Netral Agama Bukan Moderat*

Netral Agama Bukan Moderat*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Dalam memperbincangkan persoalan agama, seringkali kita terjebak pada pemahaman yang ekstrim ke kanan atau bisa juga ekstrim ke kiri..

Saya sebut ekstrim ke kanan adalah sebuah praktik keagamaan secara berlebihan, dan tentu saja tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam. Contoh, seseorang yang karena ingin dekat kepada Allah, kemudian menyendiri di dalam gua, bertapa, tidak mau berinteraksi dengan manusia lainnya, tidak mau beristeri, dan hanya mau melaksanakan ibadah vertikal kepada Allah saja..

Kemudian sebutan ekstrim kiri adalah bagi mereka yang mengaku sebagai seorang muslim, tapi menolak hukum-hukum yang ditetapkan oleh Islam. Atau, meskipun ia tahu tentang perintah dan larangan dari Tuhan, tapi dengan entengnya mereka langgar tanpa perasaan bersalah sama sekali. Dan bahkan, mereka seringkali menentang seseorang yang melaksanakan aturan Islam secara kaffah. Sebutlah contoh praktik keagamaan (Islam) di Turki, yang pemimpinnya kala itu (Kemal Attaturk) melarang mengumandangkan adzan dalam bahasa Arab, dan hanya memakai bahasa Turki saja, kemudian wanita menutup aurat (berjilbab) juga dilarang, dan lain sebagainya..

Ada pula beberapa kalangan yang ada di negeri kita tercinta, Indonesia Raya, menyatakan diri sebagai kaum moderat, dengan tidak mau mengakui bahwa Islam sebagai agama satu-satunya yang paling benar, dan satu-satunya agama yang diridhoi oleh Allah subhanahu wata’ala. Dalam pemahaman mereka, kebenaran itu memang mutlak bagi orang Islam, tapi akan menjadi relatif jika dibenturkan dengan pemahaman agama lain. Dengan pemahaman itulah, mereka mengambil jalan tengah, yaitu netral agama untuk melihat kebenaran agama-agama dari sudut yang lebih objektif (versi mereka)..

Kebanyakan mereka mengamini pelabelan-pelabelan dari kaum pembenci Islam di Barat, seperti adanya pengelompokkan umat Islam dengan sebutan “Islam Fundamentalis”, “Islam Politik”, “Islam Budaya”, sedangkan diri mereka sendiri diidentifikasikan sebagai “Islam Moderat”. Kemudian dicatut pembenaran bahwa mereka yang menamakan diri sebagai “Islam Moderat” (versi mereka) adalah ummatan wasathan (umat yang adil dan pilihan), dari ayat Al Qur’an, “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihanagar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…” (Q.S Al Baqarah: 143)..

Padahal, ketika mereka menyebut sikap dirinya dengan “Netral Agama”, sejatinya mereka telah berlepas diri dari ikatan agama-agama manapun, dan mengambil tempat tersendiri di luar agama-agama. Akidah semacam ini sangatlah rapuh dan tidak berdasar. Karena, tentu saja sebagai seorang muslim, kita harus memandang persoalan agama-agama dari sudut pandang agama kita sendiri..

“Netral Agama” adalah satu sikap dari representasi dirinya telah terjangkit virus SEPILIS (Sekularisme, Liberalisme, dan Pluralisme Agama). Bisa jadi ia memang seorang doktor, atau bahkan seorang profesor. Namun, logika yang dipakainya adalah logika salah kaprah dan sangat lemah jika dibandingkan dengan hujjah para ulama-ulama besar seperti Imam Ghazali, Imam Syafi’i, Ibnul Qayyim al Jauzi, dan lain sebagainya. Untuk ulama kontemporer, tentu hujjah mereka yang mengaku “Netral Agama”, tidaklah dapat dibandingkan dengan Buya Hamka, M. Natsir, hingga Syaikh Dr. Yusuf Al Qaradhawy..

Sebagai jalan tengah, mereka yang mengaku sebagai “Netral Agama” ini pada akhirnya juga berpendapat bahwa semua agama itu benar menurut versi agamanya masing-masing. Dan sebagai konsekuensi atas pemahaman ini, maka setiap pemeluk agama akan masuk surga sesuai dengan pintu dari agama mereka masing-masing. Dengan kata lain, mereka mengatakan bahwa masuk agama apa saja boleh, asalkan melaksanakan perintah agamanya, maka ia akan masuk surga. Itulah mengapa mereka begitu gencar melaksanakan doa bersama antar agama. Sungguh sebuah pemahaman yang aneh dan tidak dapat masuk di akal orang normal..

Kita patut berbahagia dengan adanya beberapa lembaga yang begitu gencar meng-counter pemikiran SEPILIS semacam “Netral Agama”. Sebut saja INSIST di Jakarta, INPAS di Surabaya dan LPPI di Makassar, Sulsel. Bahkan dari Jakarta juga lahir Gerakan Indonesia Tanpa JIL, yang telah menyebar ke kota-kota lain di seluruh Indonesia untuk menolak JIL yang mengaku sebagai “Islam Moderat” (versi mereka)..

Seseorang yang lain berpendapat bahwa dengan “Netral Agama”, kita akan menghindari konflik antar agama yang kita tahu di Indonesia, isu ini begitu sensitif dan mudah disulut apinya. Mereka menghendaki perdamaian, dan salah satu jalan yang ditempuh untuk menuju perdamaian antar agama adalah dengan mengambil sikap “Netral Agama”, tidak merasa agamanya sendiri yang paling benar, dan menganggap bahwa agama lain mungkin saja benar, hanya melalui pintu yang tidak sama dengan kita untuk menuju surga..

Sepertinya indah apa yang mereka kemukakan. Mungkin saja tujuan mereka baik, untuk menuju perdamaian antar agama. Tapi ternyata jalan yang ditempuh tidak sesuai dengan ajaran agamanya sendiri. Dan lagi, kekhawatirannya juga berlebihan, bahwa karena perbedaan keyakinan akidah dari masing-masing agama, akan menyulut api peperangan antar agama. Ini adalah sebuah kekhawatiran yang mengada-ada, dan tidak mampu memandang sejarah dalam skala yang lebih luas..

Bahkan yang terjadi adalah, mereka menggadaikan imannya dengan meragukan kebenaran ajaran agamanya, bahwa memag Islam lah satu-satunya agama yang benar, dan di luar agama Islam, maka mereka akan masuk neraka atas kesyirikannya terhadap Allah azza wa jalla..

Penegasan semacam ini penting untuk pemeluk agama. Karena itu adalah dasar (akidah) yang harus diyakini oleh setiap pemeluk agama Islam. Akidah dengan muamalah tentu berbeda cara praktiknya. Dalam akidah, bisa saja bertentangan dengan agama lain, tapi dalam muamalah (interaksi sosial antar manusia), tetap bisa berjalan harmonis. Karena Islam memiliki panduan yang jelas, yaitu “Lakum diinukum waliyadiin, untukmu agamamu dan untukkulah agamaku” (Q.S Al Kaafiruun: 6)..

Maka, telah jelaslah bahwa “Netral Agama”, sebenarnya bukanlah ummatan wasathan atau sikap moderat seperti yang mereka klaim dari Al Qur’an. Dan sudah selayaknyalah mereka membenahi cara berpikirnya, agar sesuai dengan Al Qur’anul Kariim dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam..

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kembang Janggut-Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Jum’at sore, 14 Rabiul Awal 1435 H/14 Februari 2014 pukul 18.05 wita

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Rabu, 12 Maret 2014 pukul 08.00wita

Comments
5 Responses to “Netral Agama Bukan Moderat*”
  1. Kawani Media says:

    trimakasih atas khutbahnya, semoga bermanfaat, mohon izin untuk dibagikan kepada saudara2 muslim muslimat yang lainnya. semoga Allah meridhoi kita semua,,amin.

  2. mastur songenep says:

    tulisan ini mencerahkan,,,, ah,, gak bisa komen aku, salam kena aja dari sumenep,,,

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: