Tokyo Underground*

Pembelanjaan dan Restauran ada di Bawah Tanah. Sumber Gambar dari sini.

Tokyo Underground*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, 32nd Trainee of Asian Social Welfare Worker’s Training Program by Japan National Council of Social Welfare (JNCSW/Zenshakyou)

Dalam pandangan kebanyakan orang bahwa Tokyo adalah kota yang padat dan penuh sesak dengan ribuan manusia. Tak ubahnya seperti Jakarta yang setiap hari akan menyuguhkan pemandangan jalan yang macet karena dipenuhi oleh lautan manusia yang tengah berangkat dan pulang kerja. Akan tetapi ketika saya pertama kali sampai di Tokyo malah memiliki kesan yang berbeda. Kok Tokyo sepi ya?

Pembelanjaan dan Restauran ada di Bawah Tanah. Sumber Gambar dari sini.

Pembelanjaan dan Restauran ada di Bawah Tanah. Sumber Gambar dari sini.

Perjalanan dari Bandara Haneda menuju Chofu (Tokyo) membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam dengan menggunakan bus. Tiketnya lumayan mahal yakni 1440 yen, jika di-rupiah-kan sekitar 150 ribuan. Sepanjang perjalanan saya amati kanan dan kiri, kesan yang tertangkap masih tetaplah sama, yakni Tokyo adalah sebuah kota tenang dan nyaman untuk ditinggali.

Barulah beberapa hari ke depannya, saya mengunjungi lebih banyak tempat di dalam kota Tokyo. Stasiun Shinjuku adalah salah satu stasiun terpadat di Kota Tokyo. Di sinilah dapat kita temukan ribuan orang sibuk dengan perjalanannya masing-masing dengan berbagai tujuan yang berbeda.

Di Tokyo (dan Jepang secara umum) transportasi umum yang paling digemari adalah Densha(kereta listrik) dan juga Chikatetsu (kereta listrik bawah tanah). Jika densha lebih banyak relnya di atas permukaan, sebaliknya dengan chikatetsu karena sebagian besar relnya berada di bawah tanah, menyelami kota dan membelah gunung. Namun jika ditelisik lebih jauh, mayoritas stasiun kereta di Jepang sebagian besar berlokasi di bawah tanah. Mungkin karena harga tanah di atas permukaan sangat mahal, maka dibangunlah banyak stasiun di bawah tanah.

Tokyo underground, begitu saya membuat judul tulisan ini. Memang benar, penduduk Tokyo yang jumlahnya tidak sedikit ini lebih banyak berada di stasiun-stasiun, di dalam kereta dan juga gedung-gedung pencakar langit tempat melakukan rutinitas pekerjaan sehari-hari. Pemerintah telah membangun peradaban baru di bawah tanah kota Tokyo. Hal yang sangat kontras dan begitu sulit ditemui di Indonesia, di kota-kota besar sekalipun.

Salah satu tanda negara maju salah satunya adalah dengan memperbaiki akses pelayanan dan transportasi publik, sehingga dapat menekan kepemilikan kendaraan pribadi dan menggalakkan budaya bersepeda dan jalan sehat. Di Tokyo ini sangat jarang kita temui polusi udara akibat mobil-mobil maupun motor roda dua. Karenanya, kebijakan utama yang harus dikejar oleh pemimpin daerah di Indonesia saat ini adalah dengan terus membangun transportasi publik yang bersih, modern dan terjangkau serta didukung oleh sumber daya manusia yang ramah.

Menyelami lebih dalam Tokyo di bawah tanah. Khususnya di area stasiun Shinjuku, kita akan dikejutkan dengan area bawah tanah yang dilengkapi dengan lift, artinya telah dibangun stasiun dengan 3-6 lantai di bawah tanah. Di bawah tanah juga kita bisa berjalan dari stasiun satu ke stasiun terdekat lainnya dari stasiun Shinjuku ini. Jaraknya sekitar 1 kilometer. Maka bisa dibayangkan, di bawah tanah, dibangun sedemikian rupa.

Tidak hanya bentuknya yang memanjang, tapi juga luas. Kita tidak akan berdesak-desakan berjalan di bawah tanah tersebut. Suasananya pun bersih, nyaman dan tidak pengap. Di sebelah kanan dan kiri akan banyak kita temui toko-toko dengan barang jualan yang beragam. Mulai dari aksesoris, makanan ringan, toko pakaian hingga restoran. Semua tersaji untuk memberikan pelayanan maksimal bagi warga Tokyo yang penuh dengan kesibukan tersebut. Lagi-lagi, fasilitas umum menjadi perhatian utama dari sebuah negara maju.

Sedangkan di Indonesia, fasilitas kereta nyaman dan pelayanan publik yang maksimal masihlah menjadi bahan jualan ketika musim kampanye tiba. Ya, mungkin berat ya, ketika masalah banjir saja masih belum bisa dirampungkan, bagaimana bisa membangun kerajaan di bawah tanah layaknya Negara Jepang?

Inilah PR kita bersama selaku generasi muda. Ketika bermimpi saja takut, sampai kapan Negeri Kita Miskin tiada habisnya?!!

Salam cinta dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kokuryo, Chofu Shi – Tokyo, JAPAN
Rabu malam, 17 Sya’ban 1436 H/03 Juni 2015 pukul 20.03 waktu Jepang

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Jum’at, 05 Juni 2015 pukul 09.00 waktu Jepang

Ternyata kepadatan penduduk Tokyo ada di bawah tanah, stasiun kereta. Sumber gambar dari sini.

Ternyata kepadatan penduduk Tokyo ada di bawah tanah, stasiun kereta. Sumber gambar dari sini.

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: