Kisah “Rindu” di Sore Hari*

jual bungaKisah “Rindu” di Sore Hari*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Waktu itu hari Kamis sore, 22 Mei 2014 tidak seperti biasanya, saya masih bersilaturahim di rumah salah satu tokoh Desa Long Beleh Haloq Kecamatan Kembang Janggut Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur. Padahal waktu jam kerja saya berakhir pukul 16.00wita, dan memang biasanya jika ada urusan di desa-desa binaan perusahaan tempat saya bekerja, pukul 15.00wita telah mengundurkan diri dari desa..

Sore itu, saya menunggu datangnya Pak Syahlinur selaku Ketua BPD Long Beleh Haloq guna membicarakan rencana realisasi program kerja perusahaan tempat saya bekerja untuk desa. Ya, koordinasi itu hal yang esensial untuk kesuksesan pelaksanaan sebuah program kerja. Maka, saya pun menunggui beliau pulang dari kebun, yang sebelumnya telah ditelfon oleh sang isteri..

Dalam rangka menunggu Ketua BPD itulah ada hal mengesankan yang ingin saya bagi kepada para pembaca sekalian. Sebuah kisah sederhana, tapi begitu membekas di hati dan pikiran saya, serta memberikan hikmah yang begitu luar biasa. Kalau begitu, mari kita mulai ceritanya.. ^^

Adalah seorang anak gadis berparas manis berseru kesana kemari. Ditentengnya dua buah keranjang berisi kue-kue jajanan yang masih hangat. Kulitnya tampak kecoklatan di bawah sengatan terik matahari sore, namun sorot matanya menunjukkan keceriaan dan keriangan seolah tak ada beban yang memberatkan pundak mungilnya itu. Dalam perjalanannya di sepanjang jalanan Desa Long Beleh Haloq, ia tawarkan kue dagangannya kepada para ibu-ibu yang biasa bercengkarama di depan rumah dengan anak-anaknya..

Ketika ia hampir sampai melewati rumah dimana saya menunggu Bapak Ketua BPD, saya pun mengamatinya dengan lekat sambil melemparkan senyum kepadanya, tampak ia sedikit malu namun tetap menawarkan kue jualannya layaknya seorang pedagang yang telah ahli dalam berdagang. Teriakan setengah keras itu dalam bahasa “Kutai” yang saya sendiri tak begitu tahu maknanya, namun dari perangainya terlihat jelas bahwa ia menawarkan kue yang masih hangat itu..

Kebetulan isteri dari Ketua BPD memanggilnya untuk membeli beberapa kue. Saya pun langsung menyapanya dan memberikan beberapa pertanyaan. Namanya siapa dek? Sekolah kelas berapa?, beberapa pertanyaan ringan yang dengan cepat dijawabnya dengan sedikit malu namun fasih dan terlihat semangat dan ketegaran diri yang begitu luar biasa. Sedikit perbincangan itu, saya ketahui bahwa gadis cilik itu bernama “Rindu”, usianya sekitar 10 tahunan dan saat ini menginjak kelas IV SD dan akan naik ke kelas V SD pada bulan Juni 2014 mendatang..

Maka tanpa berpelit kata, saya pun mengungkapkan apresiasi terhadap Rindu atas aktivitas sore harinya tersebut. “Rindu hebat ya, sore-sore begini mau berkeliling desa untuk jualan kue, padahal yang lain pada sibuk bermain saja”, begitu puji tulus saya padanya. Ia pun tersipu malu, tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata apapun. Dan memang benar, pujian saya itu bukan sekedar lips service semata. Hal ini karena saya dahulu pada waktu kecil juga pernah merasakan menjual jambu sebelah rumah yang saya kantongi di tas sekolah, tapi saya yang seorang anak laki-laki kala itu sangat pemalu untuk berjualan. Namun, ia seorang gadis cilik berparas manis itu, dengan raut muka riang menjajakan kue jualannya. Ada perasaan haru, bahagia, dan kesalutan pada gadis kecil itu, “Rindu” namanya..

Kebahagiaan pertama karena saya tahu dia tetap sekolah, dan kebahagiaan selanjutnya adalah roman muka yang penuh keceriaan itulah yang membuat dada bergemuruh, ternyata ada anak yang seperti dia di desa terpelosok ini, semangatnya begitu menyala. Tentu saja angan saya langsung mengawang akan masa depan seorang gadis manis bernama “Rindu” ini..

Namun, saya hanyalah seorang saya yang bukan siapa-siapa sehingga tidak ada hal istimewa yang dapat saya berikan kepadanya. Hanya berharap dan berdoa, sembari masa kecilnya yang akan beranjak ke masa remaja, senantiasa didekatkan dengan ilmu agama. Saya tahu bahwa masyarakat di kampung ini hampir 100% muslim religius, dan saya berharap “Rindu” menjadi bagian golongan yang beruntung dengan menggenggam erat keimanan dan ketaqwaan kepada-Nya..

Dengan pengalaman masa kecil seperti itu, mampu berjualan dengan riang, saya yakin di masa mendatang dia akan tumbuh menjadi sesosok gadis yang kuat dan mandiri..

Ya Allah, saya mendoakan kebaikan yang banyak bagi dirinya, dimudahkan jalannya, dan dijadikan anak yang tumbuh masa remaja dan dewasanya menjadi akhwat militan dan berjuang dalam dakwah di jalan-Mu.. Aamiin ya Rabbal aalaamiin..

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kembang Janggut-Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Jum’at malam,24 Rajab 1435 H/23 Mei 2014 pukul 20.30wita

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Senin, 02 Juni 2014 pukul 08.00wita

??????????????????????????????? == ???????????????????????????????

Comments
4 Responses to “Kisah “Rindu” di Sore Hari*”
  1. Anas Azhar says:

    jadi belajar dari Rindu, menginspirasi …

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: