Ber-Islam karena Kepahaman*

Sumber Ilustrasi Gambar dari sini

Ber-Islam karena Kepahaman*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Kita boleh saja berbangga diri, bahwa negara Indonesia adalah negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia. Umat muslim di Indonesia mencapai 85-87% atas total populasi sebesar 236-an juta jiwa. Tapi kebanggaan ini ternyata tidak berbanding lurus dengan kebanggaan atas seberapa banyak kaum muslimin yang memegang teguh agamanya secara baik dan benar, dan seberapa banyak kaum muslimin yang hanya ber-Islam karena keturunan..

Idealnya, seseorang yang telah familiar terhadap agama Islam sedari kecil, akan lebih kuat pemahaman agamanya, dan lebih bisa diandalkan dalam hal pengetahuan agama. Tapi ternyata tidak demikian adanya. Mereka yang ber-Islam karena keturunan, lebih banyak melalaikan aturan agama. Sebagian besar dari mereka menganggap agama sebagai budaya yang harus dilestarikan, sedangkan aturan-aturannya biasa saja untuk mereka campakkan..

Atau mungkin, meskipun KTP mereka adalah beragama Islam, tapi pelaksanaan kewajiban dan atau penjauhan diri terhadap larangan-larangan agama Islam, hanya mereka lakukan ketika sedang dalam kondisi kesusahan semata. Mereka dapat kembali mendekatkan diri kepada Tuhan-Nya, ketika tengah diuji dengan kesulitan dan kekurangan. Namun, apabila ujian itu telah dicabut, tercabut jugalah iman mereka, sehingga kembali gemar melakukan maksiat dan dosa..

Kita memang patut berbahagia, mendapati masjid yang ada di mana-mana, di desa maupun di kota, tempat berpenduduk padat maupun berpenduduk sedikit, suara adzan senantiasa berkumandang di setiap waktunya. Tapi, jika mau ditengok lebih jauh, seberapa banyak para pemudanya yang turut serta sholat berjama’ah? Sungguh, jama’ah yang ada di sana mayoritas diisi oleh orang-orang tua yang tinggal menunggu ajal tiba saja. Sedangkan para pemudanya, sibuk dengan aktivitas pacaran, ngapel, nongkrong, dan berbagai kegiatan melenakan lainnya..

Dan jika kita mau menyadarinya bersama-sama. Inilah perlunya kita tarbiyah. Belajar terus menerus untuk menempa diri menjadi lebih baik lagi. Memahami berbagai macam cabang pengetahuan dan pembahasan terkait agama Islam, yang ternyata tidak se-simple yang kita bayangkan. Oh, salah ya. Sepertinya kita tidak pernah sempat untuk memikirkan bagaimana agama ini menuntun manusia guna menjadi manusia yang beradab, dan pantas untuk menjadi khalifah di muka bumi. Tetapi, kita ternyata hanya berkutat pada hal sia-sia dan tak berfaedah semata..

Malahan kita dapati seseorang yang kuat agamanya adalah mereka yang ketika dewasa baru mendapatkan hidayah iman dan Islam. Mereka adalah para pencari Tuhan yang sebelumnya gelisah atas doktrin Tuhan dalam agama mereka yang ternyata tidak menjadikannya tenang serta bahagia. Ketenangan dan kebahagiaan tersebut baru dapat mereka rasakan ketika berinteraksi dengan agama yang mulia ini, Islam..

Seorang mualaf lebih dapat menghargai dan menghayati agama ini dengan begitu bagusnya, karena ia sudah pernah merasakan hidup dalam kehampaan, atau bahkan penuh berkubang kemaksiatan. Mereka ini adalah orang-orang yang memeluk agama Islam karena kepahaman. Karena mereka belajar, karena mereka ingin mencari tahu secara lebih dalam, dan pada akhirnya, hidayah Allah itu diturunkan kepada mereka. Sebagai sebuah perasaan tenang dan bahagia, ketika mengikuti aturan Allah, dan itulah fitrah diri manusia..

Kalau kita memang masih tidak terlalu paham terhadap agama kita sendiri. Harusnya kita malu terhadap mereka, para mualaf yang belum lama ini memeluk Islam, tapi begitu tekun dan patuh dalam menjalankan perintah agama dan menjauhi segala larangannya. Sedangkan kita? Sudah memeluk agama Islam sedari kecil, tapi kemudian malah dengan begitu entengnya menyepelekan perintah agama suci kita, dan tidak merasa berdosa ketika melakukan maksiat yang secara jelas-jelas kita mengetahui bahwa hal tersebut adalah suatu tindakan yang salah dan menabrak norma-norma agama..

Back to tarbiyah. Kembalilah pada pembinaan agama. Belajar agama tidak mengenal kata TAMAT. Ia terus dilakukan sampai ajal datang menjemput badan. Mulailah mengulas kembali, mengenai makna syahadatain sebagaimana menjadi persyaratan untuk seseorang yang sudah balik guna memeluk agama Islam. Syahadat juga biasa kita lantunkan dalam bacaan sholat, minimal 17 kali dalam sehari. Kita juga patut memahami secara sadar akan kemuliaan Islam dan kelengkapan aturannya. Islam mengatur kehidupan kita dari A sampai Z, dari bangun tidur hingga tidur kembali, juga dari ujung kaki sampai ujung kepala. Semuanya ada tuntunannya dalam Islam, diperintahkan oleh Allah dan dicontohkan oleh Rasul Mulia, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam..

Sejatinya memang demikian. Seseorang haruslah ber-Islam karena kepahaman, bukan hanya karena sebatas keturunan. Orang yang paham, akan berbeda penghayatan dan pengamalan urusan agamanya, dibanding dengan mereka yang karena keterpaksaan atau hanya karena budaya semata. Menutup aurat itu kewajiban, menunaikan sholat juga kewajiban, melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar adalah suatu kemuliaan, dimana dengan hal itu kita disematkan sebagai umat terbaik oleh Allah azza wa jalla..

Memang benar. Tidak ada yang instan. Sebuah tulisan tidak mungkin mengubah saya, Anda dan kita semuanya secara langsung bak sulap para magician. Tapi, paling tidak, tulisan ini semoga dapat menggugah kesadaran kita bersama. Bahwa ber-Islam sedari kecil, tidaklah menjamin kita akan selamat di dunia dan di akhirat sana. Karena masih ada jalan panjang yang harus kita lalui, apakah kita isi dengan kontribusi pada dakwah dan ketaatan, atau mungkin malah kita isi dengan penuh kemaksiatan? Itu sebuah pilihan, dan Anda harus memilihnya, serta mempraktikkannya dalam kehidupan keseharian..

Tidak ada kata paripurna dalam sebuah proses belajar. Yang ada adalah senantiasa menyesali segala perbuatan salah di masa silam, menjadikannya pengalaman terbaik agar tidak terjatuh pada kesalahan yang sama, sehingga dapat secara bertahap melakukan perbaikan diri, meningkatkan iman dan kapasitas pemahaman terhadap agama tercinta ini, sehingga jadilah kita manusia-manusia pembelajar yang menjadi teladan bagi umat. Semuanya kita gantungkan kepada Allah, dan berharap mendapatkan ridho-Nya, serta ternaungi oleh rahmat serta hidayah-Nya selalu. Aamiin ya Rabbal aalaamiin..

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kembang Janggut-Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Kamis sore, 13 Rabiul Akhir 1435 H/13 Februari 2014 pukul 17.44 wita

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Selasa, 11 Maret 2014 pukul 08.00wita

Comments
2 Responses to “Ber-Islam karena Kepahaman*”
  1. Selama terus bermuhasabah maka tidak ada kata paripurna dalam sebuah proses belajar.

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: