Pluralitas Bukan Pluralisme*

Sumber ilustrasi gambar dari sini

Pluralitas Bukan Pluralisme*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Seringkali terjadi kesalahpahaman bahwa realitas bangsa Indonesia sebagai negeri yang memiliki berjuta keragaman budaya mengharuskan warga menerima konsep pluralisme. Apalagi dengan adanya lima agama yang diakui sebagai agama yang dihormati di bumi pertiwi, maka sudah menjadi kewajiban setiap warga negara Indonesia untuk mengimplementasikan konsep Pluralisme Agama, dan ini dianggap sebagai sebuah toleransi tertinggi dan terhormat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara..

Bhineka Tunggal Ika yang diartikan sebagai berbeda-beda tapi tetap satu jua, juga menjadi dasar penting yang menjadi diberlakukannya konsep Pluralisme bagi warga negara Indonesia. Bila ada warga negara kita yang menolak konsep Pluralisme, akan dicap sebagai orang yang tidak toleran dan penyebab keretakan keeratan dan kesatuan bangsa Indonesia..

Namun benarkah demikian?

Perlu dibedakan antara menyadari keanekaragaman suku bangsa dan budaya dengan keyakinan pada satu akidah yang lurus (salimul aqidah) dan tata cara ibadah yang benar (shahihul ibadah). Sebuah keniscayaan bahwa banyaknya perbedaan agama dan suku bangsa, seharusnya melahirkan pemahaman pluralitas, bukan malah pluralisme, apalagi ditambah-tambahi dengan kata “agama” di belakangnya..

Seluruh umat Islam harusnya sepakat bahwa sikap saling menghormati dan menghargai adalah sebuah keniscayaan pada setiap manusia yang hidup di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia, karena inilah konsep pluralitas. Tapi, akan sangat berbeda jika konsep yang ingin dicangkokkan kepada masyarakat Indonesia adalah Pluralisme Agama, sebuah paham dimana seseorang mengakui secara akidah tentang kebenaran dari agama lain. Ini sungguh berbahaya dan  sama sekali tidak ada panduannya di dalam Al Qur’an dan As Sunnah..

Satu panduan dari Al Qur’an tentang toleransi dalam beragama adalah pada surat Al Kaafiruun, dimana disebutkan “Lakum diinukum waliyadiin/Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku”. (Q.S Al Kaafiruun, 109:6). Di sinilah sikap penghargaan dan penghormatan kepada pemeluk agama lain, tanpa harus mengikuti /mempercayai kebenaran dari Tuhan agama lain, atau melakukan ritual doa bersama, dan bahkan mengikuti ritual ibadah agama lain sungguh tidak dibenarkan oleh agama samawi..

Maka, kita tidak boleh terkecoh dengan orang yang mengatakan bahwa toleransi tertinggi seorang manusia adalah dengan menerapkan pluralisme agama pada dirinya dan dalam kehidupan bermasyarakat. Karena, kita sama-sama menerima perbedaan dan saling menghormati dan menghargai, dalam kata lain berarti kita menerima pluralitas. Namun, pluralitas tidaklah sama dengan pluralisme agama, karena ia mengajak kepada kesesatan berpikir seorang pemeluk agama yang baik..

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kembang Janggut-Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Ahad sore,  06 Jumadil Akhir 1435 H/06 April 2014 pukul 16.43 wita

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Sabtu, 19 April 2014 pukul 08.00wita

Comments
One Response to “Pluralitas Bukan Pluralisme*”

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: