Ketika Mahasiswa Bertolak Pendapat dengan Dosen*

Sumber Ilustrasi Gambar dari sini

Ketika Mahasiswa Bertolak Pendapat dengan Dosen*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Beberapa waktu kemarin sempat heboh di berbagai media mengenai ditolaknya kedatangan Gubernur Joko Wi ke kampus ITB. Mahasiswa, khususnya KM ITB menilai bahwa kedatangan Joko Wi yang telah secara resmi dideklarasikan sebagai Presiden oleh PDI Perjuangan, adalah sebuah bentuk upaya politisasi kampus dengan kekuatan dan wewenang yang dimiliki oleh Joko Wi dan tim suksesnya..

Pro dan kontra pun bermunculan. Banyak yang mendukung sikap mahasiswa tersebut, tapi juga tidak sedikit yang mencemooh dan menganggap mahasiswa selevel ITB tapi begitu “bodoh” terkait penyikapan terhadap isu politik kenegaraan. Beberapa kekisruhan yang terjadi, menyebabkan mobil Joko Wi tidak dapat masuk melalui gerbang depan ITB, semakin meramaikan suasana..

Di era digital seperti sekarang ini, tidak hanya social media yang diisi oleh berbagai kalangan, mulai dari anak SD sampai dengan profesor sekalipun, memanfaatkan media di alam maya tersebut untuk bersosialisasi, dan juga mengemukakan pendapat..

Saya dapati di beberapa blog milik mahasiswa mapun dosen-dosen ITB, tak sedikit yang membahas mengenai isu terhangat di kampus mereka tersebut. Memang demikian, berita Joko Wi sebagai gubernur DKI Jakarta yang telah digadang-gadang menjadi calon presiden dari PDI Perjuangan selalu saja ramai diperbincangkan. Menarik..

Saya tidak ingin masuk terlalu dalam terkait dengan kampus yang tak jauh dari kampus saya tersebut. Namun, yang ingin saya bagikan di sini adalah sebuah perspektif lain dalam memandang fenomena ditolaknya Joko Wi oleh  mahasiswa ITB, yang insya Allah akan memberikan pelajaran kecil terhadap kehidupan kampus-kampus lain, terutama bagi kampus Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) tempat saya menimba ilmu selama empat tahun di Bandung itu..

Secara bergantian, antara dosen dan mahasiswa itu saling menuliskan cara pandang, pendapat dan argumennya dalam mengambil sikap. Sang mahasiswa mengomentari tulisan dosennya, begitu pula sebaliknya, Pak Dosen mengomentari tulisan mahasiswanya yang seringkali diantara kedua memiliki perbedaan cara pandang yang begitu tajam..

Inilah yang menarik. Sangat sedikit atau bahkan jarang sekali, suasana perkuliahan di dalam kampus, kemudian mahasiswa memiliki cara pandang/pendekatan yang berbeda dari dosennya. Alih-alih memberikan kebebasan berpikir dan berpendapat yang berseberangan, para dosen juga kerap kali merasa paling cerdas dan paling bisa jika dibandingkan dengan para mahasiswanya..

Dalam area konstruksi di dalam pemikiran dosen itu sendiri, saya rasa itu memang perlu. Karena, tidak mungkin kita mengajarkan sesuatu kepada mahasiswa, sedangkan kita sendiri tidak tahu terlalu mendalam tentang tema yang diajarkan. Namun, ketika para dosen menemui adanya mahasiswa yang berlainan pandangan dengan dirinya, seharusnya itu menjadi kebanggaan karena adanya mahasiswa yang kritis, dengan berdasarkan ilmu yang ia timba dari berbagai sumber, kemudian diimplementasikan dalam diskusi-diskusi interaktif di dalam kelas..

Tapi, pada kenyataannya, teori memang tak seindah kenyataan. Dosen tak pernah mau mengalah dari mahasiswanya, sedangkan mahasiswa sudah berubah menjadi “ciut nyali” untuk sekedar membuat pemikiran yang berbeda dari bapak/ibu dosennya..

Kenyataan seperti ini biasanya kerap kali kita temui ketika mahasiswa setingkat sarjana akan menggarap Skripsi/KIA. Berapa banyak mahasiswa yang kemudian mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk menyelesaikan Skripsi/KIA dengan semaksimal mungkin? Yang ada adalah keputusasaan-keputusasaan yang berkesinambungan karena ia tak dapat mengembangkan cara berpikirnya yang seringkali dianggap “berbeda” dari dosennya..

Anehnya lagi, dosen lebih senang memiliki mahasiswa yang “lurus-lurus” dan “penurut” agar Skripsi/KIA-nya cepat selesai. Sedangkan mereka, para mahasiswa yang bersikukuh dengan ide-ide segar dan analisis yang seringkali tidak sama dengan dosennya, menjadi terhambat, stres, dan berakibat mundurnya waktu ujian sidang. Memang benar, jika mau ditelisik lebih dalam, tentunya penyebabnya dari berbagai macam faktor. Namun yang hendak saya kemukakan di sini adalah tentang sebuah harapan untuk dibukanya kran perbincangan antara mahasiswa dengan dosen, yang ketikam diantara keduanya memiliki pandangan yang berbeda, tidaklah menjadi persoalan, asalkan didukung dengan data-data dan fakta, serta teori yang sesuai untuk menguatkan pendapatnya..

Dan lagi, perbedaan pandangan antara mahasiswa dengan dosennya pada suatu persoalan yang tidak terkait secara langsung dengan mata kuliah mereka di kelas, juga tidak menjadi persoalan. Jangan sampai kita terjebak dengan relasi mahasiswa-dosen, sehingga menjadi berpikiran bahwa dosen selalu benar dalam membahas segala hal, sedangkan mahasiswa selalu tidak boleh lebih baik pemahamannya dari dosen tersebut dalam segala hal pula. Pemikiran seperti ini yang perlu direkonstruksi..

Egalitarian itu tidak hanya cukup menjadi penghias teori-teori kita di kelas, tapi juga harus dipraktekkan dalam kehidupan kampus. Jadi, sudahkan kalian siap, wahai para mahasiswa untuk memiliki pendapat yang berbeda dari dosen-dosen pengajar di kampus? Atau, jiwa itu tetap kerdil sehingga layaknya burung yang tersangkar di dalam sangkar?..

JS_01Maka, berpikirlah di luar kotak (out of the box), dan bahkan bepikir tanpa ada kotak (without the box)yang menahan pandanganmu sama sekali. Semangat bro..!! ^_^

NB: Ilustrasi Gambar Diambil dari Diskusi SSWD tahun 2011, berjudul Kedudukan Pekerja Sosial dengan Profesi Lain yang Serumpun

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kota Raja-Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Sabtu pagi,26Jumadil Akhir 1435 H/26April 2014 pukul 11.02 wita

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Selasa, 29 April 2014 pukul 08.00wita

Comments
One Response to “Ketika Mahasiswa Bertolak Pendapat dengan Dosen*”

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: