Kado Cinta untuk FORKOMKASI*

02.2

02.2

Kado Cinta untuk FORKOMKASI*

Cikal Bakal FORKOMKASI

Tahun 2009 merupakan masa awal saya mulai mencoba mengenali profesi ini, sebuah Profesi Pekerjaan Sosial. Tak banyak orang tahu mengenai profesi asing ini, apalagi background pendidikan saya adalah dari SMK jurusan Geologi Pertambangan, dan dilanjutkan bekerja 10 bulan di Perusahaan Otomotif asal Jepang yang berkantor di Jakarta.

Pendalaman terhadap profesi Pekerjaan Sosial beriringan dengan perkenalan saya dengan Bapak Puji Pujiono, Ph.D. melalui dunia maya. Kala itu –tahun 2009- Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI) tengah merestrukturisasi diri untuk bangkit dalam pembenahan organisasi di semua lini. Saya pun dimasukkan oleh Pak Puji Pujiono ke milis Jaringan Peksos (google groups) dan mulai mengenali satu per satu pemain utama dari pembangunan profesi pekerja sosial ini.

Dari berbagai perbincangan di milis inilah, saya mengetahui bahwa selain STKS Bandung, ternyata banyak pula kampus lain yang menyelenggarakan program studi Ilmu Kesejahteraan Sosial dan yang serumpun dengan jurusan tersebut. Data kasar (yang masih memerlukan verifikasi) dirilis oleh SWPRC (Social Work Practice Resource Center) sebagai cabang yayasan di Indonesia dari BPSW (Building Professional Social Work in Developing Countries) Amerika Serikat, menyebutkan bahwa terdapat 35 Perguruan Tinggi yang menjalankan prodi Kesejahteraan Sosial.

Nah, dari sinilah muncul pemikiran untuk ingin lebih mengenal kawan-kawan dari luar kampus STKS Bandung yang sama-sama belajar ilmu yang sama. Tapi bagaimana caranya? Masih bingung untuk memulai langkah, dan masih dalam tahap membangun jaringan yang lebih luas. Niat pun sudah terpatri di dalam hati, dan mulai mencari jalan terang untuk mewujudkan mimpi menjadi kenyataan.

Bersama-sama dengan tim mahasiswa newbie (angkatan 2007, 2008 dan 2009), kami pun bahkan didaulat oleh Presidium IPSPI untuk menjadi panitia penyelenggara Musyawarah Daerah (MUSDA) IPSPI Jawa Barat pada triwulan akhir 2009.

Tepatnya tanggal 19-20 Februari tahun 2010 dilaksanakan Kongres IPSPI III bertempat di Syahida Inn, milik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Saya kala itu menyempatkan hadir ditemani beberapa mahasiswa dari STKS Bandung. Di sana saya bertemu dan berinteraksi dengan beberapa panitia yang memang diambil dari mahasiswa Jurusan Kesejahteraan Sosial di UIN Syarif Hidayatullah dan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).

Dari sini saya kemukakan maksud untuk membangun Himpunan Mahasiswa Kesejahteraan Sosial se Indonesia. Dan tanggapannya kawan dari UIN Jakarta dan UMJ ini cukup baik. Bahkan salah satu kawan dari UMJ mengunggapkan bahwa mahasiswa angkatan 2006 sempat memulai langkah untuk membentuk HIMA KS gabungan, namun kandas di tengah jalan. Dan mendengar ide dari saya untuk membangun cita itu kembali, disambut baik dan penuh semangat.

Kiprah di dunia maya semakin gencar, dan saya pun mulai mencari banyak group dari kawan-kawan KS se Indonesia. Hasilnya, niatan ini disambut baik oleh pihak HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) KS Universitas Padjajaran (UNPAD). Sehingga pada hari Rabu, 12 Mei 2010, saya yang kala itu masih menjabat sebagai Menteri Partisipasi dan Hubungan Luar Kampus BEM STKS Bandung pun mengajak rombongan mahasiswa STKS Bandung untuk berkunjung ke mahasiswa KS UNPAD di Jatinangor guna membahas mengenai rencana pembentukan HIMA KS Indonesia.

Kalau tidak salah ingat, datang pula perwakilan dari mahasiswa KS UNLA (Universitas Langlangbuana) dan UNPAS (Universitas Pasundan) Bandung. Dari perbincangan yang berlangsung, maka kami bersepakat untuk membentuk HIMA KESSOS Jawa Barat sebagai cikal bakal dibentuknya HIMA KESSOS se Indonesia. Pelaksanaan Kongres HIMA KESSOS se-Jawa Barat bertempat di Aula Lantai III Kampus STKS Bandung pada hari Sabtu, 29 Mei 2010 dengan ketua terpilihnya adalah Desy Arisanty Katili (STKS Bandung ’08).

HIMA KESSOS se-Jawa Barat ini belum sempat untuk membentuk struktur kepengurusan akhir dan juga program kerja. Namun, syukur alhamdulillah, HMJ Kessos UNPAD mengadakan kegiatan Seminar Nasional yang dilaksanakan pada 24 Juni 2010 yang juga mengundang perguruan/universitas yang menjalankan program studi kesejahteraan sosial se Indonesia. Karena UNPAD memang sudah sejak awal mengetahui rencana pembentukan HIMA Kessos se Indonesia, maka ajang ini pun digunakan sebagai arena diskusi lebih lanjut untuk mewujudkan impian tersebut.

Dari pertemuan tersebut, didapatkanlah dua keputusan besar yaitu: dibentuknya Tim Regional Jakarta sebagai tuan rumah pelaksanaan kongres mahasiswa kessos se Indonesia dan Tim Perumus untuk membuat rumusan AD/ART bentuk organisasi yang menyatukan seluruh mahasiswa kessos di Indonesia ini. Tokoh-tokoh sentral dalam mengurus pekerjaan ini antara lain: Eko Kurnia Saputra dari KS UNPAD, Aziz Suhendar dari PSdK UGM, Elgharori dari UIN Sunan Kalijaga DIY, Sarta Apriadi dan Zia Sera dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Logo FORKOMKASI

Menyatukan 16 Hati Perguruan Tinggi

Memang tidak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Semangat membara yang merencanakan bahwa di triwulan terakhir tahun 2010 akan dilaksanakan Kongres I Mahasiswa Kesejahteraan Sosial Indonesia, terkendala oleh banyak hal. Namun, syukur alhamdulillah, pada penghujung bulan Maret 2011, yakni tanggal 28-30 Maret 2011 dilaksanakanlah Kongres I Mahasiswa Kesejahteraan Sosial Indonesia yang mengahasilkan nama organisasi FORKOMKASI (Forum Komunikasi Mahasiswa Kesejahteraan Sosial Indonesia).

Kongres ini dihadiri oleh 16 Perguruan Tinggi yang menjalankan prodi ilmu Kesejahteraan Sosial. Mereka diantaranya adalah:

Pulau Sumatera: IAIN Ar Raniry-Aceh; Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU); dan Universitas Negeri Bengkulu (UNIB) = 3 perguruan tinggi

Pulau Jawa: Universitas Indonesia (UI)-Depok; Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP)-Jakarta; Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Widuri-Jakarta; Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah-Jakarta; Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ); Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung; Universitas Pasundan (UNPAS)-Bandung; Universitas Padjajaran (UNPAD)-Bandung; Universitas Negeri Islam (UIN) Sunan Kalijaga-Jogjakarta; Universitas Gajah Mada (UGM); Universitas Negeri Jember (UNEJ) = 11 perguruan tinggi.

Pulau Sulawesi: Sekolah Tinggi Ilmu Kesejahteraan Sosial (STIKS) Makasar = 1 perguruan tinggi.

Pulau Irian Jaya (Papua): Universitas Cenderawasih (UNCEN) = 1 perguruan tinggi.

Saya masih ingat betul ketika orang-orang hebat itu berdialek dengan begitu serunya, mereka adalah tokoh-tokoh sentral FORKOMKASI setelah kongres ini berakhir. Mereka diantaranya: Achmad Hilman Musanna, Agung Prastowo, Aziz Suhendar, Eko Kurnia Saputra, dan lain-lain. Dan pada akhirnya, memang merekalah orang-orang yang tidak hanya “banyak bicara” dan “keukeuh” mempertahankan analisis dan pendapatnya, namun juga terbukti mau bekerja untuk FORKOMKASI. Hilman menjadi Ketua DF (Dewan Formatur) FORKOMKASI perdana, kemudian disusul Aziz sebagai Sekjen (Sekretaris Jenderal). Agung Prastowo sebagai pelaku sejarah Kongres Perdana  FORKOMKASI juga menjadi Ketua DF FORKOMKASI di kepengurusan periode kedua, tahun 2012-2013.

Sungguh, tak mudah kawan untuk menyatukan 16 pemikiran dari kampus yang berbeda dan tersebar di seluruh pelosok nusantara. Namun, itu bukanlah suatu hal yang mustahil, dan telah terbukti dengan terbentuknya Forum Komunikasi Mahasiswa Kesejahteraan Sosial Indonesia (FORKOMKASI) yang nama ini dengan “keukeuh” diajukan oleh Aziz Suhendar dari Universitas Gajah Mada (UGM).

Pondasi untuk Memperkuat Organisasi

Menjadi “orang penting” sebagai pelaku sejarah memang suatu yang membanggakan. Namun di luar sisi itu, terdapat satu tanggung jawab besar. Yakni mempertaruhkan diri sebagai “tumbal” atas mati dan hidupnya organisasi yang baru lahir ini. Generasi pertama yang membangun pondasi FORKOMKASI adalah Achmad Hilman Musanna dan Aziz Suhendar. Tanpa bermaksud mengecilkan peranan pihak-pihak lain, namun memang beliau berdualah yang bekerja dengan tenaga esktra untuk terus menghidupkan organisasi ini.

Permasalahan yang menjadi persoalan pokok adalah terkait komunikasi. Dengan adanya fasilitas teknologi internet, harusnya masalah komunikasi bisa dihindari, namun pada kenyataannya masih cukup sulit untuk membangun basis kesolidan organisasi ketika jarang bertemu dan bertatap muka secara langsung. Untuk memfokuskan alur komunikasi, maka dibentuklah perwakilan dewan formatur yang mewakili tiap pulau. DF Sumatera, DF Kalimantan, DF Sulawesi, DF Papua, dan DF Jawa. Masing-masing bertugas menjadi jembatan komunikasi untuk kemudian dibicarakan di tingkat nasional.

FORKOMKASI dan KPSIPada usia yang baru pada tahun ke-I ini FORKOMKASI telah dikenal oleh pihak-pihak penentu kebijakan Kesejahteraan Sosial. Bukti dari pernyataan ini adalah ikut sertanya FORKOMKASI sebagai salah satu anggota pilar-pilar pembangunan kesejahteraan sosial di Indonesia dengan wadah yang disebut sebagai Konsorsium Pekerjaan Sosial Indonesia (KPSI) dengan anggota antara lain: 1)Kementerian Sosial RI, 2)Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS), 3)Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI), 4)Ikatan Pendidikan Pekerjaan Sosial Indonesia (IPPSI), 5)Ikatan Penyuluh Sosial Indonesia (IPENSI), 6)Ikatan Relawan Seluruh Indonesia (IRI), 7)Forum Komunikasi Pekerja Sosial Masyarakat (FK-PSM), 8)Lembaga Sertifikasi Pekerja Sosial (LSPS), 9)Badan Akrediatasi Lembaga Kesejahteraan Sosial (BALKS) dan 10)Forum Komunikasi Mahasiswa Kesejahteraan Sosial Indonesia (FORKOMKASI)

Satu tahun bukanlah waktu yang panjang, dan kinerja dari kepengurusan perdana ini memang tidaklah luput dari kritik. Namun sayangnya, berbagai kritikan tersebut selalu saja datangnya dari luar kepengurusan, padahal jika mau lebih bijaksana dalam menilai, tak hanya mengkritik, namun juga turut serta membangun.

Sebagai organisasi yang baru terbentuk, tentu dinamika di dalamnya selalu ada, tak terkecuali juga dengan FORKOMKASI. Dengan semangat kebersamaan dan perasaan senasib sepenanggungan, puji syukur karena FORKOMKASI telah mencapai di usia 2 tahun berjalan. Masih cukup mungil, masih minta disuapi, namun dengan optimisme bersama, insyaAllah FORKOMKASI akan mampu memberikan kontribusi nyatanya untuk Indonesia.

FORKOMKASI di Tanah Sultan Hasanuddin

Kongres II FORKOMKASI dilaksanakan di Makassar, tepatnya di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Provinsi Sulawesi Selatan pada tanggal 31 Maret sampai dengan 02 April 2012 yang dihadiri oleh 17 universitas/perguruan tinggi dari seluruh Indonesia. Kampus-kampus tersebut antara lain: 1)Universitas Bengkulu (UNIB), 2)Universitas Indonesia (UI), 3)Universitas Gajah Mada (UGM), 4)Universitas Cenderawasih (UNCEN), 5)Universitas Padjajaran (UNPAD), 6)IAIN Ar Raniry Aceh, 7)Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Medan, 8)Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), 9)Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung,  10)Sekolah Tinggi Ilmu Kesejahteraan Sosial (STIKS) Tamanlarea Makassar, 11)Universitas Jember (UNEJ), 12)UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 13)UIN Sunan Kalijaga DIY, 14)UIN Alauddin Makassar, 15)Universitas Tanjungpura (UNTAN) Kalbar, 16)Universitas Langlangbuana (UNLA) Bandung, dan 17)Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Di sini, terpilihlah Agung Prastowo dari UIN Sunan Kalijaga sebagai Ketua DF FORKOMKASI yang kedua. Di kongres FORKOMKASI yang kedua ini, disepakati bersama untuk membentuk Pengurus Regional (PR) guna mengefektifkan struktur kepengurusan. Adapun 7 pengurus regional yang ada antara lain: 1)PR Papua, 2)PR Sulawesi, 3)PR Kalimantan, 4)PR Jawa Timur, 5)PR Yogyakarta, 6)PR DKI Jakarta, dan 7)PR Sumatera.

Selain Pengurus Regional (PR), pada kongres II FORKOMKASI ini juga dibentuk Staf Ahli sebagai pembantu langsung ketua DF FORKOMKASI dalam menjalankan keberlangsungan roda organisasi FORKOMKASI.

Pada kepengurusan yang kedua ini, telah terlaksana Rapat Koordinasi Nasional terkait Program Kerja FORKOMKASI pada masa kepengurusan 2012-2013, di Universitas Jember (UNEJ) Jawa Timur pada Mei 2012 dan juga Pekan Perdamaian (Sekolah Kesejahteraan Sosial Nasional) yang dilaksanakan di Yogyakarta pada Februari 2013.

Kado Cinta untuk FORKOMKASI

Karena satu kata inilah saya masih berada di sini. Saya memang tidak bisa melakukan banyak hal. Namun, menjadi salah satu pelaku sejarah dan masih terus mengikuti juga berkontribusi di FORKOMKASI menjadikan saya semakin mencintai profesi ini. Memang benar, saya tak lagi berstatus mahasiswa, sudah udzur, tapi tak serta merta rasa pada organisasi ini luntur begitu saja.

JpegKarenanya, saya hanya bisa menghadiahkan Kado Cinta untuk FORKOMKASI. Di hari miladnya yang kedua, 30 Maret 2011 sampai dengan 30 Maret 2013.

Terus melaju, bergerak, berbagi inspirasi dan kontribusi. Suatu saat, FORKOMKASI akan menjadi besar dan tampak peran-peran strategisnya di kancah kehidupan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

NB: Tulisan ini dibuat sebagai peringatan ulang tahun FORKOMKASI yang ke-2, pada 30 Maret 2013.

*Oleh: Joko Setiawan, Alumni Jurusan Pekerjaan Sosial (Social Work) Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung.

Staff Ahli Bidang Relasi Publik DF Forkomkasi periode 2012-2013

Kutipan: “Ilmu bagaikan hewan buruan, dan tulisan/pena adalah ibarat tali pengikatnya. Oleh karena itu ikatlah hewan buruanmu dengan tali yang kuat” [Imam Syafi’i]

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Kamis, 22 Oktober 2015 pukul 15.00 waktu Jepang

Cover Bunga Rampai FORKOMKASI, Mei 2014

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: