Melipatgandakan Potensi*

Sumber Ilustrasi Gambar dari sini

Melipatgandakan Potensi*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Ketika seseorang masih hidup sendiri alias belum memiliki pasangan hidup, dirinya cenderung menjalani kehidupan ini dengan apa adanya. Pengalaman terjadi pada diri saya sendiri yang telah terbiasa hidup merantau dan berupaya hidup mandiri seorang diri. Saya merasa sudah maksimal dalam menjalani aktivitas kehidupan seperti target kuliah dan organisasi, namun di sisi lain, saya biasa kurang memperhatikan kondisi tubuh yang seringkali terlalu capai karena saking banyaknya kegiatan..

Saya pikir, hidup sendirian seperti ini ada sesuatu yang kurang. Gairah hidup menjadi tidak maksimal, dan berefek kepada perjalanan mencapai cita dan impian yang terasa lebih lambat dari sebelumnya, lebih kendor semangat daripada dahulunya, dan lebih samar gambar impian masa depannya. Ternyata, sumber obat dari perihal tersebut adalah dengan pernikahan..

Bagi sebagian besar masyarakat awam mengartikan bahwa pernikahan adalah suatu kekangan dalam menjalani kehidupan. Sudah tidak bebas lagi, terdapat batasan-batasan yang memang patut ditaati ketika telah beralih dari status lajang ke status menikah. Itulah sebab atau alasan para laki-laki atau wanita modern enggan menikah cepat-cepat dan lebih memilih pengejaran karier setinggi-tingginya. Di samping mereka dapat “bebas” dalam pengertian bebas melakukan apa saja, juga berpikir menumpuk kekayaan agar dipandang orang ketika melangsungkan pernikahan di tempat yang mewah, serta telah memiliki bermacam fasilitas penunjang hidup berdua seperti rumah pribadi, kendaraan pribadi dan lain-lain..

Bagi saya, hidup yang demikian malah tidak ada arti dan maknanya. Saya memahami hidup dengan mencontoh teladan terbaik, yakni Rasulullah dan para sahabat, para generasi terbaik sepanjang zaman. Banyak diantara mereka yang menikah dengan kondisi di masa sulit. Abdurrahman bin Auf dan Ali bin Abi Thalib adalah sedikit contoh diantaranya. Karena yang terpenting memang bukan kondisi “ideal” saat kita menikah, namun keinginan kuat untuk berusaha keras, bersama-sama, berdua, saling mendukung dan merencanakan pencapaian-pencapaian di masa depan, itulah indahnya menjalani hidup.. ^^

Setiap diri tentu memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Tak terkecuali oleh pasangan suami dan juga isteri. Proses ta’aruf yang dijalani tidaklah dapat membuang sepenuhnya ketidakidealan dalam membina rumah tangga. Ta’aruf hanyalah salah satu proses syar’i yang berguna untuk mengurangi potensi kekecewaan akibat pasangan hidup yang ternyata sangat tidak sesuai dengan apa yang selama ini diharapkan..

Jadi, bukan berarti setelah kita menjalani ta’aruf, kemudian kita beranggapan bahwa pasangan yang kita temukan melalui media ta’aruf tersebut adalah seseorang yang sempurna, tanpa cela, tanpa cacat bak malaikat. Ia yang kita pilih dengan segala kerelaan hati untuk menjadi pendamping hidup di dunia (dan insya Allah di akhirat) tersebut juga seorang manusia biasa yang memiliki beberapa kekurangan-kekurangan yang mungkin saja tidak kita sukai, di samping beberapa kelebihan-kelebihan yang membuat kita mantap menikah dengannya..

Setelah cara pandang dan berpikir ini telah sama frekuensinya. Kesadaran berikutnya yang harus dibangun dan diterapkan dalam menjalani rumah tangga berdua adalah untuk saling mengisi kekurangan, dan menambahkan kelebihan menjadi lebih baik lagi. Seringkali seseorang memiliki beberapa potensi-potensi yang belum tergali dan termanfaatkan secara optimal. Maka, tugas isteri atau suamilah yang berusaha mengenali potensi terpendam pasangannya, dan menjadikannya tampil ke permukaan untuk memberikan kebermanfaatan yang lebih bagi jamaah dakwah maupun masyarakat luas..

Seorang isteri menjadi ridho untuk memberikan pelayanan terbaik kepada suaminya. Begitu pula sang suami juga dengan tulus ikhlas dan ridho untuk memberikan perlindungan lahir batin, serta memenuhi segala kebutuhan rumah tangga mereka berdua. Masing-masing berlapang dada untuk menerima segala kekurangan dari pasangannya, dan dari kelebihan dari masing-masing diri mereka, dipergunakan untuk menutupi kekurangan-kekurangan tersebut, serta menjadikan kekurangan itu berubah menjadi kelebihan..

Inilah salah satu kelebihan dari ikatan pernikahan. Yaitu dapat membuat perubahan-perubahan yang tidak pernah disangka sebelumnya. Melipatgandakan potensi diri. Kita mungkin tidak akan mampu untuk membayangkannya secara jelas, karena tugas kita memang adalah mewujudkan narasi ini. Berdua, saling menyemangati, saling mensehati, saling kasih mengasihi dan mencintai, berusaha mengoptimalkan masing-masing potensi diri, bukannya memperkerdil atau bahkan mematikan potensi yang menguncup tanda akan mekar mewangi..

DAN NAFAS CINTANYA MENIUP KUNCUPKU

MAKA IA MEKAR MENJADI BUNGA..

#Puisi Iqbal

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kembang Janggut-Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Rabu, 20 Rabiul Awal 1435 H/22 Januari 2014 pukul 11.43 wita

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Kamis, 13 Maret 2014 pukul 08.00wita

—–

Keterangan: Artikel ini termasuk rangkaian cuplikan narasi dalam Buku “Kado Cinta 4 Isteri Sholihah” yang akan dihadiahkan sebagai mahar kepada Sang Calon Isteri Tercinta di Masa Depan. Akan diterbitkan di Blog Bocahbancar setiap Hari Senin dan Kamis, mulai terbit pertama kalinya sejak hari Senin, 10 Jumadil Akhir 1435 Hijriah/10 Februari 2014.

Comments
5 Responses to “Melipatgandakan Potensi*”
  1. Pernikahan dapat menjadi sarang untuk saling melengkapi di antara pasangan ya…

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: