Akhwat Lebih Banyak Kekurangannya*

Akhwat Lebih Banyak Kekurangannya*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Tulisan ini bukanlah sebuah ulasan untuk “menghakimi” seorang akhwat yang lebih banyak kekurangannya dibandingkan dengan para ikhwan yang telah siap menikah. Kali ini saya hanya ingin bercerita tentang beberapa (dan mungkin juga banyak) akhwat yang lebih senang mengungkapkan segala kekurangannya, hingga sampai-sampai tak terlihat kelebihan-kelebihan yang ada pada dirinya..

Tentu sikap semacam ini memiliki kelebihan dan juga kekurangan dengan masing-masing porsinya. Tapi, saya menilai ketika akhwat tersebut menghakimi dirinya sendiri memiliki terlalu banyak kekurangan, dan diungkapkan kepada orang lain dengan dalih agar dapat diterima apa adanya, saya rasa kurang tepat. Karena yang lebih tepat adalah bahwa kekurangan-kekurangan tersebut untuk evaluasi diri pribadi, dan berusaha kuat untuk menutupi berbagai kekurangan tersebut untuk menjadi lebih baik lagi..

Saya menjadi teringat ketika sesi coaching kelompok belajar Jowo Community (JOCO) bersama Ibu Uli almarhumah di tahun 2010 yang lalu. Beliau meminta kami, para peserta kelompok belajar untuk mendeskripsikan diri pribadi masing-masing. Judulnya, kami ditantang seberapa kenal diri kami terhadap pribadi masing-masing. Ditulislah pada selembar kertas, satu kolom untuk menuliskan kelebihan-kelebihan, dan satu kolom lainnya untuk menuliskan kekurangan-kekurangan..

Yang mengejutkan adalah bahwa hasil dari “belajar” mengenali diri sendiri tersebut. Para peserta perempuan, lebih banyak menuliskan kekurangan hingga berkali-kali lipat daripada kelebihannya. Mereka banyak memandang diri mereka dari segi kekurangan, daripada kelebihan-kelebihan yang seharusnya bisa dipergunakan untuk meningkatkan kualitas diri. Mereka merasa kesulitan untuk mendeskripsikan kelebihannya, karena mereka merasa bahwa kekurangannya memang begitu banyak dan tidak sebanding dengan kelebihan yang mereka miliki..

Fenomena yang hampir mirip ternyata juga dijumpai pada kasus akhwat kader dakwah. Di balik ketegaran dan “kegarangan” mereka pada saat berada di muka umum, ternyata ketika diminta untuk mendeskripsikan tentang diri mereka sendiri, yang muncul adalah sederetan kekurangan-kekurangan yang mengiringi sedikit kelebihan yang mereka tuliskan tersebut..

Ya, sah-sah saja sih. Hanya saja, sebagai seorang laki-laki, saya terbiasa untuk berpikir rasional. Menyadari dengan sepenuh hati bahwa tiap orang memiliki kelebihan dan juga kekurangan. Dalam benak saya tergambarkan bahwa kekurangan seseorang seharusnya tidak akan lebih banyak dari kelebihannya, karena memiliki suatu kelebihan adalah suatu hal yang mudah. Murah senyum, ramah, sopan, suka menolong, berbicara santun, adalah hal-hal yang setiap hari hampir kita lakukan, namun kita malah enggan untuk menyebutkannya sebagai kelebihan. Tidakkah kita dapati bahwa hari ini mendapati manusia yang jujur, tahu sopan santun, dan suka menolong adalah telah menjadi barang langka? Karena hidup di zaman globalisasi ini telah menjadikan manusia terlalu individualistik, egois dan mementingkan dirinya sendiri, serta tidak mau perduli dengan orang lain..

Bagi laki-laki, kekurangan adalah sebuah keniscayaan. Ada kalanya seorang ikhwan memang akan minder ketika membaca biodata akhwat yang akan di-ta’aruf-kan dengannya ternyata seseorang yang dengan begitu banyak kelebihan yang belum sempat dicapai oleh dirinya. Pencapaian-pencapaian tersebut bisa jadi dalam bentuk prestasi akademis, posisi di organisasi, banyaknya hafalan ayat Al Qur’an dan Hadist, padatnya aktivitas dakwah yang pernah atau tengah diikutinya, dan lain sebagainya. Seorang ikhwan calon pemimpin keluarga itu memiliki “gengsi” yang tinggi untuk bisa lebih baik daripada isterinya..

“Gengsi” yang saya maksud bukanlah ego pribadi, melainkan suatu kondisi yang memang “wajib” ada untuk mendukung terjalinnya suatu rumah tangga yang saling menguatkan. Bisa dibayangkan misalnya pasangan suami-isteri yang sama-sama bekerja, kemudian gaji suami lebih kecil berkali-kali lipat dari gaji seorang isteri. Dikhawatirkan (dan juga telah banyak terjadi dalam fakta di lapangan), sang isteri akan mengungkit-ungkit soal kemampuan finansial sang suami sebagai kepala rumah tangga yang tidak mampu mendapatkan yang lebih besar daripada sang isteri. Sang suami ditekan bahwa ia harus menuruti segala kemauan dan pendapat sang isteri karena merasa dirinyalah yang dapat memenuhi pemenuhan kebutuhan materi, daripada sang suami, jadi ia berhak memegang kendali keputusan dalam keluarga, mengalahkan sang suami..

Begitu pula ketika sang isteri adalah seorang didikan pesantren sedari kecil, sedangkan suaminya hanyalah ikhwan yang baru saja “taubat” nasukha sewaktu memasuki pergaulan dengan para aktivis dakwah di kampus tempat dirinya menuntut ilmu. Perasaan minder dan rendah diri akan senantiasa menghantui dirinya, apalagi ketika sang isteri juga agak sedikit kurang peka terhadap perasaan sang suami yang merasa bertanggung jawab terhadap pendidikan (tarbiyah) isteri dan anak-anaknya kelak..

Bisa jadi, suatu ketika, atau dalam banyak kesempatan, sang isteri menunjukkan kelebihannya dalam hal pemahaman dan penguasaan bidang agama di atas sang suami. Satu kali atau dua kali, sang suami akan merasa bangga, namun jika hal tersebut terjadi berkali-kali, dan jika jalinan komunikasi antara keduanya kurang baik, akan membuat sang suami merasa rendah diri. Malu, tapi belum menemukan jalan keluarnya. Sang isteri juga karena dengan kelebihannya tersebut, lupa untuk mendorong dan mendukung suaminya agar mampu menjadi lebih baik lagi melebihi kemampuan dirinya..

Hal yang sepatutnya terjadi adalah diantara keduanya saling mendukung satu sama lain. Tidakkah kita ingat kisah Ummu Sulaim yang telah dahulu masuk Islam, dan menjadikan ke-Islam-an Abu Thalhah sebagai maharnya. Kalau dihitung kemampuan keduanya kala itu, tentu sang isteri lebih unggul daripada suaminya. Namun, begitu hebat, cerdas dan bijaknya Ummu Sulaim sebagai seorang isteri yang sholihah, Abu Thalhah dapat melesat potensinya akibat dorongan yang begitu luar biasa dari Ummu Sulaim. Dan saya yakin bahwa Ummu Sulaim meyakini dengan sebenar-benarnya iman, sabda Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa seseorang yang terbaik pada masa jahiliyahnya, juga akan menjadi seseorang yang terbaik pada masa Islamnya, jika ia melaksanakan aturan Islam secara kaffah..

Demikianlah, timbangan tentang kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri ikhwan maupun akhwat, yang patut kita pahami bersama, ketika telah siap menuju jenjang pernikahan, menjalani hidup berdua, bersama, saling belajar untuk meningkatkan kualitas diri sepanjang waktu..

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kembang Janggut-Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Jum’at pagi, 22 Rabiul Awal 1435 H/24 Januari 2014 pukul 06.04 wita

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Senin, 17 Maret 2014 pukul 08.00wita

—–

Keterangan: Artikel ini termasuk rangkaian cuplikan narasi dalam Buku “Kado Cinta 4 Isteri Sholihah” yang akan dihadiahkan sebagai mahar kepada Sang Calon Isteri Tercinta di Masa Depan. Akan diterbitkan di Blog Bocahbancar setiap Hari Senin dan Kamis, mulai terbit pertama kalinya sejak hari Senin, 10 Jumadil Akhir 1435 Hijriah/10 Februari 2014.

Comments
2 Responses to “Akhwat Lebih Banyak Kekurangannya*”
  1. lazione budy says:

    yah, cewek berarti lebih terbuka dan mengakui kekurangannya.

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: