Merajut Cerita Hidup Baru di Kota Kembang*

Sumber Ilustrasi Gambar dari sini

Merajut Cerita Hidup Baru di Kota Kembang*

*Oleh Muhammad Joe Sekigawa, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Sudah lewat dari sepuluh hari saya meninggalkan tanah Borneo. Ya, saat ini entah kapan lagi saya bisa menginjakkan kaki di Pulau Kalimantan itu. Status karyawan dari PT. Silva Rimba Lestari sudah tak lagi melekat pada diriku. Dan fakta hari ini adalah saya tengah berprofesi sebagai pengacara, alias pengangguran banyak acara😀

Ada konsekuensi besar atas keputusan yang saya ambil, meninggalkan Kutai Kartanegara dengan segala kenyamanannya, dengan kehidupan yang tak pasti dan penuh dengan tantangan. Hidup dengan ketidakpastian apakah berhasil dengan penuh keberlimpahan, atau bahkan malah menjadi beban karena hidup dengan penuh kekurangan.

Oh iya, awalnya memang ada rasa ketakutan yang menyergap diri siang dan malam. Akan tetapi, saya adalah orang yang tak tertarik dengan kemapanan instan. Cita rasa perjuangan harus selalu ada untuk menggapai dengan apa yang disebut sebagai sebuah kesuksesan. Saya tidak sedang menyebut kesuksesan sebagai sebuah keberlimpahan harta benda dan juga jabatan maupun kekuasaan. Namun, kesuksesan dalam pandangan saya merupakan keberhasilan dalam mewujudkan cita-cita, dan bermanfaat bagi banyak manusia. Bukan megahnya rumah mewah, jumlah mobil yang berlimpah, simpanan uang bermilyar rupiah, apalagi banyaknya isteri yang terus bertambah.

Prinsip yang saya pegang teguh adalah selalu berprasangka baik atas segala kejadian. Positive thinking kalau orang Barat menyebutnya. Konsep ini sesungguhnya juga berasal dari ajaran Islam. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda “Aku mengagumi seorang mukmin. Bila memperoleh kebaikan dia memuji Allah dan bersyukur. Bila ditimpa musibah dia memuji Allah dan bersabar. . .” (HR. Ahmad dan Abu Dawud). Maka, jati diri seorang yang beriman adalah mempersenjatai dirinya dengan dua hal, yakni syukur dan juga sabar.

Sepuluh hari di Bandung ini saya pergunakan dengan sebaik-baiknya untuk menemani isteri tercinta.  Ini adalah cara saya untuk mengganti rugi waktu enam bulan pernikahan kami, namun kebersamaan kami tak sampai dua bulan lamanya. Namun, saya juga tak berlama-lama untuk terus menghabiskan waktu hanya berdua saja. Karena pada hakikatnya, dimanapun saya berada, harus mampu untuk memberikan manfaat bagi manusia lainnya. Dalam konteks ini, saya harus mampu untuk menghibahkan diri dalam beberapa kegiatan seperti KAMMI, FORKOMKASI, IPSPI, berbagi pengalaman dan semangat menggapai impian, dan tentu saja bermanfaat bagi konstruksi besar dakwah Jamaah Tarbiyah.

Ini adalah langkah awal untuk membuat perubahan yang nyata dalam kehidupan. Saya memang tengah menawarkan sesuatu yang bisa dibilang “abstrak” kepada isteri. Karena kesuksesan itu belum jelas adanya. Namun saya yakin, bahwa dengan berani melangkahkan kaki, maka keajaiban itu akan datang dari Allah. Dan tentu saja tidak akan pernah ada ketika saya tetap diam dalam kondisi sebelumnya.

Inilah sepenggal ceritanya, di tengah persimpangan hidup yang tidak menentu. Bisa jadi saya hanya sendiri ditemani isteri, tapi saya tidak takut karena masih ada Allah Yang Maha Kaya lagi Maha Tinggi. Laa haula walaa kuwwata illaa billahil aliyyil adzhiiim..

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kamar Kontrakan Kubang Sari, Bandung – Jawa Barat
Jum’at, 11 Rabiul Awal 1436 H/02 Januari 2015 pukul 14.56wib

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Sabtu, 03 Januari 2015 pukul 07.00wib

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: