Merangkai Semangat Dakwah yang Berserakan

Sumber gambar dari sini

Merangkai Semangat Dakwah yang Berserakan*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Suasananya memang berbeda dengan ketika sedang tinggal di daerah perkotaan. Tempat dimana begitu mudah menemukan halaqah/pengajian dan taklim-taklim ilmu yang tersebar banyak di masjid-masjid, baik masjid kelurahan maupun masjid kampus. Tapi kondisi sebaliknya terjadi dengan pengalaman yang harus saya temui saat ini, tempat dimana kampung-kampungnya terletak jauh dari jangkauan, dan bahkan di dalamnya belum mampu berdiri masjid sebagai tempat beribadah kepada Allah azza wa jalla karena jumlah muslimnya yang minoritas..

Tidak bisa dipungkiri bahwa tarbiyah dzatiyah seringkali terkalahkan oleh rutinitas keseharian dimana lingkungannya tidak memungkinkan untuk tholabul ‘ilmi sebagaimana yang dirasakan oleh para pegiat dakwah kebanyakan yang tinggal di daerah perkotaan. Buku-buku yang menumpuk dan mengantri untuk dibaca pun menjadi semakin berat “dikonsumsi”, sehingga kebanyakan hanya jadi “pajangan” semata yang tak juga rampung dibaca..

Maka, pada malam hari ini, dimana rasa rindu kepada isteri semakin menggebu, sedangkan semangat dakwah semakin mengendur. Saya pun mulai membuka folder “Film Islami” yang saya simpan di dalam laptop pribadi. Di sana saya pilih salah satu koleksinya yang berjudul “Sang Murabbi”. Film ini dibuat untuk mengenang perjuangan KH. Rahmat Abdullah dalam peran dan perjuangan beliau bersamaa Jamaah Tarbiyah yang sejak pada akhirnya bertransformasi menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS)..

Namun bagi diri saya, itu semua lebih dari sekedar “mengenang”, melainkan salah satu cara untuk memperbarui semangat dakwah. Film “Sang Murabbi” mampu menjadi refleksi yang pada saat dibuatnya film tersebut, sampai dengan hari ini, kurang lebih dinamikanya tidak terlalu jauh berbeda. Saya pribadi telah menonton film tersebut lebih dari tiga kali, tapi lebih dari tiga kali itu juga, seakan-akan saya baru menonton untuk pertama kalinya. Lecutan semangat di dalam diri meningkat tajam atas refleksi perjalanan dakwah yang tidak luput dari godaan duniawi dan syahwati ini..

Dakwah ini, kita mulai dengan keterasingan, keadaan dimana pendalaman Islam dianggap sebagai pelanggaran, menutup aurat (jilbab) dianggap sebagai bentuk kemunduran yang harus dijauhkan dari kehidupan, dan berbagai macam cobaan lainnya. Namun, keadaan itu lambat laun menjadi membaik dan menunjukkan kemekaran dakwah yang bisa dipetik dan dirasakan harum wanginya. Namun apa yang kemudian terjadi? Jabatan dan harta menjadi salah satu penyaring yang menggugurkan para pejuang dakwah di jalan ini. Lalu, dengan fenomena tersebut, apakah manhaj tarbiyahnya yang dipersalahkan? TIDAK..!! Karena akan selalu ada orang-orang yang masih tetap berjuang lurus dan tulus ikhlas karena Allah. Maka, tugas kita sebagai salah satu batu-bata tarbiyah di jalan dakwah ini, tidak boleh berdiam diri, atau bahkan menyalahkan sebagian saudara kita yang tengah lalai dimabuk godaan duniawi, melainkan harus bisa mengingatkan dimana tempat berpijak kita pada awalnya..

Inilah salah satu pesan penting yang dapat saya tangkap setelah menonton film tersebut. Ini hanyalah salah satu sudut pandang yang saya miiliki, bisa jadi, ketika Anda sendiri yang menonton film tersebut, maka akan dapat mencerap semangat yang lain lagi. Namun yang terpenting adalah, bahwa berada di posisi manapun kita saat ini, apakah masih menjadi kader pemula, murabbi, pengurus DPD, anggota legislatif, atau bahkan setingkat menteri, maka pesan yang selalu ditancapkan di dalam hari sanubari adalah, kembalilah kepada asholah dakwah, kembalikan kepada Al Qur’an dan As Sunnah, tidak boleh tersilaukan dengan nikmat duniawi yang dapat melalaikan tujuan ukhrawi..

Maka, catatan ini pada dasarnya khusus ditujukan kepada diri saya pribadi. Dimana disaat merasakan “galau” tingkat tinggi karena tengah berposisi mengemban amanah pekerjaan di tengah hutan dan begitu jauh dari sumber sumur ilmu sebagaimana kehidupan sebelumnya ketika masih menjadi mahasiswa di Kota Kembang. Tetapi ketika ada manfaat yang bisa dipetik dari catatan singkat ini, semoga dapat menambah amalan ibadah sebagai bekal di akhirat kelak..

Segala yang benar datangnya dari Allah dan segala tulisan yang salah datangnya dari kesalahan saya sendiri. Billahi taufik wal hidayah, wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakaatuh..

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Camp PT SRL Pulau Pinang-Kecamatan Kembang Janggut, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Selasa dini hari, 24 Ramadhan 1435 H/22 Juli 2014 pukul 00.08 wita

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Sabtu, 09 Agustus 2014 pukul 08.00wita

Comments
One Response to “Merangkai Semangat Dakwah yang Berserakan”

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: