kepada agar anggota keluarganya lebih taat beribadah, memahami dan mengikuti sunah serta jauh dari tindakan maksiat atau apapun yang mengundang laknat dari Allah subhanahu wata’ala. Bersyukur, dia juga dikaruniai seorang isteri yang cerdas, tapi juga sangat pengertian. Dari begitu banyak bantuan yang diberikan, tidak pernah diungkit-ungkit atau iri mengapa hanya keluarga sang suami yang terus-terusan dibantu. Sungguh sebuah jalinan keluarga ideal yang semoga rahmat Allah senantiasa tercurahlimpahkan atas keluarga mereka.

Semua niatan terlindung di dalam hati, meski tak terlihat, namun itu menjadi titip acuan penting apakah amalan tersebut akan diganjar sebagai kebaikan atau tidak. Dan yang terpenting dari itu semua adalah bahwa semoga hatinya tidak terganjal rasa berat, namun sebuah keikhlasan dari dasar hati sehingga semuanya terus saja menjadi terasa ringan.

Inilah Berlapis Kebaikan dari seorang kakanda tercinta, Muhamad Yusuf. Adikmu nan jauh di mata ini, tak lepas mendoakan untuk berbagai macam kebaikanmu untuk keluarga kita. Tak ada kewajiban untuk membantu kami para saudaramu, dan itu hanya menjadi welas kasih dan keperdulianmu saja. Tapi, orang tua adalah menjadi tanggung jawab tiap anak, dimana masing-masing wajib memberikan bantuan semampunya. Ke depannya, saya pribadi akan berusaha keras untuk mandiri, tak lagi merepotkan Kak Yusuf, ini janji diri untuk menatap masa depan yang lebih baik, insya Allah.

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah.

Kamiimaizumi, Ebina Shi – Kanagawa Ken, JAPAN
Jum’at pagi, 06 Dzulqo’dah 1436 H/21 Agustus 2015 pukul 08.50 waktu Jepang

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Kamis, 29 Oktober 2015 pukul  19.20 waktu Jepang

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: