Road to Khitbah*

03 Story Taaruf-Walimah Joko-Iis

03 Story Taaruf-Walimah Joko-Iis

Road to Khitbah*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Sejak hari Rabu sore (08/01) kemarin, Pa’e dan Mas Wahib sudah berangkat dari Kota Bojonegoro menuju Kota Bandung menaiki Kereta Harina. Saya pun agak terkejut dengan rute tersebut, karena sebelumnya, tidak ada rute kereta api dari Surabaya-Bandung melewati Kota Bojonegoro. Hanya ucapan syukur alhamdulillah yang saya panjatkan atas kemudahan ini, keluarga jadi tidak perlu jauh-jauh menuju Surabaya untuk menaiki kereta jurusan Surabaya-Bandung, karena posisi kota Bojonegoro lebih dekat dari rumah Bancar (Pa’e) maupun Rengel (Mas Wahib)..

Di sisi lain, sore kemarin saya mulai mengontak Akh Sulaeman, adik kelas di STKS Bandung yang juga kader KAMMI STKS Bandung, untuk membeli buah yang diparcel. Persiapan ini berjalan lancar, komunikasi untuk penjemputan juga tidak ada masalah. Ustad Eko jauh-jauh hari telah saya kabarkan bahwa Pa’e dan Kakak akan silaturahim di rumah beliau, sekaligus istirahat sejenak untuk mandi guna menyegarkan badan dari perjalanan panjang. Namun, dalam perjalanannya, ternyata Pa’e dan Kakak dibawa ke Dago Jati, tempat dimana saya dahulu melangsungkan sesi ta’aruf..

Waktu bersejarah itupun tiba, Kamis pagi (09/01). Sebuah khitbah yang sangat sederhana, bahkan saya tidak bisa hadir di tengah-tengah keluarga sang akhwat karena posisi saya yang masih bekerja di hutan Kembang Janggut Kabupaten Kutai Kartanegara. Tanpa mengurangi esensi makna dari prosesi khitbah tersebut, alhamdulillah semua berjalan dengan lancar tanpa ada halangan suatu apapun..

Saya tidak tahu persis apa yang terjadi dalam proses khitbah tersebut. Namun, hal mengesankan adalah seperti yang diungkapkan oleh Mas Wahib, kakak pertamaku yang mewakili keluarga bersama Pa’e yang datang ke Bandung. Kesan dari Mas Wahib, secara keseluruhan sangat nyaman, suasana kekeluargaan yang ditunjukkan begitu luar biasa. Mulai dari penjemputan oleh Akh Sulaeman dan Ustad Eko, transit sejenak di rumah Abah Anom, hingga sampai di rumah keluarga sang Akhwat. Semuanya menunjukkan penerimaan yang sangat memuaskan. Bahkan, tindakan orang tua sang Akhwat yang mengantarkan beliau berdua sampai ke terminal Cicaheum, meninggalkan kesan mendalam. Alhamdulillah..

“Keluarganya sangat baik, anaknya juga sangat sopan, dan terkesan penurut, insya Allah kamu tidak salah pilih”, demikian tutup Mas Wahib ketika saya telfon. Dan langsung saja kutimpali, “Alhamdulillah, insya Allah Mas. Tapi jangan salah, giti-gitu anaknya tukang demo lo he he he”, sambil melontarkan canda ke Mas Wahib..

Tak lupa, saya juga meminta pendapat dan pandangan dari Pa’e. Soalnya, kata Mas Wahib, Pa’e hanya diam saja disebabkan kurang pede untuk berbicara dalam bahasa Indonesia. Kalau berbicara dalam bahasa Jowo Kromo Inggil (bahasa Jawa halus), beliau cukup fasih, namun dalam bahasa Indonesia, rasanya seperti kehabisan kata-kata. “Iyo, apik tenan keluargane. Bocahe yo meneng. Insya Allah cocok lah”, terang Pa’e dengan logat Jawa kentalnya. Artinya kurang lebih ya beliau mengakui bahwa keluarganya sangat baik, anaknya juga terlihat pendiam dan santun, insya Allah cocok. Aamiinn..

Suatu nikmat yang begitu luar biasa dicurahkan oleh Allah kepada hamba yang penuh salah dan dosa ini. Maka, sudah sepatutnya tak ada satupun nikmat yang dapat didustakan, harus senantiasa terus bersyukur sepanjang waktu, sepanjang hayat, sepanjang zaman..

Urusan telah selesai, misi telah tercapai, khitbah diterima dengan penuh suka cita dari keluarga sang Akhwat, hubungan kedua keluarga menjadi semakin lebih erat, dan waktunya Pa’e&Mas Wahib undur diri dari Kota Kembang. Tanpa mengenal lelah, siang itu juga beliau berdua langsung menaiki bus jurusan Bandung-Cirebon, kemudian akan melanjutkan Cirebon-Semarang dan baru kemudian, Semarang-rumah di Bancar..

Cover 18 Mar 2014 - CopyKalau dipikir-pikir lagi, ini seperti mimpi. Hanya satu kali bertemu secara langsung dengan akhwat tersebut, namun dengan seiring perjalanan ini, benih-benih cinta itu semakin menguat, dan semoga mampu kujaga sampai tiba waktunya, akad nikah terucapkan dengan persaksian minimal dua orang wali, hingga lafadz sakinah bermula, membentuk keluarga baru yang bahagia, optimis menatap masa depan, bersemangat untuk meningkatkan keimanan, meneruskan keturunan dengan melahirkan mujahid dan mujahidah dakwah fi sabilillah di masa mendatang. Harapan Indonesia menjadi sepenggal firdaus di muka bumi itu, akan terwujud suatu saat nanti. Insya Allah..

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kembang Janggut Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur
Kamis sore, 07 Rabiul Awal 1435 H/09 Januari 2014 pukul 16.25wita

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Ahad, 20 Juli 2014 pukul 08.00wita

Keterangan: Artikel ini termasuk rangkaian cuplikan narasi dalam Buku “Kado Cinta 4 Isteri Sholihah” yang dihadiahkan sebagai mahar kepada Sang Isteri Tercinta [Iis Syarifah Latif] yang kami telah melaksanakan akad nikah pada tanggal 30 Mei 2014.

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: