Refleksi Satu Bulan Tinggal di Tokyo Jepang*

Jpeg

[2014] Cover Annual Health Labour and Welfare JapanRefleksi Satu Bulan Tinggal di Tokyo Jepang*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, 32nd Trainee of Asian Social Welfare Worker’s Training Program by Japan National Council of Social Welfare (JNCSW/Zenshakyou)

Alhamdulillah, sama dengan beberapa pekerjaan yang saya lakukan sebelumnya, semangat harus selalu menyala dan berpikir selalu ada hal baru dan menarik yang bisa dijadikan pengalaman hidup berharga dan juga bermakna. Meski harus berat meninggalkan isteri dan dede 4 bulan di dalam perut umi-nya, akhirnya per tanggal 26 April 2015 ini saya sudah genap satu bulan penuh tinggal dan beraktivitas di Kota Tokyo, Jepang.

Jpeg

Selama satu bulan ini, bisa saya katakan bahwa semuanya adalah pengalaman suka tanpa ada dukanya. Soal rindu dan kangen dengan keluarga di rumah itu tidak saya anggap sebagai “duka”, namun api penyemangat bahwa tahun 2017 nanti saya akan bisa membawa isteri dan si kecil (yang saat ini masih di dalam kandungan) untuk turut serta menamani program S2 bidang Social Work/Welfare di Negeri Bunga Sakura ini.

Oleh karena itu, dalam kesempatan yang berbahagia merayakan proses satu bulan saya yang lancar dan tanpa ada hambatan ini, beberapa catatan akan saya kemukakan adalah sebagai berikut:

BELAJAR BAHASA

Satu bulan penuh semenjak kedatangan saya di Jepang ini yang dilakukan hanya satu, yaitu belajar Bahasa Jepang. Namun dari tanggal 26 Maret sampai dengan 06 April 2015 kami belajar bahasa Jepang tidak di dalam kelas, melainkan dengan mengenal berbagai macam hal di sekitar seperti supermarket, stasiun kereta api, dan lain-lain.

Setiap hari dari Senin-Jum’at, kami berlima belajar bahasa Jepang. Pelajaran intensif bahasa Jepang ini baru dimulai pada tanggal 06 April 2015. Pagi dari pukul 09.45-12.15 (3 jam) dan sore dari pukul 13.30-16.00 (2,5 jam). Berarti sehari saja kami belajar 5,5 jam dan jika dikalikan lima hari (dalam sepekan). Maka, dari tanggal 07 sampai dengan hari ini, saya sudah belajar bahasa Jepang (baru tuntas pelajaran huruf Hiragana) 15 hari x 5,5 jam yaitu 82,5 jam pelajaran.

Saya sangat bersyukur kepada Allah subhanahu wata’ala, Dzat Yang Maha Tinggi dan Maha Agung yang telah memberikan kesempatan berharga ini kepada saya melalui perantaraan orang-orang hebat-Nya. Dari dulu waktu kuliah saya ingin belajar bahasa Jepang, ingin les tapi tidak punya dana yang cukup. Sewaktu sudah bekerja dan punya uang, malah waktu belajarnya yang tidak cukup.

Namun hari ini, melalui program ini saya bisa dengan sangat intensif belajar Bahasa Jepang. Apalagi sistem belajar di sini adalah belajar Bahasa Jepang dengan menggunakan Bahasa Jepang juga. Mungkin kita keheranan bagaimana bisa belajar bahasa Jepang dengan bahasa Jepang? Tapi mereka membuktikan bahwa ternyata sampai hari ini kami mampu melewati beberapa tes dan tingkatan yang telah mereka susun sebagai parameter keberhasilan penguasaan bahasa Jepang tersebut.

Target pihak JNCSW memang tidak muluk-muluk. Hanya dalam 3,5 bulan belajar Bahasa Jepang, mereka menargetkan kami mampu menguasai baca+tulis huruf Hiragana dan Katakana secara lancar serta bahasa percakapan sehari-hari yang akan sangat berguna pada saat praktik di lembaga sosial. Sampai program ini berakhir, mereka tidak akan mengajarkan tentang Kanji, tapi salah satu sensei-nya mengungkapkan bahwa sangat memungkinkan belajar huruf Kanji jika memang ingin menguasai dasar-dasarnya. Sejak awal, saya sudah nyatakan ingin belajar tentang Kanji, mungkin pada bulan Juni nanti saya akan kembali memperkuat keinginan saya untuk bisa belajar Kanji di Level JLPT N5 (日本語の力試験).

Sampai dengan hari ini, saya sendiri sudah mulai terbiasa mendengarkan percakapan bahasa Jepang dan 50 persen menangkap maksudnya meski tidak mampu menerjemahkan kata per kata yang orang Jepang ungkapkan. Saya juga sudah merasa 80% lancar membaca huruf Hiragana, tidak terbata-bata ataupun baca huruf per huruf sebagaimana awal kedatangan saya ke Jepang ini.

Saya amat sangat yakin, bahwa selesai belajar bahasa pada pertengahan bulan Juli nanti, saya sudah lancar berkomunikasi maupun menulis Hiragana dan Katakana, sehingga penggalian informasi dari lembaga terkait Sistem Kesejahteraan Sosial di Jepang dapat lebih dalam dan lebih luas, serta mampu menangkap pemahaman yang komprehensif dan akurat. Insya Allah ^_^

SOPAN SANTUN

Saya cukup terheran-heran, saya pikir orang Sunda (Bandung) adalah orang dengan bahasa terlembut yang pernah saya temui, namun melihat langsug orang Jepang di sini, ternyata mereka juga merupakan orang-orang yang santun dan ringan tangan untuk membantu orang lain.

Kekaguman itu saya dapatkan ketika berinteraksi dengan orang-orang Jepang yang bertugas sebagai petugas pelayanan fasilitas publik. Mulai dari stasiun, terminal, balai kota, taman, perpustakaan, kantor pos, supermarket dan tempat-tempat umum lainnya. Pelayanan super hangat saya dapatkan ketika memanfaatkan layanan bank dan tempat layanan komersial lainnya.

Tidak hanya kepada orang asing. Mungkin kita berpikirnya mereka berlaku demikian karena sangat menghargai orang asing. Tapi ternyata sesama orang Jepang sendiri pun, mereka sangat gemar memberikan ucapan terima kasih berkali-kali dan rajin mengucapkan maaf meski kesalahannya itu terhitung amat sangat kecil/sepele. Selain itu, orang Jepang juga senang memberikan dorongan semangat, bahwa sesuatu yang sulit itu karena tidak dicoba untuk diselesaikan. Ketika bersemangat mencari solusinya dengan terus bergerak, masalah akan tuntas dan berganti dengan hasil yang berkualitas.

Sopan santun itu tidak melulu soal sikap. Sopan santun yang mereka tunjukkan juga dengan begitu tepat waktu (apalagi dengan janji/やくそく), tidak membuang sampah sembarangan, pekerja keras, dan tidak malas-malasan. Poin terakhir ini penting, karena dalam posisi pekerjaan apapun (baik kelas bawah, tengah maupun atas) bekerja dengan penuh kesungguhan di dalam hati dan tidak terlalu mencolokkan peran antara bos dan bawahan, namun mereka dapat membawa diri secara elegan. Ini sedikit berbeda dengan kebiasaan di negeri kita, kalau sudah dikenal sedikit dengan bos lalu suka memamerkan dengan teman-teman bahkan ada yang sampai jadi penjilat (na’udzubillahi min dzalik).

Nilai-nilai unggul itulah yang juga ingin mereka bentuk dalam diri kami para trainee dari 5 negara yang berbeda ini. Mereka sadar bahwa membentuk orang itu susah, tapi mereka bekerja keras untuk melakukannya, dan yakin bahwa kami yang memiliki nilai kultural berbeda, akan bisa menyesuaikan diri dengan Jepang dengan mengedepankan nilai baik dan universal.

MASJID DAN UMAT MUSLIM

Selama satu bulan ini di Tokyo, sudah ada 2 masjid yang saya kunjungi. Masjid pertama adalah Tokyo Camii (dibangun oleh orang Turki dan menyatu dengan Turkish Cultural Center) di Yoyogi Uehara dan masjid kedua adalah Masjid As Salam di Okachimachi. Di Tokyo Camii saya mendapatkan teman baru dari Perancis, seorang muslim backpacker yang berketurunan Maroko tapi tinggal dan lahir di Perancis. Juga berkenalan dengan beberapa pelancong dari Malaysia yang sempat bertukar alamat Facebook untuk jalinan silaturahim selanjutnya.

Di Masjid As Salam saya sempat mengikuti kajian KIMOCHI ke-77 yang mengantarkan perkenalan saya dengan beberapa mahasiswa pascasarjana dari Tokyo Institute of Technology (TIT/Tokodai), Waseda University dan juga kawan Kenshusei (program pemagangan yang bekerja di perusahaan di Jepang).

Dalam pengamatan saya selama ini, di tengah hingar bingar kehidupan modern di Jepang, selalu ada orang-orang yang merasa hatinya hampa karena tidak beragama. Mereka kalut dengan tata cara hidup yang jauh dari kesadaran memiliki Tuhan. Itulah mengapa banyak orang-orang Jepang yang intensif datang ke Tokyo Camii untuk sekedar melihat bagaimana umat muslim beribadah.

Orang-orang Jepang juga banyak yang kagum, karena dalam pandangan mereka seorang agamawan itu harus menjadi biksu atau selalu menjauhkan diri dari perkara dunia. Sedangkan umat muslim tidak demikian adanya. Umat muslim mereka pandang sebagai manusia-manusia merdeka dan dapat melakukan hal-hal besar, tapi juga begitu relijius dalam mentaati perintah Tuhannya. Ya Allah, semoga Engkau berkahi negeri Jepang ini, sebagaimana juga Engkau berkahi negeri-negeri muslim yang memuja-muji nama-Mu di sepanjang waktu.

REKREASI

Tak lengkap rasanya belajar di Jepang tanpa ada agenda jalan-jalan. Saya adalah orang yang gemar dan selalu ingin tahu hal-hal yang baru. Namun saya juga orang yang sangat realistis, jika kantong tidak memungkinkan, maka saya akan urungkan niat terlalu banyak jalan-jalan dan memilih penggalian info melalui dunia maya saja.

Selama di Jepang ini, alhamdulillah kondisi keuangan tidak pernah mengkhawatirkan. Pihak JNCSW menjamu kami dengan sangat baik dengan pelayanan optimal sebagaimana sifat dari keseharian mereka memang begitu adanya. Bahkan mereka seringkali memberikan informasi terkait hal-hal yang kita suka. Saya yang muslim, mereka carikan informasi masjid dan juga tempat-tempat makanan halal. Ada teman yang dari Taiwan gemar baseball mereka carikan informasi jadwal pertandingan dan lokasi stadionnya. Yang terakhir, mereka carikan saya data universitas yang memiliki jurusan Social Work/Welfare di Tokyo. Ini akan sangat bermanfaat untuk saya jadikan bahan survey mencari lokasi rencana S2 beserta menemukan profesor pembimbingnya.

Free Market Chofu, Tokyo Tower dan terakhir kemarin Meiji Shrine, Harajuku, Yoyogi Park adalah tempat-tempat rekreasi berkesan yang sudah saya datangi. Ke depannya, kami merencakan untuk pergi ke Tokyo Disneyland namun jadwal begitu padat sedangkan hari libur orang yang datang akan sangat penuh dan tidak nyaman. Rekreasi ini penting untuk merefresh kepenatan selama belajar dan membuka wawasan bahwa Tokyo ini begitu istimewa ^_^

TREN LANJUT USIA

Masyarakat adalah orang yang sangat senang bekerja dalam tim. Dampak dari ini, mereka gemar membangun sistem yang tidak bergantung kepada satu orang tertentu, namun selalu bisa tergantingan dengan orang lain. Hal ini dikarenakan yang dibangun adalah sistemnya, bukan superioritas seseorang tertentu.

Permasalahan lanjut usia adalah masalah utama di negeri Jepang ini. Berdasarkan laporan dari Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang pada tahun 2013 yang lalu saja, jumlah lansia usia di atas 75 tahun di Jepang mencapai sepersepuluh dari total populasi. Diperkirakan tahun 2030, 1 dari 5 orang Jepang adalah lansia di atas 75 tahun. Dan terus meningkat pada tahun 2055, 1 dari 4 orang Jepang adalah lansia berumur lebih dari 75 tahun. Mereka juga menyatakan bahwa Jepang adalah negara dengan angka harapan hidup tertinggi di dunia yaitu 79 tahun untuk laki-laki dan 86 tahun untuk perempuan. (Presentation. The current situation and the future direction of the long-term care insurance system in Japan with a focus on the housing for the elderly. March 2013. Ministry of Health, Labour and Welfare-JAPAN)

Itulah mengapa, kita akan sangat dengan mudah menemui para lansia di mana saja. Tapi, orang Jepang ini orang hebat. Para lansia tidak akan manja dan duduk manis di rumah. Mereka melakukan hal-hal yang dilakukan oleh orang normal dan hanya akan diam di rumah ketika memang sudah tidak mampu bergerak lagi badannya. Orang lansia juga tidak bekerja mencari uang, hampir semuanya terjamin dengan asuransi yang diambil dari sisihan hasil kerjanya semasa muda.

Lagi-lagi kita kalah telak. Ketika Jepang telah fokus untuk memberikan pelayanan optimal terhadap lansia. Di kita masih sibuk memikirkan cara korupsi terbaik agar tidak tercium oleh auditor ataupun KPK. Orang Jepang memiliki dedikasi tinggi untuk anti korupsi dan memikirkan nasib penduduknya. Mendapatkan uang tanpa melakukan apa-apa bukanlah sifat murni orang Jepang. Meskipun kaya, orang Jepang seringkali hidup sederhana dan melakukan kerja keras di setiap harinya.

Jepang juga sudah mendorong pelayanan home care. Jadi para lansia tetap ada di rumah, dan akan ada social workers yang berkunjung ke rumahnya (home visit) untuk membantu hal-hal lain yang sekiranya tidak bisa ia lakukan sendiri. Yang terpenting, pemerintah Jepang juga mendorong masyarakat untuk merawat lansianya untuk tinggal sendiri bersama mereka. Meski terkesan susah karena orang-orang Jepang “gila kerja” dan tentu saja akibatnya waktu di rumah amat terbatas, tapi pemerintah gencar mendorong agar keluarga-keluarga di Jepang lebih memperhatikan anggota keluarganya, termasuk lansia.

Dalam kegiatan satu tahun saya di Jepang ini, juga akan berpraktik langsung di lembaga sosial yang memberikan pelayanan terhadap lansia. Insya Allah saya akan berusaha memberikan yang terbaik, baik dari sisi praktik langsung maupun pemikiran akademis yang bisa memberikan dampak positif terhadap sistem yang mereka jalankan.

SISTEM KESSOS BERBASIS MANUSIA

Kelebihan negara maju adalah mereka bekerja dengan didukung oleh Sumber Daya Manusia yang mumpuni. Tidak hanya soal kecerdasan dan teknologi tinggi, namun lebih kepada kesadaran untuk mengangkat nilai-nilai baik dan universal yang mengalahkan nilai-nilai buruk dan merugikan orang lain.

Sistem yang dibangun oleh Jepang untuk kesejahteraan masyarakatnya mulai dari hulu sampai hilir. Sistem asuransi kesehatan yang berstatus pemerintah juga pelayanannya optimal. Jaminan terhadap wanita hamil sampai dengan lansia terstruktur dengan baik. Dana yang diperoleh diambil dari potongan langsung terhadap gaji (pajak) maupun pajak pembelian barang komersial.

Hal tersebut mereka lakukan dengan sangat baik dan minim perilaku korupsi atau penggelapan uang sekian trilyun sebagaimana terjadi di Indonesia. Mereka sadar bahwa kehidupan seimbang itu akan tercipta dengan berlaku baik sepanjang waktu. Tata cara hidup yang benar adalah dengan tetap bekerja, namun juga peduli terhadap sesamanya.

Dalam hal ini, social welfare services atau atau aktivitas volunteerism menjadi ujung tombak dalam upaya mendorong kesejahteraan sosial untuk semua. Untuk sumber daya manusianya, per bulan Maret 2013 saja tercatat 230.199 Child Welfare Volunteer. Lalu per April 2013 juga tercatat sebanyak 8.330 Counselors for persons with physical disabilities dan 3585 Counselors for persons with mental retardation. (Annual Health Labour and Welfare Report, Ministry of Health Labour and Welfare-Japan, 2014).

Ini hanya sedikit gambaran dan catatan ringan saja. Begitu banyak hal yang masih belum saya ketahui tentang Jepang ini, khususnya pada sistem kesejahteraan sosial di Jepang. Ke depannya saya akan bekerja lebih keras lagi supaya bisa memahami soal Jepang secara utuh dan menyeluruh. Insya Allah.

????Salam cinta dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kokuryo, Chofu Shi – Tokyo, JAPAN
Ahad pagi, 07 Rajab 1436 H/26 April 2015 pukul 08.12 waktu Jepang

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Ahad petang, 26 April 2015 pukul 19.00 waktu Jepang

[2014] Outline of Social Welfare Implementation System in Japan

Comments
7 Responses to “Refleksi Satu Bulan Tinggal di Tokyo Jepang*”
  1. galz25 says:

    Wah mas Joko….akhirnya ke Jepanggggg waaaw

  2. Sandurezu サンデゥレズ says:

    suka banget baca2 tulisan2 inspiratif spt ini.. trima kasih banyak infonya mas🙂 smg suatu saat bisa belajar juga ke Jepang😀

  3. jtxmisc says:

    keren mas😀 , wah ini benar yah? terima kasih sekali infonya.

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] Source: Refleksi Satu Bulan Tinggal di Tokyo Jepang* […]



Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: