Sosok Isteri Sholihah: Iis Syarifah Latif*

Foto ku

IMG-20130921-00007

Sosok Isteri Sholihah: Iis Syarifah Latif*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Suatu hal yang diimpikan oleh pasangan rumah tangga kaum muslimin adalah tercapainya kondisi sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an Surat Ar Ruum ayat 21, “. . . supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya (litaskunuu ilaihaa), dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang (mawaddatan warahmah). . .”. .

Suatu momen paling fenomenal dalam kehidupan saya yang tidak akan pernah bisa terlupakan adalah di hari Jum’at, 30 Mei 2014 dimana akad pernikahan dilangsungkan. Dengan kata lain, semenjak dinyatakan “sah” itulah, seorang bidadari dunia telah resmi berada dalam tanggung jawab pribadi saya. Setelah sebelumnya bertanggung jawab terhadap diri sendiri, namun semenjak itu telah ada tanggung jawab satu orang lagi, yakni seorang isteri sholihah, dialah Iis Syarifah Latif binti Dida Hidayat..

Siapa yang tidak ingin memiliki seorang isteri yang paling baik daripada segala perhiasan dunia? Tidak ada pertentangan apapun bahwa para suami muslim yang normal, tentu saja mendambakan seorang isteri sholihah. Dalam sebuah hadist, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Dunia itu perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah” [HR. Muslim, 3716]..

Tidak terlampau sulit untuk membedakan mana isteri yang sholihah dan mana yang bukan, karena ketaatan itu dapat diindera dengan jelas dan tampak kasat mata. Wanita sholihah adalah para wanita yang senantiasa melaksanakan perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya. Ketaatan pertama dan utama yang dapat ditengarai adalah dengan menutupnya ia pada seluruh aurat kecuali muka dan kedua telapak tangan. Ketaatan berikutnya diikuti dengan pelaksanaan ibadah yang telah diwajibkan oleh Allah, ditambah ibadah-ibadah sunnah yang telah menjadi the way of life, bukan karena tren atau pemaksaan dari pihak lain. Wanita sholihah juga sangat takut untuk bermaksiat kepada Allah, baik dalam kondisi ramai manusia maupun suasana sepi..

Keutamaan menikahi wanita sholihah ini telah dipesankan oleh Rasulullah sejak lebih dari 1400 tahun silam, “Wanita itu biasanya dinikahi karena empat hal. Yaitu, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya. Untuk itu nikahilah wanita yang agamanya baik, niscaya engkau akan beruntung” [HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An Nasa’i, dan Ibnu Majah]..

Isteri yang sholihah, memang merupakan anugerah dari Allah yang patut disyukuri tanpa henti. Tapi, ia juga datang tanpa usaha sama sekali, melainkan memerlukan tata cara yang baik, proses yang baik, dan diperjuangkan dengan sekuat tenaga. Dan subhanallah, seperti yang banyak diimpikan oleh segenap aktivis dakwah di seluruh belahan dunia, alhamdulillah kami mampu untuk memulai jalinan rumah tangga sakinah tanpa mengawalinya dengan aktivitas pacaran sebagaimana dibiasakan oleh remaja kebanyakan di masa kini..

Isteri sholihah-ku bernama Iis Syarifah Latif yang juga telah saya sebutkan di atas. Namun, memang beginilah pada kenyataannya, bahwa jari ini tak pernah letih dan selalu saja ingin terus menuliskan namanya. Suasana rindu begitu menggebu dan terus bertumpuk di dalam qalbu. Untungnya, rindu ini didasari atas ketaatan kepada-Nya, sehingga ketika melankoli itu menghampiri, tak sampai mendominasi..

Iis Syarifah Latif, sejak lulus SD telah dipondokpesantrenkan oleh orang tuanya. Jadilah ia sekolah Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP) di Husnul Khatimah, sebuah pondok pesantren modern dan cukup besar di daerah Kuningan, Jawa Barat. Kemudian, dilanjutkan pada Madrasah Aliyah (setingkat SMA) di tempat yang sama hingga lulus. Maka, genap enam tahun isteriku dibina dengan pendidikan full agama. Subhanallah..

Sesuai dengan namanya, yang merupakan doa dari kedua orang tuanya, isteri sholihah-ku adalah seorang sosok wanita penuh kelembutan dan sifat pemalu yang begitu tinggi. Meski demikian, ia tetap mampu tampil beberapa kali menjadi juara umum di sekolah pesantrennya. Dalam enam tahun tahun tersebut, dirinya juga sempat menghafalkan 5 juz Al Qur’an, yakni di Juz 30; Juz 29, Juz 1, 2 dan 3. Namun karena kurangnya penjagaan, maka hafalan itu sebagian besar telah hilang. Saat ini, dirinya berusaha keras agar hafalan 5 juz tersebut dapat kembali lagi, dan setelahnya baru kemudian akan menambah hafalan pada juz-juz berikutnya. Di tempat kerjanya saat ini (Rumah Zakat, Bandung) ia juga diamanahi untuk mengajar tahsin kepada beberapa ibu-ibu yang punya semangat tinggi untuk belajar membaca Al Qur’an dengan baik dan benar. Selain itu, isteriku juga sosok yang dikenal begitu patuh dan taat kepada kedua orang tuanya. Allahu Akbar, keshalihan diri seperti apa lagi yang saya bisa harapkan lebih dari itu semua?. Hanya beribu ucap syukur yang senantiasa saya panjatkan kepada Rabbul izzati, Allah subhanahu wata’ala..

???????????????????????????????Saya sadari sepenuhnya, bahwa kehadirannya adalah sebuah amanah besar dalam hidup saya. Dalam kehidupan yang tidak lama namun menentukan kehidupan selamanya di akhirat nanti tersebut, akan saya pergunakan dengan sebaik-baiknya. Inilah mulianya Islam, dalam kehidupan rumah tangga Islami, tidak ada satu pihak yang diuntungnya dan satunya dirugikan. Namun, agama Islam memberikan pedoman kepada kita untuk senantiasa berlemah lembut kepada isteri dan memenuhi segala kebutuhannya. Sebaliknya, seorang isteri juga menyediakan apapun yang dibutuhkan oleh suaminya, serta memberikan pelayanan terbaik, dari segi lahir maupun batinnya..

Rumah tangga sakinah itu adalah dimana keduanya saling merasa butuh satu sama lain, saling mengisi atas kekurangan masing-masing, serta saling mendukung untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah azza wa jalla..

Maka dapat saya katakan bahwa visi rumah tangga ini tidak hanya sebatas di dunia semata. Karena kami berdua sama-sama menyadari bahwa dengan bersatunya potensi kami berdua, harus dapat saling menyelamatkan dari azab Allah, dan menyampaikan kami berdua berhimpun di dalam jannah-Nya. Visi akhirat, diletakkan di atas visi duniawi yang rapuh dan hina, insya Allah..

Dan isteri sholihah itu bernama Iis Syarifah Latif.. I love you, from May 30th 2014 until forever and everlasting.. Insya Allah.. (^_^)

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kembang Janggut-Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Selasa malam, 18Sya’ban 1435 H/17 Juni 2014 pukul 21.12 wita

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Rabu pagi, 09 Juli 2014 pukul 10.15wita

Comments
2 Responses to “Sosok Isteri Sholihah: Iis Syarifah Latif*”
  1. I.S. Siregar says:

    Wahh, selamat ya mas. Barakallahu ‘alaikuma wa jama’a bainakuma fii khoir.😀
    semoga menjadi keluarga samaraba (sakinah, mawaddah, rahmah wa barakah).

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: