Boleh Manja Asal Proporsional*

Boleh Manja Asal Proporsional*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Manja adalah sikap dasar yang dimiliki oleh setiap orang, terutama anak-anak yang begitu manja kepada orang tuanya, saudara kandung atau kerabat dekatnya. Manja bukanlah suatu hal yang terlarang. Bahkan, Sang Humaira (Aisyah r.a) juga begitu manja terhadap Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Bermanja-manja dan mesra terhadap suaminya..

Sikap manja ini melanda laki-laki dan juga perempuan, apalagi dengan posisinya sebagai anak terakhir, maka kebanyakan orang tua lebih banyak menuruti apa keinginan anaknya. Dan ketika orang tua kurang mampu untuk mengontrol sikap longgarnya, akan semakin membuat sang anak terus-terusan ngalem, manja, dan tidak kunjung bersikap dewasa serta mandiri dalam menghadapi berbagai macam problema kehidupan..

Manja itu suatu hal yang wajar, namun ia akan menjadi halangan jika dipraktikkan secara berlebihan. Bukankah Allah memang tidak menyukai hambanya yang berlebih-lebihan dan melampaui batas? “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (Q.S Al A’Raaf: 55)..

Sesuai dengan fitrahnya, maka sikap manja ini harus selalu ada, baik pada diri laki-laki maupun perempuan. Laki-laki bisa bermanja-manja kepada ibu atau isterinya, demikian juga seorang perempuan dapat bermanja-manja terhadap kedua orang tuanya atau suaminya sendiri. Namun perlu diingat, bahwa yang patut menjadi perhatian adalah menampilkan sikap manja pada waktu, tempat dan kondisi yang tepat..

Seorang suami tentu merasa sangat bahagia ketika isterinya merajuk dengan bermanja-manja. Ini penting dan sangat diperlukan untuk membangun suasana yang lebih erat serta saling mengenali satu sama lain secara lebih dalam. Sikap manja ini akan meningkatkan rasa cinta dan kasih yang baru saja terjalin pasca lafadz akad diikrarkan..

Di sisi lain, sikap manja yang berlebihan akan membuat laju perkembangan semakin terhambat. Misalkan sang isteri yang sama sekali tidak mau ditinggal sendiri dengan alasan takut dengan suasana lingkungan kehidupan yang baru, padahal sang suami harus bertugas untuk menyumbangkan tenaga dan pikirannya bagi jamaah dakwah. Sikap yang ditampilkan sang isteri harusnya proporsional dan penuh kesadaran. Tidakkah kita ingat kisah salah seorang sahabat yang tidak sempat mandi jinabah ketika seruan jihad itu datang. Mereka baru saja melangsungkan pernikahan, namun tiba-tiba panggilan jihad berkumandang. Maka, dengan berat hati, namun penuh kerelaan, sang isteri mendorong suaminya untuk bersegera mengangkat senjata di medan jihad, bukannya malah menghambat atau bahkan melarangnya dengan alasan karena mereka sebagai pengantin baru, dan Rasulullah pun pasti akan menolelir udzur mereka. Hingga sang suami dengan gagah berani dan perkasa, maju ke medan laga, dan mendapatkan mati syahid di sana. Pada bidadari lah yang memandikannya di surga, subhanallah..

Bermanja ria juga patut melihat kondisi berdua. Sebagai pasangan yang akan hidup bersama di tanah rantau, tentu akan banyak persoalan kehidupan yang akan dihadapi. Keduanya sama-sama belajar, sama-sama tidak pernah mengalami pengalaman hidup berdua di tanah rantau selama mereka hidup, dan baru saja akan memulainya. Maka, kerjasama dan saling pengertian harus ditunjukkan agar keduanya dapat melewati segala cobaan dan halang rintang baik dalam kondisi suka maupun duka..

Ketika keputusan hidup mandiri berdua sudah dibulatkan, tidak boleh lagi terlalu banyak curhat suatu hal yang kurang mengenakkan mengenai kondisi hidup, apalagi ketika orang tua berada jauh di sana. Tindakan ini bukan dimaksudkan untuk memperdayai kedua orang tua. Namun, kita tahu bersama bahwa orang tua adalah insan yang paling mudah khawatir dengan kehidupan baru seorang pasangan pengantin, tapi tentu kita harusnya bisa memilah dan memilih informasi mana yang harus dibagi dan mana yang tidak perlu dikabarkan. Kalau masalah-masalah kecil atau ringan, sudah sepatutnya dibincangkan dengan suami, berusaha menjadi jalan solusi berdua, namun ketika masalah itu berat dan tidak mampu menghadapinya berdua, maka boleh untuk menceritakannya kepada orang tua..

Pada intinya, saya berpendapat bahwa di samping rasa suka, cita dan cinta, sebagai konsekuensi pernikahan yang telah dilangsungkan, kita juga harus paham bahwa hidup itu tak akan selalu berjalan mulus. Akan ada batu sandungan, beberapa cobaan, ketidakidealan-ketidakidealan yang kita temukan dari pasangan, dan beberapa hal lainnya. Tapi, karena lafadz sakinah itu telah bermula, maka kita bermunajat kepada Allah azza wa jalla, agar dapat saling menutupi kekurangan antara keduanya, saling mengisi, dan meningkatkan potensi diri. Kalau bercanda dengan isteri saja dinilai pahala, apalagi proses pembelajaran yang lainnya, terutama terkait dengan pemahaman agama Islam yang mulia..

Dan perlu diingat, tidak perlu terkaget-kaget ketika suatu saat nanti ditemui, bahwa sang suami pun ingin bermanja-manja terhadap isterinya. Tapi kemanjaan itu hanya ditunjukkan ketika berdua saja, tidak di depan publik, apalagi dengan niat memamerkannya terhadap khalayak masyarakat..

Ya, insya Allah antara suami dan isteri, harus saling memanjakan. Memahami hak-hak dan kewajibannya masing-masing. Berusaha memberikan yang terbaik bagi pasangan, sehingga akan berdampak positif terhadap kontribusi dakwah fi sabilillah. Insya Allah..

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kembang Janggut Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur
Senin siang, 11 Rabiul Awal 1435 H/13 Januari 2014 pukul 11.33 wita

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Senin, 03 Maret 2014 pukul 08.00wita

—–

Keterangan: Artikel ini termasuk rangkaian cuplikan narasi dalam Buku “Kado Cinta 4 Isteri Sholihah” yang akan dihadiahkan sebagai mahar kepada Sang Calon Isteri Tercinta di Masa Depan. Akan diterbitkan di Blog Bocahbancar setiap Hari Senin dan Kamis, mulai terbit pertama kalinya sejak hari Senin, 10 Jumadil Akhir 1435 Hijriah/10 Februari 2014.

Comments
3 Responses to “Boleh Manja Asal Proporsional*”
  1. lazione budy says:

    manja sama pasangan ga masalah, daripada ke orang lain?

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: