Pelayanan Sosial untuk Lanjut Usia di Jepang*

Sumber gambar: https://henridaros.files.wordpress.com/2012/09/grandparents_resize_resize.jpg

Pelayanan Sosial untuk Lanjut Usia di Jepang*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, 32nd Trainee of Asian Social Welfare Worker’s Training Program by Japan National Council of Social Welfare (JNCSW/Zenshakyou)

Demografi Negara Jepang berada pada posisi piramida terbalik, dimana jumlah penduduk terbanyak didominasi oleh para lansia, sedangkan jumlah anak-anak sangat sedikit. Hal tersebut cukup mengkhawatirkan, karena salah satu sumber pendanaan negara adalah berasal dari pajak konsumsi dan penghasilan, sedangkan jumlah orang dewasa yang produktif bekerja jumlahnya sedikit, sehingga menyebabkan budget yang diputar untuk menyediakan fasilitas umum, khususnya fasilitas pelayanan sosial menjadi semakin menipis. Angka harapan hidup untuk wanita mencapai angka 86 tahun, dan 78 tahun untuk laki-laki.

Tidak seperti di negara Indonesia dimana panti-panti pelayanan sosial untuk lansia berstatus negeri yang merupakan milik negara dan pengelolanya juga para pegawai negeri sipil. Jepang telah meninggalkan sistem tersebut, dan 20 tahun belakangan ini menyerahkan pelayanan langsung terhadap masyarakatnya ke pihak swasta, sedangkan negara bertindak sebagai regulator dan penyedia alokasi dana. Hal tersebut dipandang sangat efektif dan mampu meningkatkan kompetisi pelayanan terbaik yang disediakan bagi kepentingan klien (masyarakat).

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk menimba sedikit ilmu selama dua pekan di salah satu lembaga pelayanan sosial untuk Lansia, yang terletak di Kota Ebina Perfektur Kanagawa, Jepang. Dari proses pembelajaran tersebut, saya benar-benar mendapatkan pelajaran baru tentang bagaimana orang Jepang memberikan pelayanan terbaik untuk kalangan lanjut usia, karena lembaga semacam tersebut sama sekali tidak ada di Indonesia. Meski saya hanya akan menceritakan dari salah satu lembaga saja, namun bisa dikatakan lembaga ini mewakili mengenai gambaran lembaga yang sama di seluruh Jepang.

Gambaran Struktur Lembaga Pelayanan Sosial

Hampir seluruh pelayanan sosial di Jepang ini dikerjakan oleh NPO (Houjin). NPO ini di bawahnya akan memiliki banyak shisetsu (institusi/lembaga) dengan fokus pelayanan yang berbeda-beda. Misalkan Chusinkai Houjin dimana saya belajar selama 1 bulan kemarin, memiliki jidou yougo shisetsu (institusi perlindungan anak) dan koureisha shisetsu (pelayanan untuk lanjut usia). Di NPO-NPO yang lain biasanya memiliki lembaga pelayanan untuk difabel, homeless, penitipan anak dan lain-lain. Saat ini direct service yang masih dikelola oleh pemerintah barangkali hanya kurang dari 10% saja. Hal ini, tentu saja sangat berbeda dengan kondisi di Indonesia.

Jenis Pelayanan Secara Umum

Adapun pelayanan (service) sebuah lembaga pelayanan sosial untuk lansia diantaranya yaitu 1)Tinggal menetap di lembaga (ちょうきにゅうしょ); 2)Short stay (ショートステイ); 3)Day service (デイサービス); 4)Home-visit care (ほうもんかいご). Selain keempat layanan tersebut yang sifatnya tetap dan berkelanjutan, ada dua bagian lagi yang posisinya tidak kalah penting dalam upaya memberikan pelayanan terbaik untuk klien. Yaitu Care Manager (ケアマネージャー) dan Soudan in (Consultative person). Posisi yang terakhir itulah yang benar-benar hampir 100% mengerjakan pekerjaan dari seorang Pekerja Sosial. Alhasil pekerjaan tersebut juga digawangi oleh seorang Pekerja Sosial yang berlisensi (社会福祉士).

Tinggal Menetap dan Short Stay

Setiap lembaga pemberi pelayanan terhadap lansia pada umumnya minimal bisa menampung 50 orang, dan maksimal bisa mencapai 150 orang. Jumlah tersebut adalah gabungan dari yang tinggal menetap di dalam lembaga atau yang hanya dalam jangka pendek saja (short stay). Fasilitas ini penting, karena mengingat saat ini jumlah anggota keluarga inti masyarakat Jepang itu sangat kecil, sedangkan dari jumlah kecil tersebut, rata-rata suami-isteri bekerja dari pagi sampai petang. Alhasil, lansia yang sejatinya adalah orang tua kandungnya sendiri tersebut, tidak ada yang mengurus di rumah, karenanya fasilitas ini sangat penting dan amat diminati oleh kebanyakan masyarakat Jepang.

Jangan dibayangkan lembaga ini sama dengan Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) di Indonesia. Sangat jauh, baik dari segi fasilitas, keramahan karyawan dan juga suasana nyaman dan penuh rasa kekeluargaan. Hampir semua turis mengakui bahwa di semua sektor dimana konsumen mengeluarkan uang, pelayanannya prima dan sangat mengesankan keramahannya.

Di lembaga ini, yang datang juga merupakan orang yang “mampu” secara materi, namun karena kesibukan masing-masing anggota keluarga, maka sendirian di rumah adalah suatu ketidaknyamanan untuk para lanjut usia. Di lembaga ini, mereka bisa bertemu, bertegur sapa, ngobrol dan banyak aktivitas lain yang telah disusun oleh lembaga.

Untuk klien yang tinggal menetap, pengertiannya sudah jelas bahwa mereka sedari awal masuk ke lembaga, akan secara kontinyu mendapakatkan pelayanan sampai akhir hayat, atau pembatalan kontrak pelayanan atas kesepakatan bersama. Namun, menariknya adalah pengguna jasa short stay, istilahnya yang hanya menggunakan fasilitas pelayanan lembaga dalam jangka pendek, ternyata para klien tersebut adalah orang-orang yang berkali-kali, bahkan rutin setiap bulan menggunakan fasilitas short stay.

Pemerintah Jepang juga telah memiliki social security system yang mereka sebut dengan nenkin, yaitu semua lansia sejak usia 65 tahun akan mendapatkan nenkin (uang cash) setiap bulan sampai akhir hayat, yang besarannya ditentukan dari jumlah pembayaran yang mereka lakukan sedari muda (sejak usia 20 tahun). Sistem itu amat sangat penting, namun yang juga tak kalah penting adalah para pelaku sistem itu sendiri. Sistem semacam ini berjalan mulus di Jepang karena orang-orang Jepang menjunjung tinggi amanah, kejujuran dan pelayanan terbaik terhadap konsumen. Hal yang sampai saat ini masih sulit untuk diterapkan di Indonesia, yakni ketika sistem yang telah dibuat sangat bagus sedemikian rupa, tapi ternyata sikap rakus-tamak dengan jalan korupsi masih menjadi momok yang harus diperjuangkan bersama pelibasannya. Bukan berarti pesimis, namun ini menjadi cambuk bahwa ke depannya Indonesia akan menjadi lebih baik lagi, dimulai dari diri sendiri.

Day Service

Pelayanan Day Service menyuguhkan kegiatan yang selalu menarik dan senantiasa berbeda setiap harinya. Datangnya para volunteer untuk menyuguhkan seseuatu menjadi hiburan tersendiri untuk hari-hari senja para klien. Pengguna fasilitas ini pada umumnya adalah mereka yang Youkaigo (istilah untuk menyatakan level perawatan ringan, sedang, atau berat) level ringan.

Di sini mereka mendapatkan pelayanan antar-jemput dari dan sampai ke rumah. Kemudian berendam di ofuro (fasilitas yang lengkap menjadikan proses mudah dan aman untuk lansia), makan siang, dan banyak aktivitas hiburan lainnya. Di sini, para klien juga bisa mendapatkan banyak teman, meski secara fisik sudah susah untuk berjalan-jalan keliling rumah tetangga.

Home-Visit Care

Jumlah para lansia yang mengantri untuk masuk ke pelayanan lembaga itu jumlahnya amat sangat banyak. Namun di sisi lain, mereka yang lebih senang tinggal di rumahnya sendiri juga tidak sedikit, padahal biasanya para lansia tersebut hanya tinggal sendiri dan susah untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah sendirian.

Nah, pelayanan Home visit care ini membantu para lansia untuk mengerjakan tugas-tugas pekerjaan rumah yang tidak bisa ia kerjakan. Mulai dari tingkat paling ringan adalah dengan bantuan menyapu dan mengepel rumah, memasak, mencuci baju, hingga membantu mandi di ofuro. Semua pelayanan ditandatangani di awal kontrak, dan dibayar sesuai dengan tarif pelayanan.

Tidak perlu takut karena tidak punya uang, karena sudah ada sistem nenkin dan asuransi kesehatan yang amanah. Maka, klien sendirilah yang menentukan jenis pelayanan yang dikehendaki dengan memanfaatkan uang yang dimiliki.

Hal lain yang menarik adalah peraturan yang diundangkan, para lansia tersebut wajib turut serta mengerjakan sesuatu yang bisa dikerjakannya sendiri ketika para helper (yang memberikan bantuan pelayanan home care) datang. Hal tersebut dimaksudkan agar para lansia juga terus menggunakan tenaga yang dimiliki, supaya tidak cepat pikun.

Pekerjaan Care Manager

Care Manager pekerjaannya lebih luas. Seseorang yang menjadi klien sebuah lembaga, secara komprehensif akan mendapatkan pelayanan manajemen dari care manager. Di sini care manager membantu klien untuk menentukan pilihan-pilihan fasilitas pelayanan yang dikehendaki, apakah itu day service, short stay, home care dan lain-lain. Beban pekerjaan seorang Care Manager cukup sibuk dengan tanggung jawab setiap satu orang Care Manager harus bisa memanajemen 30-40 orang klien setiap bulannya. Pekerjaan semacam ini juga paling layak disematkan kepada seorang pekerja sosial profesional.

Pekerjaan Soudan in

Soudan in bertugas sebagai pelaku manajemen untuk pelayanan short stay, tinggal menetap, dan juga day service. Segala hal terkait manajemen pembaruan data, pelayanan dan perubahan pelayanan diakomodir oleh Soudan in. Secara ringkas tugas dari Soudan in adalah 1)Manajemen klien baru; 2)Manajemen klien yang keluar; 3)Manajemen pembiayaan layanan; 4)Konsultasi; 5)Pembuatan rencana pelayanan. Tugas Soudan in juga merupakan murni tugas seorang Pekerja Sosial.

Community General Support Center/Chiki Houkatsu Shien Senta (地域包括支援センター)

Di dalam area Kota Ebina, terdapat beberapa bagian lagi. Dalam satu bagian area yang lebih kecil tersebut, akan ditunjuk oleh pemerintah agar salah satu lembaga membuat Community General Support Center. Community center tersebut bertugas untuk terus berkoordinasi dengan masyarakat guna mendapatkan update data-data para lansia yang kebingungan atau membutuhkan bantuan. Oleh karenanya, setiap bulan diadakan pertemuan dengan masyarakat lokal mengenai laporan-laporan mengenai lanjut usia yang membutuhkan bantuan. Dalam pertemuan tersebut dibahas secara lebih detil dan kemungkinan solusi terbaiknya. Bukan berarti, setiap lansia yang butuh bantuan, hanya akan dibantu oleh lembaga, tapi juga memanfaatkan banyak sistem sumber yang lainnya. Ini adalah peran nyata kebermanfaatan lembaga terhadap masyarakat sekitar.

Partisipasi Aktivitas bersama Masyarakat

Para klien juga secara aktif diikutsertakan pada agenda-agenda kemasyarakatan. Orang Jepang adalah orang yang gemar mengadakan matsuri (perayaan), karena suasana matsuri adalah suasana kebahagiaan untuk melepaskan diri dari kepenatan dunia kerja yang menjemukan. Jenis matsuri nya pun bermacam-macam, mulai dari peruntukannya untuk anak-anak, agama, dan juga lanjut usia. Di sini terlihat sangat jelas mengenai hubungan harmonis antara lembaga dan juga masyarakat sekitar.

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah.

Kokuryo chou, Choufu shi – Tokyo, JAPAN
Sabtu pagi, 06 Dzulhijjah 1436 H/19 September 2015 pukul 08.18 waktu Jepang

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Sabtu, 19 September 2015 pukul 09.00 waktu Jepang

Comments
One Response to “Pelayanan Sosial untuk Lanjut Usia di Jepang*”
Trackbacks
Check out what others are saying...


Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: