Berhitung Mundur Menjelang Keberangkatan ke Tokyo*

Jpeg
Jpeg

Joe bersama Isteri, Ibu dan Bapak Mertua di Shuttle Bus Cipaganti Simpang Dago Bandung tujuan Bandara Soekarno Hatta

Berhitung Mundur Menjelang Keberangkatan ke Tokyo*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, 32nd Trainee of ASEAN Social Welfare Worker’s Training Program by Japan National Council of Social Welfare (JNCSW/Zenshakyou)

Hari-hari di bulan Maret terasa begitu cepat berlalu. Perasaan mulai bercampur aduk antara rasa bahagia akan mendapati pengalaman baru dengan rasa sedih karena akan meninggalkan isteri tercinta dan jabang bayi yang tengah dikandungnya. Beberapa persiapan tampak belum sempurna, bukan karena ketidaksiapan dalam mempersiapkannya. Namun karena segala persiapan ini membutuhkan dana yang saya tidak ada sumber untuk mendapatkannya. Jadilah kesempatan besar ini bersanding dengan risiko besar yang mengharuskan saya “berhutang” dan baru tahun depan baru bisa untuk membayarnya.

Di akhir bulan Maret ini, usia kandungan isteri telah mencapai 12 pekan lamanya. Saya mungkin akan merasa bahagia dengan kehidupan baru di kota metropolitan sekelas Tokyo yang merupakan salah satu kota dengan biaya hidup termahal di dunia. Tapi bagaimana perasaan isteri yang akan ditinggal selama setahun dan bahkan akan melahirkan anak pertama tanpa dampingan sang suami tercinta? Ini sunguh berat, dan amat sangat berat untuk seorang wanita.

Tapi itulah hebatnya Iis Syarifah Latif. Dirinya tidak pernah merengek dan menghiba agar saya tidak jadi saja berangkat ke Jepang nya. Namun, ia dengan begitu tegar mendukung dan membantu segala persiapan keberangkatan ke Jepang dengan maksimal dan penuh suka cita. Saya tahu ia menyembunyikan rasa beratnya, tapi ia mampu menyuguhkan raut muka bahagia dan bangga bahwa abi dari jabang bayinya telah mampu meraih salah satu mimpi besarnya, untuk melaksanakan studi di Negeri Bunga Sakura.

Hal hebat lain yang amat sangat saya syukuri adalah mertua yang begitu luar biasa. Ibu dan Bapak Mertua sepenuhnya mendukung persiapan keberangkatan saya selama setahun di Jepang. Padahal saya hanya bisa menambah beban dengan tiga bulan tanpa pekerjaan, serta akan menitipkan isteri dan calon anak sampai melahirkan. Baik Ibu maupun Bapak mertua sama sekali tidak pernah menyinggung bagaimana nasib anaknya ketika ditinggal suami selama setahun tanpa mampu memberi nafkah?

Namun belakangan saya tahu sedikit akan jawabannya. Isteri saya pernah bercerita bahwa Ibu dan Bapak telah menganggap menantunya selayaknya anak kandung tanpa pembeda. Juga atas kekuatan keyakinan dan keimanan bahwa tiap orang membawa rizkinya masing-masing dan ketika ikhtiar terbaik telah dilakukan, maka Allah lah Yang Maha Kaya sebagai tempat meminta. Itulah sedikit jawaban yang saya temukan atas cara berpikir menakjubkan dari mertua.

Tak kalah menggembirakannya adalah Ma’e&Pa’e dan Kak Cup sekeluarga. Orang tua saya di kampung sampai menjual kambingnya untuk turut memberikan uang saku juga mengurus berbagai keperluan yang tidak sedikit kebutuhannya. Ma’e juga menyarankan tidak usah pulang ke Jawa karena biaya yang cukup mahal, cukup telpon dan pamit kepada keluarga dan saudara-saudara kandung nan jauh di sana. Kak Cup sekeluarga men-support keuangan dan dukungan psikologis terhadap kondisi isteri yang saya tinggal selama setahun lamanya.

Aaah.. Memang saya ini masih tidaklah terlalu berguna. Sudah tampak di depan mata jenjang karier yang menjanjikan, namun malah pergi ke sisi lain yang penuh risiko dan selalu merepotkan keluarga.

Detik-detik itu segera tiba. Dua hari menjelang keberangkatan saya pamitan via telpon dengan Pa’e dan Ma’e, Kak Cup dan Mba Riva, Mas Wahib-Mba Erna dan Pak Tulus serta isterinya, Mba Eni dan Mas Habib, Kak Irhamni dan Mba Uus. Mereka semua tampak sedih tapi juga bangga. Karena cita-cita besar yang diimpikan oleh anak kampung itu akhirnya terwujud juga. Menimba ilmu di Negeri Bunga Sakura.

Di keluarga mertua, Ibu memberikan salam perpisahan dengan membuat makan lotek bersama di rumah Aki-Nini. Di sini keluarga besar diundang untuk makan bersama sembari memohon doa restu atas keberangkatan saya ke Jepang. Juga doa untuk kandungan isteri agar sehat dan melahirkan secara normal sesuai waktunya.

Hari-hari menjelang keberangkatan juga saya pergunakan untuk bersilaturahim dengan Kang Nandang. Beliau ada senpai sekaligus mentor yang sangat luar biasa. Tanpa kenal sebelumnya, tapi kemudian begitu all out membantu saya dalam proses seleksi mulai dari awal sampai detik-detik terakhir keberangkatan. Semoga keberkahan dan keselamatan tercurahkan untuk Kang Nandang sekeluarga. Saya dan isteri bertemu Kang Nandang sekeluarga di Indomaret Point jalan Dipati Ukur Kota Bandung pada hari Senin, 23 Maret 2015. Di sini isteri Kang Nandang berbagi tips untuk menghalau rasa kangen berat yang akan mendera isteri saya saat ditinggal pergi selama setahun di Tokyo nanti. Isteri Kang Nandang juga sangat terbuka apabila isteri saya nantinya butuh teman curhat atau hal-hal lainnya.

Hari H pun tiba. Rabu, 25 Maret 2015 Bapak, Ibu dan isteri mengantar saya ke Travel Cipaganti di Simpang Dago. Dari sanalah titik awal keberangkatan saya untuk mencapai Bandara Soekarno Hatta dan selanjutnya menuju Bandara Haneda Tokyo-Jepang.

Karena bawaan yang lumayan banyak, kami menaiki taksi yang mengantar dari depan Indomaret Sekeloa menuju Simpang Dago. Waktu masih menunjukkan pukul 15.15wib. Pukul 15.30wib saya dan bapak berjamaah Sholat Ashar di tempat Cipaganti. Usai itu, kami menyempatkan diri foto bersama sebelum akhirnya meluncur ke Jakarta ditemani deras hujan pada pukul 16.00wib.

Suasana hujan tersebut layaknya menjadi penanda kesedihan atas kepergian saya meninggalkan isteri dan calon anak tercinta. Tapi, tidak perlu terlalu didramatisir. Semangat harus tetap menyala karena inilah awal dari sebuah perjuangan. Tokyo akan dicapai oleh raga, maka kesempatan beasiswa S2 di Jepang juga bukanlah mimpi yang terlampau muluk-muluk. Terus berusaha keras, dan yakin kemudahan akan didatangkan oleh Allah setelah mampu melewati berbagai macam kesulitan dan rintangan yang menghadang. Insya Allah.

Salam cinta dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kokuryo, Chofu Shi – Tokyo, JAPAN
Ahad,  10 Jumadil Akhir 1436 H/29 Maret 2015 pukul 22.36 waktu Jepang

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Kamis, 02 April 2015 pukul 07.30 Waktu Jepang

???? == ????

03 Bersama keluarga Kang Nandang

Bersama Kang Nandang sekeluarga, bertemua di Indo Point Dipati Ukur Bandung

Comments
2 Responses to “Berhitung Mundur Menjelang Keberangkatan ke Tokyo*”
  1. wah nice….
    pengen…
    mampir ke blog MiQHNuR yaa..

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: