Overload Informasi dan Kekurangcakapan Analisis Isu*

Sumber Ilustrasi Gambar dari sini

Overload Informasi dan Kekurangcakapan Analisis Isu*

*Oleh Muhammad Joe Sekigawa, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Orang yang berpendidikan pun, ketika berada jauh dari pusat sumber informasi, tak kan mampu untuk meramu informasi yang sesuai dengan ketepatan pilihan di kondisi yang terjadi pada waktu itu. Lalu bagaimana dengan orang yang kurang berpendidikan tapi kemudian dicekoki dengan limpahan informasi yang masih terus diperdebatkan? Namun di alam demokrasi ini, suara orang per orang dianggap sebagai suara Tuhan yang harus dipenuhi dan diakomodir keinginannya.

Demokrasi yang kita praktekkan hari ini merupakan “demokrasi latah” yang kebablasan nilai-nilai kebebasan yang dijunjungnya atas nama Hak Asasi Manusia. Lihat saja betapa mudah Presiden kita dihujat sedemikian rupa, padahal ia merupakan simbol pemimpin nomor satu di negara kita. Ingat saja betapa mudah berita yang baru “isu” kemudian dianggap sebagai fakta gara-gara terus menerus dan berulang kali diputar di berita TV.

Perdebatan internal yang merupakan hal biasa dalam sebuah organisasi, atau upaya untuk mencari titik temu kesepakatan, kemudian diumbar seluas-luasnya untuk dicekokkan pada masyarakat tak berilmu dan sebenarnya tidak membutuhkan informasi tersebut. Dan kemudian pada akhirnya, sebagian besar rakyat kita menjadi latah, merasa dirinya paham tapi sejatinya tak mampu membuat analisis original dan tajam.

Zaman seperti ini, menjadikan media sebagai tolok ukuran untuk menyatakan fakta/opini, benar/salah, lurus/sesat, bahkan halal dan juga haram juga dipengaruhi oleh yang namanya “MEDIA”. Masyarakat kita yang masih “bodoh” untuk menganalisis persoalan secara mendalam, digiring pendapatnya untuk menyetujui sesuatu yang disuguhkan oleh media pagi, siang, petang sampai malam, dan begitu lagi seterusnya.

Terkait dengan perdebatan terakhir mengenai Kepala Daerah yang dipilih melalui DPRD apakah sebuah kemunduran tata laksana demokrasi kita atau bahkan sebaliknya, yakni pemilihan Kepala Daerah via DPRD merupakan langkah korektif atas “salah langkah” yang pernah diambil oleh republik kita. Isu Pilkada Langsung vs Via DPRD bukanlah perkara benar dan salah, tapi lebih kepada ketepatan pengambilan keputusan di waktu yang bersangkutan.

Jika ingin lebih kuat argumennya, maka galilah kebenaran yang Anda dukung dengan kajian yang mendalam, disertai muatan informasi pendukung yang dapat dipertanggungjawabkan. Bagi seorang akademis, data mentah saja tidak cukup, namun masih perlu dianalisis. Dan analisis tanpa ilmu bukanlah sebuah analisis yang patut diperhitungkan. Untuk menganalisis sebuah isu, dibutuhkan pisau analisis yang tepat dan komprehensif, bukan “ujug-ujug” melakukan penarikan kesimpulan dan dianggap sebagai kebenaran.

Mendapati keadaan semacam ini, menurut saya solusinya sederhana, agar demokrasi kita tetap menjunjung tinggi kebebasan dan keadilan:

  1. Mewakilkan suara kita kepada Ulama
  2. Mewakilkan suara kita pada orang yang kompeten di bidangnya

Perwakilan merupakan standar resmi yang disusun oleh para founding fathers kita di awal masa kemerdekaan dahulu, yang juga masih utuh tertuang di dalam salah satu sila dasar negara kita, Pancasila, yaitu “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan” (sila ke-4). Perwakilan juga merupakan menjadi ciri ketika kabilah-kabilah di Madinah berbaiat kepada Rasulullah untuk setia menjadi pelindung dan pendukung dakwah Islamiyah kepada masyarakat jahiliyah.

Maka, demokrasi yang tepat bagi bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam adalah dengan permusyawaratan perwakilan. Yakni, mewakilkan suaranya kepada mereka yang kompeten untuk mengatur bangsa ini. Kita dapat membayangkan bagaimana jadinya ketika 100 orang kurang ilmu membantah seorang profesor bidang kelistrikan akan bahaya listrik yang mengancam. Kita juga tak bisa membayangkan bagaimana jadinya ketika 100 ribu orang mengatakan bahwa zina adalah ibadah, sedangkan golongan yang sedikit mengatakan dengan jelas bahwa seks bebas adalah dosa besar yang pelakunya patut dihukum keras.

Oleh karenanya, mari jadikan diri sebagai pribadi yang mampu memilah, memilih serta menganalisis isu yang tengah bergentayangan, serta tidak latah menarik kesimpulan tanpa ilmu pengetahuan.

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Camp PT SRL Pulau Pinang-Kembang Janggut, Kabupaten Kutai Kartanegara – Kalimantan Timur
Selasa sore, 05 Dzulhijjah 1435 H/30 September 2014 pukul 17.20wita

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Selasa, 15 Oktober 2014 pukul 08.00wita

Comments
One Response to “Overload Informasi dan Kekurangcakapan Analisis Isu*”

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: