Antara Kekaguman dan Kekecewaan*

Sumber Ilustrasi Gambar dari sini

Antara Kekaguman dan Kekecewaan*

*Oleh Muhammad Joe Sekigawa, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Adalah jalan juang para ikhwah Tarbiyah dan berbagai elemen kelompok umat Islam lainnya untuk turut serta mewarnai pemerintahan dari mulai tingkat terkecil hingga kenegaraan di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mewarnai dalam pengertian yang positif, yakni membawa pesan moral dan nilai yang sesuai dengan harkat dan martabat Bangsa Timur yang memegang teguh asas dasar keagamaan, Islam..

Kalau mau ditelisik lebih jauh, ikhwah Tarbiyah bukanlah “pemain” baru di ranah perjuangan dakwah intra parlementer ini. Karena sejak jauh sebelum kemerdekaan kita raih, peran ulama dan para santri tidak bisa dipandang sebelah mata, untuk mencita-citakan Indonesia merdeka dari penjajah (baca ulasan buku “Api Sejarah” karya Ahmad Mansur Suryanegara). Pun ketika masa awal kemerdekaan ini, tarik menarik ideologi sedemikian kuatnya sehingga terpolarisasi menjadi tiga kelompok besar: Nasionalis, Komunis dan juga Islamis. Maka, ikhwah Tarbiyah adalah pejuang yang menempatkan dirinya pada golongan Islamis agar dapat menjadikan Negeri Kaya Indonesia ini menjadi Sepenggal Firdaus (surga) di Muka Bumi, insya Allah.. ^_^

Syukur alhamdulillah, sejak keikutsertaan jama’ah Tarbiyah secara langsung dalam pentas perpolitikan Indonesia, kini telah banyak anggota DPR, Kepala Daerah di tingkat Walikota, Bupati, Gubernur hingga Menteri yang merupakan kader “murni” dari jama’ah. Tentu saja hal ini memberikan kegembiraan yang begitu luar biasa atas pencapaian tujuan Islam yang akan menjadi rahmat bagi semesta alam. Ekspektasi yang besar kita titipkan kepada mereka, para kader “asli” jama’ah untuk dapat memberikan solusi alternatif Islam, yang akan dipertandingkan dengan alternatif solusi Sekuler dan Liberal yang tentu saja sama sekali tidak mampu menyelesaikan persoalan yang ada. Kalau pun terlihat mampu menyelesaikan masalah, sesungguhnya itu hanyalah ilusi semacam bom waktu yang dapat meledak kapan pun juga..

Sebagai orang yang “terpilih”, banyak harapan-harapan yang kadarnya berbeda-beda, tergantung dari orang yang menggantungkan harapan tersebut. Dan tulisan ini tercipta karena adanya penuturan kekecewaan yang begitu luar biasa setelah ia sempat kagum dan menaruh hormat terhadap perjuangan ikhwah Tarbiyah, yang secara kelembagaan menamakan dirinya sebagai Partai Keadilan Sejahtera alias PKS..

Sahabat karib saya ini tengah bercerita tentang masa kerjanya yang sudah beberapa bulan menempati Kantor Salemba No. 28 Jakarta Pusat, Kantor Kementerian Sosial RI. Kebetulan, Menteri yang ditempatkan di Kemensos saat ini adalah Dr. H. Salim Segaf al Jufri, MA. Saya cukup khusyuk ketika mendengarkan ceritanya yang begitu cetar membahana. Kalau dibilang ia tengah “emosi”, rasanya tidak ya, karena saya telah mengenalnya selama empat tahun di Kampus STKS Bandung. Dan gaya story telling semacam itu adalah ciri khas yang mampu membangkitkan empati dan “emosi” (dalam pengertian (positif) lawan bicaranya.. ^_^

Begitu cepat ia mengemukakan apa-apa saja yang menjadi uneg-uneg nya, atas ketidakprofesionalan (menurutnya) dan kekecewaannya pada big bos-nya tersebut. Tanpa analisis rangkap dua atau rangkap tiga, langsung saja ia hubungkan identitas “Tarbiyah” menteri tersebut dengan tata kerja yang dianggapkan kurang cocok. Ya, saya rasa tidak ada yang salah dengan protesnya tersebut.. ^^

Sembari membiarkan dirinya mengungkapkan apa saja yang menjadi pendapatnya, saya menunggu sejenak. Ketika tiba waktunya ia meminta saran/pendapat, maka saat itulah saya mencoba untuk menjelaskan sejauh pemahaman saya pribadi. Bahwa ia merasa kecewa, saya membenarkan hal tersebut. Tetapi ketika selanjutnya adalah jama’ah menjadi objek generalisasi bahwa semua orang di PKS pasti demikian, ini yang menjadi titik pemahaman yang harus dipahami bersama, bahwa tidak demikian adanya..

Menurut pendapat saya, bisa jadi apa yang tengah dialami oleh sahabat karib saya tersebut hanyalah kesalahpahaman dalam melaksanakan instruksi kerja. Saya kira hal seperti ini wajar dialami baik di dalam kerjasama intra organisasi dan juga di dalam aktivitas dunia kerja, baik swasta maupun pemerintahan. Dan bisa jadi, hal tersebut tidak serta merta dapat dihubung-hubungkan dengan kredibilitas jama’ah. Saya memahami perasaan sahabat saya tersebut, dan saya menganalisa bahwa hal tersebut terjadi hanya karena perbedaan cara pandang dalam melaksanakan instruksi kerja yang ada..

Sekelumit cerita tentang sahabat saya yang “kecewa” pada oknum, dan “kagum” terhadap banyak oknum lainnya, bisa jadi merupakan contoh kasus yang banyak jumlahnya. PKS memang begitu keadaannya, mau dibenci tapi masih sayang, mau terlalu sayang tapi terkadang juga bisa membikin sakit hati (kecewa karena perbedaan cara pandang) he he..

Nah, maka tulisan sederhana ini mencoba menjadi sedikit pengingat bagi kita semua, bahwa profesionalitas kerja itu harus seimbang dengan amanah dakwah yang kita emban. Seringkali kita hanya mampu menitikberatkan pada salah satunya. Ketika begitu ahli di bidang science, kemudian menjadi lemah pada penguasaan materi-materi dakwah keagamaan. Pun begitu pula sebaliknya, ketika seseorang mendapatkan label Ustad, Kiai atau bahkan Ulama, kemudian menjadi begitu lemah dan tidak cakap ketika berbicara tentang ilmu eksakta ataukah manajemen kepemeimpinan di tingkat regional, nasional maupun global..

Itulah mengapa, ketika jama’ah Tarbiyah menyadari bahwa Islam itu syumul (menyeluruh), maka kader-kader Tarbiyah adalah mereka yang mumpuni di bidang penguasaan ilmu duniawi, tapi dibingkai dengan pemahaman Islami, sehingga langkah-langkahnya merupakan langkah dengan bimbingan Illahi, bukan langkah dengan bimbingan nafsu syaitoni..

Mihwar-mihwar yang ditetapkan oleh jama’ah, mulai dari mihwar Tandzimi, Mihwar Sya’bi, Mihwar Muassasi dan saat ini tengah menyongsong pada mihwar Daulah, telah mampu mencetak generasi-generasi pejuang dakwah dengan berbagai expertise (kepakaran) profesi seperti dosen, peneliti, dokter, pengacara, dan lain sebagainya. Maka, ketika ada satu praktik dari kader yang “agak” mengecewakan, ya patut kita ingatkan bersama. Bahwa jalan juang ini memang bukanlah jalan mudah, banyak batu terjal menghadang di setiap langkahnya, bahkan ada ribuan godaan yang siap melenakan, sehingga menyebabkan kita tak pernah mampu untuk sampai ke tujuan.. Allahu Akbar..!

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kota Raja-Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Kamis siang, 02 Dzulqo’dah 1435 H/28 Agustus 2014 pukul 12.50wita

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Senin, 15 September 2014 pukul 08.00wita

Comments
2 Responses to “Antara Kekaguman dan Kekecewaan*”
Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] Source: Antara Kekaguman dan Kekecewaan* […]



Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: