Desa Gagal Sejahtera?*

Anak-anak di sudut jalan Desa Long Beleh Haloq Kecamatan Kembang Janggut-Kukar, KALTIM

Anak-anak di sudut jalan Desa Long Beleh Haloq Kecamatan Kembang Janggut-Kukar, KALTIM

Anak-anak di sudut jalan Desa Long Beleh Haloq Kecamatan Kembang Janggut-Kukar, KALTIM

Desa Gagal Sejahtera?*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur ini selain daerahnya mempesona, juga kaya raya. APDB tahun 2014 yang lebih dari 6 Trilyun itu dapat memberikan alokasi ADD (Anggaran Dana Desa) rata-rata lebih dari 2 Milyar..

Sebagai contoh kasus adalah pada desa-desa binaan perusahaan kami yang ada di wilayah Kembang Janggut. Setelah saya konfirmasi dengan pejabat pemerintahan desa Long Beleh Haloq Kecamatan Kembang Janggut, ADD tahun 2014 untuk desa tersebut mencapai angka 2,35 Milyar. Sebuah angka yang sangat besar, dengan jumlah penduduk sekitar 3300-an jiwa tersebut..

Sedangkan untuk Desa Pulau Pinang yang letaknya bersebelahan dengan desa Long Beleh Haloq, nilai ADD tahun 2014 sebesar 900-an juta dengan penduduk sejumlah 1500-an jiwa. Desa Pulau Pinang memiliki ADD lebih kecil karena sebab jumlah penduduk yang juga berbeda dari desa tetangganya tersebut..

Kedua desa binaan perusahaan tempat saya tersebut, biasa dikenal dengan Masyarakat Desa Hutan. Ini merupakan penyebutan dari pemerintah berdasarkan aturan pemerintah dan undang-undang yang lahir pada tahun 70-an silam. Masyarakat Desa Hutan adalah penduduk desa yang berlokasi di sekitar wilayah hutan alami dan berpencaharian tetap dari hutan tersebut..

Meski secara teorinya memang demikian, namun pada kenyataannya masyarakat yang benar-benar tergantung dengan hutan sudah tak ada lagi. Sebagian besar masyarakat di sini telah menggantungkan hidupnya dengan perkebunan sawit. Ya, karena memang hutan-hutan di Kecamatan Kembang Janggut dan sekitarnya ini telah berubah fungsi dari kawasan hutan menjadi kawasan perkebunan sawit..

Perlu diketahui, bahwa kawasan hutan-hutan di kalimantan telah berubah fungsi menjadi lahan komersil ke dalam empat jenis bidang usaha: 1)Pengusahaan Kayu Hutan Alam; 2)Perkebunan Sawit; 3)Pertambangan dan; 4)Hutan Tanaman Industri. Tempat saya bekerja berada pada poin ke-4, yaitu Perusahaan yang bergerak di bidang pengusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI)..

Mendapati realitas demikian, seharusnya desa-desa di sekitar sini sudah tidak ada lagi yang miskin kan? Penghasilan masyarakatnya seharusnya berada di atas rata-rata, dan pada akhirnya akan berimbas pada peningkatan kesejahteraan masyarakat serta kemajuan dan kemodernan desa. Tapi, sayang seribu kali sayang, ini masihlah menjadi teori yang tak berwujud nyata di alam kehidupan..

Begitu banyak faktor yang mengitarinya. Namun, sepanjang pengamatan saya hampir setahun ini, permasalahan utamanya adalah pada mental masyarakat yang terlanjur terlena dengan suasana. Gaya hidup modern yang masuk pada kehidupan mereka, menjadikannya masyarakat konsumtif dan cenderung ingin menikmati hasil tanpa kerja keras..

ADD sebesar itu, prioritas utama tentunya harus difokuskan pada pembangunan infrastruktur untuk masyarakat umum. Dan mengenai kepemilikan kebun sawit, harusnya tak ada lagi warga lokal yang tak memiliki kebun, desa harusnya memberikan kemudahan agar seluruh masyarakat dapat menikmati kepemilikan kebun, tanpa ada satu atau sekelompok orang yang mendominasi..

Mental ingin dilayani yang menjangkiti pejabat pemerintah desa atau kecamatan juga seharusnya cepat dihilangkan dari hasrat-hasrat pribadi. Atau pemikiran ingin mendapatkan hasil yang lebih banyak karena kerja keras mereka dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat juga baiknya segera disingkarkan dari sanubari..

Hakikat pejabat pemerintah adalah pelayan bagi masyarakat, dan merupakan pengabdian diri sebagai bagian dari batu-batu pembangun bangsa dan negara Indonesia tercinta. Kerja-kerja pejabat adalah sebuah kerja-kerja ibadah yang hakikatnya berharap mampu memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada orang lain..

Pilar antar pemerintah, warga masyarakat dan perusahaan, harusnya menjadi pilar penyangga penting untuk mewujudkan adil dan sejahtera pada suatu desa. Praktik kolusi, korupsi dan nepotisme haruslah menjadi musuh bersama, dan transparansi penggunaan anggaran haruslah diketahui oleh semua pihak tanpa ada ambisi memperkaya diri pribadi..

Dan untuk peran perusahaan tempat saya bekerja, akan lebih fokus pada generasi penerusnya. Anak-anak balita, dan usia sekolah SD-SMP-SMA menjadi prioritas utama dalam upaya pengembangan sumber daya manusia desa. Tujuan tidak lain adalah untuk kerjasama jangka panjang, dan perusahaan menyebut langkah ini sebagai sebuah Community Investment..

Jadi, apakah desa ini gagal sejahtera? Sebuah pertanyaan yang sulit dijawab. Namun yang jelas, kesejahteraan itu belumlah nampak secara merata di dalam lingkup satu desa. Dan perusahaan tempat saya bekerja, akan berkomitmen untuk menjadi pilar penguat atas terwujudnya Masyarakat Desa Hutan yang adil dan sejahtera. Insya Allah..

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kembang Janggut-Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Jum’at malam, 12 Jumadil Akhir 1435 H/11 April 2014 pukul 21.35 wita

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Rabu, 23 April 2014 pukul 08.00wita

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: