Mendahulukan Agama*

Sumber Ilustrasi Gambar dari sini

Mendahulukan Agama*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Secara naluriah, setiap lelaki memang akan memandang seorang perempuan dari kecantikannya terlebih dahulu. Tapi jangan khawatir, itu hanya ada pada permulaannya saja kok. Karena pada langkah berikutnya, para lelaki ini akan memainkan logikanya untuk menjatuhkan pilihan yang tepat pada seseorang yang akan menjadi tempat labuhan hatinya tersebut..

Konteks pembicaraan kita kali ini adalah pada saat seorang ikhwan tengah siap untuk melangkah pada jenjang yang serius, yakni menuju pernikahan. Biasanya, kita akan tertarik pada kawan sesama aktivis, misalkan ketika sama-sama di LDK alias Lembaga Dakwah Kampus, berbagai kegiatan bersama (meskipun aktivitasnya terpisah), lambat laun akan menampilkan rasa kekaguman. But it’s okay, karena aktivis dakwah, tahu mana yang seharusnya dilakukan dan mana yang tidak patut untuk dilakukan. Maka, kalau pun ada rasa itu, akan dipendam jauh di dalam lubuk hati, sampai benar-benar telah siap untuk menikah. Jadi, tidak ada itu kamus terserang virus merah jambu, karena memang dasar aktivitas di LDK adalah untuk menempa diri agar lebih dekat kepada Allah..

Eh, jangan terburu-buru untuk cemburu ya. Saya pribadi, semenjak aktif di LDK maupun organisasi dakwah ekstra kampus semacam KAMMI, tak pernah sekalipun menyimpan rasa yang “lain” untuk para akhwat yang tampil hebat di beberapa agenda besarnya. Hal ini saya pegang erat karena telah membulatkan tekad bahwa menjemput akhwat impian dengan cara terbaik, tidak menabrak aturan dari-Nya, sembari mengharapkan ridho dan keberkahan atas langkah patuh dan taat atas aturan-Nya..

Baiklah, kita kembali kepada pembahasan sesuai dengan judul yang telah saya buat di awal. Cantik itu menjadi salah satu pilar dalam menetapkan pilihan, namun kecantikan akan menjadi relatif sifatnya setelah ditimbang dengan logika “khas” sang ikhwan, dan dasar logika paling penting adalah terkait dengan pemahaman agama dari sang akhwat..

Dengan logika ini, maka pengerucutan akhwat akan terjadi. Maksud saya, tipe-tipe perempuan yang diminati oleh seorang laki-laki akan tersaring kepada mereka-mereka yang mampu menjaga hijab secara sempurna saja. Secantik apapun perempuan itu, jika pada kenyataannya masih membuka auratnya, bebas berpegangan dan berpelukan dengan siapa saja, atau mungkin rambut tergerai indah sampai sepinggang dan lain sebagainya sehingga terlihat bak putri raja, sama sekali tak akan mampu menarik perhatian seorang ikhwan..

Menutup aurat secara sempurna adalah kriteria dasar yang nampak dalam pandangan, bahwa seorang perempuan baligh tersebut baik agamanya. Pemahaman terkait keagamaan begitu penting untuk menjadi pijakan dalam memasuki babak-babak baru berdua di masa depan. Hal yang harus disadari adalah bahwa perbedaan pendapat antara suami isteri nantinya akan tetap ada, namun ketika keduanya sama-sama sepakat menjadikan agama sebagai rujukan terakhir untuk mencapai kata sepakat, itulah yang paling minim mudharatnya..

Mendahulukan agama merupakan hal paling penting untuk menjalani kehidupan. Kita seharusnya telah sepakat di awal bahwa agama Islam tidak hanya mengatur persoalan ibadah vertikal semata, namun Islam itu mencakup keseluruhan aturan kehidupan, mulai ujung kaki sampai ujung kepala, mulai bangun tidur hingga akan beranjak tidur kembali. Bahkan, sisi ekonomi, politik, budaya, pendidikan, kesehatan, dan semacamnya itu juga harus berdasarkan agama. Tidak ada pemisahan antar agama dengan kehidupan. Agama menjadi ruh atas setiap tindak-tanduk kita dalam menjalani kehidupan berumah tangga, bermasyarakat dan juga bernegara..

Maka, sungguh berbahagialah mereka para perindu surga, yang dengan tekad bulat mencari pasangan hidup dengan memperhatikan aspek pemahaman agamanya. Memang tidak melulu, pemahaman agamanya akan sempurna layaknya ustad/ustadzah yang sering muncul di televisi. Namun, ia yang menyadari bahwa tugas dakwah adalah kewajiban bagi tiap insan, dan kemudian mau terus belajar untuk meningkatkan pemahaman atas keluasan ajaran Islam yang mulia..

Kita sadar, sesadar-sadarnya bahwa pernikahan adalah satu batu bata untuk menyusun bangunan dakwah yang kokoh, sebuah bangunan peradaban yang akan disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia. Langkah-langkahnya pun telah jelas, dari satu mihwar ke mihwar berikutnya. Mulai dari mihwar tandzimi, mihwar sya’bi, mihwar daulah, hingga tegak Khilafah Islamiyah yang akan menjadi soko guru peradaban manusia di seluruh dunia..

Oleh karenanya, persoalan pembinaan keluarga yang dimulai dari pemilihan calon yang baik agamanya, menjadi satu jalan paling penting untuk meregenerasi jamaah dakwah ini. Marilah ikat diri untuk mengabdikan segenap jiwa raga untuk jalan dakwah, yang boleh jadi tak selalu harum mewangi, namun juga penuh dengan onak duri. Biidznillah..

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kembang Janggut Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur
Rabu sore, 06 Rabiul Awal 1435 H/08 Januari 2014 pukul 16.10 wita

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Kamis, 20 Rabiul Akhir 1435 H/20 Februari 2014 pukul 08.00wita

—–

Keterangan: Artikel ini termasuk rangkaian narasi dalam Buku “Kado Cinta 4 Isteri Sholihah” yang akan dihadiahkan sebagai mahar kepada Sang Calon Isteri Tercinta di Masa Depan. Akan diterbitkan di Blog Bocahbancar setiap Hari Senin dan Kamis, mulai terbit pertama kalinya sejak hari Senin, 10 Jumadil Akhir 1435 Hijriah/10 Februari 2014.

Comments
6 Responses to “Mendahulukan Agama*”

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: