LDR Antara Kota Kembang dan Negeri Sakura*

Bersama Isteri di Masjid Raya Jawa Barat (Bandung) pada Januari 2015
Bersama Isteri di Masjid Raya Jawa Barat (Bandung) pada Januari 2015

Bersama Isteri di Masjid Raya Jawa Barat (Bandung) pada Januari 2015

LDR Antara Kota Kembang dan Negeri Sakura*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, 32nd Trainee of Asian Social Welfare Worker’s Training Program by Japan National Council of Social Welfare (JNCSW/Zenshakyou)

Hari-hari semenjak pernikahan lewat setahun silam memiliki ragam cerita yang berbeda. Mulai dari setelah bersama sepekan sejak akad nikah, saya harus meninggalkan isteri ke tengah hutan selama 30 hari lamanya. Bahkan, setelah isteri saya boyong ke Kalimantan Timur pun, kebersamaan 10 hari itu harus dibayar dengan keterpisahan selama 30 hari kerja. Namun, ketika kita mau bersyukur, selalu ada hikmah di balik itu semua.

Kondisi yang sedemikian rupa dapat menjadikan isteri saya begitu kuat untuk berpisah sekian waktu dengan suaminya yang tukang petualang antar kota ini. Bukan petualang sekedar jalan-jalan semata, namun disebabkan karena mencari nafkah untuk keluarga. Kalau dibongkar isi dalam hati, tentu hampir semua keluarga mendambakan hubungan yang setiap hari bisa bertemu, bersama, berbagi cerita, bercengkarama dan ragam aktivitas lainnya. Tapi, dalam kondisi tertentu, bisa jadi kita akan dihadapkan pada satu pilihan pahit, namun sadar bahwa akan berbuah manis di masa mendatang.

Jadilah sekarang, semenjak tanggal 25 Maret 2015 sore hari itu, saya meninggalkan Kota Kembang menuju Bandara Soekarno-Hatta kemudian terbang menuju Negeri Sakura, di Bandara Haneda, Tokyo-Jepang. Semenjak kedatangan sampai hari ini, hari-hari saya dipenuhi dengan kepadatan aktivitas sehingga dari waktu ke waktu terasa begitu cepat berlalu. Namun mungkin saja berbeda dengan perasaan isteri di Kota Kembang sana, kondisi kandungan yang kian hari kian bertambah berat, secara psikologis akan membutuhkan dampingan, tetapi suaminya ada di sini, di Kanagawa Ken, Jepang.

Ya, kala itu, ketika kandungan isteri telah berusia sekitar tiga bulan, kala itu pula kami harus berpisah dan resmi berstatus LDR antar negara. Tentu saja rasanya berat, dan tentu saja tidak mudah untuk melewati berbagai perasaan yang seringkali muncul mengganggu pikiran. Meski demikian, sebagai seorang muslim kita diajarkan untuk menjadi pengambil hikmah, karena baik perkara baik ataupun buruk, tak lepas dari takdir dari Allah yang senantiasa dapat kita ambil pelajaran berharga sebagai panduan melangkah di masa depan.

Bersyukur di Jepang ini saya masih bisa dipertemukan dan bergaul dengan banyak mahasiswa asal Indonesia yang tengah mengambil kuliah S2, S3 bahkan yang Post Doctoral. Saya mengagumi mereka semua, sebagaimana saya mengimpikan suatu saat akan mendapatkan beasiswa dan belajar secara formal di Negeri Bunga Sakura ini. Di balik wajah ceria itu, ternyata ada pengorbanan besar di baliknya. Mereka juga kebanyakan telah berstatus suami, dan demi mengejar cita-citanya tersebut, tak sedikit yang harus bersabar untuk meninggalkan anak dan isteri dalam beberapa waktu, baru kemudian bisa menyusul ke Jepang. Ada yang meninggalkan isterinya enam bulan, satu tahun, bahkan saya sempat bertemu dengan mahasiswa doktoral yang meninggalkan isteri dan anaknya selama 1,5 tahun. Sebab alasan isterinya seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) menjadikan pertimbangan untuk belum bisa menyusul beliau.

LDR mungkin akan memberikan kesan yang berbeda dari setiap orang, namun bagi saya dan isteri, ini adalah cara Allah mendidik kami untuk bisa bersabar dan terus meningkatkan kesabaran. Kemandirian itu dibentuk karena keadaan sulit, dengan harapan ketika waktu gembira itu datang, tidak berlebih-lebihan, dan ketika ujian menyapa, tidak terlalu risau dan menyalahkan keadaan. Semua telah sesuai takarannya, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya . . .” (Q.S Al Baqarah: 286).

Jadi, adakah alasan untuk terus berkeluh kesah dengan status LDR jika memang keadaannya demikian? Mari berpikir positif, selalu ada hikmah dan kebaikan di balik keadaan yang bisa jadi sangat tidak mengenakkan.

11292689_882494425122308_1342243211_nSalam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah.

Minami ku, Sagamihara shi – Kanagawa ken, JAPAN
Selasa, 19 Syawal 1436 H/04 Agustus 2015 pukul 07.40 waktu Jepang

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Selasa, 04 Agustus 2015 pukul 09.00 waktu Jepang

Comments
5 Responses to “LDR Antara Kota Kembang dan Negeri Sakura*”
  1. Masya Allah keren mas🙂

    semoga di berikan kemudahan oleh Allah🙂

  2. rafarshara says:

    Reblogged this on Between Zenith and Nadir and commented:
    Yang LDR yang LDR. Jangan galau jangan sedih :’)

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: