Cerita Pendakian ke Gunung Fuji (富士山) JEPANG*

Mt. Fuji - Japan (富士山) 3.776 Mdpl
Mt. Fuji - Japan (富士山) 3.776 Mdpl

               Mt. Fuji – Japan (富士山) 3.776 Mdpl

Cerita Pendakian ke Gunung Fuji (富士山) JEPANG*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, 32nd Trainee of Asian Social Welfare Worker’s Training Program by Japan National Council of Social Welfare (JNCSW/Zenshakyou)

Inilah pertama kalinya saya melakukan misi pendakian gunung. Bukan sembarang gunung, bukan pula di negeri tanah kelahiran, melainkan ke titik puncak tertinggi Gunung Fuji (富士山/Fuji san) Jepang. Beruntung punya tantou no sensei (guru pembimbing, supervisor) yang juga penyuka aktivitas naik gunung. Bahkan, tiga orang jajaran level pimpinan di Minami Jidou Home adalah sama-sama orang yang hobinya naik gunung semua. Maka ketika awal kedatangan saya sampaikan ingin naik ke Gunung Fuji, eh langsung dibikinkan jadwal pendakian. Yokatta desu ne.

Bersyukur pula, tantou saya namanya Nakajima sensei bukanlah orang yang repot, easy going. Jadi, meskipun akan naik ke puncak tertinggi di seantero Jepang itu, persiapannya tidak ribet. Saya tidak harus beli sepatu gunung, barang bawaan juga tidak perlu banyak-banyak karena pemula. Dan semua yang berat-berat digendong di dalam tas punggung pendakian oleh beliau he he.

Dikarenakan jarak tempuh yang lumayan jauh, saya dan Nakajima sensei berangkat dari Minami ku-Sagamihara shi (Kanagawa ken) pada pukul 03.00 JST di hari Sabtu, 15 Agustus 2015 yang lalu. Kami sepakat untuk mengawali pendakian dari 5 Goume, semacam pos pendakian awal, di Shibashiri guchi pada ketinggian 2000 Mdpl. Mobil pribadi tidak bisa langsung menuju tempat tersebut, tapi harus diparkir di Tamokuteki Hiroba, dari sini kemudian angkutan yang diperbolehkan adalah bus atau taksi. Kami pun naik bus dengan ongkos per orangnya sekitar 1600-an yen. Kurang lebih 30 menitan untuk bisa sampai di 5 Goume.

Dari 5 Goume (2000 meter di atas permukaan laut) Shibashiri guchi kami naik mulai pukul 05.45 JST. Jadwal yang akan kami tempuh dari sini adalah 7 kilometer jalan menanjak semakin tinggi dan curam, dengan menaikkan level ketinggian sebesar 1776 meter, karena puncak tertinggi Gunung Fuji adalah 3.776 Mdpl. Karena pemula, jarak tersebut dapat saya tempuh dalam waktu kurang lebih selama 7 jam. Itupun, baru sampai di puncak tertingginya Shibashiri guchi yang tingginya 3710 Mdpl. Di sini banyak orang mengambil foto-foto dan lokasinya cukup luas. Dan untuk sampai di benar-benar puncak tertingginya Gunung Fuji, masih harus ditempuh kurang lebih selama 30 menit.

Dari ketinggian 2000 Mdpl ini, akan ada beberapa pos-pos peristirahatan. Yakni di 6 Goume, 7 Goume, 8 Goume dan 9 Goume. Diantaranya tersebut, ada juga istilahnya “shin/baru goume” yakni pos peristirahatan yang jaraknya lebih dekat. Di tiap pos-pos tersebut tersedia penyedia jasa makanan, minuman dan juga toilet. Bahkan di beberapa pos terdapat penginapan juga. Karena letaknya di atas gunung, maka harganya pun berbeda dengan harga pada umumnya di Jepang.

Sepanjang perjalanan menuju puncak Gunung Fuji banyak hal-hal yang menarik dan mengesankan yang dapat saya temui. Mungkin berbeda dengan kebanyakan temen-temen Indonesia kalau menjadwalkan diri naik Fuji san dengan memilih waktu pada malam hari, sehingga dapat mengejar Hi no de (sunrise) di pagi harinya. Saya dan Nakajima sensei memilih waktu pagi-siang sehingga dapat menikmati sepanjang jalan menuju puncak Gunung Fuji.

Sebagai gunung tertinggi di Jepang, mungkin kita akan berpikir yang mampu mendaki adalah orang-orang muda, penuh energi dan stamina yang tinggi. Tapi, kenyataan hari Sabtu kemarin itu mengatakan hal lain. Ada seorang bapak yang membawa tiga putrinya, usia 8 tahun, 10 tahun dan 14 tahun untuk sama-sama menuju puncak Gunung Fuji. Itu anak-anak perempuan lo, dan tentunya untuk anak-anak laki-laki juga tidak sedikit yang saya temui. Selain itu, saya juga melihat kakek-kakek usia 60-an tahun lah, meski mendakinya lambat, tapi semangatnya luar biasa. Lalu, saya juga temui bulldozer yang naik sampai ke pos-pos pendakian, dengan membawa bahan-bahan jualan. Para pendaki harus mengalah dengan menyingkir ke agak tepian jalan agar selamat dari serudugan bulldozer tersebut he he. Menarik juga adalah dengan adanya post office di puncak Gunung Fuji. Ini kesukaan orang-orang asing untuk berkirim kartu pos ke keluarga/kolega di negara asalnya.

Sampai di Puncak Gunung Fuji adalah suatu kebahagiaan yang amat luar biasa. Mensyukuri nikmat itu, saya pun melaksanakan sholat Dhuhur dan Ashar di atas puncak Gunung Fuji. Betapa beraninya manusia itu, ketika amanah kepemimpinan itu diamanahkan kepada gunung-gunung, mereka tidak sanggup, kita yang kecil mungil ini ternyata mau mengambil resiko yang amat besar. “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. . . .” (Q.S Al Ahzab: 72). Semoga kita termasuk menjadi orang-orang yang selamat dan berkumpul dengan orang-orang yang shalih.

Di Puncak Gunung Fuji, saya ambil beberapa foto dengan tulisan bernada “semangat” dan bangga telah menjadi bagian dari kehidupan, menjadi bagian dari cerita-cerita masa sekolah, kuliah, organisasi dan dakwah. Serta terlantunkan pula doa kemenangan untuk saudara muslim di Palestina agar bisa merdeka dari Penjajahan Zionis Yahudi dan antek-anteknya. Memanjatkan doa pula untuk isteri tercinta agar tiga tahun mendatang, di tahun 2018 dapat datang ke Jepang lagi guna menuntut ilmu, dan ditemani oleh anak-isteri.

Puas menikmati pemandangan dari atas awan, puncak tertinggi di Negeri Bunga Sakura ini, serta mentafakuri nikmat dari Allah subhanahu wata’ala yang amat begitu luar biasa tercurahlimpahkan. Perjalanan turun pun dimulai. Berbeda dengan waktu mendaki yang membutuhkan 7-8 jam perjalanan, waktu tempuh untuk turun hanya 2-3 jam saja. Kuncinya adalah karena saya dan Nakajima sensei berlari. Ya, memang benar-benar berlari turun ke bawah. Kebetulan jalur untuk turun itu lumayan “khusus” dan tanahnya berpasir halus berkerikil, sehingga saya bisa gunakan semacam berselancar di atas pasir. Oleh karenanya, persiapkan juga penghalang pasir kerikil agar tidak bisa masuk ke dalam sepatu, perlengkapannya bisa dibeli di toko alat-alat pendakian ya. Bagi yang tidak yakin, saya sarankan untuk tidak melakukannya, karena faktanya kaki akan cepat capek dan itu berbahaya jika keserimpet, bisa jatuh terguling dan kemungkinan buruk bisa saja terjadi. Sedangkan saya, senantiasa bisa mengukur diri ketika capek, istirahat, dan mampu mengontrol keseimbangan diri saat berselancar di atas pasir tersebut.

Sampai di lokasi awal pendakian, 5 Goume, saya pun membeli beberapa souvenir yang harganya memang cukup mahal. Hanya belanja sedikit saja, waktu itu saya habis lebih dari 4000 yen atau kalau dirupiahkan lebih dari 400 ribuan. Tapi, cukuplah itu menjadi buah tangan untuk beberapa orang di negeri asal, Indonesia tercinta he he.

Benar-benar perjalanan pendakian yang mengesankan, meski menyisakan rasa capai yang juga tidak kalah hebat. Saya khawatir, karena merupakan pendakian perdana, keesokan harinya akan sulit berjalan karena kaki yang sakit linu. Namun ternyata, alhamdulillah, kaki baik-baik saja dan pada hari Ahad sore masih bisa ikut kegiatan cabut rumput bersama shokuin dan warga sekitar serta sedikit jogging sore bersama-sama.

Demikian cerita Pendakian ke Gunung Fuji (富士山) Jepang. Semoga bisa menjadi sedikit referensi/wawasan bagi yang berencana naik ke sana, mumpung waktunya masih tersedia. Setiap tahunnya, pendakian ke Gunung Fuji hanya dibuka pada bulan Juli-Agustus (musim panas), dan dalam dua bulan ini saja, ada sekitar 200 ribuan pendaki. Jadi, cukup ramai, padat, namun tetap asyik lo.

IMG_20150815_061424Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah.

Kamiimaizumi, Ebina Shi – Kanagawa Ken, JAPAN
Kamis malam, 06 Dzulqo’dah 1436 H/20 Agustus 2015 pukul 22.10 waktu Jepang

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Jum’at, 21 Agustus 2015 pukul  09.00 waktu Jepang

=====

 01 == 02

03 == 04

05 == 06

07 == 08

09 == 10

11 == 12

13 == 14

15 == 16

17 == 18

19 == 20

21 == 22

23 == 24

25 == 26

Comments
9 Responses to “Cerita Pendakian ke Gunung Fuji (富士山) JEPANG*”
  1. lana says:

    wah mantep mas bisa bawa keluarga ke puncak fuji

  2. Assalamu’laikum mas joko.. apa kabar? saya baru nongol lagi nih, masih inget engga wordpress saya siapa yang buat?? hehhe

  3. John says:

    termakasih infonya, visit blog dofollow saya juga ya gan🙂 , Abeje

  4. Sandurezu サンデゥレズ says:

    Masya Allah… keren banget mas! Itu apa memang track nya udah disediain ya mas ya?

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: