Membersamai Pegiat Dakwah di Kampung Pedalaman Kutai Kartanegara*

08 Mei 14_Suasana Santri di Kamar Mes Enggang PT SRL

08 Mei 14_Suasana Santri di Kamar Mes Enggang PT SRL

Membersamai Pegiat Dakwah di Kampung Pedalaman Kutai Kartanegara*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan segala rahmat dan nikmat-Nya, hingga nikmat terbesar bagi hamba-Nya adalah nikmat iman dan Islam, serta kemampuan untuk senantiasa terus berjalan di atas jalan dakwah, sebuah jalan untuk menyebarkan pemahaman Islam yang lurus dan benar sesuai dengan kebenaran dari-Nya..

Jalan dakwah ini adalah sebuah konsekuensi atas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah azza wa jalla karena firman-Nya, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” [Q.S. Ali Imran: 104].Dan kita terus menapaki jalan ini bukan karena menginginkan kemasyhuran, kedudukan tinggi atau puja-puji dari manusia, melainkan karena ingin mendekatkan diri kepada Allah dengan mengajak sebanyak-banyaknya manusia supaya beriman kepada-Nya..

Jalan cerita yang dipilihkan oleh Allah memang selalu tiada disangka-sangka. Sudah tepat satu tahun per tanggal 06 Mei kemarin, saya berada di wilayah Kembang Janggut Kabupaten Kutai Kartanegara, meski memang tidak benar-benar tepat berada di perkampungan Desa Kembang Janggut, melainkan menetap di Camp Rig yang jaraknya sekitar 15 menit perjalanan menggunakan motor. Tapi baru pada malam hari kemarin (Rabu malam, 08 Rajab 1435 H/07 Mei 2014) saya dipertemukan dengan mereka untuk kali pertama selama menginjakkan kaki di tanah Kembang Janggut Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur..

Memang benar, sedari pertama kali datang ke Kembang Janggut, saya telah mengontak ikhwah dari Jakarta untuk dihubungkan dengan pegiat dakwah di Kalimantan Timur. Maka, saya sempat terhubung dengan bagian kaderisasi di Samarinda, kemudian dihubungkan lagi ke bagian kaderisasi Kabupaten Kutai Kartanegara, lanjut ke ikhwah di Kota Bangun, dan sampai jaringan terkecil, saya mendapatkan kontak person pegiat dakwah Tarbiyah di Kecamatan Kembang Janggut. Subhanallah, sebuah nikmat yang tidak terkira..

Namun, jalan cerita ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Karena waktu itu saya adalah “orang baru” di perusahaan tempat saya bekerja, maka untuk banyak keluar dari camp akan mengundang banyak pertanyaan. Alhasil, untuk rencana-rencana pertemuan dengan pegiat dakwah di Kembang Janggut dan desa sekitarnya seperti Hambau, Loa Sakoh dan Genting Tanah, tidak dapat saya ikuti. Selain itu, saya juga hanya memiliki waktu yang terbatas, karena sistem kerja di perusahaan tempat saya bekerja tidak ada hari libur, meski itu tanggal merah sekalipun. Namun, libur baru diberikan selama 10 hari setelah karyawan genap 30 hari bekerja full time..

Bulan pertama liburan saya  pergunakan untuk mengunjungi Kota Samarinda dan jalan-jalan tanpa kawan. Beberapa hari berikutnya, saya tetapkan untuk tinggal di Ponpes Tahfidz Qur’an yang berada di Kecamatan Kota Bangun, saya mendapatkan kontaknya dari jaringan ikhwah di Kota Bangun tersebut. Dalam kesempatan itulah, Allah memilihkan jalan agar saya dapat bersegera mengenal ikhwah di Kota Tenggarong (ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara). Dan pada bulan-bulan berikutnya, saya mulai memanfaatkan liburan di Kota Tenggarong dan tinggal di Kantor DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Kutai Kartanegara..

Karena sudah merasa nyaman di Tenggarong dan memiliki banyak kawan yang seumuran dan sepemikiran, maka saya pun memutuskan untuk transfer liqo’ di Kota Tenggarong saja. Meskipun hanya bisa saya jalani sebulan sekali, namun rasanya itulah pilihan yang terbaik. Dan sejalan dengan aktivitas saya di Tenggarong, maka intensitas dengan ikhwah di Kembang Janggut dan sekitarnya pun tidak dapat dilanjutkan dengan erat. Dan bahkan, silaturahim bisa dikatakan hampir tidak tersambung sama sekali..

Tapi, inilah jalan cerita yang dipilihkan oleh Allah. Pada saat saya tengah liburan di Kota Tenggarong sekitar dua pekan yang lalu, Pak Haji Subli selaku koordinator dakwah area Kembang Janggut dan sekitarnya menghubungi saya dan akhirnya bertemu di kantor DPD PKS Kutai Kartanegara. Kami pun membincangkan beberapa hal esensial terkait progress dakwah di desa pedalaman seperti Kembang Janggut dan sekitarnya. Kader yang memiliki pemahaman harakiah masih minim, sedangkan sepertinya tidak lama lagi Pak Haji Subli akan segera kembali ke Tenggarong terkait dengan amanah pekerjaan..

Singkat cerita, Pak Subli berharap agar saya dapat aktif untuk turut serta membina kader dakwah di Kembang Janggut dan sekitarnya yang selama ini telah terbina.Selain bapak-bapak dan ibu-ibu, saya juga diharapkan dapat membina kalangan remaja baik dari kalangan ikhwan maupun akhwat. Ya, memang beginilah situasinya, kader yang menjadi pembina masih terbatas, sehingga liqo’at masih dilaksanakan berbarengan dengan peserta ikhwan dan juga akhwat (bapak-bapak dan para ummahat)..

Akhirnya, saya pun menyanggupi ajakan Pak Haji Subli dan juga berharap dapat memberikan yang terbaik dari apa yang saya pelajari selama ini baik ketika mengenal Tarbiyah pertama kali di Bandung, ataupun sedikit tempaan setengah tahun bersama ikhwah di Jakarta Selatan..

Dan pada malam itulah hari bersejarah bagi diri saya, Rabu malam di tanggal 08 Rajab 1435 H/07 Mei 2014 bertempat di Langgar Al Muttaqin Desa Hambau Kecamatan Kembang Janggut, saya bertemu dengan enam ikhwan (bapak-bapak) dan empatummahat (ibu-ibu) yang telah bertahun-tahun mengaji Tarbiyah dan menggiatkan diri di jalan dakwah..

Dari berbagai profesi pekerjaan yang mereka jalankan, saya juga berikan apresiasi setinggi-tingginya karena sebagian besar dari beliau-beliau tersebut adalah memegang TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an) di daerah tempat tinggalnya masing-masing. Ada yang menjadi Ketua IKADI (Ikatan Da’i Indonesia), ada yang menjadi Imam masjid dan lain sebagainya. Masya Allah, perjuangan mereka begitu nyata. Perjuangan mereka di jalan dakwah ini, sungguh diniatkan murni kepada Allah semata tanpa ada harapan puja dan puji dari manusia lainnya..

Saya sendiri, insya Allah juga telah meniatkan di dalam hati untuk memberikan yang terbaik dari diri saya untuk diabdikan di jalan dakwah. Dakwah kampus dan dakwah perkotaan memang begitu berbeda dengan dakwah di pedalaman seperti ini. Namun, saya melihat adanya cahaya dakwah Islam yang akan menyala terang benderang yang berasal dari kampung pedalaman sekalipun. Dan itu menjadi penyemangat tersendiri yang tak pernah bisa terganti dengan hitungan materi..

Inilah proses perjalanan kehidupan saya selanjutnya. Lillah, Fillah, Billah.. Insya Allah..

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kota Raja-Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Kamis pagi,08 Rajab 1435 H/08 Mei 2014 pukul 06.38wita

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Selasa, 27 Mei 2014 pukul 08.00wita

??????????????????????????????? == ???????????????????????????????

???????????????????????????????

Comments
One Response to “Membersamai Pegiat Dakwah di Kampung Pedalaman Kutai Kartanegara*”
Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] Muhammad Joe Sekigawa Membersamai Pegiat Dakwah di Kampung Pedalaman Kutai Kartanegara* *Oleh Joko Setiawan, A Social […]



Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: