Pluralitas Vs Pluralisme Agama, Mirip Tapi Beda*

Sumber ilustrasi gambar dari sini

Pluralitas Vs Pluralisme Agama, Mirip Tapi Beda*

*Oleh Muhammad Joe Sekigawa, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Bismillahirrohmaanirrohiim..

Seringkali kita dengar bahwa dengan hidup sebagai rakyat di Bumi Nusantara dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, maka tidak sepatutnya kita saling bermusuhan meski dengan adat istiadat dan tata budaya yang berbeda. Keinginan untuk menjaga sikap toleransi tersebut kemudian diwujudkan dengan menjaga toleransi dengan menerima kenyataan pluralitas, sebuah kesadaran keberbedaan yang dapat merekatkan rasa persatuan dan kesatuan.

Namun, sayangnya masih ramai di kalangan masyarakat kita yang kemudian menyandingkan sikap menerima Pluralitas dan menyamakannya dengan Pluralisme Agama. Padahal, dalam kacamata ilmu pengetahuan, istilah Pluralitas tidaklah sama dengan Pluralisme Agama.

Pluralisme Agama (Religious Pluralism) adalah istilah khusus dalam kajian agama-agama. Sebagai “terminologi khusus”, istilah ini tidak dapat dimaknai sembarangan, misalnya disamakan dengan istilah “toleransi”, “saling menghormati/mutual respect” dan lain sebagainya. Sebagai satu paham (isme), yang membahas cara pandang terhadap agama-agama yang ada, istilah “Pluralisme Agama” telah menjadi pembahasan panjang di kalangan para ilmuan dalam studi agama-agama (religious studies).

Dan memang, meskipun ada sejumlah definisi yang bersifat sosiologis, tetapi yang menjadi perhatian utama para peneliti dan tokoh-tokoh agama adalah definisi Pluralisme yang meletakkan kebenaran agama-agama sebagai kebenaran relatif dan menempatkan agama-agama pada posisi “setara”, apapun jenis agama itu. Bahkan, sebagian pemeluk Pluralisme mendukung paham sikretisasi agama.

Maka, Pluralisme Agama didasarkan pada satu asumsi bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama. Jadi, menurut paham ini, semua agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju Tuhan yang sama. Atau, mereka menyatakan, bahwa agama adalah persepsi manusia yang relatif terhadap Tuhan yang mutlak, sehingga (karena kerelativannya) maka setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya sendiri yang benar. Bahkan, menurut Charles Kimball, salah satu ciri agama jahat (evil) adalah agama yang memiliki klaim kebenaran mutlak (absolute truth claim) atas agamanya sendiri.

Paham relativisme kebenaran berarti bahwa setiap orang dengan perbedaan tingkat intelektual dan kapabilitasnya, berhak memberikan pemaknaan terhadap ayat-ayat al-Qur’an maupun Hadits dan masing-masing tidak berhak mengklaim dirinya lebih benar dari lainnya. Sebab menurut mereka, kebenaran mutlak hanyalah milik Allah SWT, sedangkan al-Qur’an adalah Firman-Nya yang kebenarannya dijamin secara mutlak. Namun kebenaran mutlak tersebut hanyalah diketahui oleh Allah; dan manusia tidak akan pernah dapat mencapainya. Sebab manusia adalah makhluk yang nisbi dan relatif, maka kebenaran yang dicapainya juga bersifat relatif, samar dan senantiasa berbeda antara satu individu dan individu lainnya. Bahkan terkadang kebenaran tersebut kerap berubah seiring dengan kondisi, situasi dan kecenderungan manusia yang berkaitan. Para penganut paham ini biasanya menguatkan pandangannya dengan dalih bahwa manusia tidak pernah tahu maksud Tuhan yang sebenarnya. Oleh karena itu manusia tidak boleh mengklaim dirinya paling benar atau menyalahkan pihak yang berbeda dengannya.

Makna Relativisme seperti yang tertera dalam ensiklopedi Britannica adalah doktrin bahwa ilmu pengetahuan, kebenaran dan moralitas wujud dalam kaitannya dengan budaya, masyarakat maupun konteks sejarah, dan semua hal tersebut tidak bersifat mutlak. (the doctrine that knowledge, truth, and morality exist in relation to culture, society, or historical context, and are not absolute). Lebih lanjut ensiklopedi ini menjelaskan bahwa dalam paham relativisme apa yang dikatakan benar atau salah; baik atau buruk tidak bersifat mutlak, tapi senantiasa berubah-ubah dan bersifat relatif tergantung pada individu, lingkungan maupun kondisi sosial. Pandangan ini telah lama ada sejak Protagoras, tokoh Sophis Yunani terkemuka abad 5 SM, dan di jaman modern ini digunakan sebagai pendekatan ilmiah dalam kajian sosiologi dan antropologi. (what is right or wrong and good or bad is not absolute but variable and relative, depending on the person, circumstances, or social situation. The view is as ancient as Protagoras, a leading Greek Sophist of the 5th century BC, and as modern as the scientific approaches of sociology and anthropology).

Paham relativisme seperti yang dijelaskan dalam ensiklopedi Britannica, yang seharusnya hanya digunakan dalam kajian-kajian sosiologi dan antropologi, kini sering digunakan sebagai alat bedah dalam menafsirkan teks-teks wahyu dalam Islam. Dengan demikian, paham relativisme yang merupakan akar berbagai paham aliran-aliran modern, seperti sekularisme, liberalisme, pluralisme agama dan feminisme, secara gamblang menggerogoti prinsip-prinsip dasar ajaran Islam. Para penganut paham sekularisme, liberalisme, pluralisme agama dan feminisme dengan sendirinya akan menggunakan -atau setidaknya- membenarkan pendekatan relativisme kebenaran dalam memahami al-Qur’an dan Hadits.

Pluralisme Agama – sebagaimana yang banyak ditulis oleh para penganut dan penyebarnya — memang bukan sekedar konsep toleransi, saling menghormati antar pemeluk agama, tanpa mengganggu konsep-konsep khas dalam teologi masing-masing agama. Menafsirkan QS al-Baqarah:62, sebuah disertasi doktor Ilmu Tafsir di UIN Jakarta menulis: ”Jika diperhatikan secara seksama,  jelas bahwa dalam ayat itu tak ada ungkapan agar orang Yahudi, Nashrani, dan orang-orang Shabi’ah beriman kepada Nabi Muhammad. Dengan mengikuti pernyataan eksplisit ayat tersebut, maka orang-orang beriman yang tetap dengan keimanannya, orang-orang Yahudi, Nashrani, dan Shabi’ah  yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta melakukan amal saleh – sekalipun tak beriman kepada Nabi Muhammad, maka mereka akan memperoleh balasan dari Allah. Pernyataan agar orang-orang Yahudi, Nashrani, dan Shabi’ah beriman kepada Nabi Muhammad adalah pernyataan para mufasir dan bukan ungkapan al-Quran.”

Pandangan dan penafsiran semacam ini tentu saja sangat keliru dan sama sekali tidak berangkat dari posisi teologis Islam. Ribuan mufassir al-Quran yang mu’tabarah sejak dahulu kala tidak ada yang memahami ayat al-Quran tersebut seperti itu. Sebab, dengan logika sederhana pun kita bisa memahami, bahwa untuk dapat “beriman kepada Allah” dengan benar dan beramal saleh dengan benar, seseorang pasti harus beriman kepada Rasul Allah saw. Sebab, hanya melalui Rasul-Nya, kita dapat mengenal Allah dengan benar; dapat mengenal nama dan sifat-sifat-Nya. Ini konsepsi teologis Islam.

Kaum Pluralis kadangkala memandang aspek keimanan ini sebagai hal yang kecil.  Kata mereka,  yang penting adalah nilai kemanusiaan. Manusia harus saling mengasihi, tanpa melihat agamanya apa; tanpa melihat jenis imannya. Tentu saja pandangan ini juga sangat keliru. Sebab, dalam kehidupan manusia pun, aspek pengakuan juga sangat penting. Anak menuntut pengakuan dari orang tuanya. Sebelum bekerja, Presiden juga perlu pengakuan dari rakyat bahwa dia adalah Presiden. Anak yang tidak mau mengakui orang tuanya disebut anak durhaka. Maka, pengakuan (syahadah) itulah yang diminta oleh Allah kepada umat manusia. Yakni, agar manusia mengakui bahwa Dia adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah; dan bahwa Muhammad SAW adalah utusan-Nya yang terakhir.

Paham Pluralisme Agama ini telah menyerbu semua agama, bukan hanya kaum Muslim yang memandang Pluralisme Agama sebagai ancaman serius. Klaim-klaim kebenaran mutlak atas masing-masing agama diruntuhkan, karena berbagai sebab dan alasan. Di kalangan Yahudi misalnya, muncul nama Moses Mendelsohn (1729-1786) yang menggugat kebenaran eksklusif agama Yahudi. Tahun 2000, Vatikan juga mengeluarkan Dekrit Dominus Lesus yang menolak paham Pluralisme Agama.  Dokumen ini dikeluarkan menyusul kehebohan di kalangan petinggi Katolik akibat keluarnya buku Toward a Christian Theology of Religious Pluralism karya Prof. Jacques Dupuis SJ, dosen di Gregorian University Roma. Dalam bukunya, Dupuis menyatakan, bahwa “kebenaran penuh” (fullnes of thruth) tidak akan terlahir sampai datangnya kiamat atau kedatangan Yesus Kedua. Jadi, katanya, semua agama terus berjalan –sebagaimana Kristen– menuju kebenaran penuh tersebut. Buku Toward a Christian theology  of Religious Pluralism pada intinya menyatakan, bahwa Yesus bukan satu-satunya jalan keselamatan. Penganut agama lain juga akan mengalami keselamatan, tanpa melalui Yesus.  Karena ajarannya itulah, pada Oktober 1988 ia mendapat notifikasi dari Kongregasi untuk Ajaran Iman. Ia dinyatakan ”tidak bisa dipandang sebagai seorang teolog Katolik.” Surat itu ditandatangani oleh Kardinal Ratzinger, yang menjadi Paus Benediktus XVI. Dan Majelis Ulama Indonesia, pada tahun 2005 telah resmi mengeluarkan fatwa, bahwa paham Pluralisme Agama adalah bertentangan dengan Islam dan haram bagi umat Islam memeluknya.

Maka, telah jelaslah bahwa Pluralisme Agama tidak bisa diartikan sama dengan Pluralitas (yang merupakan penghormatan dan penghargaan terhadap perbedaan budaya, adat dsb), Toleransi, Mutual Respect dan istilah lembut yang memang kita praktikkan dalam kehidupan tersebut.

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kubang Sari-Sekeloa, Bandung – Jawa Barat
Rabu pagi, 20 Jumadil Awal 1436 H/11 Maret 2015 pukul 07.16wib

Sumber Bacaan Lanjutan:

Dr. Anis Malik Toha, 2005. Tren Pluralisme Agama, Tinjauan Kritis. Gema Insani Press: Jakarta.

Dr. Adian Husaini, 2010. Pluralisme Agama, Musuh Agama-Agama; Pandangan Katolik, Protestan, Hindu dan Islam terhadap paham Pluralisme Agama. DDII: Jakarta.

Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, dkk, 2010. Islam Vs Liberalisme. DDII: Jakarta.

Artikel Dr. Adian Husaini yang berjudul “Musuh Agama-Agama”.

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Rabu siang, 11 Maret 2015 pukul 13.00wib

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: