Ukhuwah Melampaui Kecintaan Harakah*

Sumber Gambar: Koleksi Pribadi

Sumber Gambar: Koleksi Pribadi

Ukhuwah Melampaui Kecintaan Harakah*

*Oleh Muhammad Joe Sekigawa, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Sungguh indah saat beberapa hari yang lalu melihat status Ustad Felix Y. Siauw yang menulis tentang ukhuwwah. Memang sudah biasa status-status beliau yang pernah saya ikuti selalu saja menumbuhkan inspirasi bernilai tinggi atas pengabdian kepada Sang Illahi Rabbi.

Namun, status yang kemarin sungguh lain dari biasanya. Diungkapkan di sana bahwa Ustad Felix Siauw akan berduet dengan Ustad Salim A. Fillah di Panggung Utama Islamic Book Fair Istora Gelora Bung Karno Jakarta pada hari Ahad, 08 Maret 2015. Kebetulan saya memang ada rencana untuk ke Jakarta pada hari Senin dan juga meet up dengan adik alumni dari kampus STKS Bandung pada hari Ahad juga.

Jadilah, sore itu saya datang sendiri setelah meninggalkan Pondok Indah Mall (PIM) menaiki bus Trans Jakarta dan turun di Halte Gelora Bung Karno Jakarta Selatan. Sesi talk show dimulai pada pukul 16.00wib sedangkan saya datang tepat sebelum waktu sholat Ashar. Maka, saya pun menjalankan sholat Ashar terlebih dahulu di Mushola Takaful yang merupakan mushola bongkar-pasang khusus untuk kepentingan menampung jamaah pengunjung Islamic Book Fair 2015 ini.

Talkshow duet luar biasa ini disponsori oleh Penerbit Pro-U Media, Sahabat Al Aqsa dan juga Majelis Jejak Nabi. Talkshow dimoderatori langsung oleh CEO Pro-U Media yang ternyata orangnya begitu kocak sambil membagikan begitu banyak doorprize. Pemaparan pertama disampaikan oleh Ustad Salim A Fillah dan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari Ustad Felix Y Siauw. Keduanya sama-sama menularkan energi besar agar para orang muslim di seluruh penjuru negeri bahkan di seluruh dunia ini bisa bersatu padu mengesampingkan segala macam perbedaan harakah serta bersatu dalam payung ukhuwwah Islamiyyah.

Ust Salim dan Ust Felix 0Talkshow ini sangat menarik karena kedua ustad tersebut telah mantap bergabung dalam jamaah (harakah) yang berbeda. Ustad Salim dengan Tarbiyah, serta Ustad Felix dengan Hizbut Tahrir. Kita tahu bahwa keduanya memiliki sudut pandang perjuangan yang hampir berseberangan, yakni yang satunya menggunakan Demokrasi sebagai sarana untuk berjuanga, sedangkan satunya benar-benar menolak Demokrasi sebagai sarana perjuangan Islam dan menganggapnya sebagai benda najis yang harus segera dihilangkan.

Membahas perbedaan memang akan sangat melelahkan dan lebih sering tidak menemukan titik temu yang memuaskan di kedua belah pihak. Ada yang menarik dari yang disampaikan oleh ustad Felix bagaimana menelankan pemahaman Islam kepada orang lain. Beliau mencontohkan bahwa awal Ustad Felix memeluk agama Islam, setiap pulang ke rumah selalu bertengkar dengan ayahnya. Adu pendapat dengan semangat yang begitu luar biasa. Ayahnya berbicara dalil dari bibel, ia patahkan dalil tersebut, ayahnya berbicara semakin keras, ia juga berbicara semakin keras, namun pada akhirnya tidak ada apa-apa yang didapat dari cara seperti ini. Ustad Felix kembali menambahkan bahwa boleh saja kita adu dan menang dalil, tapi belum tentu kita memenangkan hatinya. Maka menurut Ustad Felix, buat suasana cair dan menangkan hatinya dulu, setelah itu dakwah akan mudah diterima dan hidayah itu tinggal kita serahkan kepada Allah saja.

Apa yang diungkapkan oleh Ustad Felix terkait dengan dakwah kepada keluarganya yang masih non muslim itu, ternyata juga relevan dengan pertentangan antar harakah. Bahkan Ustad Felix juga menceritakan bahwa di kampusnya (IPB) adalah salah tempat yang juga “paling” sengit pertentangan antara Tarbiyah dengan Hizbut Tahrir. Tapi hal mencerahkan yang disadari oleh Ustad Felix adalah bahwa ternyata tidak hanya dia yang berdakwah, tidak hanya dia melakukan kebaikan-kebaikan, tidak hanya dia yang menghafal Al Qur’an bahkan seringkali ia mendapatkan dari harakah sebelah yang begitu cintanya kepada Al Qur’an. Lalu beliau lanjutkan bahwa kapan akhirnya Ustad Felix mampu menerima perbedaan di luar harakah yang ia ikuti, adalah ketika melakukan safar (perjalanan) bersama-sama, makan dalam wadah yang sama, dan berbagai kedekatan emosional lain. Hal ini menjadikan kita saling pengertian satu sama lain, dan tidak melulu memperuncing perbedaan yang ada. Tetaplah yakin dan berjuang dengan harakahnya, namun jangan sampai berpecah belah. Ukhuwwah itu dalam cakupan Islam, bukan antar harakah semata.

Ustad Salim bercerita dengan sangat indah tentang kejadian-kejadian zaman Nabi, Rasul dan juga Shabahat. Beliau juga lebih mendalam membahas terkait tafsir Surat As Shaff tentang ukhuwwah. Beliau katakan bahwa mendekati kemusyrikan orang yang memecah-mecah agama. Bahkan termasuk membuat sekat-sekat atau mengelompok-kelompokkan Islam adalah juga memecah belah agama. Misalkan dengan yang tarbiyah hanya fokus di situ saja, yang majelis khilafah ya bicara tentang itu saja, yang satu lagi antara sunnah dan bid’ah, satunya lagi dzikir tanpa henti, satunya lagi dengan khuruj dan merasa cukup dengan hal itu dan lain sebagainya. Tidak bisa demikian, Islam itu komprehensif dan harus dipikirkan untuk membangkitkan Islam dari sisi mana saja.

Ustad Salim juga berpesan bahwa yang harus kita sadari adalah adanya perbedaan yang bisa dimaklumi adalah pada tataran fiqih. Dalam kajian fiqih terdapat hal yang tsawabit (tetap) dan juga mutaghayyirat (fleksibel). Hal yang tsawabit adalah yang bersifat ibadah pokok serta ketauhidan. Sedangkan hal yang mutaghayyirat adalah yang bersifat cabang ibadah serta dalam berubah sesuai dengan konteks perubahan waktu dan juga zaman serta kebudayaan masyarakat setempat. Berbicara tentang hal ini memang tidak bisa dipukul rata, namun harus dikaji secara mendalam agar tidak sampai salah menetapkan mana yang tsawabit dan juga mana yang termasuk ke dalam mutaghayyirat.

Ustad Salim juga lebih jauh memaparkan bahwa yang harus ditingkatkan adalah ikatan ukhuwwah Islamiyah yang melampaui baju harakah. Jangan sampai karena perbedaan yang ada, padahal ia memang dipersengkatakan antar ulama atau Imam, namun rasa permusuhannya sama persis dengan musuh-musuh Islam yang perbedaannya pada tataran tsawabit. Inilah yang dipesankan untuk diingat dan dilaksanakan oleh para jamaah di tingkat grassroot yang dalam hal ini adalah para pejuang dakwah di tingkat lembaga dakwah kampus dan kepemudaan.

Lalu apalah kita ini yang merupakan pembelajar di tingkat bawah. Baru tahu satu dua ayat atau hadist saja sudah merasa paling besar sendiri, serta berusaha dengan sekuat tenaga untuk mempengaruhi orang-orang yang berjuang di harakah lain untuk segera “bertaubat” dan bergabung dalam jamaah kita. Padahal jelas-jelas, kita bisa saja menang debat karena kuat-kuatan hadist, namun hati belum tentu menerima. Tidak lantas dengan serta merta juga menganggap hati lawan debat keras hati karena tidak mau menerima apa yang kita sampaikan. Namun masih menurut Ustad Felix juga dia hanya akan menerima, namun tidak bisa dari lisan kita. Di sinilah masalahnya, karena kita telah menjadi orang yang dibenci terlebih dahulu daripada menjadi orang yang patut diteladani.

Kemudian ustad Salim menambahkan kalau memang kita saat ini “berbeda” dengan masyarakat kebanyakan, maka anggun-lah dalam menyampaikan kebenaran yang terkesan berbeda tersebut. Bukan malah dengan bangga menonjolkan perbedaan dan menganggap rendah (baik sadar maupun tidak sadar) orang yang tidak sama dengan kita sebagai orang-orang yang tersesat.

Rasanya memang indah, ketika para ustad dan ulama dari masing-masing harakah bersatu padu dan tidak saling menjelekkan. Inilah, indahnya Ukhuwwah Melampaui Kecintaan Harakah.

JS_01Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kubang Sari-Sekeloa, Bandung – Jawa Barat
Senin, 18 Jumadil Awal 1436 H/09 Maret 2015 pukul 07.02wib

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Senin, 09 Maret 2015 pukul 07.15wib

Comments
9 Responses to “Ukhuwah Melampaui Kecintaan Harakah*”
  1. Kalau baca ini jadi inget di kampus.😀

    Sangat Inspiratif Kang. (y)

  2. Nur Afilin says:

    mantap, akh joe. saya malah masih berupa catatan singkat di hp, blm dipost ke blog😥

  3. amizarra says:

    izin reblog ya kak

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] Source: Ukhuwah Melampaui Kecintaan Harakah* […]



Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: