Nikah tak Selalu Serba Indah*

Nikah tak Selalu Serba Indah*

*Oleh Joko Setiawan, A Social Worker, Seorang Pembelajar Sepanjang Zaman

Ketika waktunya telah tiba, ada rasa optimis di dalam diri untuk mengarungi hidup berdua, dengan seseorang yang halal dalam pandangan agama. Rasa optimis yang muncul, tidak datang secara tiba-riba, karena rasa itu telah didahului oleh rasa khawatir yang telah bersarang sejak lama di dalam dada dan juga kepala..

Namun syukur alhamdulillah, berkat pertolongan Allah, kita pun memberanikan diri dengan berbagai risiko yang menghadang di masa depan..

Baiknya kita harus menyadari bahwa keberanian untuk menikah, karena optimis akan banyak berkah melimpah yang dikaruniakan kepada pasangan yang menghalalkan dirinya satu sama lain melalui ikatan yang Allah sebut dalam Al Qur’an sebagai miitsaqan gholidzo tersebut. Di sisi lain terdapat kesadaran penuh dalam diri keduanya, bahwa kenikmatan yang akan diperoleh juga akan dipersandingkan dengan berbagai ujian kesabaran, ketaatan, dan keistiqomahan di dalam jama’ah dakwah fi sabilillah..

Hal pertama dan utama yang patut menjadi perhatian adalah mengenai adaptasi diri. Yang biasanya hidup sendiri, tiba-tiba harus berbagi segalanya dengan suami/isteri yang masih asing dengannya. Apalagi, mereka berdua memang sama sekali tidak dipertemukan dalam aktivitas pacaran pra nikah, melainkan melalui proses ta’aruf yang syar’i, lanjut kepada khitbah atau lamaran, dan kemudian penentuan waktu akad nikah dibarengi walimatul ursy..

Secara teori, adaptasi ini tidak menjadi halangan yang serius karena perkenalan diantara keduanya sebenarnya telah dimulai ketika keduanya tengah sama-sama membina diri dalam tarbiyah Islamiyah. Perkenalan yang saya maksud bukan berarti mereka telah saling mengenal fisik ataupun nama satu sama lain, melainkan sama-sama sedang belajar mengenal Tuhan-Nya, aturan-aturan dan larangan-Nya, adab-adab dalam berumah tangga, hak dan kewajiban sebagai suami/isteri, dan masih banyak lagi tema pembelajaran lainnya. Oleh karena itu, ketika mereka dipertemukan secara fisik dan jiwa di dalam ikatan pernikahan, adaptasi akan cepat berjalan sebab keduanya telah memiliki cara pandang yang hampir sama, dan tinggal diharmonisasi saja..

Langkah kedua adalah dengan komitmen untuk terus belajar saling memahami kekurangan diantara keduanya, bersiap untuk menghadapi masalah berdua, membagi tugas kerumahtanggaan berdua, serta saling menasehati atas beberapa sifat dan sikap yang kurang ahsan dalam mengarungi fenomena luasnya persoalan kehidupan..

Maka, di sini dapat kita tarik satu kesimpulan bahwa seseorang yang telah bulat tekadnya untuk menikah, patutnya menanamkan dalam diri mindset harapan dan juga perjuangan yang tersusun rapi sejajar satu sama lain..

Harapan dimaksudkan sebagai rasa keoptimisan bahwa Allah akan menambah rizki seseorang yang melangsungkan pernikahan, Allah akan mengkayakan mereka berdua yang berada dalam ikatan suci pernikahan. Selain itu, keberkahan-keberkahan lain juga akan dirasakan karena nafkahnya seorang suami kepada isteri adalah sedekah bagi dirinya, dan ketaatan seorang isteri terhadap suaminya adalah suatu jalan untuk menuju Jannah. Subhanallah..

Sedangkan perjuangan dimaknai sebagai sebuah kerja (amal) yang dilakukan secara terus menerus. Belajar tanpa henti untuk mengenali pasangan satu sama lain, meningkatkan kualitas diri terhadap ketaatan akan perintah dan larangan dari-Nya, menjadi salah satu bagian yang mendukung gerakan dakwah fi sabililah, serta bersiap diri untuk sabar menghadapi segala halang rintang yang akan menghadang..

Pernikahan ini, tidak akan selalu berjalan indah di setiap harinya, namun sadarilah bahwa setiap kesulitan, akan ada kemudahan sesudahnya. “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Q.S Al Insyirah: 5-6)..

Semoga, kita dapat mengambil pelajaran dari setiap narasi berhikmah yang telah terbaca oleh mata. Melembutkan hati untuk memasukkan kalam Illahi ke dalam dada-dada sombong nan congkak ini. Kita ini kecil, dan hanya Allah sajalah Yang Maha Besar. Semoga kita digolongkan ke dalam barisan orang-orang yang beruntung, tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat kelak. Aamiin ya Rabbal Aalamiin..

Salam hangat dan semangat selalu dalam dekapan ukhuwwah

Kembang Janggut Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur
Sabtu pagi, 01 Rabiul Awal 1435 Hijriah/03 Januari 2014 pukul 06.08 wita

Dipublikasikan otomatis secara terjadwal oleh WordPress pada hari Senin, 17 Rabiul Akhir H/17 Februari 2014 pukul 08.00wita

—–

Keterangan: Artikel ini termasuk rangkaian narasi dalam Buku “Kado Cinta 4 Isteri Sholihah” yang akan dihadiahkan sebagai mahar kepada Sang Calon Isteri Tercinta di Masa Depan. Akan diterbitkan di Blog Bocahbancar setiap Hari Senin dan Kamis, mulai terbit pertama kalinya sejak hari Senin, 10 Jumadil Akhir 1435 Hijriah/10 Februari 2014.

Comments
4 Responses to “Nikah tak Selalu Serba Indah*”
  1. akan ada banyak masalah, halangan dan kesulitan menghadang dalam kehidupan berkeluarga nanti. tapi percayalah, masih ada allloh yang bisa dimintai tolong, tempat bergantung dan berharap.

  2. Dg menikah Insya Allah rezeki menjadi lapang ya bang…

Tinggalkan Jejak ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: