Bersyukurlah… Maka Akan Engkau Dapatkan Surga!*

Ceramah Dr. H. Agus Setiawan, Lc. MA di Hall Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT), Meguro-Tokyo, JEPANG
Ahad siang, 03 Mei 2015

Bersyukurlah… Maka Akan Engkau Dapatkan Surga!*

*Rangkuman dari Ceramah Ustad Dr. H. Agus Setiawan, Lc. MA dalam acara Kajian Islam Golden Week 2015 pada hari Ahad siang, 03 Mei 2015 @Hall Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT) Meguro-Tokyo, JEPANG.

Pembahasan diawali dengan cerita salah seorang Sahabat yang bertanya kepada Rasulullah tentang hari kiamat? Rasulullah menjawab dengan pertanyaan, “apa yang sudah kamu persiapkan untuk menghadapi hari kiamat?”. Sahabat tersebut menjawab, “Yaitu cinta kepada Allah dan Rasulullah”. Maka Rasulullah menjawabnya lagi, “Niscaya engkau akan dikumpulkan di dalam surga bersama dengan orang-orang yang engkau cintai”. #lombanotulensiGW2015

Ceramah Dr. H. Agus Setiawan, Lc. MA di Hall Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT), Meguro-Tokyo, JEPANG Ahad siang, 03 Mei 2015

Ceramah Dr. H. Agus Setiawan, Lc. MA di Hall Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT), Meguro-Tokyo, JEPANG
Ahad siang, 03 Mei 2015

Syukur itu sendiri diartikan sebagai berterima kasih kepada Allah, merasa lega, senang dan menyebut nikmat yang diberikan kepadanya dengan rasa senang, hingga terwujud dalam bentuk lisan, diyakini dalam hati dan berujung kepada perbuatan. Perkataan syukur dengan berbagai bentuknya di dalam Al Qur’an sangat banyak sekali disebutkan, yakni sebanyak 64 kali.

SELALU BERSYUKUR

Bersyukur dengan HATI. Menyadari bahwa nikmat semata-mata merupakan anugerah dan kemurahan dari Allah. Bahkan, dengan adanya petaka yang menimpa dirinya sekalipun, ia tetap memuji Allah karena tahu bahwa bisa jadi sebenarnya akan ada lagi petaka yang lebih besar. Itulah karenanya dirinya senantiasa tetap bersyukur kepada Allah.

Bersyukur dengan UCAPAN. Banyak mengucap syukur dan mengakui bahwa segala sumber nikmat ini datangnya dari Allah dan senantiasanya memuji-Nya.

Bersyukur dengan PERBUATAN. Yaitu dilakukan oleh anggota tubuh. Imam Al Ghazali menyebutkan paling tidak terdapat tujuh anggota tubuh yang harus senantiasa bersyukur kepada Allah. Yaitu mata, telinga, lidah, tangan, perut, kemaluan dan juga kaki.

Dan seminimal-minimalnya bentuk syukur adalah dengan tidak mempergunakan anggota tubuh untuk melakukan maksiat. Kondisi sehat selalu bersyukur dalam bentuk amal perbuatan. Bahkan keluarga Nabi pun diperintahkan untuk bersyukur dalam bentuk amal. Sebagaimana penggalan ayat Al Qur’an, “. . . Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih” (Q.S Saba’: 13).

KISAH SYUKUR

Sebagaimana kisah dalam Nuzhatul Fudhola: 394, sahabat Zaid bin Harits (tabi’in), ketika hujan turun dengan derasnya, bentuk syukur yang dia lakukan adalah dengan mencari orang-orang yang butuh bantuan untuk bisa diantar pergi ke pasar.

Tidak boleh menganggap remeh kebaikan. Karena boleh jadi kita sedang tidur, tapi ada yang senantiasa mendoakan karena ia telah menerima kebaikan-kebaikan yang mungkin sudah kita lakukan dan tidak lagi mengingatnya.

Ada seseorang yang merupakan wanita miskin. Namun, ketika ada tetangga yang tertimpa musibah/sakit, beliau selalu terdepan dan bahkan membayar ongkos sampai ke tempat berobat dan sebagainya. Ada yang bertanya kepada dengan kondisinya yang serba kekurangan, tapi selalu saja masih bisa berbuat baik. Dengan mantap beliau katakan, “Surga kan bukan buat orang kaya saja?!”.

Mbah Asrofil, seorang kakek berusia 80 tahun yang tinggal di Semarang. Gajinya hanya 800 ribu saja, tapi setiap pekan bisa menyediakan 100 bungkus nasi untuk orang-orang. Kalo dipikir dengan gaji sekian, tentu uangnya akan habis hanya untuk menyediakan nasi bungkus tersebut setiap pekan. Ketika ada yang bertanya, dijawab oleh mbah Asrofil, “kalo bicara uang memang habis, tapi rizki dari Allah kan tidak pernah habis?!”.

Sumber gambar: Dokumentasi pribadi

Sumber gambar: Dokumentasi pribadi

Lelaki tua dan impiannya. Ada sebuah acara reality show di Tangerang, waktu itu mewawancarai seorang lelaki tua yang tengah duduk santai dan makan. Ditanya lauk apa, pake sayur asem, tidak pakai daging. Menu yang sangat sederhana sekali. Kemudian ditanya lagi, jika memiliki uang yang cukup, sang kakek ingin berbuat apa? Dijawab oleh sang kakek, “ingin dibuat nyemen (mengeraskan) jalan, karena setiap ada anak-anak yang datang ngaji dan lewat situ selalu becek pada musim penghujan, jadi ingin memperbaiki sehingga nyaman”. Kakek ini luar biasa, dia adalah orang yang tidak punya, tapi bentuk syukur beliau adalah dengan tetap memperhatikan kebutuhan orang lain, tidak egois dengan dirinya sendiri.

Kisah terakhir adalah tentang seorang pengusaha yang mendatangi panti yatim. Dia katakan, “Pak ustad, kalau saya menang tender, saya akan menyumbang banyak untuk anak yatim”. Dijawab oleh pak ustad dengan logat Betawinya, “loh, saya kira Al Fatihahnya beda?”. Sang pengusaha menjadi bingung, dan kemudian membacakan surat Al Fatihah. Sampai di ayat “Iyyaa kana’budu waiyyaa kanasta’iin”, pak ustad meminta untuk stop, lalu berkata, “Saya kira Al Fatihahnya beda, tapi ternyata sama ya”. Sang penguasaha masih tidak mengerti. Dijelaskanlah oleh pak ustad, “itu ayat kan artinya hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Artinya ibadah dulu baru minta, jangan kebalik”. Sampai rumah sang pengusaha mikir terus, dan akhirnya bilang, “bener juga ya kata pak ustad. Ya sudah saya transfer sekarang deh untuk anak yatim”.

MANFAAT SYUKUR

Sifat dari syukur adalah dengan nikmat yang sudah ada akan terus ditambah, dan sebagai penjemput nikmat itu sendiri.

Memiliki manfaat jasmani, rohani dan dalam kehidupan bermasyarakat yang akan tumbuh harmonis dan saling meringankan beban.

Terakhir dalam sesi tanya jawab terdapat kutipan menarik dari Ustad Agus pada saat diajak ustad beliau memandang hamparan sawah di pesantren Garut.

Menanam padi, di sekitarnya akan tumbuh beberapa rerumputan

Tapi kalau menanam rumput, darimana padi dapat tumbuh?

#lombanotulensiGW2015

Jpeg**Ditulis oleh Joko Setiawan, 32nd Trainee of Asian Social Welfare Worker’s Training Program by Japan National Council of Social Welfare (JNCSW)

Salam cinta dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kokuryo, Chofu shi – Tokyo, JAPAN
Ahad malam, 15 Rajab 1436 H/03 Mei 2015 pukul 20.30 waktu Jepang

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Selasa, 05 Mei 2015 pukul 09.00 waktu Jepang

Comments
2 Responses to “Bersyukurlah… Maka Akan Engkau Dapatkan Surga!*”
  1. jonny says:

    ijin share ya akhi

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: