Partisipasi Pemilih Pedesaan*

Sumber Ilustrasi Gambar dari sini

Partisipasi Pemilih Pedesaan*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Tinggal menunggu hari, pesta demokrasi masyarakat Indonesia akan terjadi lagi setelah menunggu selama lima tahun lamanya semenjak tahun 2009 silam. Sistem ini dipercaya paling efektif oleh sebagian besar elemen bangsa kita karena sifatnya yang berasal dari, oleh, dan untuk rakyat..

Teori memang indah, dan tantangannya adalah pada saat aplikasi di lapangan. Tidak bisa kita pungkiri bahwa pendidikan politik kita masih terbilang rendah, terutama rakyat Indonesia yang masih terkonsentrasi di daerah pedesaan, dan juga sebagian besar masyarakat miskin yang tinggal di perkotaan. Pemilih menengah ke atas semakin cerdas, tapi pemilih dengan tipologi pendidikan rendah dan perekonomian yang miskin, masih saja tidak menyadari konstelasi politik yang tengah terjadi di sekitarnya..

Pemilih berpendidikan tinggi dan perekonomian menengah ke atas, memang tidak perlu dikhawatirkan. Sepintar apapun para calon wakil rakyat atau calon presiden yang mereka hadapi, mereka sudah mampu memilah dan memilih atas kelakukan yang sebenarnya, atau sebuah kelakuan yang hanya diada-adakan untuk menarik perhatian pemilih..

Masalahnya adalah pada pemilih di pedesaan. Rata-rata mereka tidak dapat merasakan secara langsung akan kerja-kerja wakilnya di pemerintahan, atau bahkan kerja-kerja presiden yang tengah terpilih secara demokratis. Rasanya tidak ada pengaruhnya dengan kehidupan keluarga mereka sama sekali atas para wakil rakyat yang bekerja siang dan malam untuk rakyat di daerahnya. Kebanyakan masyarakat di pedesaan berpendapat bahwa dirinya sungguh sangatlah jauh dari wakil rakyat di DPRD Kabupaten dan Provinsi hingga DPR RI sana..

Kemudian efek negatifnya adalah, mereka berpikiran bahwa memilih atau tidak memilih akan sama saja. Kehidupan mereka tidak akan pernah berubah secara drastis. Dan pada akhirnya, mereka tidak peduli dengan pemilihan-pemilihan anggota DPRD, Bupati dan atau Presiden. Celakanya, celah inilah yang dimanfaatkan oleh para “mafia” pendukung salah satu calon tertentu, yang tentu saja, mereka mengharapkan dana “investasinya” akan kembali dan bertambah besar setelah calon yang didukungnya menang..

Money politics adalah sebuah praktik haram dalam demokrasi kita yang sudah menjadi rahasia umum tetap ada dan tumbuh subur di kalangan masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Ada partai-partai yang tetap konsisten untuk tidak mengikuti langkah-langkah partai pemilik modal besar, tapi seakan-akan gerakan mereka tidak pernah ada karena tertutupi oleh perilaku busuk partai-partai lainnya..

Di sisi lain, masyarakat juga semakin apatis karena tidak ada pendidikan politik yang benar dan tepat sasaran, serta masih minimnya wakil rakyat yang benar-benar “rajin” turun kepada masyarakatnya, karena sudah terlampau sibuk dengan tugas pengaturan kebijakan-kebijakan yang sifatnya lebih luas dan mengglobal..

Dan kemudian, yang ramai menjadi opini publik adalah pengungkapan bahwa mereka tidak akan memilih partai atau calon yang tidak mau keluar uangnya. Mereka menganggap bahwa partai yang enggan memberikan uang pra pemilu adalah partai yang pelit, karenanya tidak pantas untuk dipilih. Sedangkan partai yang mampu memberikan uang besar kepada mereka, dipandang sebagai partai yang loyal kepada masyarakat. Ini sungguh mengerikan, bukan?

Padahal secara aturan telah jelas-jelas, bahwa partai atau calon yang memberikan sejumlah uang kepada masyarakat dengan tujuan akan memilih dirinya pada saat hari pemilihan adalah bentuk money politics yang haram hukumnya. Tapi, masyarakat pedesaan malah mengartikan sebaliknya. Kesadaran tidak tepat inilah yang dimanfaatkan oleh partai/pendukung partai yang tidak amanah kepada rakyat. Mereka menghalalkan segala macam cara untuk meraih suara sebanyak-banyaknya..

Namun demikian, ada yang menarik atas para pemilih pedesaan ini. Mereka sebenarnya memiliki modal sosial (social capital) yang cukup tinggi, yakni tidak mau culas kepada partai atau calon yang memberikan uang kepada mereka. Misalkan, sebenarnya mereka bisa saja mau menerima uang dari partai, tapi kemudian pilihannya tetap diarahkan kepada partai pilihannya. Tapi ternyata itu tidak pernah dilakukan oleh mereka. Meski di kotak suara tidak ada yang mengetahui sama sekali, mereka tetap memilih partai yang beberapa jam sebelumnya memberikan dana segar dan besar kepada mereka..

Nah, modal sosial semacam itu seharusnya dapat dipergunakan sebagaimana mestinya. Yakni, dengan memilih pemimpin yang amanah, menolak dan membenci partai atau calon yang mempraktikkan money politics..

Maka, sudah tepat apa yang dilakukan oleh partai-partai yang bekerja untuk masyarakat tanpa mengenal waktu menjelang pemilu. Bahkan, yang bekerja untuk masyarakat bukanlah mereka yang menjadi wakil di pemerintahan, namun mesin partai dengan ribuan kadernya terus bekerja tulus ikhlas, untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera. Bersemangat tinggi dengan berpedoman pada sabda Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam, “khairunnaas ‘anfauhum linnas”, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya..

Marilah kemari kawan. Kita terus bekerja dengan Cinta, untuk mewujudkan harmoni di negeri ini. Tidak anti terhadap perbedaan, namun menjadikan perbedaan tersebut sebagai kekayaan bangsa dan saling mengisi satu sama lain. Karena untuk Indonesia, Harapan Itu Masih Ada. Insya Allah.. ^_^

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kembang Janggut-Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Kamis siang, 13 Rabiul Akhir 1435 H/13 Februari 2014 pukul 11.35 wita

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Ahad, 09 Maret 2014 pukul 08.00wita

Comments
One Response to “Partisipasi Pemilih Pedesaan*”

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: